DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
axel,. part 55



Tiara lagi-lagi merasa malu luar biasa. Dia menutup pintunya hati-hati, itu kaca bisa saja dia pecah kalau dirinya tak hati-hati.


Gio masih mempraktekan goyangan gergajinya seraya mengangkat tinggi tinggi alis nya.


"Pak Gio. Hentikan. Aku malu!" teriak Tiara samb il menghambur ke dekat Gio dan memukul pria itu. Gio melindungi wajah nya dari amukan Tiara. sambil terus tertawa dengan lepasnya.


"Stop ih, jangan lakukan lagi!" tiara terus memukul Gio kesal, sebal.


Gio menahan tangan Tiara. Dia menghentikan tawanya perut nya sakit karena terlalu banyak tertawa apalagi ini masih pagi dan sia belum sarapan.


Tiara merengut sebal. Mukanya merah sudah.


"Coba kalau ciuman itu ada lawannya kan enak!" ejek Gio.


Tiara mencubit perut kotak Gio dengan keras hingga pria itu meringis kesakitan.


"Sakit!"


"Rasakan!" cibir Tiara kesal.


"Tega banget!" mengusap perutnya yang linu.


"Biarin!" Tiara melengos sebal.


"Sarapan Yuk!" ajak Gio.


"Gak mau! Aku kesal!" Tiara merajuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Dia berjalan meninggalkan Gio yang berdiri masih dengan tawa yang tertahan di dalam mulutnya. Tiara melemparkan pulpen yang ada di atas mejanya ke arah Gio, pria itu menghindar hingga pulpen itu terjatuh begitu saja di lantai marmer.


"Aku belum sarapan. Kita akan meninjau lapangan setelah sarapan!" jika sudah mengenai pekerjaan mau tak mau Tiara harus mau kan?


"Baik lah, tapi awas kalau tertawa lagi!" ancammya.


"Iya!" Gio mengiyakan saja daripada nanti tiara merajuk dan tidak mau ikut kan dia yang repot, tak ada yang membantunya.


Akhirnya setelah kejadian lucu tersebut. Tiara dan Gio pergi keluar untuk sarapan. Tiara yang memilih tempatnya dan Gio hanya menuruti kemauan sekretrisnya itu.


Gio megusap wajahnya kasar. Pergi sejauh ini hanya untuk sarapan bubur kacang ijo?!


"Sini Pak!" Tiara menepuk tempat di sampingnya. Bangku kayu itu hitam, Tiara mengerti arti pandangan Gio. Dia lantas mengambil tisu dan mengelapnya untuk bosnya tersebut.


"Sudah bersih silahkan!" ucap Tiara. Gio hanya menurut. Mereka menunggu pesanan dan tak lama kemudian masing masing dari mereka mendapatkan semangkuk bubur kacang ijo dengan kuah santan. Milik Gio tidak memakai ketan hitam sedangkan milik Tiara dengan banyak ketan hitam. Tak lupa satu lembar roti tawar menghias di atas bubur kacang itu.


Tiara meniupnya dan menyeruput kuahnya dengan nikmat hingga terdengar suara dari mulutnya itu.


Gio bukannya tak pernah makan di pinggiran seperti ini, bukan juga jijik ataupun lupa dengan jati dirinya yang dulu pernah ada di titik tersulit hidupnya, tapi dengan seorang wanita dia ingin memberikan yang terbaik untuknya bukan?


"Enak kan?" tanya Tiara. "Ini tuh ya Pak, makanan favorit waktu SMA. Kalau ibu belum sempet masak ataunsaya yang gak sempet sarapan pasti serapannya ini, pak. Soalnya fak jauh dari sekolah saya. Tuh!" tunjuk Tiara pada gedung sekolah yang tak jauh dari sana.


Gio hanya mengangguk saja. Dia lebih ingin menikmati makanan itu daripada mendengar cerita Tiara.


Sudah sangat lama dirinya tak pernah makan di kaki lima. Ya, semenjak dia di angkat menjadi bagian dari keluarga Aditama. Itu sudah sangat lama sekali!


Tiara selesai dengan makanannya. sedangkan Gio memesan satu mangkuk lagi bubur kacang ijo kali ini dengan tiga lembar roti tawar. Tiara menggelengkan kepalanya. Tadi saja terlihat tak mau, tapi sekarang aja nambah! Itu perut atau apa?


Gio fokus dengan makannya, tak peduli dengan Tiara yang terus menatapnya heran.


"Kenapa?" tanya Gio.


"Bapak doyan juga makanan ini?" tanya Tiara sedikit mengejek Gio.


"Saya juga pernah miskin. Apapun makanan saya juga makan, termasuk dari dalam tong sampah."


Tiara melongo tak percaya.


"Tidak percaya?" Tiara hanya terdiam lalu men gelengkan kepalanya.


"Saya itu hanya anak angkat di keluarga Aditama. Dulu saya hanya anak miskin yang pulang sekolah lalu ngamen di perempatan jalan besar. Gak jarang saya bolos sekolah hanya untuk mencari uang!" tutur Gio.


"Lalu?" Tiara menuntut cerita lebih.


"Keluarga Aditama mengangkat saya menjadi putra mereka Karena Axel adalah teman saya sewaktu SD, dia anak yang lemah, tapi juga pura-pura kuat. Tepatnya ingin menjadi kuat, tapi sayang jantungnya bermasalah.


"Terus?"


"Kami berteman dengan baik, Axel membantu saya sewaktu ada masalah. Dan mama anye juga papa devan juga akhirnya mengangkat saya menjadi anak mereka." Tiara mengangguk faham dengan garis besarnya.


"Terus apa lagi?"


"Cerita tamat! Kita berangkat!" Gio menghabiskan sesendok bubur di mangkoknya dan lalu membayarnya dengan selembar uang kertas merah, dia menolak saat penjual itu memberikan kembalian padanya.


Gio dan Tiara kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Tak lama mereka tiba ditempat yang di tuju. Gio membuka seatbelt, sedangkan Tiara mengeluarkan alat tempurnya. apalagi kalau bukan make up? meski dia tetlagir agak tomboy tapi dianjuga tak menolak untuk memakai riasan apalagi ini untuk keperluan bekerja. menjadi asisten wakil CEO mengharuskannya untuk tampil fresh seperti ikan di laut yang baru saja di pancing.


"Turun, bukannya dandan!" ujar Gio, dia heran dengan para wanita, dikit-dikit tuch up! tempel sana, tempel sini.


"Sebentar pak! tadi aku cuci muka dan gak sempet pake bedak!" ucap Tiara. Gio sudah keluar dari dalam mobil.


Dia melakukannya dengan cepat hanya membubuhkan bedak tipis dan lipstik yang tipis juga. Tak mau lama-lama dan membuat bos nya marah.


Tiara menyusul Gio yang kini berjalan di depannya. Seorang mandor memberikan dua buah topi safety untuk mereka berdua.


Proyek bangunan bernilai fantastis itu pembangunannya baru saja sekitar dua puluh persen, masih berbentuk pondasi dengan banyak rangkaian besi menjulang tinggi ke atas.


Tiara mendongak ingin melihat bangunan itu yang hampir menyentuh langit. Dia masih saja takjub dengan bangunan yang pastinya akan megah ini. Jika sudah jadi nanti pasti lah akan menjadi sebuah apartemen mewah dengan puluhan lantai di atas sana.


Bisakah aku tinggal di salah satu unit bangunan ini nanti?


Tiara menggelengka kepalanya. Tak mungkin! Bangunan ini belum jadi, tapi sudah banyak yang memesan unitnya. Tujuh puluh persen unit sudah di pesan! Gila! Bahkan mereka berani mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk hunian yang belum jadi?


"Tiara!" panggil Gio dia kesal karena Tiara sedari tadi hanya mendongak menatap langit.


"Eh, apa pak?" tanya Tiara.


Gio menarik Tiara dan memeluk bahu Tiara supaya gadis itu ikut berteduh di bawa payung hitam itu bersama dirinya.


Beberapa orang yang mengenal Gio hanya saling menoleh satu sama lain, orang penting ini tidak pernah melakukan hal ini pada sekretarisnya yang terdahulu. Padahal mereka lebih seksi dan lebih cantik dari gadis ini.


"Sudah. Diam! mau kemana kamu!" tanya Gio saat Tiara berusaha melepaskan diri darinya.


"Saya biar payungan berkas saja, Pak. Tidak baik kalau seperti ini, nanti jadi pembicaraan orang!" tutur Tiara tak enak melirik pada yang lain di sampingnya.


"Berkas itu buat bekerja, bukan buat payungan!" ucap Gio kesal. Dia semakin mencengkeram bahu Tiara dengan erat. Tiara hanya pasrah, dia tak bisa mengelak lagi, apalagi Gio sudah berkata dengan nada yang seperti itu.


Selesai dengan tinjauan proyek. Gio melarikan mobilnya ke arah mall terbesar di kota itu. Tiara terheran saat Gio masuk ke dalam basemen.


"Bapak mau belanja?" tanya Tiara.


"Hem!"


Dasar bos! bahkan bisa belanja di jam kerja!


"Temani saya!" titah Gio. Dia turun, Tiara juga ikut turun.


Pasrah deh kalau di suruh bawa belanjaan!


"Kamu buat apa masih bawa berkas?" tanya Gio saat melihat berkas di tangan Tiara.


"Eh, lupa!" Tiara kembali membuka pintu mobil dan menyimpan berkas itu di dalam sana.


Keduanya jalan ke dalam mall. Gio berhenti sebentar membuat langkah Tiara juga terhenti.


"Sini! Jangan jauh-jauh dari saya." Tiara hanya mengangguk faham. Merek menuju lantai atas. Gio mauk ke dalam sebuah toko baju. Dia duduk dengan santai. Tak ada pelanggan lain di luar karena Gio meminta toko ini khusus melayani dirinya sendiri.


Hehh orang kaya! Tiara takjub. Bagaimana uang bisa membuat semuanya menjadi mudah?


Di percaya, the power of money. Dan di depannya adalah buktinya.


Pelayan membawa beberapa potong baju setelan jas untuk pria. Gio duduk di sofa, dia hanya menggerakkan tangannya, lalu pelayan lain maju untuk memperlihatkan setelan jas yang lainnya.


Tiara tidak mengerti itu. Baginya semua setelan jas dan kemeja itu sama saja, potongannya juga sama. Tak ada yang berbeda. Baju cowok kan gitu semua! paling cuma beda bahan sama merk doang!


Tiara menatap dengan bosan acara pilih memilih itu. Dia memilih duduk di kursi plastik tak jauh dari Gio.


Tiara memilih memainkan hpnya. Dia sungguh bosan. Dia mencoba membuka akun FB miliknya.


"Eeh, kenapa ini?" Seru Tiara kaget saat beberapa orang menarik tangannya.


"Ikut kami nona. Ini perintah Tuan Gio!" ucap salah satu diantaranya.


Tiara menatap Gio yang hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


pasrah deh!


Tiara tercengang. Beberapa potong baju telah di bawakan ke riang ganti, danefeka ingin dia mencoba semua baju itu.


Pelayan meninggalkan Tiara sendirian di ruang ganti karena permintaan gadis itu. Dia tak mau tibuhnya tetlihat orang asing meski mereka sama-sama perempuan!


Tiara memilih baju-baju itu terlebih dahulu. Dia memisahkan baju yang menurutnya sangat terbuka, setengah terbuka, dan tertutup.


Ha.... Semahal ini? terkaget saat melihat label harga yang tertera disana. Ini sih lebih dari setengah gajinya perbulan!


Tiara membuka baju nya dan menggantinya dengan baju setengah terbuka. Dia menatap dirinya di cermin.


Cantik. Iya lah! Baju mahal!


Dia segera keluar karena permintaan Gio.


Tiara menyibak tirai melongokan kepalanya keluar dari ruang ganti. Gio ganya menggerakkan kepalanya meminta dia keluar.


Tiara perlahan berjalan keluar, Gio tercengang dengan penampilan Tiara. Padahal baju itu hanya memperhatikan sedikit belahan dada dan paha Tiara, tapi kecantikan alami gadis itu membuatnya terlihat sangat seksi dan menawan. Tiara yang di tatap sedemikian rupa hanya bisa menarik bajunya ke atas dan roknya lebih ke bawah, tapi percuma karena bahan kain itu sudah minim.


"Ganti yang lebih tertutup." pinta Gio. Tiara segera masuk ke dalam ruang ganti untuk yang kedua kalinya. Untung saja Gio tidak memintanya memakai itu untuk bekerja.


Tiara memilih baju yang pas menurutnya. Dia kembali keluar dari dalam sana dan menciptakan senyum simpul di bibir Gio.


Tak ada belahan dada. Tak ada paha terbuka. Yang Berarti tak ada mata genit yang memandang. Oh sial! wajah itu tak bisa ditutupi. Bisa! Jika dia mau memakai kaca mata tebal! Tapi apa mau Tiara memakai riasan seperti itu? Gio merasa sebal sendiri.


"Saya suka yang itu. Bungkus semua baju yang tertutup seperti itu." ucap Gio lantas dia mengeluarkan kartu hitamnya dan memberikannya pada pelayan yang tetap berdiri dengan setia di sampingnya. Sedangkan pelayan lain segera bergerak untuk mengambil semua yang di pesan Gio.


Tiara kembali ke ruang ganti tapi berhenti saat Gio berkata.


"Tidak usah di ganti. Pakai yang itu saja!" Tiara ingin menolak, tapi pastinya menolak permintaan Gio akan membuat pria itu malu oleh para pelayan yang ada disana. Tiara hanya menurut.


Beberapa saat lamanya, mereka sudah selesai membungkus. Tiara melongo melihat hampir sepuluh kantong belanjaan ukuran besar dengan branded terkenal itu.


"Bawa semua!" titah Gio.


Tuh kan! Jadi kacung! Tiba-tiba saja ia ingat apa yang ia katakan dulu di dalam hatinya.


Biarlah jadi kacung yang penting bayaran besar.


Dan sekarang dia menyesali perkataan itu.


"Cepat!" titah Gio. Tiara berjalan dengan cepat dengan langkah kecilnya.


Mereka menuju toko sepatu. Gio tak singkat memilihkan sepatu untuk Tiara, dan memakaikannya sendiri di kaki gadis itu.


Perjalanan belum selesai. Mereka kembali masuk ke toko parfum, lalu ke toko make up.


Toara hamya pasrah saat lagi-lagi dia harus membawa kantong belanjaan. tangan kanan dan kirinya sudah penuh!


Capek. Pegal!


nasib Bawahan!