DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 134



Gio setia menunggu Tiara bangun. Padahal saat datang pagi tadi gadis ini masih terlihat baik-baik saja. Bahkan tak ada tanda-tanda sakit sama sekali, hanya terlihat kurang bersemangat saja. Kenapa dia bisa terkena tipus segala?


Pintu terbuka, Ibu Tiara masuk ke dalam sana dengan di temani seorang pemuda berwajah kaku dengan perawakan tegap di belakangnya. Dengan langkah kaki yang cepat ibu sudah sampai di depan ranjang Tiara.


"Nak Gio ada apa ini? Apa yang terjadi pada Tiara?" tanya ibu dengan nada khawatir. Dia menatap Tiara yang berwajah pucat, bajunya sudah di ganti dengan baju rumah sakit.


Gio bangkit dari duduknya dan mempersilahkan ibu untuk duduk di tempatnya.


"Tiara terkena tipus, Bu. Dokter sudah memeriksanya." Gio mengatakan yang sejujurnya.


"Bagaimana bisa? Tadi pagi dia masih baik-baik saja!" ucap ibu, dia memegang tangan Tiara yang masih terasa panas.


"Saya juga kurang tahu, Bu. Tadi pagi memang Tiara baik-baik saja. Dia tertidur saat bekerja dan saat saya bangunkan, dia tiba-tiba saja pingsan!" terang Gio.


Ibu mengusap kening Tiara yang basah oleh keringat. Anak ini memang tak pernah banyak mengeluh. Bahkan saat dia merasa tak enak badan sekalipun.


Gio merasa tak enak hati, di bawah pengawasannya dia bahkan tak tahu jika gadis ini tengah sakit.


...***...


Hari ini Axel kembali ke Surabaya. Niatnya sudah bulat untuk membawa Renata kembali ke ibu kota. Masa bodoh gadis itu mau ataupun tidak. Dia merasa ini saatnya untuk membawanya kembali. Apalagi mama yang selalu berisik untuk memintanya menjemput Renata. Kalau gadis itu tak mau juga, dia akan membawanya paksa. Kalau perlu dia akan menculik Renata!


"Re, ada yang cari kamu!" Via baru saja datang dan mendekat ke arah Renata.


"Siapa?" tanya Renata lalu menenggak air di gelasnya. Via menggelengkan kepalanya, kedua bahunya terangkat ke atas.


"Di luar, ganteng banget loh dia! gak nyangka kalau kamu ternyata ada yang ngefans juga!" Via menyenggol lengan Renata dengan tubuhnya. Senyum nakal Via tersungging di bibirnya mengganggu Renata.


"Apaan sih. Siapa juga yang ingin ketemu aku? Aku gak punya fans! Suruh dia pergi saja, Vi. Aku mau lanjut kerja, nanti si bos marah lagi kalau aku gak kerja!" Renata kembali mengambil sapu yang tadi dia simpan di sampingnya.


"Eh kamu ini. Dia sudah nungguin kamu di luar, temuin dia sebentar bos gak akan marah juga kali Re." bujuk Via. Dia penasaran juga siapa pria ganteng yang ingin bertemu dengan Renata.


"Aku disini kerja, bukan untuk hal begituan! Buat kamu saja lah!" Renata pergi melewati Via. Dia tak peduli dan tak penasaran dengan siapa yang menunggunya. Niatnya disini dia untuk bekerja bukan untuk hal lain. Jika dia sampai di pecat oleh bos, lalu bagaimana nasibnya nanti? Mencari pekerjaan sulit apalagi untuk dirinya yang tak punya pendidikan tinggi.


"Ah buat apa sih? Biarkan saja. Lagian aku juga gak kenal siapa dia kan? Aku disini baru beberapa bulan, gak ada kenal sama cowok lain selain orang kantor ini, juga gak semua aku kenal mereka. Lagian dia juga kan bisa neduh kalau di luar panas!" ucap Tiara. Via menepuk dahinya, gadis ini benar-benar... Dia tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Dia dari kantor ini juga, kah?!" tanya Renata melirik temannya ini. Via menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya bukan sih, aku baru pertama kali lihat dia." jawab Via.


Renata tak berkata apa-apa lagi, dia memilih melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruangan.


"Re kamu gak penasaran apa sama cowok itu?" Via terus saja mendekatinya.


"Gak!"


"Eh dia ganteng loh!"


"Gak peduli!" tetap menyapu lantai di bawah kakinya.


"Tapi kalau kamu lihat dia sebentar saja kamu pasti akan jatuh cinta sama dia!" ucap Via lagi.


Tiara terdiam, membuat Via senang. Dia pasti sedang berfikir untuk menemui pria itu.


Jatuh cinta? Tidak mungkin!


Hatinya sudah tertutup untuk yang lain. Dia hanya inginkan pria itu, pria yang selama ini selalu memperhatikan dirinya, menerimanya apa adanya dengan segala kekurangannya!


"Aku gak mungkin jatuh cinta lagi, Vi" Renata melanjutkan pekerjaanya. Dalam nada suaranya terdengar kesedihan yang mendalam.


Via mendengkus kesal. Gadis ini tipe keras kepala dan tak punya hati ternyata.


"Kenapa tak mungkin?!" Renata menghentikan gerakan tangannya. Dia berdri dengan tegak. Tubuhnya menegang. Matanya tiba-tiba saja memerah saat mendengar suara yang sudah hempir tiga bulan ini dia rindukan.