DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 155



Ayah bilang aku koma selama tiga hari pasca melahirkan cessar. Entahlah, yang pasti aku tidak ingat sama sekali. Yang aku ingat, aku berada di dalam kegelapan dan suara itu memanggil. Suara seorang wanita memanggil namaku. Anyelir... Anyelir... begitu lembut suara panggilannya, dia mengulurkan tangannya padaku. Seketika ruang gelap itu berubah menjadi terang dengan pemandangan pegunungan yang indah di belakangnya.


Dia tersenyum dengan begitu anggunnya. Bibir merah, mata yang besar mirip sepertiku, hidung mancung, namun kulitnya terlihat pucat tertutup sebagian oleh rambut panjang yang tergerai hingga ke pinggangnya.


Dia menyambutku, dan tak ku sangka aku di bawanya melayang di angkasa. Aku seperti mimpi bisa terbang melewati awan putih nan luas yang menggantung disana. Melihat hamparan padang rumput dan juga lautan samudra. Kami tertawa bahagia meski tanpa saling berkata apa-apa. Kami terbang saling berputar di atas sambil berpegangan tangan. Berputar dan berputar penuh suka cita, tapi kemudian... Syuhhhh... Dia mendorongku! Aku di hempaskan kembali ke dasar yang tak berujung. Samar aku dengar dia berkata...


'Masih belum waktunya, Anyelir!' hingga akhirnya aku terbangun di ruangan ini.


Devan kembali masuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lanjutan sejak dia kembali sadar. Ayah bilang, Devan sadar tak lama setelah aku berteriak dan pingsan waktu itu. Ajaib! Kenapa aku tidak melakukan itu jauh hari sebelumnya? Mungkin saja dia akan terbangun jika aku melakukan hal itu sejak dulu!


Aku masih harus berada do rumah sakit untuk menjalani pemulihan pasca operasi cessar. Bayiku masih berada di ruang bayi, masih berada di inkubator karena kondisinya masih lemah akibat lahir sebelum waktunya. Katanya aku hanya bisa melihat dia dan masih belum bisa menyentuhnya, mereka bilang dia terlihat lebih kecil dari bayi-bayi lainnya. Di dadanya juga tertempel alat deteksi jantung. Dokter menjelaskan selama dalam masa kehamilan aku terlalu stress, itu yang membuat aku melahirkan lebih cepat dari yang seharusnya dan juga bayiku sedikit lemah kondisinya.


Bagaimana tidak stress, meskipun aku berusaha untuk menenangkan dan menyenangkan diri ini tetap saja aku tidak bisa berpaling dari keadaan yang ada.


Hari ini kondisiku sudah mulai membaik, luka di perutku juga tidak sesakit kemarin. Aku ingin sekali melihat bayiku untuk pertama kalinya. Bersama Daniel aku mengunjungi bayiku, melihatnya lewat dinding kaca yang membatasi ruang kami. Perawat sedang memberikan susu dari botol kecil, dia minum dengan lahap. Sesekali dia menangis lalu kembali menyusu. Setelah itu dia tertidur. Perawat menggeserkan tempat tidur putraku lebih dekat dengan jendela kaca agar terlihat lebih jelas oleh kami.


Oh lihatlah. Bibirnya berdecap seperti sedang merasakan sisa susu di bibirnya. Dia sangat lucu sekali. Tampan. Hidungnya mungil, mancung. Kulitnya masih merah khas bayi.


"Dia tampan!" Daniel berucap sambil menempelkan keningnya di kaca. Jarinya bergerak-gerak mengetuk-ketuk kaca seolah-olah sedang menyentuh bayi mungil itu. Terkadang dia tersenyum dan tertawa saat melihat adik lelakinya.


"Ya. Dia persis seperti kakaknya!" aku melingkarkan tanganku pada pinggang Daniel dan mencium lengannya.


"Kapan kita bisa bawa dia pulang?" Daniel beralih menatapku. Sorot mata bahagia dan rasa tidak sabar terpancar dari sana.


"Segera!" ucapku. Daniel kembali mengalihkan pandangan pada adiknya. Aku juga sudah tidak sabar ingin bawa dia pulang ke mansion.


"Boleh aku yang beri dia nama?" Daniel beralih lagi padaku, penuh harap.


"Tentu. Kamu yang mengurus dia selama ini." Daniel tersenyum bahagia.


"Siapa namanya?" tanyaku. Daniel menatap adiknya lagi. Dia sedikit berfikir.


"Axel. Axel Felix Rudolf!" jawabnya. Lumayan juga pilihan namanya. Bahkan aku sendiri belum memikirkan sebuah nama untuk bayi ini.


Axel. Mama harap kamu akan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Maafkan mama yang selama ini tidak bisa kuat menghadapi cobaan nak, sampai kamu yang menjadi korban dari ketidakberdayaan mama.


Puas menatap bayi mungil yang tertidur, kami pergi ke ruangan Devan. Perawat membantu mendorong kursi rodaku sedangkan Daniel berjalan sedikit di belakang.


Sampai di kamar rawat tempat Devan, perawat membukakan pintu dan membawaku masuk. Devan sedang bersama dokter, mereka mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum. Dokter berpamitan pada Devan sepertinya mereka baru saja selesai, lalu mempersilahkan aku untuk mendekat ke brankarnya.


Dokter pergi bersama perawat meninggalkan aku dan Daniel disana.


Rasanya sungguh tidak percaya. Pria yang selama ini aku lihat hanya terbaring kini dia sedang menatapku dan tersenyum sangat hangat dan manis meski dia sudah kehilangan sedikit ketampanannya.


"Hai!" sapanya lirih, bibirnya tersungging senyuman. Suara yang sudah sangat lama tidak aku dengar. Aku membuka mulutku, tapi tak bisa mengeluarkan suaraku. Mataku sungguh panas dan perih. Dadaku membuncah, antara senang dan juga sedih karena haru. Aku payah! Padahal dulu saat lima tahun berpisah rasanya tidak pernah seperti ini!


"Jangan menangis, aku gak suka!" lagi dia berucap pelan. Aku hanya menggeleng pelan sambil mengusap air mataku.


"Hai..., a-aku gak nangis. Aku seneng kamu sudah bangun, dan juga sedih karena aku gak bisa bebas peluk kamu. Aku juga masih sakit!" isakku pelan. Ya mungkin jika aku sehat dan tak ingat bekas jahitan pasca cessar aku akan melompat memeluknya.


"Tapi kamu bisa pegang tangan aku kan? Aku belum bisa gerakkan tanganku!" ucapnya memohon. Aku mengangguk dan memegang tangannya, hangat. "Trimakasih!" lirihnya lagi.


"Daniel!" panggilnya lagi. Daniel hanya mengangkat kepalanya. Lalu sedetik kemudian dia membuang pandangannya ke arah lain.


"Daniel, maafkan papa nak! Papa tidak pernah bisa berbuat apa-apa untuk kamu dan mama mu!" lirihnya lagi. Rasanya dadaku seperti tertusuk duri tajam, ada rasa ngilu disana mendengar pernyataan Devan. Daniel masih bertahan disana.


"Maafkan papa kalau selama ini papa masih belum bisa jadi ayah yang hebat buat kamu..."


Hening.


Rasanya udara semakin tidak nyaman disini melihat mereka berdua seperti itu.


"Niel." Lirihku. Daniel masih diam, tidak bereaksi, hanya saja kedua tangannya meremas kuat baju kemeja yang ia pakai.


"Papa minta maaf karena papa tidak bisa melakukan semua yang kamu inginkan. Really. I'm sorry!"


Hening lagi.


Niel. Apakah perasaan kamu sudah berubah karena keadaan kemarin?


"Papa!!!" teriak Daniel sambil berlari, terlihat air mata jatuh ke pipinya. Daniel berlari dengan kencang lalu memeluk Devan erat, bahu kecilnya berguncang hebat. Syukurlah, tadinya aku takut kalau Daniel tidak akan menganggap Devan lagi. Sungguh indah potret yang terlihat antara anak dan ayahnya. Mungkin ini lah pelukan yang sesungguhnya dan yang pertama untuk Devan dengan Daniel.


"Maaf. Maafkan aku. Aku janji gak akan lagi marah sama papa. Aku minta maaf selama ini telah membenci papa!" ucapnya diantara isaknya.


"Kamu benci papa hanya di mulut saja, tapi dalam hatimu, papa tahu kamu tidak pernah benci papa!" ucap Devan dengan suara yang tercekat. Mata Devan basah. Daniel semakin hebat isak tangisnya. Semua rasa yang ada dalam dirinya akhirnya bisa ia curahkan dalam pelukan papanya. Dia menangis hingga dia sulit untuk bicara.


Baru kali ini aku melihat Daniel begitu lepas mengeluarkan keluh kesah dan kesedihannya.


"Maafkan papa karena tidak bisa bangun dan lihat pertandingan kamu. Maaf juga papa tidak bisa melindungi kamu dari anak jahat itu. Dan siapa gadis cilik rambut merah yang kasih kamu makan siangnya?" tanya Devan beruntun. Anak jahat? Gadis cilik? Apa yang dia katakan? Aku tidak mengerti!


Daniel mengangkat kepalanya dari atas dada Devan, dia menatap Devan dengan tatapan penuh tanya. Menatap ke arahku. Aku hanya mengangkat bahuku. Benar-benar tidak mengerti!


"Dari mana papa tahu kalau ada anak yang bersikap jahat padaku?" tanya Daniel. "Padahal aku tidak pernah cerita pada siapapun termasuk Matt dan Hanson!" menyebut nama kedua bodyguardnya.


"Tentu saja papa tahu. Sini. Mendekatlah..." Daniel mendekatkan telinganya ke arah Devan. Perlahan wajah sedihnya berubah, heran. Bingung. Lalu berubah senang.


Apa yang Devan bisikkan?


"Hei, kalian berisik apa sih?" tanyaku penasaran. Mereka mendelik ke arahku.


"KEPO!" seru mereka berdua kompak sambil tersenyum jahil. Kelakuan mereka hampir mirip. Dasar ayah dan anak! Lalu sekali lagi Daniel mendengar bisikan Devan mereka berbagi rahasia yang entah apa. Dasar menyebalkan!


Setelah beberapa saat lamanya aku di abaikan akhirnya mereka selesai. Daniel terlihat tersenyum malu, pipinya merah. Ada apa sih dengan anak ini? Sedangkan saat aku memandang Devan dia hanya tersenyum. Aaah sudahlah! Dasar laki-laki!


"Kalian gak akan kasih tahu mama apa yang kalian bisikan tadi?" Berjuang akan rasa perasaanku sekali lagi.


"Tidak!" jawab mereka lagi dengan kompak.


"Huhh... awas saja. Kalau aku punya anak perempuan aku juga akan melakukan hal yang sama! Kalian tidak boleh tahu!" ucapku kesal. Daniel melompat turun dari atas brankar lalu berdiri di belakangku dan memelukku erat.


"Ini rahasia antar lelaki. Mama tidak perlu tahu!" ucap Daniel dengan senyuman khasnya. Rasanya sangat menyenangkan sekali melihat anak ini bisa tersenyum lagi. Raut bahagia di wajahnya mengalahkan segalanya.