
masih merasa bingung, istri siapa yang Tiara maksud? Ingin bertanya tapi wajah gadis itu terlihat menyeramkan. Ya sudah lah. Lain kali saja dia akan bertanya. Wanita kalau sudah ngambek susah, pasti tidak akan menjawab!
...***...
Hari ini Gio dan Tiara akan menghadiri rapat. Seperti biasa bos Axel sedang sibuk dengan Renata, mengurusi gaun pernikahan. Pria itu akan menikah dengan Renata bulan depan.
Mereka sih senang. Lah aku? Lagi-lagi Gio merutuki saat semua pekerjaan dilimpahkan padanya. Tapi percayalah itu hanya di mulutnya saja, di hatinya dia senang luar biasa dengan pernikahan adiknya itu.
...***...
Axel tersenyum senang saat melihat Renata tampil cantik dengan balutan gaun pengantin di tubuh mungilnya.
Dia tak menyangka akhirnya sebentar lagi ada akan melepas masa lajangnya. Dan memberikan menantu untuk mama dan papanya.
Pernikahan kak Daniel dan istrinya sudah tandas di tengah jalan beberapa tahun yang lalu membuat mamanya kecewa dan jadilah sang mama yang terus mendesak dirinya dan Gio untuk mencari pendamping.
Tak akan mudah bagi mereka meminta Kak Daniel untuk menikah kembali. Pernikahannya dengan istrinya kemarin meninggalkan luka yang dalam untuk Daniel dan keluarga. Entah kenapa mereka bercerai. Baik Daniel maupun kakek Surya hanya diam tak mau membuka suara.
"Axel!" panggil Renata yang kini memperhatikan dirinya di cermin.
"Bagus tidak?" tanya Renata, dia memutar dirinya ke kanan dan ke kiri. Jika dia biasanya cuek dengan penampilannya, kali ini dia ingin selalu tampil cantik di hadapan Axel.
Axel bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Renata.
Dia memperhatikan Renata dari atas sampai bawah lalu kemudian ke atas lagi. Senyumnya mengembang sempurna.
"Cantik!" ucap Axel seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping calon istrinya. Axel melabuhkan dagunya di bahu Renata. Akhir-akhir ini dia sangat manja pada gadis itu. Jika biasanya dia akan manja pada sang mama, lain lagi sekarang semenjak Renata tinggal di rumahnya.
Renata mengelus pipi Axel. Senyumnya mengembang sempurna melihat bayangan mereka di pantulan cermin.
"Aku masih gak percaya kita sebentar lagi akan menikah!" ucap Axel.
Renata tertawa lirih, entah sudah ke berapa kalinya pria itu mengatakan hal seperti itu.
"Aku bosan dengernya Xel! Coba katakan hal yang lain!" pinta Renata.
"Seperti?" tanya Axel bingung.
"Seperti aku cinta kamu?" tutur Renata.
"Aku juga cinta kamu!" jawab Axel.
"Ih Axel! Bukan itu yang aku mau! Tapi bilang kalau kamu cinta sama aku!" Renata merengut sebal. Dekat dengan Axel membuat dirinya berubah. Lebih senang dan bahagia.
"Tadi kamu tanya aku kan? Ya aku jawab!" ucap Axel sekenanya. Dia tertawa terkekeh.
Dasar tidak romantis!
Axel mendekatkan dirinya pada Renata.
Cup.
"Aku bercanda!" ucap Axel mengecup pipi Renata dengan sayang.
Renata memerah di wajahnya, dia menatap dirinya di cermin sudah merah saja pipi itu meski tanpa blush-on.
Axel tersenyum puas. Hasil karyanya terpampang indah di depan sana.
"Axel! Jaga jarak, Nak!" suara sang mama menginterupsi dari belakang mereka. Seketika kedua orang itu melepaskan pelukannya dan saling menjauh masing-masing satu langkah.
Yah mama mengganggu aja! Axel kesal. Dia mendelik ke arah sang mama tapi segera melengos saat melihat mata mamanya yang membulat.
"Ingat kalian belum sah!" Tunjuk Anye pada keduanya. Ibu Melati hanya tertawa saat melihat kedua anak itu salah tingkah, malu pasti karena tertangkap basah sedang bermesraan. Melati ikut menunjuk pada keduanya lalu menutup mulutnya yang tertawa mengejek mereka.
Dari belakang para mama, Tiana berjalan mendekat ke arah Axel dan Renata. Sakit memang hatinya, tapi mau bagaimana lagi Axel sudah melabuhkan hatinya pada gadis cantik ini.
"Tiana! Bagaimana kabarnya?!" Axel mendekat dan memeluk sepupunya ini. Sudah hampir dua bulan lebih mereka tidak bertemu.
Tiana balas memeluk Axel dengan canggung. Meski dia menanti-wanti hatinya untuk tidak baper terhadap Axel, tapi dia tak bisa. Bisa di bilang Axel adalah cinta keduanya setelah yang pertama ia berikan untuk Alex, sang papa.
"Aku baik Xel. Urusan perusahaan buat aku sibuk dan gak bisa pergi keluar!" Bisik Tiana di dekat telinga Axel. Hal itu membuat seorang yang berdiri di belakang mereka terasa panas di dadanya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Mereka saudara sepupu, sedangkan dia .... Dia masih orang lain!
Tiana yang tak sengaja melihat raut tak biasa di wajah Renata segera melepas pelukannya pada Axel. Statusnya memang sepupu, tapi kini Axel sudah ada yang punya, sudah ada yang cemburu jika pria itu ada di dekat gadis lain termasuk saudaranya.
Tiana menjauhkan dirinya dari Axel. Dia mendekat pada Renata dan mengulurkan tangannya.
"Selamat ya, Re. Sebentar lagi kamu akan bergabung dengan keluarga besar kami," ucap Tiana memaksakan tersenyum. Hatinya sungguh sakit, kalah dengan seorang gadis yang baru saja Axel kenal beberapa bulan ini.
"Aku ke tempat ibu dan mama dulu ya!" pamit Tiana pada Renata. Dia dan Axel mengangguk bersamaan. Tiana segera pergi sebelum matanya mulai memanas.
Mungkin benar apa kata Gio waktu itu. Jujur atau tidak sama sekali!
Tiana ingin jujur tentang perasaannya, lalu apa nanti yang Axel katakan? Lalu apakah perasaan mereka akan sama seperti sekarang? Seperti biasanya? Pastinya akan canggung sekali. Biarlah dia akan memendam saja perasaan ini untuknya sendiri. Toh mungkin jika sudah jodohnya nanti pasti akan ada juga yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Axel.
Renata menatap kepergian Tiana dengan diam. Ada yang tak biasa dengan gadis itu saat menatap Axel.
"Kamu cemburu, hem?" Axel mendekat dan menarik pinggang Renata hingga menubruk tubuhnya.
"Dia itu hanya sepupu aku!" Axel menjelaskan.
"Aku tahu." Ujar Renata lirih. "Tapi Xel, kalau ternyata dia ada hati sama kamu bagaimana?" tanya Renata.
Axel tertawa pelan. "Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Renata.
"Kami sudah bersama sedari kecil. Aku, Gio, dan Tiana. Kami sekolah dan bahkan pernah tidur bersama saat masih SD dulu. Meskipun kami tidak berasal dari darah yang sama tapi aku, Gio, dan Tiana saling menyayangi. Kami seperti adik kaka. Aku dan Gio.kembar, dan dia adik kecil kami!" tutur Axel mengingat masa lalunya.
Ah jadi kangen masa lalu. Sekarang sudah tidak bisa lagi tidur dan mandi bareng! Axel tersenyum geli. Bagaimana bisa dirinya dan yang lainnya tanpa malu mandi bersama dengan hanya menggunakan ****** *****? Ia ingat waktu itu ia dan Gio hampir berumur sepuluh tahun sedangkan Tiana masih sembilan tahun. Itu saat-saat sebelum dirinya di culik dan harus menjalani operasi transplantasi jantung.
"Tidak dari darah yang sama?" tanya Renata bingung. Axel mengangguk. Dia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Renata. Di ambilnya tangan gadis itu dan dia simpan keduanya di atas pundaknya.
"Mama adalah putri angkat dari nenek Linda. Adik angkat ibu Melati." terang Gio.
Renata terdiam. Pantas saja Tiana mempunyai pandangan yang beda terhadap Axel. Berbeda dari saat ia memandang Gio. Tak ada apapun yang ia lihat di matanya, sedangkan tadi saat memandang Axel, mata Tiana seperti bahagia namun juga terlihat sayu dan kecewa.
"Axel. Bagaimana kalu ternyata dia benar-benar jatuh cinta sama kamu?" tanya Renata sekali lagi membuat Axel bingung. Apa yang sedang dia bicarakan?
"Aku sudah bilang, itu tidak mungkin. Mungkin dia hanya cemburu karena selama ini aku dan Gio sangat memanjakan dia. Dia pasti merasa cemburu karena aku sudah ada kamu!" Axel menjepit hidung Renata.
"Kalau kamu cemburu bilang saja. Aku akan sangat senang mendengarnya!" ucap Axel
"Aku gak cemburu!" Renata kesal dan juga malu.
Axel tersenyum seraya mendekatkan dirinya pada Renata.
Dari balik pintu seorang gadis merasakan hatinya nyeri saat melihat pria yang di sukainya sedang mencium gadis lain. Dia membalikan dirinya, dan segera pergi dari sana. Tak ingin dirinya menangis dan ketahuan oleh yang lainnya.
"Kak. Sepertinya dugaanku dulu benar!" ucap Anye. Melati yang juga tak sengaja melihat Tiana mengintip kedua muda-mudi itu, merasa sedih hatinya.
Tiana memang tak pernah mengatakan apapun padanya, tapi nalurinya sebagai seorang ibu pun tak menyangkal kalau putrinya itu menyukai Axel. Namun, Axel hanya menyayangi Tiana seperti adiknya.
"Bagaimana lagi? Takdir memang berkata lain. Sepertinya kisah kita dan anak-anak kita hampir mirip."
"Semoga saja dia tidak seperti ibunya dulu!" sindir Anye.
Melati mendelik pada adiknya itu!
"Tidak akan! Tiana lebih baik dan lebih bijak daripada aku!" tuturnya. Dia sadar bagaimana dulu sikapnya pada adiknya ini.
"Iya lah. Beruntung sifat kak Alex yang menurun pada Tiana." cibir Anye. Melati mendecih sebal. Semua yang ada pada diri Tiana mirip dengan ayahnya tak ada sedikitpun yang mirip dengan ibunya.
Melati menghembuskan nafasnya kesal. "Apa aku harus mengandung lagi untuk mendapatkan anak yang mirip denganku?" tanya Melati.
Anye terkekeh.
"Coba saja. Nanti kalau berhasil dan anak kakak lahir bukannya akan sama dengan umur anak Tiana?"
"Iya juga!"
...***...
Axel dan Renata sudah pulang ke rumah. Mama Anyelir masih berada di butik milik Ibu Melati. Pertemuan kedua orang itu pasti akan memerlukan waktu yang lama, apalagi Ibu Melati baru saja pulang dari USA.
Renata dan Axel sedang makan siang berdua. Renata sangat lahap memakan makanannya, membuat Axel tersenyum senang. Akhir-akhir ini mood Renata membaik, dia tak lagi susah jika di ajak makan. Bahkan dia bisa menambah porsi makannya jika yang di masak adalah makanan kesukaannya.
Pernah suatu hari Renata protes karena koki memasak banyak makanan kesukaannya hingga dia bingung untuk memilih makanannya. Terlalu banyak, hanya untuk dirinya sendiri. Itu adalah perintah Axel dan juga mama Anye. Mereka semua menyayangi dan memanjakannya di rumah itu. Sampai Renata tidak boleh pergi bekerja. Tapi Renata tidak mau hanya berpangku tangan. Ia juga merasa bosan jika tidak bekerja Apalagi tangannya juga sudah terasa jauh lebih baik.
"Tambah lagi?" tanya Axel.
Renata menggelengkan kepalanya, dia lebih memilih puding buah yang segar untuk makanan penutupnya. Puding buah dengan potongan mangga dan stroberi yang manis dan segar.
"Makan yang banyak!" Axel menggeserkan piring puding miliknya untuk Renata. Renata tersenyum sambil melahap puding itu sesuap demi sesuap.