DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 75



"Kenapa tidak suruh saja orang lain yang melakukan ini?” tanya Gio.


“Aku tidak mau. Ini kamar anakku. Aku ingin mengecat nya sendiri.” ucap Axel.


“Kalau ingin mengecat sendiri, ya sendiri saja. Kenapa ajak-ajak aku?” tanya Gio kesal.


“Kalau aku sendirian. Ini tidak akan cepat selesai.” ucap Axel dia tidak peduli dengan wajah kesal Gio.


“ Ini tidak akan selesai. Harusnya saat kita libur kalau ingin mengecat ruangan ini.”


“Benar juga. Kalau begitu besok kita libur.”


“What?! Kamu gila. Besok kita ada pertemuan penting. Jangan ambil libur seenaknya.” ucap Gio. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Axel. Anak ini terlalu bucin akut, apalagi semenjak Renata hamil.


“Kalau begitu kamu saja yang pergi besok. Aku akan selesaikan ruangan ini.” ucap Axel santai.


Gio menatap Axel dengan kesal.


“Apa?!” Axel mendelik sebentar lalu kembali memoles dinding di depannya.


“Bisa tidak jangan abaikan perusahaan. Meski aku bisa melakukannya, tapi orang-orang tentu lebih ingin bertemu dengan pemimpinnya.” ucap Gio. Rasanya dia ingin sekali melemparkan cat di tangannya pada pemuda ini. Meski dia tak yakin Axel akan sadar.


Renata yang mendengar pembicaraan keduanya merasa sangat bersalah. Karena dirinya Axel seringkali mengabaikan tanggung jawabnya.


“Dia benar Xel.” suara Renata terdengar membuat Axe dan Gio menoleh ke belakang. Renata mendekat ke arah mereka “Kalau soal mengecat kan bisa suruh yang lain. Atau bisa dilakukan di lain hari.”


Axel merengut, dia sangat ingin segera menyelesaikan ruangan ini dan menatanya sedemikian rupa. Pasti akan terlihat indah. Dia juga berencana akan menambahkan perosotan kecil dan juga menyediakan kolam dengan banyak bola plastik disana.


"Tapi aku ingin selesaikan ini." Axel merajuk bak anak kecil. Satu hal yang harus Renata lakukan adalah menambah kadar kesabarannya. Mungkin karena Axel adalah anak bungsu, tapi dia juga anak bungsu dan dia tidak seperti Axel. Jadi bungsu atau tidaknya bukan menjadi patokan!


Gio menatap Axel dengan jengah. "Dasar Bucin!" decihnya kesal, sengaja ia bicara dengan keras supaya anak itu bisa mendengarnya.


"Kalau iri bilang saja! Sana pergi saja sama Tiara minta dia bucinin kamu!" Axel mengibaskan tangannya. Mengusir Gio.


Haihhh tadi siapa minta gue datang dan ngecat! Tahu bakal di usir gak bakalan deh datang! Gio melirik kesal ke arah Axel.


Renata tertawa melihat interaksi keduanya. Memang semenjak dia mengenal mereka berdua, mereka selalu seperti ini. Selalu saja berdebat tapi di balik itu semua, tersimpan rasa sayang yang besar kepada yang lainnya.


"Ya sudah! Syukurlah kalau aku di usir. Lebih baik aku pulang dan rebahan di rumah!" Gio menyimpan kuas catnya dan mengambil jas kerjanya.


"Eh. Eh ... Mau kemana?" tanya Axel bingung.


"Yah .... Dia marah!" ucap Axel mengadu pada Renata.


Renata berkacak pinggang, sok marah dengan tingkah Axel.


"Itu karena kamu sih! Sudah tahu Gio bagaimana orang nya malah kamu gituin!" ucapnya dengan pelototan khas Mama Anyelir saat memarahi Axel.


"Hehe... Habisnya dia ngeselin. Dia kan masih jauh dari yang namanya peran orang tua. Coba saja kalau dia tahu istri lagi hamil, kita lihat saja bagaimana dia nanti!" Axel tersenyum sendiri.


Ya ampun satu lagi yang Renata tahu, bagaimana sifat Axel yang lain.


Guo turun ke lantai bawah. Dia menyampirkan jasnya di pundak. Berjalan dengan santai ke bawah. Dalam hati dia bersyukur Axel mengusirnya. Dia sangat lelah sekarang!


"Sudah selesai?" tanya Mama basa-basi. Mama sedang menyantap buah di piringnya. Dia tahu pasti jika mengecat bukan perihal mudah.


"Belum. Axel yang akan menyelesaikan semuanya malam ini." ucap Gio. Dia mendekat pada mama dan memeluk mama sekilas.


'*P*asti mereka bertengkar lagi!' batin Anyelir.


"Makan malam disini?" tanya Anye.


"Enggak, Ma. Aku kembali saja ke kantor, masih banyak pekerjaan disana." ucap Gio.


"Kalau begitu bawa bekal ya buat makan malam nanti?" tawar Anye.


"Ah, tidak usah!" Gio mengambil garpu di piring mama dan menyuapkan buah pepaya ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dengan perlahan.


"Kamu tidak pernah tidur lagi di sini. Bahkan tidak mau makan malam bersama kami!" Mama memasang wajah sedihnya. Dia merasa kehilangan sosok Gio akhir-akhir ini.


Gio tersenyum kecil.


"Besok malam aku akan makan disini. Aku janji. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sekarang buat pertemuan besok." ucap Gio.


Anye tersenyum seraya mengelus pipi Gio.


"Awas kalau kamu ingkar. Hukumannya akan mama jodohkan kamu dengan gadis pilihan Mama!" ancam Anye.


Gio tersenyum meringis.


Kalau sudah di ancam begitu dia tentu tidak mau. Dia tidak mau durhaka kepada orang yang sudah menyayanginya ini. Tapi di jodohkan... Oh No! Dia lebih baik dengan gadis bawel itu. Eh... ?