
Sial! Ada apa dengan ku?! Tubuhku rasanya panas dan tiba-tiba saja aku merasa bersemangat, dan bergairah! Apa mungkin ada yang menjebakku? Apa seseorang memberikan sesuatu pada... Oh sial!!! Apa minuman yang tadi?
"Kak Sam?!" panggil seseorang, Nanda mendekat ke arahku, dia sudah memakai jaket dan juga memakai tas di samping tubuhnya. sedikit berlari dan menopang tubuhku yang sedikit condong hendak jatuh.
"Kakak kenapa? Mabuk ya?"
"Aku gak mabuk!" jawabku. "Aku cuma sedikit pusing." Terlihat dia yang berdiri di sampingku dengan poni yang sedikit basah, mungkin baru saja dia mencuci mukanya sebelum akan pulang. Dia terlihat berbeda di saat seperti ini! Terlihat menawan. Sial! Apa yang aku fikirkan?
"Apa kakak sakit?" dia bertanya saat aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, menepis semua yang aku fikirkan tentangnya.
"Tidak! Mungkin karena aku belum makan sedari pagi!" jawabku.
"Mana bodyguard kakak, apa mereka tidak ikut?" tanya Nanda, dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Dia membawaku duduk di sebuah kursi kosong.
"Mereka tidak ikut!" jawabku. Merasa ada yang tidak beres, aku bergegas untuk bangkit. "Aku harus segera pulang!" ucapku, tak ingin sesuatu terjadi di luar kendali. Lalu dengan langkah terhuyung mencoba berjalan ke arah luar, tapi lagi-lagi menubruk pengunjung yang lain.
"Kak! Apa kamu baik-baik saja?" ternyata dia mengikutiku ke luar. Pergilah, Nan! Pergi!
"Aku baik-baik saja!" ku coba untuk berjalan ke arah mobilku, tapi pandanganku mulai buram! Alhasil aku menabrak beberapa motor di parkiran. Susah payah akhirnya aku bisa sampai di mobilku. Ku rogoh saku celanaku mengeluarkan kunci mobil, tapi seseorang merebutnya dari tanganku.
"Kakak sedang sakit. Biar aku yang antarkan kakak pulang!" Nanda membuka pintu mobil dan mendorongku ke kursi penumpang.
"Tidak usah. Aku akan pulang sendiri!" tolakku.
"Kakak berjalan saja tidak bisa, apalagi menyetir! Sudahlah, kakak sudah banyak tolong aku, sekarang aku yang akan tolong kakak antarkan pulang." Dia terlihat khawatir, dan langsung menutup pintu mobil, berlari memutari setengah badan mobil lalu kemudian duduk di belakang kemudi.
Ku coba untuk memejamkan mataku. Tapi wangi aroma tubuh Nanda membuat aku merasa kacau! Ku lirik dia yang sedang fokus mengemudi, dia terlihat seksi saat fokus seperti itu!
Tidak! Jangan berfikiran seperti itu!
Keringat dingin keluar dari keningku, aku memindai dia yang duduk di sebelahku. Menatapnya dari atas hingga ke bawah. Tak ada yang spesial, tapi aku merasa semakin kepayahan menahan sesuatu yang bergejolak di dalam diriku.
Jalanan lengang membuat kami cepat sampai di rumah Anye.
"Maaf kak, aku gak tahu kakak tinggal dimana, jadi aku bawa kakak kesini!" ucapnya.
Aku keluar dari dalam mobil, lagi-lagi terhuyung. Obat jenis apa yang mereka masukkan ke dalam minumanku?
Nanda menekan bel rumah beberapa kali.
"Tidak ada orang disini. Anye meliburkan semua asisten, kecuali sekuriti." ucapku mengambil kunci cadangan di saku celanaku. Memasukkan kunci itu ke dalam lubangnya, tapi tidak berhasil, malah kunci itu jatuh ke lantai. Nanda mengambil kunci dan membantuku membuka pintu. Gerakan yang biasa di lakukan orang saat membuka pintu, tapi di mataku... so sexy!
"Ya sudah kakak masuk, aku pulang ya!"
Pamitnya, dia menyerahkan kunci itu padaku, tapi entah kenapa aku malah menariknya masuk ke dalam rumah yang gelap.
Dia terpekik kaget saat aku menariknya dan membawanya ke kursi sofa. Mendorongnya hingga dia terjengkang disana. Aku tidak tahan, menyambar bibirnya, manis! Dia berteriak dan memukulku, tapi aku tidak peduli. Aku tidak bisa menahan diriku. Tidak bisa! Perasaan ini juga sangat menyiksaku sampai aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan padanya.
Dia menangis, tapi aku juga masih tidak peduli! Aku benar-benar jahanam! Menahan kedua tangannya dan terus menyambar bibirnya, lalu turun ke tulang selangkanya.
Dia menendangku hingga aku terjatuh ke lantai, lalu dia berlari, tapi aku juga tak kalah cepat, menariknya dan memanggulnya layaknya karung beras. Tangannya memukuli punggungku, dan kakinya bergerak. Tubuh kecilnya bukan apa-apa di banding tubuh kekar ku. Dia berteriak minta di lepaskan.
Tidak semudah itu! Fikiranku jahat!
Brukkk... ku hempaskan dia di atas kasur. Dan langsung ku tindih tubuhnya, mengunci kedua tangannya dengan satu tangan besarku. Dia menggeliat, dan terus berteriak, menangis, memohon.
Tidak bisa! Aku tidak bisa menahan rasa ini! Panas! Rasanya tidak tahan! Aku butuh seseorang untuk mendinginkan!
Ku tarik dasiku dan mengikat kedua tangannya di kepala ranjang.
"Kak Sam, sadar! Ku mohon lepaskan aku!" air matanya mengalir dengan deras.
Aku membuka kancing bajuku satu persatu. Lalu membuka samua yang menempel di tubuhku, dan hanya meninggalkan satu kain terakhir yang menutupi benda pusakaku. Dia menatapku dengan sorot mata penuh permohonan.
"Maafkan aku, Nan. Tolong aku!"
Sreekkk!!!
Ku tarik kedua sisi bajunya hingga kancing-kancing putih itu bertebaran di atas kasur, sebagian menggelinding berlarian di lantai. Susah payah aku menelan salivaku. Tak menyangka kalau dia punya tubuh yang indah seperti ini. Kulitnya yang kuning langsat membuat dia seperti orang korea, apalagi dengan matanya yang sipit, hidung dan bibirnya kecil, dagu lancip, leher jenjang nan seksi. Dadanya... putih, penuh, dan berisi. Perut rata dengan pusar yang indah menurutku. Melihat ke arah bawah lagi... Sial! Masih ada yang menutupi!
Ku cari kaitan pada rok spannya dan menariknya ke bawah, membuangnya ke lantai.
Glek... Apa yang ada di bawah sana membuatku sulit untuk bernafas, lidahku terjulur bagai hewan yang bersuara menggonggong. Ku rasakan air liurku dua kali lipat dari biasanya!
"Kak Sam jangan! Tolong sadar, kak!" teriaknya.
Aku sadar!
Aku sadar!
Tapi kemudian ku tarik kain terakhir yang menutupinya dan kembali melemparkannya ke lantai.
"Kak, Aahhhh!!!" dia berteriak saat aku mendekat, melesakkan lidahku pada area pribadinya. Menjilatnya, memilin miliknya dengan bibirku.
"Kak Sam, sadar! Tolong sadar!" dia berteriak lagi. Kakinya terus mencoba menendangku, tapi apa yang aku lihat seperti dia sedang menggodaku! Dia seperti sedang menari-nari memanggilku!
Aku tidak tahan, sesuatu di bawahku terasa linu. Tak menghentikan permainan lidahku aku melepaskan kain terakhirku, dan merangkak naik menyusuri perut ratanya, dan kemudian bermain-main di area gunung kembar miliknya. Menyesapnya, memilin n***e-nya, meninggalkan warna merah disana!
"Kak Sam! Lepaskan aku, aku mohon, hiks! Aku mohon lepaskan aku!" menangis tersedu.
"Tolong bantu aku, Nan!" lirihku. "Tolong!" ucapku, lalu terdengar suara pekikan penuh kesakitan saat aku mengarahkan milikku padanya.
Aku benar-bear jahat. Aku pria brengsek! Aku jahanam!
Maaf, Nanda. Maaf!