
Mobil hitam milik Gio keluar dari basement, berjalan dengan perlahan bergantian dengan mobil yang ada di depannya. Gio sedang memainkan hpnya, sedangkan Heru fokus pada jalanan.
Ciiitt....
Tubuh Gio tersentak ke depan, hampir saja kepalanya terantuk kursi. Hp di tangannya terjatuh ke lantai mobil.
"Kau bisa menyetir tidak?!" tanya Gio dengan geram. Membungkuk mengambil hp yang ada di dekat kakinya.
"Maaf, Tuan. Tapi di depan ada masalah!"
Gio mendongak, menatap ke arah depan. Seorang gadis sedang duduk di lantai basemen sambil mengaduh kesakitan, memegangi kakinya.
"Apa kau baru saja menabrak?" tanya Gio.
"Iya!"
"Urus kekacauan yang kau buat!"
"Baik!" percakapan singkat antar dua lelaki beku irit bicara.
Heru keluar dari dalam mobil. Sedangkan Gio kembali pada hp di tangannya.
Gio menunggu, tapi Heru tak kunjung juga kembali ke dalam mobil. Tak sabar. Gio keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka berdua.
"Tidak perlu, Tuan. Aku tidak perlu ke rumah sakit. Ini salahku. Aku tak hati-hati. Aku terburu-buru, Tuan!" Si wanita, yang ternyata adalah Risa sedang berdiri bersandarkan ke mobil. Lututnya terlihat merah, seperti darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Gio yang berdiri di belakang Heru. Heru yang mendengar suara Gio di belakangnya beralih hingga kini berada di samping pria itu.
"Risa Tuan. Saya menabrak Risa!" ucap Heru. Gio menatap Risa dari atas hingga ke bawah hanya luka di lutut nya yang terlihat, sedikit merah di lengan ya g kini sedang diusapnya perlahan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gio dengan wajah yang biasa saja.
"Iya, Pak. Saya baik-baik saja. Hanya luka kecil. Tidak apa-apa!" ucap Risa dengan senyuman senang di bibir. Dia mengusap lengannya yang sakit.
Gio mendekat pada Risa, dia merendahkan dirinya untuk melihat bagaimana luka wanita itu.
"Eh, Pak. Aduh... jangan seperti itu. Ini hanya luka kecil." tolak Risa saat Gio melihat luka di lututnya. Dia mundur setengah langkah dari Gio.
"Ini tetap saja luka. Luka kamu harus di obati." Gio kembali menegakkan dirinya.
"Tidak perlu, ini hanya luka kecil saja, besok juga sudah tidak apa-apa."
"Heru. Ajak Nona ini ke mobil!" ucap Gio. Heru maju satu langkah lalu menggerakkan tangannya agar Risa lebih dahulu berjalan di depannya.
"Apa Anda butuh bantuan untuk berjalan?" tanya Heru.
"Tidak perlu, saya bisa. Trimakasih Pak Gio karena sudah perhatian dengan saya!"
"Mari Nona!" pinta Heru kembali. Risa berjalan dengan pelan sedikit pincang menuju ke arah pintu mobil. Bibirnya mengulas senyum. Recana yang dia jalankan untuk dekat dengan bos ternyata tak sesulit yang dia bayangkan. Heru membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Risa.
"Silahkan Anda masuk Nona!" ucap Heru.
Risa masuk ke dalam, tak lupa mengucapkan kata terimakasih untuk Heru. Pintu kembali di tutup. Risa menatap bingung pada Heru yang kini menjalankan mobilnya. Gio belum masuk dalam sana dan malah berbalik arah kembali menuju lift khusus direksi.
"Eh... , Pak. Itu Pak Gio kenapa Anda meninggalkan Pak Gio?" tanya Risa bingung.
"Pak Gio tidak terlalu suka dengan bau rumah sakit, jadi ada baiknya kalau Nona saya sendiri yang mengantar!" jawab Heru tanpa menoleh ke belakang atau melirik dari spion. Risa mencebik kesal. Ternyata memang tak mudah untuk mendekati bos dinginnya itu.
"Maaf kalau membuat Anda kecewa Nona. Tapi mendekati Pak Gio tidak akan mudah jika memang ini cara murahan yang Anda pakai. Jika aku perhatikan, Anda bukannya tidak sengaja berada di basement. Kenapa Anda ada di basement, padahal anda tidak membawa kendaraan?" tanya Heru. Risa tersentak dalam duduknya, seketika dia menegakkan tubuh mendengar ucapan Heru. Apa kelakuannya sangat jelas terbaca?
"Si... Siapa bilang aku ingin mendekati Pak Gio? Aku... Aku memang sedang ada di basemen tadi untuk.... untuk..." Heru tersenyum melihat dari spion di depannya, bola mata Risa berputar seperti sedang mencari-cari jawaban atau alasan.
"Teman? Teman yang mana? Seharusnya jika temanmu melihat kau tertabrak dia akan langsung datang bukan? Atau mungkin kau menabrakan dirimu tadi? Dan kau bersama dengan temanmu bersekongkol? Itu cara murahan dan juga kampungan Nona!"
"Siapa bilang? Aku tidak ada bersekongkol. Aku memang sedang ada disana untuk bertemu dengan temanku. Kalau tidak percaya Anda tanyakan saja pada dia!" seru Risa.
"Tidak perlu karena aku sudah tahu!"
Glekk...
Susah payah Risa menelan ludahnya. Apa yang pria ini ketahui?
"Kau mungkin tak akan terlalu menyesal jika kehilangan jam tangan mahalmu di bandingkan dengan kehilangan pekerjaan, bukan? Turun!"ucap Heru dengan nada dinginnya. Risa menoleh ke arah luar jendela, mobil telah berhenti sempurna.
"Ap... Apa?"
"Kau tidak tuli. Malam ini buatlah surat pengunduran diri dan serahkan padaku besok pagi!" ucap Heru dengan tak mengubah nada pada suaranya.
"Mak... Maksudnya aku di pecat?" tanya Risa tak percaya. Heru hanya diam tak menjawab, dia hanya menatap Risa dengan sedikit menolehkan kepala, memandang wanita itu dengan sudut matanya.
Risa yang tak mendapat jawaban merasa marah, siapa pria ini? Dia hanya kacung, sopir, dan pengawal rendahan. Bagaimana bisa dia bicara layaknya bos besar?!
"Tidak! Kau bukan bos. Jangan seenaknya berlaku seperti bos. Kau hanya kacung rendahan tak bisa seenaknya saja memecatku!" tunjuk Risa pada Heru dengan lantang. Harga dirinya sebagai orang yang bebas membuat dirinya tak mau kalah dari pria dengan status babu ini.
Heru sudah biasa mendapati orang yang semacam ini. Dia melepaskan seatbelt, dan keluar dari dalam mobil. Membuka pintu mobil bagian belakang dan menyuruh Risa turun dengan gerakan kepalanya.
Tak kunjung turun juga. Heru menunduk dan meraih lengan Risa, menariknya keluar dari dalam mobilnya.
"Hei apa yang kau lakukan!" jerit Risa, mencoba berontak untuk lepas dari cengkeraman tangan besar Heru. Beberapa orang yang ada disana melihat kejadian itu.
"Hei kau tuli ya? Dasar babu! Lepaskan aku! Kau tak bisa seenaknya saja menyuruhku membuat surat pengunduran diri! Memangnya siapa kau, Kau hanyalah pria yang statusnya tak setara dengan ku. Pria rendah. Kau hanya babu!" jerit Risa.
Heru sangat menyayangkan. Paras wanita ini cantik, tapi sayang lidahnya busuk sekali sampai rasanya Heru ingin sekali membuang wanita ini jauh-jauh.
"Aww...!" Risa memekik kesakitan. Lututunya yang tadi terluka bertambah sakit saat Heru melemparnya ke trotoar. Sungguh pria yang tak berperasaan. Setidaknya jangan dilempar juga. Banyak orang yang melihat disini!
"Kenapa kau melemparku!" teriak Risa menahan sakit.
"Aku sudah memintamu turun dan kau tidak mendengarkan!" jawab Heru singkat dengan wajah tanpa rasa bersalah.
"Ingat apa yang aku bilang tadi. Segera setelah jam kantor dimulai, aku ingin kau menyerahkan surat pengunduran diri." tanpa menunggu jawaban Heru segera masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meni ggalkan Risa yang kini berteriak memaki pria tak berperasaan itu.
"Heii... Dasar babu! Kenapa kau tinggalkan aku disini!!" teriak Risa. Percuma. Mobil itu sudah jauh dan menghilang di belokan depan sana.
Dada Risa naik turun karena emosi. Dia melirik ke kanan dan ke kiri. Merasa malu juga karena banyak yang memperhatikannya.
"Sial! Gara-gara Ghea. Awas saja kalau aku benar-benar di pecat dari perusahaan. Aku akan cari Ghea. Aaarrggghh...!!" berteriak sekali lagi.
"Mana daerah Ini jauh banget lagi dari rumah!" ucap Risa kesal. Dia terpaksa harus menyetop taksi untuk membawanya pulang.
.
.
.
.
Maaf ya... othor cuma bisa up sedikit, karena othor kerja di siang hari dan bisa ngetik malam hari. Bahkan Yumna gak sempet up karena udah lelah. 😭
maaf karena telah membuat readers kecewa. 🙏🙏