DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 148



Devan Pov.


Tiga jam berlalu. Anye pasti khawatir karena aku dan ayah belum bisa memberinya kabar. Kami berada di sebuah dermaga usang yang sepertinya sudah sangat lama tidak di gunakan. Tembok-tembok yang berlubang, dan atap yang rusak membuat udara di sekitar sini dingin apalagi aku lupa tidak memakai jaket. Mendengar ayah akan pergi untuk mencari Daniel aku segera bergegas mengikuti ayah dan lupa dengan keadaanku sendiri. Tempat ini berada sangat jauh dari kediaman ayah, kurasa lebih dari satu jam kami berkendara dengan mobil kesini.


Daniel berada di sebuah ruangan. Pria itu tidak ingin melepaskan Daniel sebelum keinginannya tercapai. Aku memang tidak mengerti bahasa mereka, tapi aku yakin mereka menginginkan hal yang besar dari ayah, terbukti dengan mereka hanya memperlihatkan Daniel dari kejauhan pada kami lalu membawa putraku kembali ke ruangan lain.


Daniel terlihat tenang, mungkin jika anak lain yang seumuran dengannya dia akan menangis atau berteriak meminta bantuan, tapi putraku... hebat! Dia mempunyai ketenangan yang luar biasa! Bahkan wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi ketakutan sama sekali.


Kami duduk di kursi yang telah di sediakan. Ayah berada di depan, sedangkan aku dan Samuel duduk di belakang, kami di kelilingi oleh hampir sepuluh orang-orang berjas hitam, dengan tubuh kekar dan tinggi, mereka membawa senjata. Baik itu pistol, maupun senjata laras panjang. Siap untuk membidik kami setiap waktu.


Wajah Samuel memar, dia pastinya sempat tertangkap saat akan menyelamatkan Daniel. Tidak ada pengawal menemani dia. Bahkan mereka juga melumpuhkan puluhan pengawal ayah. Mereka sangat brutal, menggunakan senjata secara membabi buta, seakan nyawa tidak berharga sama sekali bagi mereka. Ada yang luka ringan, berat, maupun mati! Apakah lawan ayah begitu hebat kali ini? Siapa mereka ini? Kenapa dia sampai menculik Daniel untuk mengancam ayah?


Mereka saling berbicara sambil bermain catur, terkadang pria tua itu tertawa lalu ekspresinya berubah dengan seketika. Aura dingin menyeramkan terasa lebih menusuk dari pada udara dingin di luar sana.


"Sam, apa yang mereka bicarakan?" tanyaku berbisik. Samuel mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku.


"Dia ingin proyek milik ayah!" jawab Sam sama lirihnya.


"Proyek apa?"


"Hanya proyek biasa."


"Lalu kenapa ayah tidak memberikannya saja?"


"Kau tidak tahu apa-apa!" ujar Sam. Menyebalkan! Aku memang tidak tahu apa-apa tentang proyek milik ayah ini, tapi apakah proyek itu lebih penting daripada nyawa cucunya?


"Kenapa kau sangat menyebalkan? Apakah kamu masih dendam padaku karena pernah aku suruh-suruh?!" tanyaku sebal.


Sam menarik nafasnya lelah dan berat.


"Ini memang hanya proyek kecil, tapi proyek ini hanya untuk manipulasi mereka saja!" ucap Sam.


Artinya mereka tidak benar-benar menginginkan proyek ini, dan hanya menggunakannya untuk tujuan lain?


"Sudah mengerti?" tanya Sam tanpa menjelaskan lebih terperinci. Aku mengangguk faham.


"Tapi sepertinya ada hal lain selain hanya manipulasi." tebakku.


"Ya, dia juga ingin balas dendam karena kematian istrinya. Informasi ayah pada polisi membuat istrinya mati terbunuh!" jawab Sam.


"Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya?" tanyaku.


"Tunggu saja ayah selesai bernegosiasi. Ayah pasti bisa menyelesaikan semua ini."


"Dan kita diam saja?" tanyaku. Sam mengangkat bahunya.


Apa dia punya rencana lain?


Seorang pria berjalan tergesa ke arah pria tua itu, seketika permainan mereka terhenti sementara. Dia mengangguk dan menggerakkan tangannya. Pria itu pergi.


Tak.


Tak.


Tak.


Suara sepatu terdengar berderap mendekat. Wangi aroma yang sangat familiar tercium seketika di hidung ku.


Oh tidak, jangan sampai...


Aku menoleh ke arah asal suara itu.


Kenapa dia datang?


"Gadis pintar!" ucap pria tua itu mengalihkan pandangannya dari papan permainan. Dia berdiri dan meninggalkan ayah yang masih duduk di kursinya. Mendekat ke arah Anyelir yang baru saja berhenti tepat lima langkah di hadapan pria itu.



Aku, Samuel, maupun ayah terkejut dengan kedatangan Anye.


"Geledah dia!"


Seorang pria maju.


"Aku kira anda punya kesopanan untuk tidak sembarangan menyuruh seorang pria menyentuhku!"


Pria itu mundur, seorang wanita maju menggantikan pria tadi. Dengan teliti dia menggeledah tubuh istriku. Mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya dan melemparkannya ke lantai. Pistol? pisau lipat?


"Clear!" ucap wanita itu. Lalu mengambil senjata yang ada di lantai, dan kembali ke belakang pria tua itu.


Anye dengan gaya angkuhnya mengangkat tinggi-tinggi sebuah berkas di tangannya. Dia berbicara. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Tapi dengan segala kekuasaan author kalian juga bisa mengerti. Ya, anggap saja begitu!


"Ini yang kau inginkan?" Meskipun aku tidak mengerti bahasa mereka, tapi aku mendengar Anye berkata dengan nada dingin.


Benarkah dia istriku? WOW. Mengesankan! Bahkan aku laki-laki hanya bisa menonton istriku dari bawah ancaman senjata.


"Benar itu berkas yang aku inginkan?" tanya dia tak percaya.


"Lihat saja! Sekarang mana putraku?"


Pria itu tertawa menggelegar. Dia menggerakkan tangannya, seorang pria yang lain datang dan mengambil berkas itu dari tangan Anye dan membacanya sekilas. Dia mengangguk, lalu mengembalikan berkas itu ke tangan istriku.


"Serahkan putraku, dan aku akan berikan apa yang kau mau!"


"Berkasnya dulu!"


Tawar menawar terjadi di antara mereka. Aku masih belum faham siapa disini yang akan memenangkan negosiasi ini.


Kami tidak bisa melakukan apapun. Semua orang menodongkan senjata ke kepala kami masing-masing. Ayah, aku, Samuel, Daniel, dan juga Anye. Mungkin jika pimpinan mereka tidak puas salah satu atau bahkan kami semua tidak akan lolos dari serbuan peluru.


"Yang kau butuhkan hanya aku. Lepaskan mereka semua!" suara ayah terdengar dari belakang pria itu.


"Jika kau sakiti mereka maka jangan harap kau akan mendapatkan apa yang kau mau!"


Pria itu tertawa penuh kemenangan.


"Teman, aku hanya ingin hal kecil dari dirimu. Di bandingkan dengan aku kehilangan istriku, hanya proyek kecil tidak ada apa-apanya kan?!" ucapnya.


"Kalau hanya ingin proyek itu aku akan berikan, tapi aku tahu tujuanmu menginginkan itu! Itu hanya alasan sebagai topeng untuk kau melakukan hal lain yang tidak manusiawi! Tolong hentikan!" ucap ayah.


"Selain itu akan merusak orang lain, kau juga akan merusak dirimu sendiri! Apa kau tidak takut akan masuk penjara lagi?"


"Penjara tidak ada apa-apanya. Malah membuatku semakin membenci dirimu! Kau tahu bagaimana kehilangan seorang istri?" Bentaknya. Pria itu berjalan ke arah Anye. Apa yang akan dia lakukan? Dia mengeluarkan pisau dan menggoreskan ujung pisau itu ke lengan istriku.


"Bagaimana kalau hari ini aku akan memberitahumu tentang perasaanku dulu. Mana yang lebih berharga antara nyawa istri, anak, atau cucumu?" Perlahan darah segar mengalir dari lengan Anye, Anye meringis kesakitan. Baju putihnya berubah sedikit memerah karena darahnya.


"Hei, lepaskan istriku!" aku berteriak dalam bahasa yang aku yakin mereka juga bisa mengerti. Meskipun aku tidak mengerti dengan yang mereka bicarakan, tapi aku tahu sesuatu yang pastinya tidak baik yang dia ucapkan, apalagi dia sudah bermain dengan pisau dan melukai istriku!


Daniel berteriak keras saat melihat Anye terluka. Dia meronta meminta di lepaskan dari tangan besar pria di belakangnya. Menendang tulang kering pria itu hingga akhirnya Daniel bisa melepaskan diri dan berlari dengan kencang ke arah Anye. Daniel berdiri dengan beraninya di depan pria tua itu, berteriak mungkin memaki pria tua itu, terdengar nada suaranya yang seperti marah. Tentu saja, anak mana di dunia ini yang sanggup melihat ibunya di sakiti orang lain?


Pria tua itu menoleh padaku lalu kemudian ke arah Daniel, dan tertawa keras.


"Hey, kau! Salahkan saja kakekmu yang pernah bersikap tidak adil padaku!" Dia mengangkat kerah baju Daniel hingga kakinya terayun dan tidak menapak lagi ke tanah. Pria tua itu menghempaskan tubuh mungil putraku. Dia mengeluarkan pistol dari dalam saku jasnya, dan mengarahkannya pada Daniel. Aku berdiri dan berlari ke arah Daniel.


Dor!!


Suara tembakan terdengar menggema. Kakiku sakit, rasanya sangat sakit saat peluru itu menembus betisku. Aku ambruk tiga langkah di depan Daniel. Mata Daniel membola melihat kakiku yang berdarah di balik celana training warna abu-abu yang ku pakai. Pria tua itu tertawa terbahak, sepertinya dia sudah gila.


"Hentikan!" Ayah berteriak saat pria itu kembali menodongkan senjata apinya ke arahku.


"Hentikan kegilaan ini! Aku akan tanda tangan. Tapi jangan sakiti keluargaku!" ucap ayah.


"Kenapa tidak dari tadi?" dia berkata dengan tenangnya, lalu berjalan mendekat ke arah Anyelir dan merebut berkas di tangannya. Berjalan kembali ke meja dan menghempaskan papan catur hingga jatuh berserakan di lantai.


Seorang pria yang lain membuka laptopnya dan mengetik sesuatu disana. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, satu lembar kertas sudah berada di tangannya, siap untuk di tandatangani oleh ayah.


Ayah mengambil pulpen yang sudah di siapkan, lalu mulai membubuhkan tanda tangan disana. Pria tua itu tertawa menyeramkan menatap puas ke selembar kertas itu.


Sebuah titik merah terlihat di baju pria tua itu, bergerak ke atas melewati pundaknya lalu lehernya, dan kemudian berakhir di belakang kepalanya. Wanita yang tadi menggeledah Anye berlari lalu menubruk pria tua itu hingga mereka terjatuh. Seketika debu terbang di lantai. Sebuah tembakan dari arah luar meleset. Pistol yang di pegang pria tua itu terlepas dan terjatuh di tengah.


"Kalian berbohong!" teriak pria tua itu murka. Daniel berlari mengambil pistol itu sebelum pria tua itu berhasil meraihnya.


"Daniel. Tidak!" teriak Anye. Dia menggerakkan tangannya, menyikut pria di belakangnya hingga pistol di tangan orang itu terlepas, Anye merebutnya dan berlari ke arah Daniel.


Terdengar suara tembakan dengan keras. Samuel sudah memegang dua senjata di tangannya. Beberapa orang di belakangnya sudah tergeletak tak berdaya. Termasuk pria yang tadi menodongkan senjatanya pada Anye.


Anye dan Daniel kompak mengarahkan pistol di tangannya ke arah pria tua itu. Sedangkan ayah, terlihat pasrah dengan pistol di kepalanya yang di todongkan oleh musuh yang lain. Anak dan istriku sangat hebat. Bahkan Daniel yang masih terikat tangannya dia berdiri dengan sikap sempurna, tanpa rasa takut!


"Menarik! Keluarga yang sangat kompak, kecuali pria yang lemah itu!" Tunjuknya padaku. Apa yang dia bicarakan? Apa dia sedang menjelek-jelekk aku?!


"Diam dan lepaskan ayahku!" teriak Anye. Ku lihat tangannya sedikit bergetar. Sepertinya ada rasa ketakutan saat Anye memegang senjata.


"Polisi sedang mengepung tempat ini dan kau tidak bisa lolos. Kembali ke penjara, atau mati adalah kehormatan untukmu!" Ucap Anye lagi dengan tatapan membunuh.


Pria itu menggerakkan kakinya menendang tangan Anye hingga pistol itu terlepas. Anye mengerang kesakitan memegangi tangannya.


Daniel melepaskan tembakan ke arah perut pria itu, tapi dia sama sekali tidak terpengaruh. Dalam kesakitannya dia meraih Daniel dan menyandranya sekali lagi. Bahkan mencekik putraku.


Semua orang fokus pada Daniel, termasuk Samuel, sedangkan aku perlahan berjalan mendekati ke arah dimana senjata milik Anye jatuh tadi. Dengan berjalan tertatih aku meraih pistol itu. Aku belum pernah memegang senjata. Tapi untuk sekarang ini hanya inilah satu-satunya yang mungkin bisa membantu kami.


Dalam pengamatanku, pria tua itu sudah tidak lagi mempunyai senjata. Untuk sementara bisa di bilang nyawa ayahlah yang berada dalam bahaya.


Ku arahkan pistol itu ke arah pria yang menyandra ayah. Mencoba untuk menenangkan hatiku. Tanganku gemetar. Entah apakah aku bisa atau tidak. Semoga saja!


Berhitung di dalam hati. Satu... Dua... Tiga...


Dor!!


Aku berhasil menarik pelatuknya.


Bruk!!


"Ayah!!" teriakan Anye, menggema di seluruh ruangan. Aku membuka mataku, ayah terjatuh sedangkan pria di belakangnya menatapku tajam.


Deg.


Deg.


Apa yang sudah aku lakukan?!