
Gio mengambil hp dari saku jasnya dan melakukan panggilan pada Axel.
"Aku akan kembali sedikit lebih lama, ada sedikit insiden disini." ucap Gio singkat seraya melirik ke arah gadis di sampingnya. Gadis itu melengos dengan sebal, dia memalingkan pandangannya ke arah lain.
Gio kembali melajukan mobilnya. Jam di tangannya sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore. Sudah pasti ia akan melewatkan meeting penting tersebut. Biarlah Axel saja yang melakukan meeting itu sendirian. Salahnya karena dia menyuruh dirinya untuk mencari bunga segala!
Krriiing!!!
Suara telfon berdering. Gio menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Baru saja ia menempelkan hpnya, sedetik kemudian ia jauhkan benda itu dari telinganya. Suara Axel terdengar marah di telfon, menanyakan bunga miliknya.
Gio hanya bisa meminta maaf pada pria itu.
Mobil kembali berjalan dengan perlahan.
Beberapa toko bunga sudah ia datangi, tapi tak ada bunga iris disana. Ada beberapa tangkai, tapi sudah layu dan tak cantik lagi.
Gio mendengus kesal melirik ke arah gadis di sampingnya yang sedang memainkan hpnya dengan santai, sesekali dia tertawa dan mengetikkan sesuatu disana. Rasanya dia ingin sekali melemparkan hp itu ke jalanan. Gadis itu seperti merasa tak bersalah sama sekali setelah merusak bunganya.
"Hei. Kamu tahu dimana lagi yang ada toko bunga?" tanya Gio pada gadis itu. Sudah hampir satu jam mereka berkeliling dan tak melihat ada toko bunga lainnya.
Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Gio memandangnya tak mengerti.
"Ada sih!" ucapnya kemudian. "Tapi kalau dari sini tentu jauh!" tambahnya.
"Dimana?" tanya Gio.
Gadis itu menyebutkan sebuah alamat. Gio tahu dimana alamat itu, dia segera menjalankan mobilnya ke alamat yang dituju.
Hampir tiga puluh menit mereka telah sampai disana. Gio melongo tak percaya saat mereka kembali tak jauh dari tempat mereka pertama bertemu tadi. Hanya dua blok dari toko bunga dimana gadis itu meninggalkan sepedanya.
"Ini Pak bunganya. Saya sudah ganti, ya. Sudah gak punya hutang lagi sama Bapak," ucap gadis itu seraya menyerahkannya bunga Iris yang sama seperti tadi pada Gio.
"Sudah ya, Pak. Karena saya sudah mengganti bunganya, saya mau pulang. Trimakasih sudah antarkan saya kembali!" ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu jahilin saya?" tanya Gio kesal, dia menahan lengan gadis itu. Dia hanya meringis melirik ke arah Gio dengan mata yang menyipit karena kedua sudut bibirnya tertarik ke samping.
"Jahilin apa?" tanya gadis itu.
"Kalau kamu tahu ada toko bunga disini kenapa kamu gak bilang dari tadi dan membuat saya berputar-putar di jalanan?" kesal Gio berteriak.
"Tapi gak gitu juga, kali! Kamu sudah buat saya di marahi ...." Gio melotot tajam.
"Ya ... itu ... urusan bapak lah! Urusan saya kan, saya gantiin bunga yang saya rusakin tadi!" potongnya, gadis itu tak mau mengalah.
Gio melepaskan cekalan tangannya dan memukul kepala gadis itu dengan buket bunga di tangannya
Pelan tentu saja karena ia wanita, tapi cukup membuat gadis itu terdiam mematung.
Gio menggerakkan jari-jari tangannya, ingin rasanya ia meremas wajah mungil di depannya ini. Gadis itu tersadar dia melotot tajam pada Gio.
"Apa? Bapak mau ngacak-ngacak wajah saya, begitu? Nih, kalau mau, tapi saya jamin bapak akan tahu akibatnya kalau bapak menganiaya seorang gadis polos dan lugu seperti saya!" gadis itu menyodorkan wajahnya pada Gio.
Gio menarik tangannya.
"Polos? Lugu? Kamu?" Gio tertawa mendecih, merasa ingin muntah mendengarnya.
"Apanya yang polos, huh? Gadis cerewet, menyebalkan, mengesalkan, barbar!" ucap Gio dengan penekanan di setiap kata-katanya.
"Memanganya kenapa kalau aku seperti itu, huh??!! Apa urusannya sama bapak?" tanya gadis itu.
Gio merasa kesal dengan gadis ini. Tak ingin kepalanya terasa sakit, dia memilih pergi ke mobilnya sambil membanting pintunya dengan keras.
Gio segera melajukan mobilnya kembali ke perusahaan, sedangkan gadis itu berjalan ke toko bunga dimana sepedanya tertinggal disana. Tepatnya ditinggalkan!
"Dasar gadis barbar!" rutuk Gio sambil memukul kemudinya keras. Hari ini dia merasa kesal luar biasa. Lelahnya pekerjaan, membeli bunga, dan kemudian bertemu dengan gadis aneh seperti wanita itu.
Gio sudah sampai di depan kantor. Axel sudah menunggunya di lobi dari hampir lima menit yang lalu. Menunggu Gio baginya sangat mengesalkan, apalagi pria itu membawa serta bunganya. Temat juga sudah hampir pulang dari pekerjannya. Semoga saja dia tidak terlambat!
Gio turun dari dalam mobil dan menyerahkan buket bunga itu pada Axel.
Axel menatap bunga yang kini ada di tangannya dengan seksama. Cantik! Pasti Renata akan suka.
"Lama sekali!" ucap Axel lalu pergi begitu saja meninggalkan Gio tanpa mengucapkan kata terimakasih.
"Cih, dasar bucin!" gumam Gio kesal.