
"Dev. Bangun Dev!" suara seseorang terdengar sambil menepuk pipiku keras. "Kamu mimpi lagi? Bangun!" serunya lagi. Aku membuka mata, melihat Seno yang lagi-lagi akan memukul pipiku. Ku tepis tangannya dengan kasar.
"Mimpi Anye lagi ya?" tanyanya. Aku bangun dari tidurku. Melihat jam di dinding, aku tertidur selama dua jam! Mengusap peluh di dahiku, merenung sebentar.
'Jadi ini cuma mimpi?' Seno mengambil baju bayi yang ada di tanganku, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Berdecak malas.
"Sampai lecek gini baju bayi yang kamu pegang setiap malam?! Mau sampai kapan Dev?" Tanya Seno lagi.
"Sampai Anye ketemu!" aku berdiri, dan pergi ke arah luar. Kepalaku sedikit pusing.
Biasanya aku hanya mimpikan Anye sedang duduk di taman sambil mengelus perut buncitnya, atau memimpikan dia sedang makan dengan banyak dan lahap, tapi malam ini kenapa aku memimpikan dia sedang melahirkan? Apa mungkin dia memang melahirkan malam ini?
"Eh mau kemana?" tanya Seno.
"Minum." aku meneruskan langkahku pergi ke arah dapur, membuka kulkas. Ku sambar minuman kaleng yang ada. Seno mengikuti dari belakang, dia mengambil camilan dari kitchen set. Semenjak Anye pergi Seno yang menemaniku disini. Dia takut aku nekat. Takut terjun dari jendela kamar lah. Takut aku menyayat nadi ku lah. Atau minum racun mematikan. Aku tidak akan melakukan itu. Aku ingin bertemu Anye. Jika Anye inginkan aku mati untuk menebus kesalahanku, tidak masalah. Aku akan melakukannya!
"Sudah dapat kabar dari Anye?" tanyaku lagi. Kami duduk di kursi, Seno dengan santai memasukkan keripik ke dalam mulutnya.
"Ini sudah dua bulan Dev, kemana lagi kita akan cari? Bahkan dari medsos juga tidak ada kabar apa-apa. Hanya ada beberapa yang ingin menjahili dan memeras kita."
"Cari sampai keluar negeri!" titah ku.
"Bumi ini luas Dev, kamu mau kerahkan semua anak buah kamu? Mau sampai kapan? Jangan gila kamu! Mau kamu bangkrut gara-gara cari istri sampai keliling dunia?" Seno agak sewot. "Sekarang saja kamu udah kehilangan beberapa tender besar gara-gara gak fokus!"
"Aku gak peduli!" ku sesap minumanku hingga habis. "Aku cuma khawatirkan Anyelir dan anakku."
Seno menghela nafas lelah. Ya ini masalah ku, dan dia yang ikutan pusing.
"Dev, kamu juga harus perhatikan karyawan mu. Bagaimana kalau perusahaan sampai bangkrut gara-gara bosnya mengabaikan perusahaan? Berapa ribu karyawan yang akan jadi pengangguran? Dan lagi perusahaan ini susah payah yang di dirikan ayah kamu. Bagaimana perasaan dia kalau semua hancur gara-gara anaknya yang tidak bertanggung jawab?"
Aku terdiam, perkataan Seno sangat benar. Tapi aku tidak tahan. Dua bulan sudah Anye pergi, tidak ada kabar. Nomor hpnya sudah tidak aktif. Aku hanya bisa melihat Anye dari layar hpku. Beberapa video yang dulu sempat aku rekam menjadi temanku sehari-hari.
"Apa anakku sudah lahir ya? Aku mimpi Anye sedang di rumah sakit dan melahirkan. Anaknya tampan sekali. Wajahnya mirip sama aku." lirihku, tersenyum kecil mengingat wajah bayi mungil yang ku mimpikan semalam.
Seno menatapku iba. "Masih sekitar seminggu lagi kan dari catatan kesehatannya?" tanya Seno. Aku mengangguk. Ya. Seminggu lagi Anye akan melahirkan. Tapi mimpi itu tadi terasa nyata. Serasa dia memanggil namaku di dalam ruangan bersalin itu.
"Cari Anye sampai ketemu. Aku mau saat hari lahiran itu, aku mau menemani dia di ruang bersalin." titah ku pada Seno lalu pergi ke arah kamar, tidak peduli pada Seno yang sedang menggerutu karena permintaanku.
Pasang foto di pinggir jalan, sudah. Lapor polisi, sudah. Pasang di berita nasional, sudah. Termasuk di medsos, kebanyakan hanya penipuan yang meminta transferan.
Ku ambil bingkai foto. Disana ada surat dari Anye yang ku temukan di balik bukunya di atas nakas.
Teruntuk suamiku tersayang.
Devan.
Tidak tahu harus bagaimana lagi Dev. Aku tidak mau menyerah, tapi kamu yang paksa aku menyerah. Aku hanya takut kamu akan melukai anak ini. Ini anakmu. Aku bersumpah demi langit dan bumi. Demi hidupku. Aku bersumpah dengan nyawaku. Aku tidak pernah berselingkuh, dan ini memang benar anakmu.
Kalau hanya mama yang jahat, aku tidak masalah. Aku masih sanggup karena ada perlindungan dari kamu. Tapi kalau kamu juga ikutan jahat lalu aku akan berlindung pada siapa? Aku sudah di buang oleh keluarga angkatku. Keluarga orang tua kandungku bahkan aku tidak tahu dimana mereka.
Maaf Dev, aku sudah tidak tahan. Aku pergi walaupun tidak tahu akan kemana. Aku hanya ingin anak ini selamat. Dekat dengan kamu, aku takut. Takut kalau suatu hari nanti kamu emosi karena hasutan mama. Bagaimana jika anak ini lahir sebelum waktunya atau bahkan dia tiada. Bukan hanya aku yang bakal sedih dan marah, tapi kamu juga yang akan menyesal!
Aku pergi ya, jangan rindu. Kalau kita masih berjodoh kita pasti akan bertemu lagi. Tapi kalau kamu tidak tahan sendiri. Kamu boleh kok sama yang lain.
^^^Anye.^^^
Jangan lupa jaga kesehatan. Bercukur lah, aku tidak suka pria yang brewokan!
Jangan telat makan.
Lihat lah, meski dia marah padaku dan sekarang ini sedang jauh tapi dia masih perhatian, sedangkan aku saat dia ada disini aku malah melukai perasaannya.
Mataku panas setiap kali membaca tulisan tangan ini. Berantakan memang tulisan Anye, bahkan seperti tulisan anak SD.
Aku sangat jahat. Sampai aku tertipu oleh mama dan tidak percaya dengan perkataan Anye. Bahkan yang paling buruk saat tinggal di rumah mama, Anye juga di suruh membersihkan rumah, di maki dan terus di hina. Diingatkan bagaimana kedudukan dia. Aku baru tahu itu saat aku pergi ke rumah mama kemarin dari seorang pelayan muda yang sering membantu menyelundupkan makanan ke kamar. Mama keterlaluan, bahkan istriku sampai kelaparan!
Anye. Maafkan aku sayang. Aku suami yang buruk. Aku janji, jika suatu hari kita bertemu aku akan perhatikan kamu lagi.
Pagi menjelang, aku tidak bisa tidur lagi semalam. Kepalaku terasa sakit. Semenjak Anye pergi aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Khawatir. Bagaimana keadaan Anye dan anakku. Apakah memang sudah lahir?
...*...
"Dev ada masalah!" Seno mendekat dengan berkas di tangannya. Dia menyerahkan berkas itu.
"Apa ini?!" Pemutusan kontrak sepihak dari perusahaan S.
"Tidak bisa begini!" aku melemparkan kertas itu, dan melemparkan punggungku ke sandaran kursi dengan kasar.
"Bagaimana mereka bisa memutuskan kontrak itu!" aku berteriak pada Seno.
"Mereka meragukan kita Dev, mereka bilang kita tidak konsisten!"
"Tidak konsisten?!" aku berdiri dan menendang meja. Tidak tahukah mereka apa yang aku lakukan untuk proyek ini?
"Cari perusahaan mana yang berani melakukan ini pada kita!" Kemarin ada beberapa yang menarik sahamnya dari sini, sekarang pemutusan kontrak. Ada apa ini? Apa ini sebuah konspirasi?
"Baik. Aku akan cek segera."
Seno pergi keluar. Aku mengusap wajahku kasar. Kepergian Anye membuat aku terpuruk, hingga aku mengabaikan pekerjaanku. Dan inilah yang aku dapatkan. Karma. Karena aku membuat istriku menderita.
Dimana kamu sayang, sudah enam bulan aku cari kamu. Kenapa kamu menghilang seperti di telan bumi?
*
*
*