DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
258



Dengan perasaan takut yang teramat sangat pria itu berteriak. dia memohon dan juga menangis meminta di lepaskan. Kedua pria ini hanya tertawa keras melihat ketakutan yang mereka cipatakan pada pria itu.


Gio menerima samurai itu dari tangan Heru dan kemudian dia berjongkok di depan pria itu.


"Kau sudah berani mengganggu dan menyentuh istriku, bagian mana yang sebaiknya aku hilangkan? Aku tidak rela sama sekali dengan sikapmu tadi. Dia hanya milikku dan juga orang lain tidak boleh menyentuh istriku tanpa seizinku."


Pecah sudah tangis pria itu di hadapan Gio dan juga Heru membuat kedua orang itu tertawa dengan keras.


Pria itu sangat ketakutan, dia tidak ingin tangannya hilang dan menjadi cacat.


"Tolog kasihani aku, Pak. Aku punya keluarga yang harus aku hidupi, aku punya orang tua yang sakit. Kalau kau memotong tanganku aku akan bekerja bagaimana?" tanya pria itu dengan isak tangis nya.


"Mana aku peduli. Yang aku tahu tangan istri kutelah kau pegang, jadi jangan salahkan kalau aku hanya ingin membuat mu tobat dari perbuatnmu. Aku yakin kau juga tidak hanya melakukan ini ada istri ku saja, iya kan?" tanya Gio yang kemudian mendapatkan anggukan sebagai jawaban pria itu.


"Aku akan tobat. Aku ga akan lakukan itu lagi pada siapapun. Aku akan tobat!" Teriaknya lagi dengan tangis yang kini semakin kencang.


Suara tangis dan juga bising di Luar membuat Tiara terganggu dan juga terbangun. Wanita itu bingung dengan adanya suara tangisan tapi juga ada suara tawa dari luar sana. Tiara bangun dan berjalan ke arah luar.


Betapa terkejutnya Tiara saat melihat adegan bak di film pembantaian. Suaminya kini sedang berjongkok di depan seorang pria, dengan memegang samurai di tangannya. Heru hanya melihat tanpa melarang atau menghalangi.


"Gi apa yang kau lakukan?" tanya Tiara yang kini setengah berlari ke arah suaminya itu. Gio yang merasa namanya d panggil segera menoleh dan terdiam degan kaku. Ah, dia sampai lupa kalau Tiara tertidur di kamar itu, dan pasti dia terbangun karena sara tangisan pria ini yang kencang.


Tiara khawatir melihat Gio yang kini sedang memegang samurai di tangannya. Apa yang akan pria itu lakukan?


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tiara tidak percaya. Pria itu kini menoleh ke arah suara yang ia kenal tadi. Wanita yag tadi ia ganggu saat di kantin.


Tiara terkejut melihat pria yang mengganggunya kini ada di hadapannya, bersimpuh di kaki Gio dengan tidak berdaya, kasihan juga melihat dia ketakutan seperti itu, keberanian dan juga siap kurang ajarnya kini tidak ada lagi.


"Saya minta maaf, Nyonya. Tolong katakan agar Pak Gio untuk melepaskan saya, saya janji akan melakukan apa pun untuk mendapatkan maaf dan pengampunan dari kalian. Aku minta maaf dan aku mohon lepaskan aku!" tangis pria itu.


Gio bangkit dan menarik kakinya dari pria itu, terlihat bekas memerah di punggung tangan pria itu.


"Gio kau tidak menjawabku? Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak akan memotong tangan pria ini bukan" tanya Tiara antara takut dan juga tidak ercaya.


Gio kini hanya meringis pada Tiara. Dia segera melemparkan pedang itu ke arah Heru dan dia tangkap dengan cepat dan juga tepat.


"Tapi tidak juga main pedang Gio!" desis Tiara dengan nada marah.


"Itu palsu, pedang itu palsu. Aku hanya ingin mengancamnya saja dan membuat dia menangis!" tutur Gio.


Pria yang kini masih ada di lantai itu terdiam melihat bos nya yang sepertinya sangat takut dengan istriya itu. Tidak terbayangkan pria menyeramkan itu berubah bagai kucing jinak di kaki majikannya.


"Dia sudah kurang ajar padamu kan?" tanya Gio kini menarik tangan Tiara hingga dekat dengannya dan memeluk pinggang wanita itu dengan posesif.


"Hem." hanya itu yang Tiara katakan di dalam pelukan Gio.


"Kau mau aku apakan dia?" tanya Gio pada Tiara, Tiara diam menatap suaminya lalu bergati menatap pria yag kini hanya diam menunduk dengan takut.


"Jangan lama-lama memandanginya. Aku tidak suka!" desis Gio dengan kesal seraya mengalihkan kepala Tiara hingga istrinya itu menoleh ke arahnya.


"Kau mau aku apa kan dia? Aku akan buat dia menyesal kerena telah menyentuh tangan ini. Besok kau harus ke salon. Mandi dan juga cuci sendiri tidak akan menghilangkan bau pria itu dari tanganmu. Aku jijik sampai aku ingin memotong tangan pria ini."


Satu bulir keringat tutun lagi dari wajah pria itu, Kini dia semakin takut dengan adanya Tiara, bisa saja wanita itu juga dendam terhadapnya.


"Kau mau aku apakan pria ini hem?" Tanya Gio lagi.


Tiara haya mengangkat bahunya tanda tak tahu. Gio menatap Tiara dengan tajam, masih melingkarkan tangannya pada pinggang Tiara.


Katakan kau memafkkanku! batin pria itu kini dengan penuh harap. Dia berdoa kepada Tuhan agar berbaik hati, wanita ini melepaskan dirinya dan menyelamatkannya dari pria yang belum berubah menjadi iblis ini.


"Jangan G, aku gak mau tangamu kotor karena menghukum dia."


Fuuuhhh. pria itu menghela nafas nya dengan lega. Sungguh Tuhan telah berbaik hati pada dirinya kini. Dan dia harus mengucapkan kata terima kasih untuk wanita ini.


"Lebih baik kau panggil saja yang lain dan lemparkan saja dia dari atas gedung ini, Jangan kotori tangan mu dengan membunuhnya disini." penuturan Tiara membuat pria itu kini kembali sulit menelan salivanya. Tuhan tidak adil pada dirinya. Dia sudah berdoa tapi kenapa tiidak langsung mengabulan doanya? Wanita ini sama iblisnya dengan suaminya.


"Benar juga. Lempakan dia dari atap gedung lebih baik. Heru!" panggil Gio pada Heru. Heru maju dua langkah dan bersiap membawa pria itu untuk pergi ke atas atap.


"Jangan aku mohon, jangan lakukan itu.. Pak Gio. Nyonya. Tolong ampuni aku! teriak pria itu saat Heru kini mulai menarik tubuhnya.