DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 26



Axel menatap hp di tangannya. Dia tahu persis itu milik siapa dari stiker bergambar Lilo & Stitch di belakangnya. Hp itu sudah tidak bisa di gunakan lagi. Dari kerusakannya, sepertinya mobil yang membawa Renata berjalan dengan cukup kencang.


Daniel sang kakak mendekat dan menepuk bahu sang adik, mencoba untuk menenangkannya.


"Kita pasti akan menemukannya!" Daniel menatap sekilas area sekitarnya. Dia melihat ada beberapa CCTV yang berada tak jauh dari sana.


Ya ... Setelah mendapatkan laporan dari salah satu bawahannya tentang penyerangan yang terjadi malam kemarin terhadap Axel dan Renata. Mereka semua, Daniel, Anye, Devan, kakek Surya dan si kecil Nathalie memutuskan untuk segera terbang ke tanah air menggunakan pesawat jet super cepat. Mereka baru saja sampai satu jam yang lalu sesaat setelah Axel menerima panggilan dari bawahannya kalau Renata lari dan masuk ke dalam mobil orang lain.


Anye tinggal di rumah untuk menjaga Nathalie, putri Daniel. Sedangkan Daniel, Devan, dan kakek Surya ikut mencari Renata.


Tangan Axel terkepal, dadanya bergemuruh hebat. Dia kembali ke dalam mobil, menutup pintunya dengan kasar meninggalkan Daniel dan juga papa dan kakeknya di luar.


"Periksa CCTV, aku ingin hasilnya dalam lima menit!" ucap Axel gusar. Rasa takut kembali menyelubungi hatinya.


Daniel masuk ke dalam mobil duduk disamping Axel. Dia memerintahkan hal yang sama pada seseorang di seberang telfon.


"Aku menemukan mereka! Mobil yang membawa Renata pergi ke arah pinggir kota!" ucap Gio sambil memperlihatkan layar laptopnya.


"Ayo kita berburu!" ucap Daniel dengan senyuman devilnya yang membuat Gio merasa merinding bulu kuduknya. Meski dia cukup sering melihat senyum itu, tapi dia tetap saja merinding. Daniel adalah pria yang menyeramkan dan super tega. Apalagi pria yang duduk di sampingnya, tak jauh beda dengan bosnya. Dia sama kejamnya, suka menguliti musuhnya. Psikopat!


Gio bergidik ngeri. Jimmy tersenyum melirik Gio yang ketahuan menatapnya dari ujung matanya.


Jimmy, asisten Daniel segera menancap pedal gas dengan kecepatan yang tinggi. Pria dengan banyak kemampuan itu tak ragu ketika menyalip dan juga berbelok tajam. Dia malah tak menurunkan kecepatannya saat berada di tikungan.


Lima belas mobil mengikuti di belakang mereka. Sudah mirip seperti saat orang berpengaruh yang sedang melintas di jalanan. Presiden atau semacamnya.


Axel gelisah. Dia berkali-kali menatap hp milik Renata yang sudah rusak parah. Matanya merah menahan amarah. Masih tak habis fikir dengan sikap Renata yang kabur darinya. Rupanya gadis itu tak percaya dia bisa membereskan semua permasalahannya.


Sebelum mati ponsel Renata sempat di retas. Axel melihat pesan video yang dikirimkan seseorang di hp Renata. Jelas dia mengenali plat nomor mobilnya sendiri. Renata pergi, mungkin karena ancaman pria itu.


Daniel yang melirik Axel di sampingnya hanya diam. Tak ingin mengganggu Axel dengan segala pemikirannya.


Waktu yang seharusnya di tempuh selama satu jam mereka pangkas menjadi tiga puluh menit. Terlihat sebuah Vila besar dan hanya satu-satunya di depan sana. Terlihat megah namun mereka yakin tak kurang dari lima belas menit Vila megah itu akan luluh lantak.


Jimmy menghubungi seseorang dari alat yang menempel di telinganya.


Sebuah mobil mendahului mereka dan lalu menabrakkan dirinya ke pintu pagar besar vila itu hingga pagar itu terpental beberapa meter dan menimpa sebuah mobil mewah.


Beberapa penjaga datang dan mengarahkan tembakan ke arah mereka.


Semua yang ada di dalam mobil duduk dengan tenang, terkecuali Axel yang ingin segara merangsek masuk ke dalam sana untuk menolong Renata. Daniel menahan tangan Axel. Memerintahkan pria muda itu untuk tenang sesaat. Peluru yang terus beterbangan ke arah mereka tak mampu menembus mobil mereka.


Jimmy melajukan kendaraannya ke arah Vila. Masalah penjaga di luar biarkan orang lain yang mengurusnya.


Daniel membiarkan Axel berlari ke dalam Vila bersama Gio. sedangkan dia dan Jimmy menghalau para penjaga yang terus saja berdatangan ke arah mereka.


Dengan saling memunggungi, Daniel dan Jimmy menggerakkan jari tangannya menarik pelatuk pistolnya. Tembakan demi tembakan mereka layangkan ke arah orang-orang itu. Sengaja mereka tak membidik kepala atau jantung mereka. Daniel cukup puas jika mendengar rintihan kesakitan orang lain.


"Keputusan kita untuk datang kesini memang tepat! Aku sudah lama tidak bersenang-senang!" ucap Daniel di sela permainan tangannya.


Jimmy tersenyum, sama senangnya dengan sang bos. "Ya. Aku merasa jauh lebih muda sekarang!"


Puluhan pengawal yang mereka bawa bisa menaklukan semua penjaga dalam waktu beberapa menit.


Kakek Surya dan Devan keluar dari dalam sana dan berjalan diantara para pengawal yang kini mengelilingi mereka.


Para tawanan sudah di kumpulkan di halaman. Tak terkecuali yang ada di dalam Vila.


Gio membisikkan sesuatu.


"Dia adalah Noah. Putra dari William Alexander."


Axel yakin pria ini yang mengancam Renata, dari nomor hpnya yang tertera di pengirim video itu.


Axel mendekat dan melayangkan pukulan pada Noah. Pria itu mengelak. Dua bodyguard mengeluarkan pistol dari balik jasnya.


Dor!


Dor!


Dua tembakan terdengar sebelum dua pria itu berhasil mengeluarkan pistolnya. Kedua bodyguard itu tersungkur ke lantai. Di kakinya mengalir darah segar. Beberapa pengawal kakek Surya berlari dan menahan dua bodyguard itu.


Gio menatap kesal ke arah belakang. Kakek Surya mendekat dengan senyuman mengejek pada Gio, sedangkan papa Devan hanya melongo melihat permainan Ayah mertuanya. Usia tidak menghalangi ayah Surya yang masih lihai dalam memainkan senjata.


Ayah memang hebat! batin Devan seraya mengikuti langkah Kakek Surya.


Gio menurunkan pistolnya.


"Lain kali, harus bergerak lebih cepat." ejek sang kakek.


"Kakek keterlaluan! Kenapa tidak memberiku kesempatan?"


"Memberi kesempatan untuk ditembak? Boleh, lain kali akan aku biarkan kamu untuk menginap di rumah sakit selama beberapa hari!" ucap sang kakek lalu duduk di kursi yang berada tak jauh dari sana dan menonton pertunjukkan seru yang tersuguh di depan matanya.


Gio merengut sebal. Bagaimana dia bisa kalah dari seorang kakek tua berusia hampir tujuh puluh tahun?!


Devan melangkah untuk membantu putranya, tapi tangan ayah mertuanya menghalau langkahnya.


"Biarkan dia menyelesaikan urusannya sendiri." Devan hanya mengangguk patuh.


Axel terus menghajar pria itu apalagi saat dia mendengar kalau Renata sangat nikmat di atas ranjang. Semakin meledak amarahnya hingga pria itu menyeret dan menghempaskan kepala Noah pada dinding. Dinding putih itu seketika berubah dengan bercak merah darah dari kepala Noah.


Penampilan pria itu sudah sangat berantakan. Darah dimana-mana, tubuh dan wajahnya sudah dipenuhi memar.


"Hehe... Apapun yang kamu lakukan ... percuma!" ucap Noah dengan nafas tersengal. Dadanya naik turun merasakan sakit dan sesak bersamaan


"Semua itu tidak akan membuat Renata menjadi utuh! Aku suka dia ... tangisnya, teriakannya, apalagi saat aku berhasil mengoyaknya, teriakannya ... haha! Aku menyesal, kenapa tidak sedari dulu aku melakukan hal itu padanya!" Dengan mulut yang berdarah dia masih bisa tertawa seperti itu. Seperti gunung mati yang tiba-tiba saja aktif, lalu meledak dan memuntahkan laharnya. Begitu juga dengan Axel. Pria itu murka sekarang!


"Baj*ngan!!" teriak Axel dia membanting tubuh Noah ke lantai. Pria itu sudah tidak berdaya.


Axel merasa marah. Dia menginjak kepala Noah dengan sol sepatunya yang keras. Noah merintih kesakitan, menahan sepati Axel agar tak melindas kepalanya. Seketika dia menyesal ketika tahu siapa yang dia hadapi sekarang.


Axel Felix Aditama. Apalagi ada nama besar Rudolf yang tersemat di nama belakangnya. Nama keramat yang tidak boleh ia singgung. Nama keramat yang cukup di segani di kancah Eropa! Berani menyinggung maka tak ada berita lagi di keesokan harinya. Semuanya bersih. Lenyap bagai debu yang tersapu angin.


"Dasar sampah! Orang seperti kamu seharusnya lenyap saja dari dunia ini!" teriak Axel. Dia menendang kepala Noah keras hingga pria itu tak sadarkan diri.


Dada Axel kembang kempis. Dia marah saat mengingat apa yang tadi Noah katakan padanya. Salahnya karena tidak bisa menjaga Renata dengan baik. Harusnya tadi dia di rumah saja bersama dengan gadis itu.


"Kurang ajar! Mati saja. Mati saja!" Axel menendang tubuh tak berdaya Noah.


"Sudah Xel. Jangan buat dia mati sekarang. Buat kematiannya lebih menyenangkan saat dia sadar nanti!" Daniel menarik tangan Axel, terlihat senyum devil Daniel yang sudah sangat lama tidak pernah ia lihat lagi. "Cepat cari Renata!"