
"G, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Tiara masih dengan memeluk Gio dari belakang. Gio mengelus tangan Tiara yang ada di depan perutnya.
"Tanya apa?"
"Kau dengan Naura dan juga Heru. Bagaimana kisah masa lalu kalian?" tanya Tiara. "Disana kau belum cerita soal itu, kan? Dan bagaimana perasaanmu saat ini dengan dia?"
Gio menghela napasnya dengan berat. Tangan Tiara dia ambil dan dia cium punggung tangannya.
"Apa kamu masih ada rasa dengan dia?" tanya Tiara.
"Aku tidak tahu Ra, Aku rasa aku sudah lupa dengan dia, tapi saat aku bertemu dengan dia lagi ada rasa sesak di dada ini." Gio berkata sambil menempelkan tangan Tiara ke dadanya.
"Rasa semacam apa?" tanya Tiara lagi. Gio mengangkat kedua bahunya dengan tinggi-tinggi.
"Aku kira itu hanya perasaan marah." Gio berucap dengan lirih.
Tiara menyandarkan kepalanya di punggung Gio. "Kamu boleh marah, tapi jangan lakukan itu lagi. Melihat tatapanmu pda wanita itu membuat aku cemburu." Tiara berkata dengan jujur, membuat Gio senang.
"Dan Heru ... Tolong kau maafkan saja dia, aku kira dia melakukan hal itu karena dia sayang denganmu. Aku pun juga pernah melakukan hal yang sama dengan Lea, aku mengalah karena Lea juga suka dengan dia. Ya meskipun hati ini rasanya sakit. Dan aku yakin Heru juga merasakan hal yang sama, apalagi saat wanita itu meninggalkanmu. Aku juga menyesal saat akhirnya pria itu memutuskan Lea. Mungkin dia tidak akan merasakan sakit hati dan tidak akan menangis jika dulu aku tidak mengalah dengannya, Mungkin malah aku yang akan menangis waktu itu."
Gio terdiam mendengar cerita Tiara. Ternyata wanita itu pun sama seperti dirinya dulu, tepatnya persis seperti Heru.
"Lalu apa kamu masih menyesal dengan kejadian itu?" tanya Gio.
"Aku mencoba melupakan kejadian itu, tapi tentunya tidak mudah, karena yang aku hadapi rasa menyesal kerena telah membat sahabatku menangis. Aku yakin Heru pun sama, dia pasti juga menyesal dengan kejadian ini, apalagi sampai kau mendapatkan trauma dan juga sampai anti dengan perempuan."
"Aku selalu iri dengan Heru, dia begitu baik dan setia denganmu. sedangkan aku, tidak bisa selalu ada disamping Alea dan menenangkan dia. Aku sungguh sangat menyesal saat dia menangis karena patah hati."
"Apa Lea tahu kau mengalah untuk dia?" tanya Gio lagi. Tiara mengangkat bahunya.
"Lalu bagaimana reaksi Lea?"
"Yang pasti tidak seperti mu. Kami ini wanita, lebih bisa main perasaan dan juga pikiran yang baik. Memangnya kalian, laki-laki yang hanya mengandalkan otot dan mengesampingkan otak?" tanya Tiara. Gio berdecak dengan kesal, istrinya sedang mengejeknya.
"Aku hanya marah karena Heru tidak jujur." uca Gio mengeluarkan pembelaan.
"Aku tahu, merasa dikhianati orang terdekat itu memang rasanya sakit, tapi cobalah berpikiran dengan baik. Dia melakukan hal itu dan mengesampingkan perasaannya, unutk siapa? Itu artinya apa? Dia sangat sayang denganmu, G. Aku yakin tidak ada alasan lain Heru melakukan hal itu. Dia hanya ingin kau bahagia."
"Coba kau bayangkan disaat kau pergi dengan dia. Kau bahagia pergi dengannya berdua, tapi Heru hanya bisa menahan perasaannya, mungkin dia mengesampingkan rasa cemburu hanya untuk melihat kau bahagia." tambah Tiara lagi. Gio terdiam mendengar semua ucapan Tiara.
"Apa sebelum kau memukul Heru kau juga menanyakan alasan dia kenapa memilih mundur dan mengorbankan perasannya?" tanya Tiara. Dia yakin sekali jika Gio pasti tidak menanyakan hal itu.
"Tidak."
"Ah ... Sudah aku duga. kalian memang para lelaki yang berpikiran cetek." ejek Tiara pada Gio. Tiara menarik dirinya dan kemudian bangkit dari atas kasur.
"Kita jalan-jalan yuk." ajak Tiara.
Gio menatap istrinya dengan bignung.
"Kemana?" tanya Gio.
"Ke mall. Aku mau nonton di bioskop. Selama ini kita tidak pernan nonton berdua kan?" Tiara mengingatkan tepatnya.
Gio terkekeh, memang seingatnya mereka belum pernah melakukan ngedate sama sekali. Kebersamaan mereka memang lebih banyak dilakukan kantor.
"Ayo, tapi aku mau mandi dulu." ujar Gio, Tiara mengangguk ia berjalan ke arah kamar mandi dan mennyiapkan air mandi dan juga handuk untuk Gio.