DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel_Gio part 210



Gio akhirnya keluar dari kamar Tiara lewat jendela. Berat hati sebenarnya meninggalkan kekasihnya ini. Tiara sampai harus melotot agar Gio cepat pergi dari sana. Bagaimana kalau ada tetangga melihat ada pria yang keluar dari jendela kamarnya?


"Sekali lagi!" rajuk Gio menahan laju tangan Tiara yang hendak menutup pintu kamar. Tiara menatap Gio dengan marah.


"Sudah, kau sudah mendapatkan jatah! Sana pergi!" usir Tiara, masih berbisik tentunya.


"Yang tadi masih kurang, Sayang!" Merajuk lagi.


"Itu sudah cukup G. Aku sampai sakit gara-gara kau terlalu keras!" Tutur Tiara dengan nada marah. Gio mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi membuat Tiara kesal dan juga cemas. Mengedarkan pandangan ke arah sekitar.


"Sudah sana pergi. Aku tidak mau ketahuan warga dan nanti ada yang melapor Pak RT, bisa-bisa kita digrebek dan dinikahkan paksa!" bisik Tiara kesal.


"Bagus kalau begitu! Aku akan mudah mendapatkan restu dari mama sepertinya." Gio terkekeh.


"Mudah Gundulmu! Aku yang tidak mau!" cerca Tiara, enak saja nikah karena digrebek warga. Hilang sudah pernikahan impiannya jika memang terjadi hal yang seperti itu.


"Kalau begitu satu ciuman lagi." Gio tersenyum meringis. Tiara mendekatkan dirinya dan mendaratkan ciuman di pipi.


"Sudah, sana pulang!" usir Tiara lagi.


"Aku kan mauya cium di bibir!" tutur Gio masih merengut.


"Kalau kau masih belum mau pulang juga, jangan jemput aku besok. Pulang lah saja lagi ke Kalimantan!" ancam Tiara.


"Iya-iya. Aku pergi ya. Have a nice dream, sayang."


"Hemmm.... kau juga!" ucap Tiara dengan malas. Sungguh Tiara takut jika ada yang memergoki dirinya dan Gio sekarang. "Cepat kau pergi sana!" Usir Tiara untuk ke sekian kalinya.


Akhirnya Gio pergi dari kamar Tiara.


Tak jauh dari rumah Tiara seorang gadis tertawa terpingkal-pingkal melihat dari ujung teropong yang ada di tanganya. Dia sampai sakit perut gara-gara puas melihat adegan di kejauhan sana. Gio tegah mengendap-endap bak pencuri keluar dari rumah Tiara.


"Sudah hentikan tawamu. Kau ini wanita. Jelek sekali tertawa terbahak seperti itu!" Heru mengambil teropong yang ada di tangan Cantik dan melemparkannya ke atas kasur.


"Kau ini kaku sekali, tidak punya rasa humor sama sekali." Cantik berdecak kesal, pria di sampingnya ini benar-benar menghancurkan momen langka yang ada di depan sana.


"Yang pasti tidak akan mirip sepertimu! Kenapa kau bawel sekali? Dasar sepupu menyebalkan!" Ucap Heru lalu meninggalkan Cantik yang kini cemberut sambil mengusap keningnya yang sakit.


Heru terus berjalan meninggalkan Cantik yang kini mengumpatinya di belakang. Meladeni ucapan gadis itu sangat tidak penting. Membuang waktu saja.


Heru menyesal, kenapa tadi dia tidak membawa gadis itu pulang saja ke kediaman Aditama, tentu jika Cantik bertemu degan ibunya gadis itu pasti tidak akan usil kepadanya. Kenapa dia malah mendengar regekannya dan malah ke apartemen Cantik untuk mengintai... ah, tidak bukan mengintai, tapi dia sudah mengintip bosnya.


Heru sudah sampai di depan rumah Tiara. Gio segera masuk ke dalam mobil. Gio melempar topi hitam yang dia pakai, melepas jaket hitam yang membuatnya gerah.


Gio menyandarkan dirinya, menutup matanya sejenak. Semenjak kedatangannya di ibu kota tadi sore hingga malam ini Gio belum pulang dan beristirahat. Heru segera melajukan mobil ke arah apartemen Gio.


...***...


Tiara membaringkan dirinya di atas kasur, senyum di bibirnya tidak bisa pudar begitu saja setelah apa yang terjadi barusan. Apa ini mimpi? Tiara masih tidak percaya. Dia sampai harus mencubit pipinya sendiri dengan cukup keras.


"Aww... Ini bukan mimpi!" terpekik sendiri menerima cubitan di pipi. "Sakit!" Tiara mengusap pipinya.


Tiara kembai tersenyum, perlakuan Gio padanya membuat Tiara tidak bisa melupakan hal manis yang baru saja terjadi diantara dirinya dan juga Gio.


Bibir Tiara serasa tebal dibuat pria itu. Kebas rasanya, seperti digigit lebah. Oh.. lebah sih kecil Ini mah seperti digigit tawon!


Tiara lalu bangkit untuk mendekat ke arah cermin, mematut dirinya yang sama persis di depann cemin itu. Tiara menatap bibirnya yang memang sudah bengkak.


Akh... Gio keterlaluan! Menciumnya hingga bengkak seperti ini. Semoga saja besok bengkak di bibirnya ini sudah hilang. Apa jadinya kalau dia masuk kerja saat bibirya masih bengkak? Bisa-bisa satu divisi akan mengejeknya. Jangankan di kantor, sebelum keluar rumah juga mungkin ibu akan bertanya perihal bibirnya yang mendadak seksi.


"Dasar mesum!" ujar Tiara.


Tiara kembali berbaring di atas kasur, mengambil bantal guling dan memeluknya dengan erat. Membayangkan jika itu adalah Gio. Si mantan bos nya yang mesum.


Tiara lagi-lagi memegang bibirnya. Bayangan Gio yang memagutnya begitu keras membuatnya kesal, tapi juga ingin tertawa. Saking kangennya katanya. Beruntung keduanya masih sadar akan hal yang diluar batas, hingga Tiara dan Gio masih dalam batasan aman.


Tiara menutup matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini bekerja.