
"AXEEELLL!" suara teriakan seorang wanita terdengar sambil mengetuk pintu dari luar kamarnya.
Pemuda itu masih saja setia memejamkan matanya, dia menarik selimutnya semakin ke atas hingga wajahnya tenggelam dalam selimut tebal, hangat nan lembut itu. Kembali menikmati waktu libur yang hanya satu minggu sekali dia dapatkan. Oh, tidak. Kadang ia tidak mendapatkannya sama sekali. Karena urusan perusahaan kadang membuat dia harus bekerja meski itu hari libur!
"Axel bangun, lihat ini sudah jam berapa?" seseorang menarik selimut itu hingga terbukalah selimutnya dan memperlihatkan sesosok tubuh putih nan gagah, otot-otot tubuhnya tercetak sempurna, memperlihatkan roti sobek dan tonjolan-tonjolan lainnya.
"Axel, hei! Bangun, ini sudah siang! Kamu harus jemput Tiana!" Di guncangkannya tubuh gagah pemuda itu hingga dia terlonjak saat mendengar nama gadis yang di sebut.
"Ah. Eh. Jam berapa ini ma?" tanya Axel mencoba membuka matanya lebar-lebar.
"Hampir jam sembilan!" ucap sang mama.
"Holly ****!" ucapnya meloncat dari ranjang lalu berlari ke arah kamar mandi.
"Anak itu!" Anye, sang mama, hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak bungsunya. Lantas dia mengambil selimut dan membereskan ranjang sang putra yang berantakan.
"Ma, Axel berangkat ya!" teriak Axel sambil menuruni tangga.
"Makan dulu Xel, kamu belum sarapan!" teriak sang mama dari arah dapur, dia sudah menyiapkan telur mata sapi setengah matang untuk Axel.
"Nanti saja ma, aku akan brunch di luar dengan Tiana!" kembali berteriak lalu berlari menuju ke arah luar.
*Brunch: waktu makan antara sarapan dan makan siang atau biasa di sebut sarsi -sarapan siang-.
"Huhh anak itu, kebiasaan! Bagaimana kalau nanti lambungnya kumat lagi?" Anye kembali menyimpan telur setengah matangnya ke atas meja.
"Ada apa, hon?" suara tegas seorang pria terdengar mendekat di belakangnya.
"Axel, Dev. Dia melewatkan sarapan lagi!" Anye berkata dengan kesal. Selalu saja seperti itu setiap pagi mereka.
Devan yang merasakan kekesalan sang istri lantas mendekat, memeluk istrinya dari belakang lalu mencium tengkuk leher istrinya.
"Hei, menjauh! Jangan dekat-dekat. Nanti nyetrum!" Anye mendorong tubuh sang suami dengan sikutnya. Dia tahu betul apa yang akan terjadi kalau terlalu lama di peluk pria itu.
"Hehe... Aku cuma mau ambil ini!" Devan mengambil alih telur yang di peruntukan buat Axel dan lantas memotong nya dengan sendok dan memakannya.
"Jangan marah lagi sama Axel, lihat meskipun Axel tidak sarapan, kan ada aku yang habiskan!" ucap Devan. Anye yang mendengarnya tersenyum senang.
"Tapi sayang..." kembali memeluk sang istri mesra.
"Hem?" Anye tidak menolak lagi, merasakan pelukan hangat sang suami.
"Kamu kasih telur itu garam apa tidak?" sekejap suasana romantis itu menghilang sudah dari sana.
"Memangnya kenapa? Apa aku lupa kasih garam?" tanya Anye menoleh sekilas pada suaminya.
"Sepertinya kamu lupa, lalu kamu kasih garam dan kasih lagi dan juga lagi!"
Hehhh.🤔🤔
Jadi maksudnya....
"Asin!" ucap Devan lalu mencium pelipis istrinya. Dia tertawa pelan, sedangkan sang istri merengut sebal.
Memang Anye dari dulu tidak pandai memasak bahkan sampai sekarang!
Dan telur mata sapi juga?
Keterlaluan!
***
Mobil hitam itu terus berjalan menembus keramaian ibu kota. Melewati entah berapa banyak lampu lalu lintas, dan berapa puluh belokan. Seorang pria yang mengemudi itu terlihat kesal. Pasalnya sedari tadi dia di telfon oleh seorang gadis yang terdengar dari nada suaranya kalau dia sedang marah!
"Aaakhh!! Sial!!! Kenapa aku bisa bangun kesiangan!! Ini gara-gara Gio!! Kenapa dia harus pergi selama ini?!" geramnya.
"Awas saja besok, aku akan berikan tugas yang banyak supaya dia tidak bisa semena-mena!" kesalnya.
Suara telfon kembali terdengar. Axel mengambil hp dari saku bajunya dan menempelkannya di telinga.
"...."
"Iya, cerewet! Tunggu saja aku disana! Sebentar lagi aku sampai!"
Klik.
Telfon dia matikan sepihak. Akan bahaya jika dia terus bicara dari telfon saat dia berkendara. Axel melemparkan hpnya ke kursi di sampingnya dengan kesal.
Beberapa waktu kemudian Axel telah sampai di bandara. Dia menjemput Tiana yang baru saja tiba dari LA. Dia berjalan dan mencoba menghubungi Tiana tapi panggilan tidak segera di jawab.
"Anak ini, dia dimana sih?!"
Mencoba menghubunginya lagi. Namun saat tak sengaja dia berjalan melewati kafe yang berada di dekat sana, rasa kesalnya bertambah hingga dua kali lipat saat melihat gadis itu duduk dan dengan santainya menikmati minumannya.
"Tiana!!!" geram Axel. Yang di panggil menoleh ke belakang, sambil menyengir ria menyeruput minuman yang di pesannya.
Axel sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang terlihat merah menahan kesal. Sudah mengebut dari rumah dan mencari Tiana hampir tiga puluh menit, dan yang di cari sedang duduk santai disini sambil menikmati minuman dinginnya! Amazing!
"Axel!" senyum Tiana lebar, berharap pria yang beda satu tahun di atasnya itu tak marah lagi. "Mau?" menawarkan minuman yang ada di tangannya.
Dengan kesal Axel duduk di samping gadis itu. Dan merebut minumannya, menyeruputnya hingga habis.
"Eh, punyaku!"
"Tadi nawarin kan?" tanya Axel cuek.
"Uupss... aku gak denger! Silent!" ucapnya sambil memperlihatkan layar hpnya. Axel memutar bola matanya malas.
"Dasar! Aku cari dari tadi tahunya ada disini!"
"Hehe... Mana Gio?" mencari seseorang di sekitar.
Lengkap sudah rasa kesalnya. Lelah mencari gadis ini, tapi dia menanyakan orang yang jelas-jelas tak ada disini!
" Jangan tanyakan dia!" kesalnya.
"Kenapa?" menatap tajam Axel.
"Yuk pulang!" lalu dia kembali berdiri dan pergi meninggalkan Tiana yang masih melongo di tempatnya.
"Eh di tanya juga!" lirih Tiana.
Tiana bangkit dan berusaha menyusul Axel yang sudah menjauh, tapi langkahnya terseok-seok karena dia membawa koper yang lumayan berat.
"Axel, tunggu! Ini berat!" panggil Tiana manja. Axel yang mendengarnya mau tak mau membalikkan langkahnya dan mengambil alih koper dari tangan Tiana.
" Kamu manja sekali!" mengacak rambut Tiana dengan gemas, gadis berambut cokelat itu mencebikkan bibirnya kesal, dia merapikan rambutnya dengan tangan.
Axel dan Tiana berjalan menuju tempat dimana mobil terparkir mereka berjalan beriringan sambil mengobrol ringan sesekali di selingi candaan.
Mobil mulai melaju di jalanan yang ramai. Cuaca panas semakin terik membuat pandangan Tiana sesekali menyipit. Dia membiarkan angin dari luar menerpa kulit wajahnya. Rambut panjangnya melambai-lambai terkadang sampai menutupi wajahnya.
"Sudah tutup jendelanya. Panas!" titah Axel.
"Kalau panas ya jangan lihat kesini. Fokus menyetir!" melambaikan tangannya tanda tak usah hiraukan. Axel yang masih kesal menutup otomatis jendelanya, membuat Tiana mencebik dan melayangkan tinjunya pada lengan Axel.
"Mau makan tidak? Aku belum sarapan!" tawar Axel.
"Jam segini belum sarapan?" melihat jam yang melingkar di lengannya. Axel menoleh dan tersenyum lebar.
"Kebiasaan buruk jangan pelihara! Nanti kalau kamu sakit mama yang repot kan!" cercanya.
Mereka lalu melajukan mobilnya ke arah sebuah kafe.
Axel dan Tiana masuk ke dalam sebuah kafe, mereka duduk di sebuah meja di dekat jendela sambil menikmati jalanan di luar yang semakin panas.
Seorang pelayan datang membawakan buku menu.
"Silahkan!" Axel memperhatikan gadis itu, sepertinya dia orang baru disini. Tidak terlalu tinggi, kulit kuning langsat, rambut panjang di ikat di atas kepalanya. Lehernya jenjang menggoda, mata besar, hidung mancung, dan bibir mungil berwarna pink menggoda. Lalu pandangannya dengan lancang turun sedikit ke bawah...
Glek...
Tak pernah Axel memperhatikan seorang gadis sampai seperti itu. Tenggorokannya kering seketika. Padahal tak ada lagi yang bisa dia lihat lebih dari kalung perak yang di pakai gadis itu. Bahkan kali ini dia berharap mempunyai kemampuan tembus pandang agar bisa melihat...
Hehhh???🤔🤔🤔
"Sini!" Axel tersadar saat Tiana merebut buku menu darinya. Tiana segera membuka dan menyebutkan beberapa nama makanan dan minuman untuk mereka berdua.
Gadis itu tersenyum seraya menuliskan pesanan yang di sebutkan Tiana. Matanya berkedip-kedip lucu saat dia menulis.
"Ada lagi yang lain, mbak? Mas?" tanya gadis itu dengan senyum manisnya.
"Tidak ada!" jawab Tiana.
"Mas-nya?" beralih pada Axel yang sedari tadi hanya diam.
"Axel!" panggil Tiana. Axel tersadar dari mimpinya.
"Tidak!" jawabnya.
"Kalau begitu di tunggu sebentar pesanannya ya, mbak, mas!" lalu kemudian dia pergi membawa catatan pesanan mereka.
'Mas?' Axel tersenyum geli mengingat panggilan gadis itu padanya. Baru kali ini ada yang memanggilnya 'mas'.
"Lihat cewek sampai segitunya. Suka?" ucap Tiana.
Axel segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Apa? Gak suka kok! Cuma sepertinya dia orang baru. Baru lihat!" ucap Axel dia mengeluarkan hpnya dan memainkannya, tapi sudut matanya mencari dimana keberadaan gadis itu.
Tiana tersenyum mengejek Axel, dia sangat tahu dengan sifat dan karakter Axel. Dia tidak mudah melirik orang lain, apa lagi melihat gadis itu sampai kelopak matanya hampir tak berkedip. Bahkan sekarang pun dia masih mencoba mencari-cari dengan ujung sudut matanya!
Menunggu beberapa menit, akhirnya makanan datang, namun bukan gadis yang tadi yang mengantarkannya. Satu persatu makanan di simpan ke atas meja, Axel melirik ke arah lain mencari-cari, ada rasa kecewa yang ia rasa di dalam dirinya. Dia menghela nafasnya. Semua itu tak luput dari perhatian Tiana.
"Ehm... mbak yang tadi orang baru ya?" Tiana befinisiatif bertanya mewakili Axel. Axel salah tingkah di buatnya.
"Ada dua orang yang baru bekerja hari ini, mbak. Salah satunya itu," menunjuk ke arah seorang gadis di meja lain. "... mungkin yang satu lagi sedang di belakang! Apa mbak ada keluhan?" tanya pelayan itu ramah.
"Oh tidak ada! Cuma tanya saja!" Tiana tersenyum ramah, dia kembali melirik pada Axel yang mencoba menutupi kegugupannya dengan memainkan hp.
"Apa ada yang lain lagi, mbak?" tanyanya lagi.
"Tidak ada. Terimakasih!" ucap Tiana, pelayan itu mengangguk lalu pamit untuk pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Apa sih jangan malu-maluin deh, nanya-nanya segala!" cerca Axel pada Tiana.
"Malu-maluin? Kalimat yang mana malu-maluin? Aku kan cuma tanya, apa salahnya?!" cibir Tiana. Dia menarik piringnya dan menikmati makanannya. Tersenyum melihat Axel yang sedari tadi mencari-cari seseorang di tempat lain.