
Axel memutuskan untuk membawa Renata ke rumah sakit yang lebih besar. Terlalu jauh baginya jika merawat Renata di rumah sakit pinggiran kota tersebut. Juga karena Axel kira peralatan rumah sakit besar tentu lebih mumpuni dan juga Axel bisa menitipkan Renata pada dokter terbaik disana.
Daniel telah kembali ke negaranya bersama si kecil Nathalie dan juga kakek Surya.
Batu semen di belakang Vila Alexander sudah hampir mengering. Setelah di bersihkan dari sisa penyiksaan, Vila itu kosong sekarang. Semua pelayan dan pengawal keluarga Alexander diboyong tanpa terkecuali termasuk kepala pelayan. Daniel membutuhkan mereka untuk bekerja di pulau pribadinya. Ada suatu proyek yang akan dia lakukan disana.
Meninggalkan mereka disini bisa saja berbahaya untuk mereka. Mereka bisa saja membuka mulut atas kejadian yang menimpa majikannya. Segera setelah menghilangkan tanda bukti mereka di bawa pergi. Tentu saja mereka tidak akan bekerja sia-sia nantinya, Daniel juga masih punya hati untuk memberikan mereka uang sebagai upah kerja keras mereka.
Ini adalah hari kedua setelah Renata di pindahkan. Gadis itu belum juga bangun. Anye selalu menemani Renata di rumah sakit. Mengurusnya dengan baik seperti putrinya sendiri.
Anye sedang mengelap tubuh Renata dengan kain setengah basah. Matanya merah setiap kali melihat gadis itu. Terbayang olehnya kesulitan yang dirasakan oleh Renata di usianya yang masih sangat muda.
Anye juga baru tahu kalau Renata adalah adik dari pemilik jantung yang Axel miliki sekarang. Sempat tak percaya, tapi saat Anye melihat kalung yang dimiliki Renata mau tak mau dia percaya, itu adalah benda yang selama ini Axel mimpikan dan lukiskan.
Renata bukanlah gadis biasa. Dia putri dari pemilik Santosa Grup., sebuah perusahaan yang terkenal pada masanya. Dan kini perusahaan itu sudah terbengkalai tanpa adanya manajemen yang baik.
Setelah kecelakaan kedua orang tuanya, Renata dan kakaknya di asuh oleh adik dari ayahnya. Tidak sampai setahun setelah itu, Tommy kakak Renata menghilang tanpa jejak. Dari informan yang memberikan keterangan pada Gio, Tommy di bawa pergi keluar negeri, tapi dia tidak tahu dibawa kemana.
Tommy adalah putra pertama keluarga Santosa, semua tampuk kekuasaan pasti akan di berikan padanya. Paman yang haus akan kekuasaan tega membuangnya dan menjualnya di negara asing dan membuat dia bekerja keras layaknya kerja rodi pada zaman penjajahan dulu. Sedangkan Renata, dia menggunakan anak itu untuk tetap berkuasa di kursi kebesarannya.
Axel telah menceritakan hal buruk yang menimpa Renata selama ini, termasuk pelecehan yang Renata alami malam itu. Dan Anye mengutuk para manusia laknat yang sudah mengganggu dan juga menodai calon menantunya tersebut. Ya ... Anye tak akan menghakimi Renata atas kesialan yang menimpanya. Semua itu di luar kuasa gadis itu.
Hati wanita, siapa yang tak geram mendengar kekerasan seperti itu. Jika di luar sana banyak yang juga memandang jijik pada si korban, tidak begitu dengan Anye. Renata hanya korban!
Anye lagi-lagi menitikkan air mata. Betapa beratnya masalah yang menimpa gadis ini, hingga dia lebih memilih mengakhiri hidupnya.
Mata Renata bergerak, perlahan dia membuka matanya. Anye terkesiap melihat Renata yang sadar.
"Anda siapa?" tanya Renata dengan suara lemahnya. Ia bingung saat terbangun di ruangan putih, seorang wanita asing duduk di sampingnya. Kerongkongannya terasa sangat kering sekali.
"Kamu sudah sadar, nak?" Anye sangat bahagia. Dia segera menekan sebuah tombol di dekat brankar Renata guna memanggil dokter.
Renata melirik ke arah nakas, dia ingin menggerakkan tangannya untuk meraih gelas di sampingnya. Entah milik siapa, tapi dia sangat ingin minum sekarang!
Anye mengerti arah pandang Renata, dia segera bergerak untuk mengambil gelas dan membantu Renata minum menggunakan sedotan.
Tak lama dokter dan perawat datang ke ruangan itu. Dokter segera memeriksa keadaan Renata.
Keadaan Renata sudah baik-baik saja. Hanya saja tangan kirinya agak sulit untuk di gerakan.
"Tidak apa-apa. Dengan beberapa terapi dan latihan tangan kiri anda pasti akan sembuh seperti semula. Yang penting jangan menyerah dan terus semangat!" ucap dokter wanita itu sambil mengepalkan tangannya di depan dada memberi semangat pada Renata.
Setelah memeriksa dokter dan perawat pamit untuk kembali ke tempatnya. Anye mengangguk sambil mengucapkan kata terimakasih pada dokter.
Renata terisak di tempatnya. Dia menutupi kedua tangannya dengan lengan kanan. Dia kira dia sudah mati saat setelah melihat bayangan Axel terakhir kalinya. Tapi ternyata waktu itu memang dia. Kalau bukan, pastilah dia sudah berada di alam lain sekarang, dan mungkin dia akan berkumpul bersama keluarganya, ayah, ibu, kak Tommy. Tapi itu lebih baik bukan, daripada hidup dengan penuh rasa jijik pada dirinya sendiri.
'Kenapa aku masih hidup? Harusnya aku sudah mati sekarang,' batin Renata sedih. Semakin lama tangisnya semakin menjadi-jadi mengingat semua hal yang terjadi pada dirinya, apalagi malam pemerk*saan itu. Betapa jijiknya dia sekarang dengan dirinya. Bahunya bergetar. Renata menangis tanpa suara.
Anye mengelus kepala Renata dengan lembut.
"Menangis saja, Nak. Tidak apa-apa. Setelah ini kamu pasti akan lebih baik," ucap Anye. Dia ikut merasakan kesedihan Renata. Anye duduk di sampingnya. Menemani gadis yang tengah bersedih itu.
Dua puluh menit lamanya Renata menumpahkan rasa sedihnya dengan tangis. Perlahan dia menyingkirkan tangannya, dan mengusap kedua matanya yang basah.
"Ibu siapa?" tanya Renata setelah mulai tenang. Dia mencoba untuk bangun, Anye membantu Renata dengan menaikkan bantal di belakang punggung Renata.
"Terimakasih." ucap Renata.
"Saya mamanya Axel. Axel sebentar lagi akan datang," Ucap Anyelir dengan senyuman yang terasa hanya untuk Renata
"Kamu ada yang di butuhkan? Mau minum? Makan?" tanya Anye.
Renata hanya menggeleng pelan.
"Saya tidak mau bertemu dengan Axel, bu. Saya mohon suruh dia kembali lagi," pinta Renata.
"Kenapa?" tanya Anye menatap Renata.
"Saya tidak pantas untuk bertemu dengan Axel. Saya ... saya ... " suara Renata tercekat di tenggorokan. "Saya kotor," lirih Renata, kemudian air mata itu kembali berderai dari mata cantiknya.
Anye mendekat pada gadis itu dan mengusap air mata Renata. Dia menggeleng pelan.
"Jangan bicara seperti itu, Nak. Axel tidak pernah berfikiran seperti itu sama kamu. Dia tulus mencintai kamu. Mama mohon, jangan karena hal ini kamu menghindar dari Axel."
Renata semakin berderai air matanya. Dia malu dengan pemuda itu. Harusnya Axel benci saja pada dirinya supaya dia tidak merasa bersalah. Harusnya dia tidak menolongnya saja dan membiarkan dia mati.
"Saya tahu, bu. Justru karena itu saya malu bertemu dengan Axel. Saya tidak bisa menjaga diri saya untuk dia. Saya mohon, bu. Jangan sampai Axel datang kesini." mohon Renata pada Anye.
"Saya mohon. Saya ini wanita yang kotor, tidak pantas bersama dengan Axel. Bahkan saya juga tidak pantas hidup di dunia ini. Saya kotor, bu. Saya tidak mau bertemu dengan Axel. Saya mohon!" pinta Renata dengan tangisnya.
Anye hanya bisa menganggukan kepalanya dengan terpaksa. Dokter bilang jiwa Renata mungkin saja terguncang, maka dari itu Renata tidur lebih lama dari pasien lainnya. Untuk sekarang lebih baik mengikuti permintaan Renata, jangan sampai dia kembali terguncang dan mengakibatkan Renata nekat melakukan aksi gilanya lagi.
Dari luar, Axel yang hendak membuka pintu terdiam mendengar permintaan Renata. Hatinya merasa sakit mendengar gadisnya bicara seperti itu.
'Enggak Ren, aku gak pernah anggap kamu kotor. Kamu tetap mutiara ku!'
Axel hendak membuka pintu itu, tapi Gio menahan tangannya dan menggeleng pelan.
"Ingat kata dokter. Jangan paksa Renata. Biarkan dia sampai tenang." ucapnya mengingatkan. Axel melepas pegangan tangannya pada handle pintu. Dia menyerahkan bunga mawar putih yang tadi ia beli di tengah jalan pada Gio.
Axel meninggalkan Gio di depan pintu kamar rawat Renata, dan pergi dari sana. Gio menatap punggung Axel hingga menghilang di ujung lorong.
'Aku kira hubungan percintaan mereka akan berjalan dengan mulus, tapi ternyata lebih rumit daripada aku!' batin Gio.
Gio mengetuk pintu. Renata dan Anye menatap pintu itu. Renata merasa takut hingga bergetar rasa di dalam dadanya. Sungguh dia tidak mau bertemu dengan Axel sekarang. Rasanya lebih baik dia lompat dari jendela jika yang datang itu memang Axel.
Pintu terbuka.
"Hai!" Renata menghela nafas lega saat melihat bukan Axel yang masuk ke dalam sana.
Gio mendekat dan menyerahkan bunga itu pada Renata.
"Ini dari Axel. Dia minta maaf kalau tidak bisa datang untuk menjenguk kamu. Dia ada meeting penting yang tidak bisa di tinggalkan. Jadi dia minta tolong sama aku untuk memberikan bunga ini buat kamu!" ucap Gio. Anye melihat sudut bibir Gio yang berdenyut, dia tahu kalau anak itu sedang berbohong sekarang.
"Terimakasih." ucap Renata. Dia senang, tapi dalam hatinya kenapa rasanya kecewa juga Axel tidak jadi datang.
Axel duduk di sebuah taman. Dia tak peduli dengan sorot matahari yang masih terik menerpa punggungnya. Lengan Axel bertumpu pada pahanya. Axel menatap tanah di bawahnya dengan diam. Tak peduli dengan beberapa orang yang berlalu lalang di depannya.
Dia berfikir, kenapa sampai Renata tidak ingin bertemu dengannya. Padahal dia tak masalah dengan keadaan Renata.