DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 28



"Anye!" panggil seseorang, aku menoleh. Devan. Ahh kenapa ada dia disini? Segera aku menyembunyikan foto usg itu di belakang tubuhku.


"Apa itu?" tunjuk Devan.


"Apa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.


"Di belakang kamu!" lalu dengan tangannya yang panjang dia dengan mudah mengambilnya. Aku berdiri.


"kembalikan, Dev!" Devan mengangkat kertas itu tinggi-tinggi aku tidak bisa meraihnya.


"Hasil USG? ternyata benar dugaanku. Kamu hamil?" wajah Devan berseri.


"Bukan, tidak ada apa-apa disitu. Aku tidak hamil!" ucapku lalu melompat dan berhasil meraihnya.


Devan terkejut melihatku. "Anye jangan melompat seperti itu! Kamu harus hati-hati!"


"Memangnya kenapa?"


"Karena ada anakku disana!" pekik Devan dengan wajah marah.


"Sudah aku bilang tidak ada apa-apa! Jangan mengharap yang tidak-tidak!" balasku berteriak. Devan menatapku, masih pandangan marah. Lalu tanpa berkata apa-apa dia menarik tanganku ke mobilnya. Dengan kasar dia mendorongku ke kursi penumpang di belakang dan ikut masuk. Pintu di tutupnya dengan keras. Rahangnya mengeras.


Devan menatapku, matanya sudah merah. Sopir menjalankan mobilnya. Aku membuang pandanganku ke luar jendela. Kami diam. Tidak ada yang berniat membuka pembicaraan termasuk aku!


"Anye!"


Aku diam.


"Kamu sudah janji kan, kamu akan hubungi aku kalau ada apa-apa!"


Aku masih diam.


"Please sayang. Selama ini aku menunggu kabar dari kamu. Tapi kenapa sikap kamu seperti itu?"


Aku malas menjawab.


"Anye. Kita harus ketemu sama keluarga kamu! Aku harus bilang..."


"Enggak!" potongku cepat dengan menatap wajahnya.


"Enggak? Maksud kamu? Kamu udah janji Nye!"


"Aku cuma periksa aja dan, gak ada apa-apa di perut aku!"


"Jangan bohong kamu! Kamu lupa aku punya seseorang yang selalu mengikuti kamu!" ucap Devan lalu mengeluarkan selembar kertas di tangannya. Tertera disana nama klinik yang aku datangi. Dan ada namaku juga. Dan... hasil yang menyatakan aku positif!


Sial! Kenapa aku tidak ingat dengan dia?


"Maaf, tapi kak Mel..."


"Jangan fikirkan Melati, ANYE!!!" teriak Devan menarik bahuku kasar. Devan menatap mataku, aku memalingkan wajahku ke jalanan di depan.


"Jangan pernah berfikir akan menggugurkan kandungan itu, Nye!"


Menggugurkan kandungan?


"Aku gak mikir gitu! Aku gak sehina itu buat bunuh anak aku sendiri! Aku mau yang terbaik untuk kita semua, Dev!" Nafas Devan terdengar memburu.


"Setelah lulus nanti aku akan ke Bandung. Ada teman disana. Aku juga akan kuliah dan kerja disana. Dan aku..." ragu.


"...tenang saja. Aku gak akan berbuat yang aneh-aneh. Aku akan besarkan anak kita dengan baik. Kamu jangan khawatir."


Rahang Devan mengeras, matanya tertutup, giginya bergemeletuk. Bisa aku lihat guratan urat itu di wajahnya yang putih.


"Dasar gadis bodoh! Sampai kapan kamu mau ngalah sama kakak kamu? Kamu gak fikirin gimana nanti? Gak mudah Nye! Gak mudah membesarkan anak sendirian!"


"Banyak ibu tunggal yang bisa membesarkan anaknya dengan baik dan sukses di kemudian hari, dan aku akan buktikan aku juga bisa membuat anakku seperti mereka!"


"JANGAN KERAS KEPALA, ANYELIR!!! DIA ANAKKU JUGA!!!" teriak Devan frustasi.


Ya, aku memang keras kepala!


Aku mencoba membuka pintu mobil tapi terkunci.


Tubuhku tertarik ke belakang, dan kurasakan tangan Devan melingkar di perutku yang masih rata. Aku berontak minta di lepaskan. Tangan Devan memelukku erat. Punggung ku menempel dengan dadanya yang hangat. Devan menyimpan dagunya di pundak kananku, hingga wajah kami sejajar. Kurasa tangan Devan yang mengelus perutku, rasanya hangat dan menyenangkan!


"Anye. Please. Izinkan aku buat raih cintaku yang pernah hilang. Aku... Aku sangat frustasi saat kehilangan kamu dulu... hanya saja aku tidak bisa menolak semua keinginan papa..." Devan terisak lagi? Kenapa dia cengeng saat di dekatku?


"Kali ini aku gak akan melepaskan kamu Anyelir. Apapun aku..."


"Bagaimana kalau orang tua kamu gak setuju?" Aku mengingat betapa bahagianya mereka dengan kak Melati sebagai calon menantunya.


"Aku gak peduli. Mereka harus tahu yang aku cinta itu kamu, bukan Melati! Please sayang. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung anak aku! Jangan pisahkan aku dengan anakku. Please!"


Anak Devan!


"Aku gak tahu! Kasih aku waktu. Lagi pula apa yang terjadi di kemudian hari kita gak akan tahu kan?" Aku melepaskan tangan Devan dari perutku dan beringsut menjauh ke dekat jendela.


"Aku juga gak tahu apakah anak ini kuat atau tidak." lirihku.


"Maksud kamu? Kamu berharap anak itu tiada?! Hah..." Devan menghela nafasnya kasar, "...aku gak tau lagi harus bagaimana sama kamu Anye! Kamu... benar-benar..." Devan mengacak rambutnya frustasi.


"Kalau anak ini bertahan sampai aku lulus sekolah, kamu boleh datang lagi." finally, itu keputusanku!


Terlihat Devan memijit pangkal hidungnya.


"Kamu menolak, terserah! Aku pada keputusanku!"


"Anye, tapi..."


"Turunkan aku di jalan! Aku gak mau kak Mel lihat kita!"


Devan meninju sandaran kursi di depannya. Terlihat dia sangat frustasi.


Mobil berhenti di jalan, tentunya dengan ancaman dan Devan menuruti ku.


Sampai di rumah.


"Anye kamu dari mana saja?" tanya kak Mel dengan handuk melilit di kepalanya. Sepertinya baru pulang kerja dan langsung mandi.


"Ada urusan di luar kak." ucapku lalu melangkah ke arah tangga.


"Cepat mandi. Sebelum mama marah."


"Iya!" kak Mel pergi ke ruangan depan.


Aku membaringkan diriku di atas ranjang.


"Bagaimana ini?" lirih ku sambil mengusap perutku.


Tiga bulan lagi sekolah selesai, itu berarti usia kandunganku saat itu hampir lima bulan. Apa masih bisa di tutupi? Atau...


Aku menggelengkan kepalaku, mengusir bisikan jahat yang terdengar.


Anak ini tidak bersalah. Tapi bajingan itu yang salah. Bukan anakku atau... Devan! Noval! Dia yang salah! Tapi kalau aku minta tanggung jawab dia, apa dia mungkin akan mau menerima aku yang mengandung anak orang lain? Dasar bajingan! Tapi kalau aku dengan Devan...


Suara ketukan di pintu terdengar dari luar


"Anye, makan malam!" Kak Mel.


"Iya... Duluan saja, kak. Aku masih kenyang!" seruku tak beranjak dari posisiku.


"Kamu sakit?" tanya kak Mel lagi.


"Enggak kak. Aku udah makan di luar tadi!"


"Oke kalau begitu." lalu suara kak Mel tidak terdengar lagi.


"Kak Mel. Maaf!" lirihku.


...****...