DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 109



DOR!!!


"AAkkhhh!!!"


Renata berteriak, menjatuhkan dirinya di permukaan trotoar yang kotor. Seorang bodyguard yang tadi berdiri bersama si kakek kini jatuh tersungkur di jalanan, dia memegangi pinggangnya yang terlihat berdarah. Merintih kesakitan. Sedangkan pria yang satu lagi, sudah bersiap dengan pistol yang kini teracung di tangannya, berdiri di depan Renata dengan sikap siap siaga.


Sebuah mobil hitam datang mendekat. Dari jrndela ang terbuka terlihat satu oorang dengan senapan laras panjang di tangannya tak hentinya melepas tembakan ke arah meraka. Suara berondongan tembakan terdengar memenuhi udara. Debu-debu jalanan berterbangan terhempas oleh desau peluru yang bergerak cepat melebihi angin.


Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat. Renata pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena dia menutup matanya takut. Yang terdengar hanyalah suara teriakan dan juga suara langkah kaki cepat orang-orang yang terdengar dari kejauhan.


"Akh..!!" Renata terpekik saat merasakan tangannya di tarik oleh seseorang. Refleks dia membuka matanya. Seorang pria tinggi dengan badan besar menarik dirinya, memaksanya untuk berjaan mendekat ke arah mobil. Tak ada yang berani menolong Renata, mereka hanya menatap dengan penuh ketakutan pada pria yang kini menarik dirinya.


"Lepaskan aku!" jerit Renata, dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria asing itu. Dia sungguh tak tahu siapa mereka. Apa yang terjadi, dan kenapa mereka ingin membawanya.


"Lepaskan aku! Hei, apa yang kalian lakukan? Lepaskan!" teriak renata, tak ada yang bisa menolongnya. Bahkan kedua penjaga yang tadi bersamanya tergeletak tak berdaya setalah di hadiahi beberapa tembakan lagi oleh pria bermasker ini.


Dengan kasar Renata di hempaskan ke dalam mobil. Renata merasakan area perutnya yang sakit, terbentur lumayan keras pada tepian kursi penumpang.


"Masuk!" titahnya dengan suara keras.


"Tidak... Ak tidak mau..."


Plakk!!!


Renata terpental ke belakang. Satu tamparan telak ia dapatkan di pipi. Sudut bibirnya terasa perih. Bisa ia rasakan aroma amis yang kini bergumul di dalam rongga mulutnya. Mual. Ingin muntah, tapi dia tak bisa, membuat kepalanya terasa pusing.


...***...


Tubuh Axel menegang sesaat setelah dia selesai menerima panggilan dari maid di rumah. Dia berdecak kesal dan menendang udara dengan kakinya, bahkan ia membanting hpnya dengan sangat keras k lantai hingga bercerai berai. Rusak.


"Arghh!!!." Menarik rambutnya frustasi.


"Siapa yang mencoba bermain-main dengan ku?" Teriakkan Axel menggema, membuat beberapa karyawan pabrik elektronik itu menoleh, takut pasti. Bos besar tidak pernah terlihat semarah ini.


Gio yang sudah menebak apa yang terjadi hanya menatap bosnya dengan diam, apa lagi yang bisa membuat adiknya berang seperti ini. Dia menghubungi seseorang di luar sana.


"Cek semua CCTV di depan rumah dan cari siapa yang membuat masalah dengan kita." Setelah mendengar jawaban siap dari sebrang sana Gio menutup panggilannya.


Axel berjalan melewati Gio dan penanggung jawab pabrik. Dia berjalan setengah berlari menjuju ke luar. Langkahnya kasar dan lebar menuju ke tampat dimana mobil mereka terparkir, tak peduli dengan hp mahal yang kini menjadi bangkai karena ulahnya.


Sepanjang jalan Axel terus meracau tak karuan. Dia berkata dengan kasar dan mengumpat.


"Siapa yang mencoba mengganggu hidupku?" teriak Axel kesal. Dia khawatir dengan keadaan Renata yang entah bagaimana keadaannya sekarang. Semoga saja dia dan bayinya baik-bak saja.


Suara hp Gio terdengar berdering perlahan, dia melirik hpnya sebelum mengangkat panggilan itu, seseorang yang tadi dia hubungi.


"Oh... Jadi dia? Oke, kita akan sedikit bermain-main dengan dia!" lalu Gio mematikan sepihak panggilan itu.


Gio melirik Axel dari spion di depannya sementara tangannya tetap berada di atas kemudi.


"Kita sudah temukan siapa orangnya." ucapan Gio membuat Axel terdiam dari umpatannya.


Dia segera maju dan menarik kerah kemeja Gio dengan emosi.


"Siapa?! Siapa yang berani menculik Renata?!' teriak Axel tepat di dekat telinga Gio. Gio melepskan tangan Axel dari kerah bajunya. Telinganya sakit mendengar teriakan adiknya itu. Bersiap saja, Si Kalem akan kembali menjadi singa jantan yang mempertahankan wilayahnya, merebut kembali miliknya.


"William Alexander!" ucap Gio.


William Alexander? seperti pernah mendengar nama itu.


Axel terdiam, mencoba mengingat.


"Dia yang anaknya kamu kubur di dalam semen!" terang Gio.


"Aku ingat. Bagaimana dia bisa menculik Renata?" Gio hanya diam, tanpa ia bicara pun pasti Axel bisa menebaknya juga.


Suara telfon kembali terdengar. Gio mengeluarkan hpnya dari dalam saku jas yang ia pakai. Nomor asing, dia sudah bisa menebak itu siapa.


Gio menggeserka ikon hijau itu ke atas lalu kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


'Sampaikan pada bosmu. Calon istrinya ada di tanganku!'


Gio tertawa mendecih.


"Aku sudah tahu. Apa yang kau inginkan?" Axel menatap Gio yang tengah berdiskusi. Dia merebut dengan kasar hp gio dari tangannya.


"Kembalikan Renata padaku!!" teriak axel lagi, urat-urat di wajahnya terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Giginya bergemeletuk saling mengerat. Dadanya naik turun menahan emosi.


'Hahaha....kembalikan? Lalu bagaimana dengan putraku. Tutt... Tutt. Tutt..' panggilan di putus spihak. Axel bergerak hendak melemparkan hp Gio tapi segera di tahan oleh pria itu.


Jangan berani melempar milikku.