
Oma datang ke rumah sakit bersama opa yang kini duduk di atas kursi roda. Akhir-akhir ini kesehatan opa agak menurun, mungkin karena faktor usia juga tapi tidak mengurangi ketampanan opa yang memang tampan. Mungkin kalau aku seumuran oma, aku juga akan naksir dengan opa. Wajah opa mirip seperti papa. Mereka satu turunan, dan tampan. Dan Devan, bukan berarti dia tidak tampan, perpaduan wajah tampan papa dan wajah cantik mama membuat dia sempurna.
Ah suamiku. Dia tampan bukan? Tidak seperti aku yang hanya biasa-biasa saja.
Bahkan seperti ini lah aku yang terkadang malas berdandan, dengan rambut yang sedikit berantakan, hehe.
Aku tidak seperti kak Melati yang cantik, bahkan sekarang lebih cantik dengan rambut pendeknya.
Kak Mel, aku kangen. Apa kabar kakak sekarang? Semenjak bertemu di mall itulah terakhir kali kami bertemu. Bukan pertemuan yang mengesankan memang. Tapi aku tidak bisa melupakan kak Mel dengan kasih sayangnya padaku. Dan aku, jahat! Aku mengambil tunangannya. Meskipun Devan tidak cinta kak Mel, tapi tetap saja kan. Aku orang ketiga diantara hubungan mereka!
"Anye. Bagaimana keadaan kamu sayang?!" tanya Oma sambil mengelus pipiku lalu beralih ke perutku.
"Baik oma. Bagaimana oma dan Opa?" tanyaku balik.
"Kami baik. Trimakasih karena kamu sudah menyelamatkan mertuamu." ucap Oma. Aku hanya mengangguk. Opa tersenyum memerintahkan perawat untuk mendekat ke ranjangku. Tanpa banyak berkata opa, menggenggam tanganku mengelusnya.
"Trimakasih!" ucap Opa singkat.
Oma dan opa, dua orang yang selalu menyayangiku sedari dulu. Aku juga merasa punya nenek dan kakek. Nenek kakekku umm... maksudku nenek kakek kak Mel, jarang sekali datang ke rumah. Bahkan saat aku tahu bukan anak mama dan papa, saat itu juga aku jadi tahu alasannya mereka selalu membedakan antara aku dan kak Melati.
Kami berbincang dengan santai. Hari ini Devan tidak ke kantornya, katanya selama aku belum pulang dari rumah sakit, urusan kantor Seno yang akan pegang. Enaknya jadi orang kaya, tinggal tunjuk saja!
Oma dan opa tidak lama menjengukku, karena opa harus lekas istirahat. Aku sangat berterima kasih karena oma dan opa berkenan datang menjenguk.
Mama tidak datang, papa sibuk di luar kota, terkadang aku heran kenapa bisa orang kaya lebih sering keluar kota daripada di rumah. Sesibuk itukah mereka?
Menatap ke arah pintu lagi-dan lagi, berharap seseorang datang.
"Kenapa?" tanya Devan, dia mulai mengambil piring yang baru saja di antar perawat.
"Mama tidak datang?" tanyaku pada Devan.
Devan terdiam dia mulai menyuapiku. Mungkin baginya sekarang lebih menarik melihat aku membuka mulutku daripada menjawab pertanyaanku.
"Dev!" panggilku.
"Mama aku larang datang kesini!" tutur Devan membuat aku terkejut. Semarah itukah dia pada mama?
"Kenapa?" tanya Devan ketus.
"Tidak. Hanya saja mama sudah menyesali perbuatannya, aku gak mau kamu marah sama mama." ucapku, lalu terhenti saat Devan menyuapiku lagi. Makanan rumah sakit tidak enak! Aku mau nasi Padang!
Sudah cukup, aku tidak mau lagi bicara, raut mukanya sudah tidak enak di pandang!
"Dev."
"Diam lah, makan saja!" geram Devan tidak suka.
Tak lama dokter dan perawat datang, suasana menjadi sedikit tegang.
"Cepat istriku kesakitan!" teriak Devan, dia malah membuat suasana menjadi mencekam. Wajahnya khawatir. Dokter segera memeriksa keadaanku.
"Bagaimana bisa kalian bilang baik-baik saja, istriku sedang kesakitan!" bentak Devan pada dokter, aku sendiri masih tidak bisa berkata apa-apa melihat suamiku yang kalap.
"Awas saja kalau terjadi apa-apa dengan istri dan anakku. Akan aku pecat kalian semua!" teriaknya lagi, membuat dokter yang memeriksa ketakutan dan bergetar tangannya.
"Maaf tuan, se-sebaiknya an-anda menunggu di...luar!" perawat memberanikan diri, ku lihat dokter tidak bisa konsentrasi karena Devan yang terus meneriakinya.
"Apa? Jadi kamu berani usir aku?" menggeram tidak suka, giginya saling menyatu dengan urat leher yang jelas terlihat.
"Maaf, tuan. Bukan begitu. Kami cuma..." perawat sama takutnya tidak berani menatap Devan.
"Dev." Panggilku.
"CEPAT AKU BILANG DIA KESAKITAN!!" jerit Devan lagi. Ya ampun, dia salah mengartikan panggilanku.
"Iya tuan." Gemetar tangan dokter kembali menyingkap bajuku.
"Dokter aku tidak apa-apa." ucapku pada dokter, menahan tangannya. Devan hanya melotot padaku.
"Dev, aku gak sakit yang seperti itu. Aku sakit karena anak kamu geraknya kenceng banget!" ucapku sedikit keras membuat keributan yang ada seketika hening. Devan terdiam di tempatnya. Dokter dan perawat menghela nafas lega.
"Bukan sakit karena..."
"Bukan!" jawabku cepat. "Jangan lebay. Kamu main lari saja sebelum aku selesai bicara!" ucapku membuat Devan terdiam, dan perawat di belakang Devan menutup mulutnya, bahunya bergetar, dia sedang tertawa, entah tertawa karena Devan atau tertawa karena apa.
"Maaf dokter. Maaf karena suamiku membuat keributan." cicitku, dokter hanya mengelus dadanya sambil tersenyum, seakan dari senyum itu dia mengatakan selamat, tidak jadi di pecat! mungkin begitulah yang dia fikirkan. Dan perawat di belakangnya, melirik ke arah Devan lalu tertawa tanpa bersuara mungkin seperti ini yang dia fikirkan, Dasar tuan muda! Padahal istri ingin di sayang, tapi malah bikin rusuh semua orang! mungkin seperti itu. Tapi entahlah, aku bukan cenayang!
Dokter dan perawat kembali ke tempatnya. Aku terkikik geli sambil merasakan hangatnya elusan tangan Devan di perutku, sedangkan Devan cemberut, entah apa dia kesal atau malu dengan kejadian tadi?
"Apa?" tanya Devan ketus.
"Tidak. Kamu lucu." aku terbahak lalu sadar saat wajahnya mulai kesal.
"Kamu bilang lucu saat aku akan jantungan tadi?" geramnya tidak suka.
"Lain kali dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!" pungkasku. Devan meniupkan udara dari mulutnya ke atas membuat rambut yang menutupi keningnya bergerak. Dia masih kesal.
"Aku cuma takut kamu dan anak kita kenapa-napa!" tutur Devan. Tangannya tidak berhenti mengelus perutku.
"Dev, aku mau di peluk!" ingin manja sedikit tidak apa-apa kan?" Devan bangkit dari kursi lalu duduk di ranjang, bersandar pada bantal yang sudah di tumpuk tinggi. Aku menyandarkan diriku di dadanya yang bidang.
"Kamu jangan buat aku takut sayang. Aku sangat takut kalau kalian kenapa-napa." ucapnya mencium kepalaku. Aku hanya terkekeh.
"Kamu ini di bilangin malah cengengesan!" kesal tapi terus menciumi kepalaku dengan gemas.
"Habis kamu itu lucu!" ucapku lagi.
Kami berbincang mengenai beberapa hal, hingga kemudian aku tidak mendengar apa-apa lagi.