DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 195



"Aaakkhhh! Jangaaaan! Ampuuun!!" itu suara Gio! Apa yang terjadi pada mereka?


Aku segera naik lagi ke tangga, entah ini lantai ke berapa aku tidak menghitungnya! Aku takut, takut jika mereka kenapa-napa!


"Axeeelll! Gioooo!"


Sampai di lantai atas. Mataku membelalak, ku lihat seorang pria memukuli Gio dengan sabuk, sedangkan Gio memeluk Axel erat, melindunginya, menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk Axel.


"Hentikan, tolong! Hentikan!" aku berteriak, membuat pria itu berhenti menyambarkan sabuknya lagi pada tubuh kecil itu. Dia menatapku, tatapan matanya tajam, merah, dan penuh amarah.


Aku ingat pria ini! Pria yang beberapa bulan lalu memukuli Gio di pinggir jalan, pria yang Gio pukul kepalanya, dan pria yang aku jebloskan ke penjara. Ayah Gio!


Kenapa dia sudah bebas? Harusnya dia masih mendekam di penjara untuk waktu yang lebih lama. Bukan hanya kasus penyiksaan pada anaknya, tapi juga kasus pencurian yang dia lakukan!


"Oh, jadi ini ibu angkat kamu?" dia menunjuk padaku. Gio melepaskan Axel dan kemudian memeluk kaki pria itu erat, menahan kaki itu supaya tidak mendekat ke arahku.


"Jangan, bapak! Jangan ganggu mereka, mereka orang baik! Lepaskan, tolong! Biarkan mereka pergi! Kalau bapak mau aku pulang sama bapak, aku akan pulang!" Gio menangis tersedu, memohon dengan sangat pada pria yang ia sebut bapak!


"Aku gak butuh kamu!" Menghempaskan tubuh Gio ke lantai dengan keras, hingga dia terjengkang ke lantai. Axel menjerit, dan menghampiri Gio. Tapi kemudian dia di seret oleh pria itu, dan menahan lengannya. Axel menjerit lagi meminta di lepaskan, begitu juga aku.


"Tolong lepaskan anak ku! Tolong lepaskan mereka! Berapapun... berapa yang anda minta aku akan berikan!" aku berteriak lantang. Dadaku sudah berdebar takut, air mata tak henti mengalir melihat keadaan keduanya. Gio yang sudah berdarah-darah di tubuhnya, dan Axel yang terlihat sulit bernafas. Dia meremas dadanya sendiri. Anak-anakku...!


"Tolong lepaskan anakku!" Akhirnya, suara Devan terdengar di belakangku. Dia mendekat mengulurkan sesuatu di tangannya. "Ini. Berapapun yang anda inginkan. Tulis saja jumlahnya! Saya akan berikan, asal anda jangan ganggu kami lagi! Saya sudah tandatangani, tinggal anda tulis berapa jumlah yang anda inginkan. Jangan ganggu Gio! Biar Gio kami yang akan urus!" Ucap Devan.


"Aku mau uang yang banyak!" Teriaknya.


"Berapa? Lima ratus juta? tujuh ratus juta? Tulis saja! Saya akan berikan, tapi lepaskan kedua anak kami!"


Dia tertawa dengan keras.


"Lima ratus juta? Untuk anak pengusaha terkenal seperti kalian? Hah... lebih baik aku jual saja anak ini pada musuh kalian supaya aku mendapatkan yang lebih lagi!" ucapnya. Lalu mengguncang tubuh Axel. Axel sudah terlihat tak berdaya, dari sorot matanya dia terlihat sudah tidak tahan.


"Satu milyar!" teriakku. "Aku akan kasih kamu satu milyar, tapi lepaskan mereka!"


Dia menyunggingkan senyum di sebelah bibirnya.


"Aku mau lima milyar!" Manusia serakah!


"Bapak. Jangan!" Gio mengambil tangan pria itu yang terbebas, di goyangkannya tangan sang ayah. "Mereka orang baik, pak. Mereka sudah urus aku dengan baik selama bapak tidak ada. Bapak jangan minta uang sama mereka pak. Aku akan ikut bapak! Aku janji akan patuh sama bapak!" ucap Gio. Dia menangis tersedu memohon dengan sangat pada sang ayah.


"Iya, mereka mengurus kamu, tapi mereka juga yang masukkan bapak ke penjara! Memang kamu fikir hidup di penjara enak?!" bentaknya pada Gio lalu kembali menghempaskan anak itu ke lantai.


"Tolong jangan berbuat kasar, bagaimanapun juga itu anak anda! Dan lepaskan anakku. Ku mohon!" teriakku.


"Lima milyar atau aku lempar anak ini ke bawah!" teriaknya marah, dia sudah bersiap untuk mengangkat Axel. "SATU!!" mulai berhitung.


"DUA!!"


"Oke! Akan saya kasih lima milyar, Tapi bapak lepaskan dua anak itu!" teriakku.


Dia tertawa lagi dengan keras.


"Hahaha... Benarkah lima milyar?" aku mengangguk.


"Tuliskan!" titahnya.


Devan segera menulis nominal angka disana. Lima milyar. Lalu memperlihatkan cek itu kembali pada pria itu.


"Lima milyar! Lepaskan kedua anak itu!" seru Devan.


Dia tersenyum menang lalu menghempaskan Axel yang sudah tak berdaya ke lantai. Dia berjalan maju, tangannya terangkat hendak meraih cek kosong bernilai lima milyar di tangan Devan.


Aku berlari mendekati Axel, memangku dia dan memeluknya erat. Matanya sudah setengah terpejam. Nafasnya tersengal, dia meremas kuat dadanya.


"Axel! Jangan tinggalkan mama, nak!" lirihku. Mulutnya bergerak namun tak ada suara yang keluar dari sana. Hanya bisa ku tebak kalau dia memanggilku. Mama.


Oh tidak. "A-Axel! Jangan!" aku menggeleng. "Jangan, sayang! Tetaplah bangun, nak!" Gio berdiri mematung di tempatnya menatap Axel yang tak berdaya.


"Devaaann!!" aku berteriak memanggil Devan.


Brukkk!!


Gio berlari dari belakang dan menubruk pria itu, hingga terjatuh di lantai. Dia naik ke atas punggung sang ayah. Memukuli punggungnya dengan kepalan tangan kecilnya berkali-kali.


"Enggak, Pak. Aku gak akan biarkan bapak ambil uang itu. Bapak, jahat. Bapak sudah sakiti saudaraku! Bapak jahat!!" tangis Gio merebak, dia berteriak memaki ayahnya.


Pria itu bangkit dan memutar tubuhnya hingga Gio terjengkang, dengan cepat dia mencekik leher Gio dan mengangkatnya hingga kaki Gio tak menapak pada lantai gedung. Anak itu menggerakkan kakinya yang hanya menendang udara kosong, dia terlihat sulit bernafas.


"Saudara? Ingat Gio. Kamu gak punya saudara!" teriak pria itu murka.


Devan berlari dan mencekal tangan pria itu dengan kuat. Urat-urat biru terlihat di wajahnya. Rahangnya mengeras.


"Jangan sakiti anak-anakku!" ujar Devan dengan nada dingin. Dia kesakitan, meringis, namun masih tetap mempertahankan leher Gio di tangannya.


"Lepaskan dia. Atau aku patahkan tangan kamu!" Devan balik mencekik pria itu hingga akhirnya Gio terjatuh dari tangan ayahnya. Gio menarik nafas dengan rakus. Sedangkan ayahnya memukuli lengan Devan karena dia tak bisa bernafas.


Gio berlari ke arahku.


"Bu, apa Axel baik-baik saja?" dia bertanya dengan penuh rasa khawatir. Lalu menatap Axel dan memegang tangannya.


"Maaf. Maaf Axel. Karena aku, kamu jadi celaka. Maafkan Gio ya!" Axel hanya tersenyum. Katakan sesuatu, Xel. Jangan hanya senyum!


"Devaaaan!" jeritku. Axel sudah terkulai lemas.


"Toloooong!" aku berteriak lagi. Devan menoleh ke arahku, dan menatap Axel satu detik. Tatapannya terlihat sangat marah, lalu dia beralih pada pria yang berada di tangannya. Dengan sekuat tenaga Devan memukul pria itu beberapa kali hingga dia terjatuh ke lantai. Pelipisnya berdarah. Dia tak sadarkan diri!


"Devan, Axel. Tolong!" aku berseru memanggil Devan, dia segera lari ke arah kami, dan menepuk pipi Axel.


"Axel. Bangun, nak. Bangun!" tapi Axel hanya terdiam matanya tertutup.


Tidak!!!


Axel!!


Jangannn!!!