DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 184



"Apa yang kamu lakukan sama Nanda, huh??!!! Berani-beraninya kamu melakukan hal itu pada putri ku!! Dasar kurang ajar! Manusia Laknat!!" Dia berada di atas tubuhku. Satu tangannya mencengkeram kerah bajuku sedangkan satu tangannya lagi masih tetap melayang kan pukulan padaku. Pukulannya masih kuat meski usianya sudah tak lagi muda. Wajahnya merah penuh emosi. Aku maklum atas kemarahannya!


"Saya minta maaf, pak! Semua itu terjadi karena saya di jebak! Dan..."


"DAN APA?!! Kenapa kamu memilih putri ku?!! Kenapa kamu tidak memilih jal*ng di luaran sana untuk menyalurkan nafsumu!!!" dia berteriak, menarik kerah bajuku hingga wajah kami sangat dekat. Bisa aku rasakan kemarahan dalam panas nafasnya.


"Saya minta maaf, pak. Untuk itulah Saya datang pada anda. Saya ingin bertanggung jawab pada Nanda! Selama beberapa hari ini dia terus menghindari saya! Dan saya baru tahu kalau Nanda pergi! Maka dari itulah saya datang pada anda untuk bertanya dimana Nanda, saya benar-benar menyesal dan ingin bertanggung jawab padanya!"


Dia berhenti memukulku, dan melonggarkan cekalan tangannya di kerah bajuku. Menangis tersedu, tangis yang hampir sama seperti putrinya hari itu! Tangis penuh luka yang tak nampak dari luar namun terasa sayatannya dari dalam.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu beri dia luka yang seumur hidupnya tidak akan bisa di sembuhkan?! Kamu berikan dia luka yang sangat dalam pada hatinya!" Ya memang benar. Aku memberikan dia luka. Luka yang sangat dalam, yang mungkin semur hidupnya tidak akan pernah bisa memaafkanku!


Dia melepaskan tangannya dari ku, dan turun dari atasku. Duduk bersandarkan tembok dengan memeluk kedua lututnya. Menenggelamkan wajahnya disana.


Beberapa saat lamanya aku menunggu beliau hingga tenang.


"Nanda... pergi ke Kuningan! Disana ada adik dari ibunya!" ucapnya di sela tangisnya. "Dia bilang ingin membantu usaha bibinya disana untuk bisa mengambil kembali rumah kami."


"Tolong berikan alamatnya. Saya ingin menyusul Nanda." Dia hanya diam di tempatnya.


"Saya mohon, pak. Biarkan saya menyusul putri bapak. Izinkan saya bertanggung jawab pada putri bapak. Izinkan saya untuk menebus semua kesalahan saya!" aku memohon padanya.


Tanpa bicara lagi dia bangkit dari sana dan mengambil secarik kertas yang sudah ia tulisi sebuah alamat dan menyerahkannya padaku.


"Trimakasih, pak. Saya janji. Saya akan berusaha membahagiakan putri bapak. Saya janji saya tidak akan pernah mengecewakan dia!" ucapku.


"Saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Meski tidak ada rasa cinta diantara kami, tapi saya akan berusaha untuk mencintai dan menyayangi putri bapak!" janjiku padanya.


Aku pamit pada beliau, pergi meninggalkannya dengan luka sayatan besar di hatinya. Tapi aku janji, pelan-pelan aku akan menutup luka itu. Menutup luka yang sudah aku torehkan pada mereka berdua.


Ku telfon seseorang, dan meminta dia memantau keadaan ayah Nanda. Aku harus bertanggung jawab, bukan hanya pada putrinya, tapi pada ayahnya juga!


Kuningan. Aku datang!


Ku telfon Pak Chandra untuk menghandle perusahaan seperti biasanya. Mobil ku lajukan ke alamat yang di tuju. Beberapa jam menyetir sendirian pun aku tidak akan mengeluh demi mendapatkan wanita ku kembali!


Ya. Wanitaku!


Nanda, mau ataupun tidak aku akan bawa kamu kembali. Kamu harus selalu berada di sisiku!


...*...


Sampai di kota tujuan hari sudah sangat malam. Tidak mungkin aku akan mencari alamat dan bertamu selarut ini ke rumah orang. Dan tidak mungkin juga mereka menerima tamu asing sepertiku.


Ku putuskan untuk mencari hotel atau sejenisnya untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah. Sedari pagi aku belum istirahat sama sekali. Dari proyek, langsung pergi ke Mahendra corp., lalu pergi ke tempat ayahnya Nanda, dan sekarang aku berada disini. Kuningan!


Di sebuah hotel kecil aku beristirahat. Tubuhku sangat lelah. Aku juga sangat lapar, tapi rasa bersalahku pada Nanda tidak bisa membuat aku lahap untuk mengunyah makanan.


Apa yang sedang Nanda lakukan disana? Apa dia masih menangis?


Ya, itulah yang selalu aku fikirkan sampai aku tidak nafsu makan. Ingat wajahnya saat menangis!


Ku pandangi foto di hpku. Gambar empat wanita yang sedang bermain air dengan background waterboom. Ini foto lama. Saat aku mengikuti Anyelir dulu. Sebelum Anye menikah dengan Devan. Sedikit flashback mungkin. Devan memerintahkan aku untuk mengikuti Anyelir pergi kemanapun setelah kejadian obat perangsang malam itu. Anye bilang malam itu dia memperk*sa Devan. Keterlaluan. Wanita yang ganas!!


Di gambar ini mereka semua terlihat tertawa bahagia. Tapi pandanganku hanya tertuju pada satu gadis! Ku perbesar gambarnya hingga hanya dia yang mendominasi di layar hpku, dan menatap wajah manis itu. Nanda. Nanda. Nanda. Fikiranku hanya tertuju padanya sekarang!


Tanpa sadar mengusap wajah di gambar itu. Ada apa dengan ku? Setelah kejadian malam itu rasanya aku terobsesi padanya!


Keesokan paginya, tanpa menunggu apapun aku kembali melajukan mobilku.


Tak berapa lama seorang wanita mungkin berusia tiga puluh lima tahunan keluar dari sana dengan gadis cilik yang tadi berlari, dia bersembunyi di belakang tubuh wanita itu.


"Masnya cari siapa ya?" dia bertanya saat aku mendekat ke arahnya.


"Maaf, bu. Benar ini alamat yang tertulis?" aku mendekat dan menyerahkan secarik kertas itu padanya.


"Benar!" ucapnya. "Masnya siapa?" bertanya dengan aksen yang khas. Memindaiku dari atas hingga ke bawah. Mungkin bingung ada bule masuk kampung!


"Saya Samuel!" ku tangkupkan kedua tanganku di depan dada. Wanita ini berjilbab, takut jika dia tidak akan menyambut uluran tanganku. Dia membalas dengan hal yang sama menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Saya datang kemari untuk mencari Nanda. Saya mendapat alamat ini dari ayahnya."


"Nanda?" dari nadanya dia terdengar bingung.


"Apakah Nanda ada disini? Bisa saya bertemu dengan Nanda? Ini penting!" ucapku.


"Tapi Nanda tidak ada disini!" ucapannya membuat kepalaku sakit!


"Tidak ada bagaimana? Ayahnya bilang Nanda pergi kesini untuk membantu usaha bibinya!" Aku tak terima mendengar kenyataannya!


"Tapi Nanda memang tidak datang kesini! Eh, ayo masuk saja dulu. Jangan diluar. Jelaskan semuanya pada saya, ini pasti ada yang tidak beres sama anak itu!" tebakannya benar! Dari ekspresi wanita itu menandakan kalau dia memang tidak berbohong!


Nanda kemana lagi kamu? Dimana kamu sebenarnya!


Kami duduk di ruang tamu berukuran kecil, dengan sofa yang sedikit berlubang di beberapa bagian.


Wanita itu menatapku tajam.


"Jelaskan kenapa sampai anak itu meninggalkan ayahnya dan datang kemari! Dan siapa kamu?!"


"Saya... calon suaminya!" jawabku.


Aku menjelaskan semuanya, soal penyitaan rumahnya, soal Nanda marah padaku, minus soal pemerkosaan yang aku lakukan padanya. Bukankah ini akan menjadi aib untuk Nanda kalau aku bercerita yang sesungguhnya?! Aku memang brengsek!


"Ya ampun, kenapa mas Fadil gak pernah bilang kalau dia sedang kesusahan?! Sudah aku bilang dulu sama dia, kalau dia harus mencari wanita baik-baik! Lihat sekarang wanita ular itu malah membuatnya susah!" geram sendiri sambil memukul lututnya.


"Nanda juga! Kemana anak itu?! Bikin orang khawatir saja!" Marah pada keadaan.


"Saya yang salah, bu. Jangan salahkan Nanda, saya yang kurang perhatian padanya!"


"Terus, kamu kenapa kurang perhatian sama anak itu?! Apa kamu selingkuh sama yang lain sampai Nanda marah?! Kalau kamu sudah tidak mau peduli lagi sama Nanda lebih baik putuskan saja. Biar saya jodohkan Nanda sama anak juragan sapi!" emosinya meletup-letup. Dadanya naik turun, terdengar hembusan nafasnya yang kasar.


"Tidak! Jangan! Justru saya datang kemari untuk menjemputnya, saya masih peduli sama Nanda!"


"Bu, saya minta tolong sama ibu. Jangan sampai ayah Nanda tahu kalau Nanda tidak ada disini!" Dia menatapku bingung.


"Saya akan berusaha mencari Nanda sampai ketemu. Sampai saat itu tolong rahasiakan kalau Nanda menghilang. Mengenai keuangan untuk ayahnya, saya yang akan membantu!" ucapku.


Aku pamit dari sana. Masuk ke dalam mobil ku. Menatap beberapa orang yang keluar masuk ke bangunan di samping rumah sambil membawa beberapa gulungan kain besar di pundak mereka. Bibi Nanda punya konveksi tidak besar, tapi tidak juga kecil. Mungkin itu alasan ayah Nanda melepas putrinya untuk datang kesini.


Ku lajukan mobilku ke arah jalanan, sedikit merenung memikirkan si dia, siapa lagi? Dia yang sudah membuat hatiku porak poranda. Dia yang sudah membuat hatiku kacau selama beberapa hari ini.


Ku hentikan mobilku di jalanan yang sepi. Mengambil hp dan melakukan panggilan keluar.


"Bantu aku cari Nanda! Di manapun dia, harus ketemu!" klik. Ku matikan hpku dan melemparnya ke kursi penumpang di sebelahku. Ku sandarkan punggungku ke sandaran kursi, memijit pangkal hidungku yang berdenyut.


Nanda. Dimana kamu? Kenapa kamu lari dari aku? Apa aku tidak layak untuk kamu? Apa aku tidak pantas untuk kamu maafkan? Apa aku sehina itu di mata kamu sampai kamu tidak mau lagi melihatku? Kemana aku harus mencari kamu?