DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 196



Tiara dan Cantik pulang sebelum acara pesta selesai. Mereka terpaksa masuk ke dalam mobil Romi karena pria itu berhenti tepat di depan mereka saat menunggu taksi datang.


"Terimakasih Pak Romi, anda telah mengantar kami pulang!" ucap Tiara lalu membuka seatbeltnya. Mobil telah berhenti sempurna di depan rumah Tiara.


"Sama-sama, Ara. Selamat malam, ya. Selamat beristirahat!" ucap Romi dengan senyuman lebar. Tiara tersenyum singkat lalu membuka pintu mobil.


"Cantik. Kau benar tidak mau menginap di rumahku?" Tiara melongokkan kepalanya menatap Cantik yang duduk di bangku belakang.


"Ah, tidak. Aku butuh tempat luas untukku tidur. Berdua dengan mu aku tidak bisa bergerak!" seloroh Cantik. Tiara tertawa kecil.


"Ya sudah, aku masuk. Sekali lagi terimakasih Pak. Hati-hati di jalan dan tolong antarkan Cantik dengan selamat sampai tujuan!" mohon Tiara.


"Oke, tak masalah." ucap Romi. Pintu mobil ditutup oleh Tiara. Cantik melambaikan tangannya dari dalam mobil, Tiara membalas lambaian tangan itu hingga kemudian mobil beranjak pergi barulah Tiara masuk ke dalam rumah.


Kini tinggallan Romi dan Cantik berdua di dalam mobil itu. Cantik bangkit, lalu berpindah ke kursi depan, tak peduli dengan tata krama atau apalah, yang seharusnya dia menjaga image sebagai wanita cantik. Romi sampai harus menggeserkan sedikit tubuhnya untuk memberi ruangan bagi Cantik.


"Hei.. kau ini wanita atau bukan sih? Kau bukan anak kecil yang bisa sembarangan berpindah tempat seperti ini. Kau kan bisa memintaku berhenti dan kau turun untuk pindah ke depan!" tutur Romi dengan kesal.


"Hehe.... Sudah tanggung, Pak. Aku sudah duduk!" ucap Cantik yang baru daja duduk di samping Romi. Romi menggelengkan kepalanya dengan kelakuan gadis ini.


"Kau seperti anak kecil saja!"


"Hehe.... Memang aku masih unyu-unyu, iya kan?" Cantik memasang seatbelt di tubuhnya.


"Cihh... Unyu dari mana? Heh... Dengar. Kau ini wanita dewasa ingat usiamu berapa sampai kau tak ingat berkelakuan seperti apa barusan!" ujar Romi kesal.


"Aku ingat dengan usiaku! Kita tak jauh beda lah. Hanya beda tiga atau empat tahun!" jawab Cantik cuek.


"Iya, tapi kau seharusnya bersikap lebih elegan lah sebagai wanita. Kau itu...


"Sudah. Sudah. Jangan marah-marah... Kau itu sukanya padaku marah-marah terus. Nanti cepat tua gak laku siapa juga yang repot? Tentu Anda lah, bukan saya. haha...." Cantik tertawa dengan menutupi mulutnya.


Romi menepuk dahinya seraya berdecak kesal. Untung saja bukan seperti ini tipe wanita yang dia sukai. Bisa mati muda menghadapi pasangan yang seperti ini.


***


Cantik tersenyum saat mendengar kabar kalau ada seseorang yang diserang pada malam pesta itu. Tapi kesal juga karena alasan dari penyerangan itu adalah si penyerang yang tak terima karena cemburu pria yang dia sukai dekat dengan si korban.


What? Gue cemburu? Sepertinya dia masih belum kenyang minum air dari dalam toilet! Batin Cantik.


"Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Tiara saat melihat Cantik terlihat melamun dan tersenyum sambil mengaduk-aduk makanan di depannya.


"Tidak ada!" ucap Cantik pada akhirnya. Tiara dan Cantik akhirnya makan bersama hingga habis dan kemudian kembali lagi ke ruangan tempat mereka bekerja.


*


Suara langkah kaki terdengar berjalan dengan cepat ke arah mereka berdua.


"Akh...!!" Cantik berseru memekik kesakitan saat merasakan rambut panjanganya tertarik ke belakang. Wajahnya mendongak memerah. Tiara refleks berdiri di samping Cantik terkejut dengan teriakan temannya itu.


"Hei... Ternyata yang semalam buat kami babak belur wanita ini? Wanita culun?! Berani-beraninya membuatku kesakitan!" cerca Maria masih menarik rambut Cantik.


"Hei apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" mohon Cantik sambil menahan tangan Maria.


"Bu Maria apa yang Anda lakukan? Lepaskan teman saya!" Tiara maju satu langkah unruk membantu Cantik melepaskan diri, tapi langkahnya terhenti saat Febi menarik tangannya dan membawa dirinya menjauh.


Maria tertawa puas melihat wanita ini kesakitan. Dia menarik paksa kacamata di wajah Cantik dan melemparnya ke lantai, lantas dengan sol sepatunya yang keras dia menginjak kacamata itu hingga kacanya retak dan bingkainya patah.


"Semalam kau sangat jago sekali menindas kami. Kenapa sekarang kau tak melawan?" seru Maria. Dia tak peduli dengan kedaaan sekitar yang masih ramai dan mengelilingi mereka. Beberapa orang saling berbisik ada juga yang mengambil rekaman atas kejadian itu.


"Aduh... sepertinya kau salah orang, Bu! Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan!" ucap Cantik berpura-pura.


Maria kesal dengan jawaban Cantik, dia mendorong Cantik hingga tersungkur ke lantai.


Duk.


"Akh..!" kepala Cantik terbentur tepian bangku yang terbuat dari besi, rasa linu seketika terasa di sana.


Maria menendang kacamata yang tadi di injaknya hingga terlempar ke jalan raya, terlindas oleh beberapa pengendara motor yang melintas.


Mana mungkin dia salah orang, jelas saat dia bertanya gadis yang bersama dengan Romi semalam adalah wanita ini meski sempat tak percaya pada awalnya. Tapi kini Maria percaya dan yakin jika memang wanita ini yang menyerangnya semalam.


"Jangan berpura-pura, Kau! Semalam kau yang menyerang kami dan juga mengunci kami di toilet! Apa kau lupa?" Teriak Maria geram menunjuk lantang pada Cantik yang masih melantai.


"Hei kau salah orang! Tidak mungkin temanku melakukan hal itu pada kalian!" teriak Tiara. Tiara tidak bisa melakukan apapun karena kedua tangannya dikunci oleh Febi di belakang tubuhnya.


"Diam kau. Kau mana tahu karena semalam kau tak ada bersama kami!" bentak Maria. Kekesalannya sudah memuncak saat mengingat bagaimana dia di perlakukan malam itu. Air dari toilet yang mengenai wajahnya membuat dia mual ingin muntah dan tak berselera untuk makan.


Cantik bangun sambil memegangi keningnya yang memar.


"Dan kau! Aku peringatkan padamu. Aku sudah melaporkan tindakan keji mu semalam pada atasan, tunggu saja surat pemecatan dirimu!" teriak Maria. Maria masih geram, tak cukup telah membuat Cantik sakit keningnya. Dia maju dan menampar Cantik, menarik kembali rambutnya dan melempar Cantik ke tengah jalan dengan brutal.


Rasa cemburu dan rasa terhina karena kepalanya di masukkan kendalam toilet membuat dia gelap mata. Terserah gadis ini akan mati celaka atau mati tertabrak kendaraan yang melintas.


"Cantik!!" Tiara berseru. Air matanya sudah berjatuhan melihat temannya di aniaya.


Hup...


Sepasang tangan besar menahan laju Cantik yang hampir saja terjatuh ke aspal hitam jalanan.