DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 29



Axel memegangi tangan Renata yang tak sakit. Dia duduk di samping Renata sedari tadi, menunggu gadis itu bangun.


Sudah dua jam berlalu tapi gadis itu tak bangun juga. Axel memanggil dokter. Dokter bilang mungkin saja reaksi tubuh Renata lebih lambat dan membuat dia lebih lama untuk pulih dari obat bius pasca operasi.


Axel terus menunggu. Tak sedikitpun pandangannya ia alihkan dari Renata. Wajahnya yang ayu itu kini terlihat sayu, meski tak sepucat tadi. Pastilah karena apa yang sudah ia alami hari ini.


Semua salahnya. Salahnya, karena tidak mendengarkan Renata untuk beristirahat. Ia sangat ingin segera menyelesaikan masalah gadis itu hingga nekat pergi padahal memang badannya masih merasa sakit.


"Maafkan aku Re, harusnya aku dengar apa kata kamu! Kalau saja aku tidak pergi pasti kamu gak akan lari dan pergi bersama mereka. Dan pastinya semua ini tidak akan terjadi sama kamu!" Tak sadar. Axel meremas jari tangan Renata agak kuat.


Ia tahu semua yang Renata lakukan adalah untuk melindunginya.


Melindunginya? Atau melindungi jantung kakaknya?


Akh ... Rasanya Axel ingin berteriak sekarang! Dia bingung dan dia harus menunggu hingga Renata siuman dan menanyakan apa yang gadis itu rasakan padanya.


Hingga lebih dari tengah malam Axel tetap menunggu. Renata belum bangun juga. Tak sedetikpun pandangannya ia alihkan dari Renata. Ia terus menunggu. Tapi yang di tunggu masih saja diam, tak ada yang berubah.


Axel mulai hilang kesabaran. Dia melangkah pergi dari ruangan itu dan memerintahkan dua pengawal untuk menjaga di depan pintu ruang rawat Renata.


Dia berjalan ke ruangan dokter yang kini sedang terlihat mengantuk di tempatnya.


Dokter terkesiap saat pintu di buka dengan keras oleh seorang pemuda. Seketika matanya menjadi cerah. Terlihat pemuda itu dengan wajah marahnya.


Axel mendekat dan mencengkeram kerah baju dokter.


"Dokter. Apa yang terjadi dengan Renata. Kenapa dia belum sadarkan diri juga?!" teriak Axel pada dokter itu.


"Belum sadar?" tanya dokter balik. Dia mengangkat tangannya untuk melihat jam. Ini memang sudah terlalu lama untuk gadis itu tak sadarkan diri.


"Baik. Saya akan periksa Nona Renata, tapi tolong lepaskan saya dulu!" ucap dokter itu.


Dokter dan juga Axel kembali ke ruangan Renata. Axel menunggu dokter selesai memeriksa.


"Maaf Tuan. Tidak ada yang salah dengan Nona Renata. Tapi sepertinya ini juga ada hubungannya dengan kekerasan yang di alami Nona Renata."


"Maksudnya?" tanya Axel tak mengerti, menatap dokter dengan tajam.


"Dari kondisi pasca operasi seharusnya nona bisa sadar setelah lebih kurang dua jam, tapi melihat dari luka dan ... " dokter terdiam ragu. Dia menatap Axel takut. "... dan ... tanda ..." dokter kembali terdiam, dia takut jika salah berbicara.


"Katakan!" ujar Axel, tatapan Axel lagi-lagi membuat dokter itu berkeringat dingin.


"Tanda kekerasan di tubuhnya ... Saya kira itu ... mungkin ini adalah salah satu bentuk protes nona Renata!" jawabnya terbata.


Axel masih bingung dengan penjelasan dokter itu.


"Jangan berputar-putar. Jelaskan dengan baik!" bentaknya tak sabar.


"Sebaiknya kita harus melakukan pemeriksaan lain dengan dokter ahli saraf. Mungkin ada yang salah dengan kesadaran Nona Renata."


"Apa maksudmu ada yang salah? Apa kalian melakukan sesuatu yang salah pada saat operasi tadi?" tanya Axel dengan nada dinginnya.


"Tidak Tuan. Kami yakin kami melakukannya dengan sangat baik. Meskipun ini bukan rumah sakit terkenal tapi kami memiliki dokter yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing." dokter itu mencoba meyakinkan Axel.


"Ini soal ... " dokter menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dia mencoba membuat dirinya tenang.


"Ini sepertinya berhubungan dengan keadaan psikis Nona Renata. Maaf Tuan. Maafkan kalau saya salah. Dari tanda-tanda yang ada di tubuhnya, sepertinya nona adalah korban pelecehan s*ksual. Dan luka sayatan di lengannya menandakan kalau dia sangat tertekan dengan keadaannya. Dan bisa jadi ini yang menyebabkan dia belum bangun dari tidurnya. Dia yang tak ingin bangun!" ucap dokter itu kemudian.


"Omong kosong! Apa ada hal yang seperti itu?!" teriak Axel.


"Ini hanya persepsi saya, Tuan. Beberapa pasien memang bisa mengalami hal yang seperti itu. Untuk lebih jelasnya kita tunggu dokter yang bersangkutan untuk memeriksa dan menjelaskan apa yang terjadi."


"Kalau begitu panggil dokter itu! Suruh dia datang kesini sekarang juga!!" teriak Axel. Telinga dokter itu sampai pengang karena pemuda ini terus saja berteriak dengan keras.


"Tapi Tuan, ini bukan jadwalnya shift malam."


"Aku gak peduli! Panggil dia sekarang juga!" titah Axel.


"Panggil dia!!" teriaknya lagi. Dokter itu mengambil hpnya dan kemudian melakukan panggilan kepada dokter Haris. Dokter ahli saraf yang cukup di kenal di rumah sakit ini.


"Maaf, Tuan. Dokter Haris baru akan tiba besok pagi. Beliau baru saja kembali dari operasi." ucap dokter itu setelah mematikan telfonnya. "Mohon tuan menunggu sampai besok pagi."


"Kalau begitu panggil dokter yang lain!"


Dokter itu bingung harus menjawab apa. Renata bukanlah pasien gawat yang harus segera di tangani. Dia sudah melewati masa kritisnya. Gadis itu hanya sedang tidur dengan damai. Dia melirik ke arah Renata, berharap gadis itu mau bangun setelah mendengar pria gila ini marah-marah dan terus berteriak.


"Kenapa tidak memanggil yang lain?!"


"Sudah lah Xel. Jangan marah-marah. Tenang, ini rumah sakit. Kamu bisa mengganggu orang lain! " Gio baru saja masuk ke dalam ruangan. Sedari tadi dia mendengar suara Axel yang terus berteriak, kasihan dokter itu.


Dokter menghela nafas lega setelah mendengar sebuah suara yang mendekat ke arah mereka.


"Tenang bagaimana? Renata belum sadar, dan kamu bilang aku harus tenang?!"


"Setidaknya biarkan dia istirahat. Mungkin saja dia lelah setelah kejadian hari ini. Kita tunggu dokter besok pagi dan menanyakan alasan kenapa Renata belum bangun."


"Ayo kita pergi cari udara segar." Gio menarik lengan jas yang Axel kenakan.


"Tapi ...."


"Ayo. Jangan teriak-teriak di depan Renata. Kasihan dia. Dokter tolong jaga Renata dengan baik. Kalau ada apa-apa hubungi saya." Gio memberikan kartu nama pada dokter. Kemudian dia menarik Axel pergi keluar dari ruangan itu.


Dokter menghela nafasnya lega. Akhirnya pria itu pergi juga dari sana. Dia menggosok telinganya, rasanya sangat tak nyaman mendengar pria itu terus berteriak sedari tadi.


Dia menatap Renata dari tempatnya. Kemudian kembali memeriksa gadis itu.


...***...


"Aargghh!" suara teriakan penuh kesakitan terdengar di sebuah ruangan. Bau amis tercium dimana-mana. Seorang pria yang kini sudah tak memiliki lidah dan sepuluh jarinya hanya bisa menangis berharap kematian cepat menghampirinya. Tapi dua iblis ini sepertinya tidak ingin melakukan hal itu. Mereka tidak ingin memudahkannya untuk melihat malaikat kematian, karena mereka lah malaikat kematiannya!


"Aku tidak tahu!" ucapnya tak jelas.


"Sungguh tidak tahu dimana mereka." Menangis pun percuma karena mereka bersiap untuk menggoreskan belatinya kembali pada pipinya yang sudah terkelupas kulitnya. Dia menatap nanar pada telinga dan jari-jari tangannya yang teronggok di lantai.


"Tidak tahu?" tanya Jimmy. Noah mengangguk.


Jimmy menoleh pada pria di belakangnya.


"Kita harus apakan dia? Dia tetap tidak mau mengaku!"


Daniel bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ke dekat Noah. Berjalan mengelilingi pria yang hanya beda empat tahun darinya itu.


"Aku tidak tahu, sumpah. Aku berkata jujur!" teriak Noah, Daniel masih bisa mengartikan kata-katanya yang tidak jelas itu. Dia terus meracau meminta di lepaskan.


"Ya sudah, kalau dia tidak tahu dimana orang-orang itu mau bagaimana lagi." ucap Daniel pasrah. Dia mengulurkan tangannya, Jimmy memberikan belatinya pada Daniel.


Mata Noah membelalak saat Daniel menarik tangannya dan kemudian menancapkan pisau belati itu ke tangannya, hingga dia merasakan pisau itu menembus tulangnya. Teriakan kesakitan terdengar menggema di dalam ruangan itu. Masih di saksikan oleh para pengawal Noah yang menunduk tak berani melihat kejadian mengerikan itu.


"Tolong lepaskan aku. Atau bunuh aku sekalian. Jangan siksa aku!" pria itu menangis memohon, tapi Daniel hanya mengangkat kedua bahunya cuek. Pria bengis itu hanya tertawa dengan tak berperasaan.


"Lepaskan? Tapi aku masih ingin bermain-main sama kamu, bagaimana?" tanya Daniel, lalu tersenyum.


"Aku mohon! Akhhh!!!" Noah berteriak saat Daniel mencabut belati itu dari tangannya. Lalu dengan perlahan dia menancapkannya kembali ke tangan Noah beberapa kali hingga menciptakan luka kecil di tangan pria itu.


"Aku lebih senang melihat seseorang mati karena depresi. Biasanya dia akan mati karena kehabisan darah pada hari ketiga kalau dia beruntung. Dan kalau dia masih bisa beruntung melihat dunia, maka dia akan mati di hari ke tujuh! Dia bisa melihat potongan tubuhnya yang perlahan membusuk dan di kelilingi lalat." Daniel tersenyum, tapi bukan itu yang Noah inginkan. Noah tak ingin senyuman. Dia hanya ingin belati itu mengoyak jantungnya dan mengantarkannya untuk menghadap Tuhan.


Jimmy menundukan kepala saat Axel dan Gio datang kesana.


Axel menatap wajah kesakitan Noah. Tak ia sangka beberapa jam penyiksaan pria itu masih saja hidup.


"Ada informasi?" tanya Axel.


Daniel hanya menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak mau bicara," ucap Daniel.


"Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu dimana mereka!" teriak Noah.


Axel mengambil pisau belati dari tangan kakaknya lalu tanpa aba-aba pria itu menusuk paha Noah dengan keras. Noah kembali berteriak kesakitan. Dia sudah tidak tahan.


Gio hanya terdiam menyaksikan kebengisan Axel. Pria yang biasanya tenang itu kini seperti lautan yang sedang mengamuk karena badai. Dia berkali-kali menusuk Noah di kakinya.


"Renata belum sadar dan itu karena kamu yang memberikan dia trauma! Ikat dia, bawa keluar!" titah Axel. Dua orang kemudian mendekat, membawa Noah dan memapahnya keluar menuju ke taman di belakang vila.


Langit mendung, awan-awan hitam menggantung di udara. Angin yang dingin bersemilir menusuk ke tulang. Udara yang segar untuk Noah hirup terakhir kalinya. Dia hampir lupa dengan udara segar ini, karena sedari tadi dia hanya mencium bau amis darah daro tubuhnya.


Disana sudah ada alat pengaduk semen yang sedang berputar pelan, suaranya terdengar lumayan keras karena sedang mengaduk semen dan juga batu kerikil kecil.


Noah yang sudah lemas tidak bisa melawan saat mereka memasukkan dirinya ke dalam tong besar


"Apa yang akan kalian lakukan?" lirihnya. Dadanya mulai sesak. Pandangan matanya sudah mengabur. Ruangan sempit di sekitarnya membuat dia tak bisa bergerak leluasa.


Axel mendekat dan melongokkan kepalanya di bibir tong. Noah terduduk lemas di dalam sana.


"Daripada melenyapkanmu tanpa jejak. Bukankah lebih baik memberikan sesuatu yang bisa membuat ayahmu mengingatmu?" ucap Axel dingin.


"Semoga saja dia ingat dengan keberadaan kedua orangtua itu setelah melihatmu menjadi patung!" Axel menggerakkan tangannya. Beberapa orang mulai menyiramkan adukan semen basah itu ke dalam tong.


Noah sudah pasrah. Dia terlalu lelah dan lemas sekarang. Cepat atau lambat dia akan mati juga.


Axel menyaksikan saat-saat dimana tong itu penuh dengan semen basah. Dia hanya terdiam.


Daniel mendekat dan menepuk bahu Axel pelan.


"Padahal aku berharap bisa mengambil jantung dan organ lainnya untuk di donorkan pada orang lain." ucap Daniel.


Axel berkata dengan dinginnya. Tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya.


"Hati dan jantungnya terlalu busuk untuk di berikan pada orang lain."