DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 152



Dalam sebuah ruangan aku terbangun. Tanganku terasa linu, sebuah selang infus terpasang disana. Aku mencoba bangun. Kepalaku masih sedikit sakit. Samuel baru saja masuk ruangan, dia membawa sesuatu di tangannya, dia setengah berlari mendekat ke arahku.


"Jangan banyak bergerak!" menyimpan benda itu di atas nakas


"Apa aku pingsan?" tanyaku mencoba mengingat. Samuel mengambil bantal lain dan menumpuknya di belakang punggungku. Aku bersandar dengan nyaman, sambil mengurut pangkal hidungku yang berdenyut.


"Ya, kamu pingsan tadi. Dokter bilang kamu hamil!"


What?!!


Pernyataan Sam membuatku seketika menoleh, "Aku hamil?!" tanyaku. Sam mengangguk.


"Delapan minggu! Apa kamu tidak sadar selama ini?" tanyanya lagi. Aku menggeleng. "Tidak terasa tanda-tanda kamu mengidam sesuatu?" tanya Sam lagi, aku menggeleng lagi. Kami terdiam.


"Ini makan bubur, Lynn yang buatkan tadi." Sam memberikan benda yang tadi dia bawa padaku. Masih panas.


Aku hamil? Delapan minggu?


Aku tertegun.


"Sudah jangan banyak berfikir. Makan buburnya. Dan ini,..." Sam menyodorkan beberapa butir obat. "...ini obat dan vitamin dari dokter untuk kamu minum!" Aku menelan ludahku dengan susah payah. Tidak suka dengan obat-obatan itu.


"Aku juga sudah membeli pisang untuk membantu kamu makan obat!" Seakan tahu apa yang aku fikirkan.


"Apa ayah dan Daniel sudah tahu aku hamil?" tanyaku.


"Aku sudah kasih tahu ayah, tapi Daniel, kami belum bicara soal ini sama dia."


"Jangan!" ucapku. Tiba-tiba ada rasa takut yang teramat sangat dalam diriku. Takut jika Daniel tidak bisa menerima kalau dia akan punya adik.


"Sam, bagaimana perasaan Daniel kalau dia tahu aku hamil ya?" tanyaku, satu suap bubur aku masukan ke dalam mulutku. "Apa Daniel akan terima?"


"Aku tidak tahu. Tapi kita bisa kasih tahu dia pelan-pelan!" ucap Samuel.


Aku makan dengan diam, banyak yang aku fikirkan, lebih banyak rasa takut daripada senang. Takut jika Daniel tidak akan menerima anak yang aku kandung ini, dia baru saja bertemu dengan ayahnya. Dan aku takut jika Daniel berfikir kalau dia akan terabaikan jika kami memiliki bayi.


Aku menghela nafas berkali-kali.


"Sudah tenang saja, Daniel akan baik-baik saja!" ucap Sam mengelus bahuku.


"Aku akan pergi besok kembali ke sana untuk mengurusi perusahaan!" ucap Sam. Ya, sudah lebih dari tiga minggu kami disini, sudah waktunya untuk kembali mengurus perusahaan.


Samuel pulang ke rumah, sedangkan aku memilih untuk melangkah ke ruangan Devan setelah perawat melepaskan jarum infus di tanganku. Devan masih terlelap. Ku elus pipinya yang mulai tirus.


"Dev, kapan kamu bangun?" aku duduk di sampingnya, ku ambil tangannya dan menempelkannya di perut rataku.


"Kamu benar! Kita datang kesini memang untuk kasih hadiah buat ayah dan Daniel. Kita akan punya bayi!" ucapku. Mataku panas, siap untuk meluncurkan air bening dari sana.


"Bangun Dev, anak ini butuh belaian ayahnya! Kamu harus sering ajak dia bicara!" aku tidak tahan lagi. Menangis hingga tak sadar membasahi perban di tangannya.


Beberapa saat larut dalam kesedihan, hatiku sakit. Mengingat bagaimana saat aku mengandung Daniel dulu. Aku tidak mau jika anak ini sama seperti Daniel, bahkan dia sama sekali tidak bisa mendapatkan perlakuan semestinya dari ayahnya. Elusan, ciuman di perut, dan juga dialog-dialog yang selalu Devan ucapkan saat dulu berbicara dengan putranya.


"Besar nanti, jagoanku mau jadi apa?"


"Kau harus lebih tampan dari pada papa!"


"Harus lebih sukses daripada papa!"


"Harus lebih setia daripada papa!"


"Jadilah lelaki yang bertanggung jawab, dan juga gentle."


Dev, akankah kamu mengatakan hal itu lagi untuk anak kedua kita?


Bangun, Dev. Bangun, hiks... Kumohon. Demi aku. Demi Daniel. Demi anak kedua kita!


Tak sengaja aku lihat satu bulir air mata turun membasahi pelipis Devan. Apakah Devan menangis?


"Dev, kamu dengar aku? Apakah kamu akan bangun?" tidak ada jawaban. Aku segera menekan tombol, tak lama dokter dan perawat datang.


"Lihat dokter, Devan menangis. Apakah di akan sadar?" tanyaku tak sabar.


"Akan kami periksa. Nyonya tenanglah!" ucap dokter. Lalu dia memeriksa keadaan Devan, hatiku senang, tapi juga takut, rasa di dalam dada ini berdebar tak karuan.


Dokter mendekat.


"Bagaimana dokter, apakah itu tanda-tanda Devan akan sadar?" tanyaku.


Dokter tersenyum.


"Kita tidak tahu kapan pasien akan sadar."


Deg.


"Tapi pasien masih bisa mendengar apa yang orang sekitar bicarakan. Dia juga ikut merasakannya. Contohnya seperti tadi."


"Jadi air mata itu..." suara ku tercekat, merasa kecewa.


"Pasien juga memiliki emosi seperti halnya saat sadar, hanya saja dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya semangat besar dalam dirinya yang bisa membuat dia sadar kembali. Teruslah ajak dia bicara, berikan semangat positif untuk pasien. Mungkin dia akan cepat sadar."


Devan...


"Anda juga harus istirahat nyonya. Demi bayi dalam kandungan anda!" ucap dokter itu lalu pamit untuk kembali ke ruangannya.


"Devan, aku tahu kamu juga merasakan bahagia bukan? Cepatlah bangun. Kita akan hidup bahagia bersama, di rumah yang kamu bangun untuk kita. Kita harus persiapkan kembali ruangan untuk bayi ini." ucapku lalu mencium tangan Devan lamat.


Bangun Dev, ku mohon!


...****************...


...Selamat berbuka puasa....