
Gio menatap Tiara, wanita itu balik menatapnya, sungguh menunggu cerita darinya. Tatapan matanya menyorotkan sinar kesungguhan, ingin tahu apa yang terjadi dengan suaminya hingga berubah sikap setelah bertemu dengan mantannya itu.
Tiara melipat kedua tangannya di atas dada Gio, dagunya tertopang di atas punggung tangan.
"Hentikan Tiara. Aku tidak mau cerita." tolak Gio
Tiara memiringkan kepalanya. Kenapa tidak mau cerita? Apa kau takut kalau aku akan marah?" tanya Tiara.
"Hem ... Aku takut kau berpikir aku belum bisa move on dari dia." tutur Gio dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Lalu? Apa kau sekarang merasakan hal itu? Apa kau belum bisa move on? Atau kau sudah move on, tapi kau merasa jika rasa itu kembali setelah melihat dia?" tanya Tiara dengan cemberut.
Gio menatap Tiara, kesal dengan dirinya yang dituduh seperti itu.
"Aku sudah move on dari dia."
"Lalu kenapa sikapmu berbeda padaku setelah bertemu dengan dia? Jika orang lain yang menjadi istrimu tentu dia akan berpikir kalau kau belum bisa melupakan dia."
"Tapi untungnya istriku ini kau, jadi aku gak akan takut kau marah atau cemburu." Gio tersenyum.
"Siapa bilang aku tidak cemburu? Kau tidak tahu saja kalau rasanya aku ingin menjambakmu saat itu, atau mendorongmu dari atap hotel ini." rajuk Tiara.
Gio tertawa mendengar hal itu. Dia tidak marah sama sekali, justru senang dengan sikap Tiara yang apa adanya seperti ini.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Mendorongku dari atas atap?"
Tiara menatap Gio dengan tajam. Bibirnya mengerucut dengan kesal, tapi terlihat lucu di mata Gio.
"Kau mau aku jadi janda di usia pernikahan yang belum satu minggu? Aku masih belum puas merasakan ******* denganmu." rungut Tiara membuat Gio terkekeh, tubuh Tiara sampai ikut naik turun karena perut Gio yang berguncang.
Gio menepuk kening Tiara dengan gemas.
"Kau ini mesum, Ra. Dimana wanita lain akan jual mahal kau murahan sekali!" Gio kembali terkekeh.
Tara masih bersungut pada suaminya ini. "Memangnya apa salah kalau aku murahan seperti ini? Aku kan murahan pada suamiku sendiri. Lagipula, aku juga mendapat uang yang banyak darimu, aku gak masalah murahan selama kau memenuhi rekening bank milikku, dan aku juga akan lebih murahan lagi kalau kau mau menyerahkan semua kartu mu untukku." Tiara tersenyum menyeringai membuat Gio menatapnya tidak percaya.
Ya ampun. Baru dia tahu kalau istrinya ternyata matre seperti ini.
"Aku tidak tahu kalau kau ternyata matre." tutur Gio. Tiara meringis memperlihtkan gigi putihnya.
"Aku selama ini hidup dalam kesederhanaan, sekarang aku punya suami kaya, untuk apa aku berhemat lagi, ya kan?" tanya Tiara dengan acuh.
Gio tertawa lebih keras kali ini. Istinya ini lucu sekali!
Tiara tersenyum senang. Matre bukanlah sifatnya, dia hanya berbicara omong kosong saja dengan Gio, nyatanya pria itu tidak marah sama sekali, atau merasa ilfeel padanya.
Gio menatap istrinya yang terlihat menggemaskan. Dia sangat tahu sekali jika Tiara bukan tipe matrealistis, buktinya kartu yang dia berikan dulu untuk biaya transportasi pulang pergi bekerja saat menjadi sekretarisnya hanya berkurang beberapa, dan setelah Gio pergi ke Kalimantan kartu itu masih ada di tangan Tiara. Gio tidak mendapat laporan jika kartu itu terpakai setelah itu.
"Hei kenapa jadi membicarakan soal itu? Aku 'kan menuntut cerita masa lalumu dengan dia!!" Seru Tiara saat ingat apa yang tadi ingin dia dengar.
Gio menepuk keningnya dengan permintaan istrinya ini.
"Lebih baik jangan. Aku malas bercerita tentang dia. Satu yang harus kau tahu, Ra. Aku sudah tidak cinta lagi dengan dia. Dia membuatku trauma akan wanita, dan kamu yang telah menyembuhkan aku dari rasa itu. Aku tidak mudah percaya dengan wanita selain Mama Anyelir, tapi kamu bisa menjadi wanita nomor dua yang aku percayai setelah dia menghanati aku." tutur Gio. Tiara menatap Gio tda percaya. Sampai seperti itu yang Gio rasakan karena trauma pengkhianatan itu. Kasihan sekali pria ini pasti rasa ini sungguh menyiksanya.
Tiara menyentuh kedua pipi Gio dengan telapak tangannya.
"Aku memang tidak pernah merasakan trauma karena cita, tapi aku tahu rasanya ditinggalkan. Sakit." ucap Tiara.
"Kau mau janji dengan aku , G?" pinta Tiara pada Gio.
"Apa?" tanya Gio.
"Apapun yang terjadi kita bisa melewatinya berdua. Janji kau tidak akan menyembunyikan apapun dariku. Kau merasa sakit, takut, kecewa, marah, kau harus bilang padaku ya. Jangan pendam sendirian." Pinta Tiara. Gio terharu mendengar permintaan istrinya ini. Permintaan yang sangat sederhana, tapi terkadang sulit untuknya yang tidak terbiasa untuk terbuka kepada yang lain termasuk pada Mama Anyelir.
Gio mendekap istrinya dengan erat, menciumi pucuk kepala Tiara beberapa kali.
"Trimakasih, Ra. Aku akan mencoba untuk terbuka dan selalu melakukan apa yang kau minta."
Tiara melesakkan kepalanya di ceruk leher Gio, merasakan hangat tubuh dan detakan jantung Gio yang kembali bersahutan tidak karuan.
"Ara." Panggil Gio.
"Hem?" tanya Tiara tanpa mengangkat kepalanya.
"Rasanya milikku sudah tidak tahan ingin menjelajah lagi." ucap Gio tiba-tiba membuat Tara mengangkat kepalanya kali ini.
"What?! Tidak, tidak, G. Aku lelah hari ini, aku saja sampai menunggu mu bangun untuk memintamu membantuku ke kamar mandi. Pinggangku rasanya rontok setelah seharian ini bertempur denganmu." keluh Tiara.
Gio terkekeh, senang dengan ucapan permintaan Tiara barusan. Segera Gio bangkit dan membuat Tiara ikut terbangun. Diangkatnya Tiara ala bridal, Gio melompat ke lantai dengan Tiara yang kini mempererat pelukannya di leher Gio.
"Kau mau mandi kan?" tanya Gio dengan nada yang terdengar menyeramkan.
Mampus!!!
Tiara tahu sekali akan maksud ucapan pria ini. Harusnya dia tadi tdak bicara seperti itu. Sudah tidak bisa mengelak, kini Gio sudah membawanya mask ke dalam kamar mandi. Tara tahu bukan hanya akan mandi semata, tapi air akan terbuang percuma karena acara bercinta mereka di bawah guyuran air. Sabun mandi pun akan menangis jika saja mereka punya mata, karena hanya bisa menonton dua insan yang sebentar lagi akan mulai berlomba menyanyi dengan suara merdu mereka.