DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 141



Kami telah sampai di mansion utama. Semenjak nenek meninggal, ayah memutuskan untuk pindah ke mansion utama supaya bisa mengenang nenek dan juga kakek.


Devan terpana melihat kemegahan mansion ini. Dia terlihat ragu untuk melangkah.


"Ayo masuk!" aku menarik tangan Devan. Devan menatapku dengan tatapan yang sepertinya aku faham arti tatapannya ini. Ya aku faham sekali.


"Dev, ayo. Tidak apa-apa!" ucapku menenangkan. Samuel sudah masuk terlebih dahulu.


Aku menggamit lengan Devan dan membawanya melangkah masuk.


Pintu terbuka lebar kami masuk bersama-sama. Ingat Pak Didi? yang aku ceritakan dulu menjadi penjaga sekolah ku, dan juga dia merangkap sebagai butler disini. Beliau menyambut kedatangan kami, bersama dengan beberapa maid yang bekerja di dalam mansion ini. Mereka berjejer rapi dan menunduk saat kami lewat.


"Tuan besar berada di ruang kerja. Harap nona bertemu dengan tuan besar terlebih dahulu!" ucap Pak Didi. Aku mengangguk, dan meminta pak Didi menyiapkan kamar untuk kami.


Kami berjalan menuju ruang kerja ayah. Tangan Devan mendadak lebih dingin dari pada saat tadi. Apalagi saat kami tiba di depan pintu ruang kerja ayah, dinginnya seperti dia baru saja keluar dari berendam air es.


"Dev, tenang saja. Jangan gugup." Devan mengangguki perkataanku, mencoba bersikap setenang mungkin.


Pintu aku buka, terlihat Samuel sedang duduk menghadap ayah mereka terlihat sangat serius. Saat kami masuk Sam berdiri dari duduknya, dia setengah membungkuk pada ayah dan kemudian pergi melewati kami. Dia tersenyum tapi rasanya senyumannya itu menakutkan.


"Ayah. Apa kabar?" tanya ku seraya masuk ke dalam pelukannya. Ayah mencium keningku. Rasanya hangat sekali di bandingkan dengan dinginnya tangan Devan.


"Ayah baik. Bagaimana kabarmu selama disana? Ayah dengar kamu di culik?" tanya ayah, ayah menatap Devan tajam seakan dari pandangannya mengatakan 'kenapa tidak menjaga anakku dengan baik?!'. Mungkin seperti itu, aku bukan cenayang, aku hanya menebak.


"Iya, itu... hanya kecelakaan saja!" ucapku. "Ayah, kenalkan. Ini Devan. Dev, ini..."


"Ya ayah pasti tahu jelas. Ayah aku dan Devan kesini karena..."


"Ayah tahu tujuan kalian. Sana istirahat lah dulu, ayah ingin bicara dengan dia berdua!" ucap Ayah menekan kata 'Dia'. Oh ayah, jangan keluarkan nada seperti itu! Apa ayah tahu kalau Devan gugup dan takut pada ayah?


"Baiklah, aku akan keluar. Aku harap ayah tidak membuat dia kabur dariku!" ku tekankan kata kabur dalam bisikan pada ayah. Ayah hanya tersenyum dengan penuh maksud entah apa.


"Dev, aku tunggu kamu di luar. Tidak apa-apa kan?" tanyaku. Devan mengangguk mengatakan OK. Ku elus lengannya, memberikan dia semangat. Aku berjalan keluar dari ruangan ayah sesekali ku lirik ayah dan Devan. Apa yang ayah akan lakukan? Jangan sampai ayah berbuat sesuatu yang membuat Devan sedih dan tersinggung!


Berjalan tidak tenang di depan pintu ruangan kerja ayah. Bolak-balik sembari melirik, berharap bisa punya kekuatan tembus pandang dan juga ketajaman pendengaran yang super supaya bisa tahu apa yang sedang mereka lakukan, dan apa yang sedang mereka bicarakan. Aku manusia biasa, tidak bisa melakukan itu!


Melirik jam di tanganku. Baru tujuh menit yang lalu aku melihat jamku. Rasanya seperti aku sudah berdiri menunggu disini selama tiga jam! Padahal belum sampai satu jam mereka berada di dalam sana. Dan aku ingin sekali mendobrak pintu ini untuk menuntaskan hasrat penasaranku!


"Sudah, tinggalkan saja. Jangan di tunggu lagi!" suara Samuel terdengar mendekat berjalan ke arahku. Dia berjalan dengan sangat santainya.


"Aku takut ayah tidak akan terima Devan, Sam." ucapku saat Sam sudah tepat dua langkah di depanku. Kaki ini tidak bisa berhenti melangkah. Berbalik, dan berjalan. Begitu seterusnya, seperti gasing yang terus berputar.


"Ikut aku. Kita jemput Daniel dari sekolah!" Sam menarik tanganku dan pergi dari sana.


"Tapi Sam, Devan masih..."


"Biarkan saja. Dia tidak akan jadi mumi saat kita balik nanti!" Sam masih menarik tanganku hingga ke luar mansion dan menaiki mobil mewahnya.