DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 182



Gio tersenyum senang, tapi dia tak akan santai begitu saja dan percaya kepada dua orang ini, meskipun tak ada catatan cacat pada sikap mereka.


"Oke. Memang itulah yang harus kalian lakukan. Semua ada timbal balik bukan? Kalian membuatku senang dan juga kalian membuatku kecewa, timbal balik yang akan kalian dapatkan juga sepadan!" Gio menggerakkan tangannya, sedikit mengibas yang artinya jika dia memerintahkan kedua orang itu untuk pergi dari sana. Dengan segera mereka berdua undur diri setelah sedikit membungkuk pada sang atasan.


Keduanya menghela nafas lega saat setelah keluar dari ruangan itu.


"Pak, aku rasa bos ini gila!" bisik si pemuda pada pria di sebelahnya. "Kenapa ada bos yang gila seperti ini, ini pemaksaan namanya. Dia mengeluarkan banyak orang dan mengancam membawa anggota keluarga kita!" sedikit kesal, nyatanya jiwa mudanya keluar sekarang.


"Huss... Jaga ucapanmu. Jika kau mau keluar, dari sekarang saja. Jangan sampai kau juga masuk dalam daftar hitam dan menyesal seumur hidup menjadi kuli bangunan!" peringat si Bapak sambil melonggarkan dasinya. Lehernya serasa tercekik di dalam sana, tapi dia tak bisa dan takut bahkan untuk bergerak sedikit saja. Gio meski hanya bicara singkat tapi aura pemimpinnya itu sungguh menakutkan, seorang pemimpin dingin yang berwibawa. Dengan langkah lebar pria itu meninggalkan si pemuda yang kini terlihat massish berpikir. Dia sudah masuk kandang buaya, jangan sampai lengah dan membuatnya kehilangan kepala.


Heru menatap si bos yang kini hanya diam menatap dua amplop di mejanya. tatapannya lurus kesana, tak beralih sedikit pun. Tapi dia tahu bukan itu yang jadi fokusnya. Ada sorot lain di dalam mata itu, kerinduan akan seseorang.


"Perlu aku hubungi seseorang untuk tahu kabar dia?" Heru memecah keheningan yang ada.


Gio menghela nafas, lalu dia beranjak dari kursinya.


"Aku akan istirahat dulu. Kau gantikan aku satu jam ini." Tanpa menunggu jawaban Gio berlalu pergi ke arah sebuah pintu. Ruang istirahat kecil. Gio ingin memejamkan mata sejenak. Dia tak bisa fokus sekarang.


Membaringkan dirinya di atas kasur, jas yang tadi dia pakai sudah tersampir di gantungan pojok ruangan. Gio menatap hpnya yang kini sepi dari notif. Jika biasanya terdengar notif, dan isi pesan...


'Selamat pagi, jangan lupa sarapan'.


Dan akan dan balas 'bawakan aku sarapan ke kantor'.


Atau...


'Selamat malam dan selamat tidur'.


Dan Gio akan membalas 'aku selalu ingin tidur di dalam dekapanmu'.


Dan apa balasan yang di berikan Tiara? "DALAM MIMPIMU!' dengan huruf besar persis seperti itu.


Gio sering tertawa sendiri jika kembali melihat semua chat dari Tiara. Gadis jutek itu sungguh membuatnya rindu. Apalah daya jika dia harus memilih. Mama lebih berat untuk dia tinggalkan. Seorang ibu yang penyayang tak akan meninggalkan anak-anaknya di saat mereka terpuruk, bukan?


...***...


Tiara dan Cantik sedang menunggu bis yang akan mengantar mereka pulang. Bukan hanya mereka berdua, tapi ada juga beberapa orang yang sedang menunggu bis yang sama maupun bis dengan jurusan yang berbeda. Mereka berdua menunggu sambil mengobrol ringan, tentang masalah pekerjaan tentunya.


Dan benar saja. Tak lama setelah mereka duduk disana hujan gerimis turun membasahi bumi. Aroma jalanan kering yang tersimbah air tercium di hidung.


Tiara menutup hidungnya yang terasa geli. Tiara tak pernah suka dengan aroma ini, serasa menggelitik hidungnya dan membuat dia bersin beberapa kali.


"Kau tak apa, Ra?" Cantik merassa khawatir mendengar Tiara bersin sampai tiga kali.


"Hidungku hanya gatal!" Tiara menggosok hidungnya dengan punggung tangan, menatap ke kejauhan. Hujan memang benar-benar turun meski belum deras. Beberapa orang saling mendekat, membuat space beberapa inci dari yang lain, menghindari curahan air hujan yang menimpa bumi. Menghindarkan baju atau kaki mereka sebisa mungkin menjauh dari basah.


Tiara dan Cantik duduk saling berdempet, terdorong oleh beberapa wanita yang ada disana. Sedikit tak nyaman, dan juga merasa sesak, tapi tak bisa melakukan apa-apa, karena ini memang bukan wilayah pribadi yang bisa seenaknya mereka tempati,


Sebuah mobil hitam berhenti di depan halte. Tepat di depan Tiara dan juga Cantik. Pintu pengemudi terbuka. Seorng pria keluar dari dalam sanadengan ppayung htam di tangan. Berlari ke arah Tiara dan Cantik yang duduk disana.


"Kalian mau pulang?" Berteriak mengimbangi suara hujan yang mulai deras."


"Kami sedanf menunggu bis!" Cantik yang menjawab, sama berteriaknya.


"Aku antarkan saja, kalian pulang kemna?" bertanya lagi. Cantik membenarkan letak kacamatanya yang merosot.


"Jalan X." Cantik menjawab.


"Kamu?" bertanya pada Tiara.


"Tak jauh dari sana!" jawab Tiara.


"Aku juga mau ke arah sana. Ada perlu, kita bisa pulang bersama!' pria itu berteriak lagi.


"Maaf, Pak. Dan trimakasih. Aku naik bis saja. Tak akan lama lagi bis datang." ujar Tiara.


"Bis memang akan datang, tapi lihat banyak penumpang juga yang mau menaiki bis, pasti akan penuh sesak! Ayo, kalian aku antar saja." tak mau mendengar jawaban dari keduanya, pria itu menarik tangan Tiara untuk berada di bawah naungan payung yang sama.


"Kau tunggulah dulu, aku akan menjemputmu setelah ini!" perkataan itu ditujukan pada Cantik.


"Eh tapi pak..."


"Sudah. jangan banyak bicara, kau mau aku semakin kebasahan?" bertanya dengan nada ketus membuat Tiara mengkerut di hatinya. Dia mengikuti langkah kaki pria itu menuju ke arah mobilnya. Setelah Tiara masuk lalu pria itu kembali untuk menjemput Cantik.