DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 191



Pernikahan Samuel.


Ya, hari ini adalah pernikahan Samuel, dengan seorang gadis yang ia renggut kesuciannya. Nanda!


Setelah enam bulan berjuang mendekati Nanda akhirnya hati yang beku menjulang setinggi gunung es itu leleh juga.


Mungkin benar apa yang peribahasa jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino, yang berarti datangnya cinta karena sering bertemu. Umm... hanya itu yang bisa ku artikan. Arti dari kata yang sesungguhnya aku tidak tahu pasti! Tapi itulah yang bisa ku maksudkan.


Sam terus berjuang tanpa lelah, tanpa henti, dengan berbagai cara, sampai akhirnya Nanda bersedia menikah dengannya. Sebenarnya itupun juga karena aku dan yang lainnya, termasuk ayah Nanda, ikut membantu mempengaruhi dia, hehe...😇✌


Nanda terlihat cantik dengan balutan gaun putih sederhana yang di buat khusus oleh perancang gaun pengantin ternama. Rambutnya di ikat tinggi di atas, dengan hiasan mahkota tiara cantik nan anggun. Samuel memesankan langsung dan khusus dari Tyffany & Co. Sangat menawan di pakai di atas kepalanya. Sedangkan Samuel terlihat sempurna dengan balutan jas berwarna hitam. Mereka tampak sangat, sangat serasi!


Pesta di gelar di ballroom hotel milikku. Sebenarnya Sam ingin mengadakan pesta di Bali atau di Lombok dengan background laut di belakangnya. Apa dia ingin sama seperti pestaku tempo hari?


Tapi Nanda menolak, dengan alasan kesehatan Axel. Ya, Axel sedang sedikit down akhir-akhir ini. Mungkin karena dia sedang sangat aktif sampai-sampai dia cukup sering keluar masuk rumah sakit. Aku sayang Nanda!


Pesta di gelar dengan sangat meriah. Para tamu undangan tak hentinya berdecak kagum dengan suasana pesta maupun dengan kecantikan dan ketampanan kedua mempelai.


"Selamat Nanda!" Aku bersama Devan dan kedua putraku naik ke panggung pelaminan, di belakang kami ada Sofia, Edgar, Nayara, dan calon suami Nayara.


"Trimakasih!" Nanda memelukku erat, ada senyum bahagia di bibirnya. Ku harap itu senyum bahagia yang sesungguhnya.


"Akhirnya. Aku harap kamu akan bahagia dengan Samuel. Dia pasti akan bahagiakan kamu, Nan." Nanda mengangguk.


"Iya, Nye. Ku harap aku bisa mencintai Sam dengan perlahan." bisiknya. Aku tahu apa yang ada di dalam hati Nanda! Dia memang belum bisa mencintai Samuel, tapi karena melihat perjuangan Samuel dan juga permintaan ayahnya, akhirnya Nanda setuju.


Aku melepas pelukan Nanda, lalu beralih pada Samuel. Senyuman bahagia mengembang di bibirnya.


"Sam!" ku angkat kedua tanganku dan mendekat ke arahnya, memeluknya. Dia balas memelukku.


"Sela..."


"Sudah. Jangan lama-lama!" Devan menarik belakang bajuku. Dia kira aku anak kucing apa?!


"Dev, aku belum mengucapkan selamat pada Samuel!" melirik ke arah Devan dengan kesal.


"Tapi tidak perlu peluk juga, kan?! Ingat. Sam itu sudah ada yang punya sekarang!" cercanya.


"Bilang saja kalau kamu cemburu!" cicit Sam.


"Siapa bilang aku cemburu? Kamu sudah punya istri sekarang lebih baik perhatikan saja istrimu, jangan perhatikan istriku!" mereka saling menatap dengan tajam. Ku lirik Nanda yang berdiri persis di samping Samuel. Wajahnya merona! Ku fikir itu bukan karena blush on, tapi tak bisa ku pungkiri kalau sudut bibirnya terangkat sedikit ke atas! Dia malu?


"Memangnya kenapa juga kalau aku masih perhatian dengan istrimu? Ingat dia itu adikku!"


"Bukan adik kandung! Dan yang jelas dia itu istriku!" mereka saling menatap dengan tajam. Berbicara dengan pelan namun penuh nada permusuhan. Sorot mata mereka seperti petir yang saling menyambar!


Ya ampun! Bahkan di hari yang penting seperti ini mereka masih ingin berdebat?!


"Hei yang di depan, cepat turun kalau sudah tidak ada urusan! Jangan membuat yang jomblo semakin merana disini!" ucapan penuh kekesalan terdengar dari mulut Sofia. Sontak kami menoleh bersamaan padanya. Edgar juga terlihat kesal. Benar. Mereka berdua yang tak membawa pasangan!


"Makanya, jangan jutek jadi cewek. Biar gak kelamaan jomblo!" Ucap Devan membuat Sofia semakin kesal. Sofia melotot hampir saja melayangkan tinjuannya pada Devan, tapi tangannya di tahan seseorang dari belakang.


"Saya suka sama cewek jutek, apalagi nona ini!" suara berat seseorang terdengar dari belakang Sofia. Edgar mundur satu langkah untuk melihat pria itu. Pria jangkung dengan tubuh kekar bermata biru.


Aku melongo melihat pria itu. Serius?!!


Sofia menatap mata biru pria itu tanpa berkedip. Mulutnya terbuka, tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Hanson!" panggil Axel. Hanson menoleh pada Axel dan tersenyum.


"Hai, tuan muda!" lalu beralih pada Sofia. "Kalau nona berkenan, izinkan saya menjadi pasangan nona malam ini! Dan kalau anda mengizinkan Tuan Edgar, saya ingin mengejar adik anda." Egdar masih terdiam namun kepalanya mengangguk ke atas dan ke bawah.


Aku semakin tidak percaya. Rencanaku mendekatkan Sofia berhasil? Padahal aku sempat mengira kalau mereka saling cuek dan tidak bisa bersama, mengingat selama ini mereka saling cuek.


"Wleeekkk. Aku udah gak jomblo!" Sofia menjulurkan lidahnya ke arah Devan. Devan terdiam menatap Hanson tak suka.


"Minggir!" menyenggol bahu Devan.


Dia mendekat ke arah Nanda dan mengucapkan selamat, begitu juga pada Samuel. Samuel melakukan high five dengan Hanson dan menatap Devan dengan tatapan mengejek.


"Kamu cuma mau bantu dia kan?" bisik Devan pada Hanson.


"Devan! Jangan usil!" ku berikan tatapan tajam padanya, dia hanya mengerucutkan bibirnya. Nanda tertawa melihat kami.


"Berarti disini hanya aku yang jomblo!" Edgar bersuara. Kami semua menoleh padanya. Haha... benar! Sekarang satu lagi yang masih jomblo. Kira-kira siapa yang akan datang kali ini?


Sampai kami semua turun dari panggung, tak ada lagi yang datang mendekat.


Aaah sudahlah!


"Yang sabar, bang Ed!" ku tepuk bahunya beberapa kali. "Suatu saat kamu pasti akan menemukan seseorang yang bisa kamu cintai dan mencintai kamu!" ucapku.


Brukk!!


"Ah maaf!" suara merdu seseorang meminta maaf. "Maafkan saya tuan. Maafkan saya. Saya tidak sengaja! Tolong maafkan saya!"


Dia mengeluarkan sapu tangan dari tas kecilnya dan menyodorkannya pada Edgar. Baju Edgar basah karena minuman yang baru saja Edgar ambil, tak sengaja tumpah di bajunya.


Edgar terdiam menatap ke depan. Mulutnya terbuka, matanya tak berkedip.


"Bang Ed?" ku lambaikan tanganku di depan wajahnya.


"Nila kan?" Devan bertanya. Aku menoleh merasa familiar dengan nama itu.


"Oh, tuan Devan, nona Anye?!" dia berseru. Aku juga sama.


Bertahun-tahun tidak bertemu dengan Nila membuat aku merasa pangling melihat dia. Entah setelah malam itu bertemu dia menghilang kemana.


Kami saling berpelukan penuh rindu dan saling bertanya kabar.


"Kamu kenal sama dia Nye?" bisik Edgar.


"Kenal. Kenapa?"


"Kenalin dong!"


"Suka?" tanyaku. Dia mengangguk.


"Kayaknya!" tersenyum mengagumi wajah mbak Nila yang sedang mengajak Axel bicara.


"Boleh, tapi bajunya bersihin dulu, di lihatin tamu yang lain!" ucapku Edgar melirik ke arah lain dimana beberapa orang melihat ke arahnya.


"Aku ke toilet dulu. Jangan biarkan dia pergi!" ucapnya lalu tanpa menunggu jawabanku dia pergi ke arah toilet berada.


Sam dengan Nanda. Sofia dengan Hanson. Dan, Edgar ingin mendekati Nila. Fantastik. Malam ini benar-benar bersejarah!


Aku dan mbak Nila saling berbincang ringan, baru aku tahu kalau mbak Nila selama ini telah menikah, tapi ternyata pernikahan mereka kandas karena adanya orang ketiga.


Mbak Nila adalah bawahan ayah yang di tunjuk untuk mengawasiku saat di rumah Devan dulu, tapi setelah aku kembali dan mengambil alih perusahaan itu, dia undur diri, dan aku tidak tahu dimana dia.


Nila sedang berbincang dengan ayah dan juga Devan. Daniel dan Axel baru saja di bawa mama dan papa ke lantai atas, mereka sudah mengantuk.


"Mana yang tadi?" tanya bang Ed saat dia sudah kembali dari toilet.


"Tuh." tunjukku ke arah dimana mereka berada.


"Kenalin dong please!" menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ummm... bang Ed, sekedar info nih ya. Mbak Nila itu..." aku mendekat ke arahnya dan berbisik.


"Memangnya kenapa?" Bang Ed menarik dirinya menatapku.


"Bang Ed gak keberatan?" tanyaku.


"Gak juga, malah bagus kan. Pengalaman!"


Heehhhh???


Bang Ed suka yang berpengalaman?