
Axel pergi dari sana. Gio masih dengan setia mengikuti dari belakang. Seorang bawahannya berdiri di luar mobil dan menyerahkan jas baru untuk Axel.
Axel membuka dasi, jas, dan kemejanya yang terdapat bercak darah. Dia menyerahkannya pada yang lain. Perut kotaknya sungguh terlihat indah diantara cahaya lampu yang mengalahkan bias rembulan.
Selesai memakai jasnya Axel kembali masuk ke dalam mobil. Mobil pun segera melaju di jalanan yang sepi. Kembali ke rumah sakit dimana tempat Renata terbaring.
Daniel masih menatap semen yang basah. Jimmy berdiri dengan tegak di sampingnya. Beberapa yang lain membereskan sisanya. Orang-orang bawahan Noah. Mereka akan segera membereskannya malam ini juga.
Jimmy mengambil hpnya dari dalam saku celana, menghubungi seseorang di tempat yang jauh.
"Siapkan tempat untuk mereka malam ini juga!" singkat, namun orang yang di telfonnya sudah faham dengan apa yang ia maksud.
Jimmy kembali memasukkan hpnya ke dalam saku celana.
Daniel menghela nafasnya kecewa, masih menatap semen basah yang tak jauh beberapa meter di depannya.
"Ah, sayang sekali dia mati dengan mudah. Tidak seru. Aku kira akan melihat Axel menyayat dagingnya tipis-tipis lalu di masukkan dalam frezer dan akan kita bawa sebagai oleh-oleh untuk piranha kakek!" ujar Daniel yang membuat Jimmy menggelengkan kepalanya.
Axel tentu tak sama seperti kakaknya yang menikmati detik demi detik penyiksaan hingga korbannya mati dengan sendirinya, atau setelah tujuh hari si korban tidak mati maka Daniel sendiri yang akan menembak tepat di kepalanya hingga darah menyembur di belakang tubuh si korban.
Pemuda itu lebih suka jika dia menyiksa sedikit, memotong sedikit, menyayat sedikit, lalu jika dia tidak bisa mengorek informasi lagi, maka seperti Noah-lah nasibnya. Atau bahkan bisa lebih buruk dari itu dengan dibiarkan mati di makan binatang buas.
Jimmy tak habis fikir dengan bosnya ini. Sepertinya sifat Kakek lebih dominan pada dirinya daripada sifat ayahnya. Jelas jika dia tidak pernah sekalipun melihat Papa Devan memegang senjata, baik itu pistol ataupun belati. Apa mungkin karena Daniel sedari kecil tinggal bersama dengan kakek? Bisa jadi.
"Ayo pulang!" ucap Daniel akhirnya. Dia berjalan melewati Jimmy dan keluar dari vila itu untuk pulang ke rumah. Jimmy mengikuti dengan patuh kemana tuannya pergi.
...***...
Axel sudah sampai di rumah sakit. Jam sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi. Suara derap langkah sepatu terdengar jelas di lorong rumah sakit yang sepi.
Lorong demi lorong, dia lewati. Hingga sampai lah Axel di depan sebuah ruangan yang dijaga dua orang pengawalnya. Mereka berdua menunduk hormat pada Axel dan kemudian salah satunya membuka pintu untuk tuan mudanya. Axel dan Gio masuk ke dalam sana.
Seorang perawat sedang duduk di samping brankar Renata. Dia bersandar sambil sesekali kepalanya oleng ke samping karena saking mengantuknya.
"Eh. Tuan." perawat itu tersadar dan mengucek matanya saat mendengar deheman Gio. Dia segera bangkit dan memberi ruang untuk Axel. Hampir saja terjatuh jika saja dia tidak menahan dirinya pada meja kecil di samping brankar.
"Apa Renata sudah sadar?" tanya Axel.
"Be– Belum, Tuan." jawab perawat itu takut. Pasalnya dia tahu saat Axel memarahi dokter tadi, meskipun pemuda di depannya ini tampan luar biasa tapi aura dinginnya membuat dia merasa beku tak berdaya.
"Mana dokter yang tadi merawat Renata?"
"Sedang di ruangan lain, Tuan. Ada pasien yang sedang butuh pertolongan." jawab perawat itu.
Perawat itu pamit untuk kembali berjaga di luar. Begitu juga dengan Gio. Dia memilih pergi dan tak mau mengganggu waktu Axel bersama Renata.
Gio keluar dari ruangan itu, dia duduk di kursi tunggu menaikkan dua kakinya dan bersandar disana. Tubuhnya lelah. Butuh istirahat. Hampir dua malam dia tidak tidur dengan benar.
Gio berusaha tetap terjaga, berkali-kali menutupi mulutnya yang terus saja menguap. Udara dingin di luar sana membuat dirinya tak tahan untuk perlahan menutup kedua matanya.
Axel mendekat ke arah Renata. Di elusnya kepala gadis itu dengan sayang. Dia mendekat dan melabuhkan ciuman di kening gadisnya.
"Cepatlah sadar, Re. Aku sudah balaskan dendam kamu. Dia sudah menerima akibat dari perbuatannya." ucap Axel. Dia mengambil tangan Renata yang terinfus lalu menciumnya lamat.
Hatinya merasa sakit melihat Renata yang masih terbujur disana. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Axel tentang Renata. Tapi pastinya ia akan meminta jawabannya saat Renata sadar nanti.
Axel bersandar pada kursi. Tubuhnya lelah tapi ia tak bisa tidur sama sekali. Keinginan untuk menunggu Renata sadar sangat besar, hingga dia mengesampingkan kebutuhan tubuhnya untuk beristirahat.
Pagi menjelang. Matahari bersinar dengan cerahnya di luaran sana. Cahayanya menerobos jendela hingga menerpa kulit tangan Axel.
Axel menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam tujuh pagi dan Renata belum sadar juga.
"Re, kapan kamu akan bangun? Aku selalu menunggu kamu disini. Ku mohon, bangunlah. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat." gumam Axel pelan. Dia mengelus tangan Renata.
Rasanya sangat hampa tidak ada Renata di sisinya. Biasanya gadis itu akan cerewet saat bersama Axel tapi sekarang mulutnya tertutup rapat. Bahkan bulu mata yang cantik itu tak sedikit pun bergerak.
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya mendekat pada Axel. Raut wajahnya terlihat khawatir di wajah cantiknya. Usianya tak lagi muda tapi tetap tak menutupi kecantikan alami yang dimilikinya.
Axel hanya menatap nanar pada Sang Ibu. Matanya tiba-tiba merah. Iblis tak berhati itu tiba-tiba saja bak anak kecil yang butuh perhatian ibunya.
Axel berdiri dan memeluk mamanya.
"Axel ...."
Tanpa berkata apa-apa, Axel menangis tersedu di bahu sang ibu. Anye hanya bisa menenangkan dan mengelus kepala iblis kecil itu dengan sayang. Dia menatap Renata yang terbaring tak berdaya.
"Sudah, nak. Semua akan baik-baik saja. Kita akan bawa Renata pulang sebentar lagi," ucap Anye membuat Axel berhenti menangis. Ucapan seorang ibu memang bisa menenangkan putranya.
Gio menatap kebersamaan Axel dan mama Anye yang sangat hangat. Sungguh berbeda dengan Axel yang semalam. Dia pria dingin yang sangat kejam, tapi di hadapan sang ibu dia menjadi pria kecil yang manis.
Gio penasaran. Apa yang akan mama Anye lakukan kalau tahu ternyata kedua putranya baru saja menguliti dan menyiksa seseorang tadi malam. Ahh ... Kasihan sekali mama, pasti akan shock, batin Gio.
Dokter Haris datang. Sedang dokter yang dari semalam di tunggu oleh Axel. Dia memeriksa Renata dengan seksama.