
Gio duduk dengan santainya di depan seorang pria. Satu kaki tertopang di atas kaki yang lain. Jari tangannya saling bertautan di atas pangkuan. Tak ingin mengganggu acara makan si pria asing yang terlihat sangat menikmati makanannya, hingga dia tak mengindahkan etika di meja makan. Gio hanya melihatnya dengan sikap yang tak acuh.
"Emh... Ini enak. Bisa aku habiskan ini semua?" Bertanya dengan mulut yang masih penuh, tapi belum juga ada jawaban dari Gio, pria itu sudah mengambil udang lobster yang ada tak jauh di hadapannya. Mengupas kulitnya lalu mengambil dagingnya dan memakannya hingga terdengar suara menjijikkan dari mulut pria itu. Membuat mual saja!
Untungnya Gio memesan tempat privat hingga tak ada orang lain yang ikut mual dengan kelakuan urakan pria ini. Heru sampai menggelengkan kepalanya melihat sikap tak tahu diri pria kucel dekil di hadapannya.
Setengah jam menunggu. Akhirnya pria itu selesai dengan makanannya. Permukaan meja berantakan dengan sisa makanan yang tercecer di luar piring.
Aarrkkk....
Bersendawa sambil mengusap perutnya yang penuh akibat terlalu banyak makan. Menyandarkan punggungnya pada kursi. Kapan lagi dia bisa makan dengan enak seperti ini. Satu yang dia pikiran. Jangan sia-siakan!
Dia mendekat, mengambil tusuk gigi yang ada di atas meja. Membersihkan giginya dari sisa-sisa daging yang menyelip disana. Berdecak sekali lagi, lalu melemparkan tusuk gigi itu hingga mendarat di piring yang kotor. Sungguh membuat Heru mual melihat dia. Ingin rasanya Heru beranjak dari tempatnya berdiri di belakang Gio dan membawa pria ini ke tepi jendela dan melemparkannya dari sana. Sayangnya dia adalah calon kakak ipar majikan. Itu juga kalau Tiara masih menganggapnya kakak.
Dasar pria urakan!
"Lalu apa yang membuatmu membawaku kemari? Siapa kau dan apa maumu?" Semakin tak suka Heru mendengar ucapan pria miskin yang angkuh itu.
"Aku hanya ingin kau jauhi Tiara."
"Hah... Siapa kau ingin aku jauhi dia? Dia itu adikku. Apa jangan-jangan kau ... Dan dia... Oh... Aku tahu sekarang. Kau suka dengan adikku, ya?!" Nada suaranya terdengar antara mengejek dan menggoda. Heru sudah mengepalkan tangannya di belakang Gio. Namun, dia masih bisa menahan dirinya.
"Bukan urusan kamu bagaimana aku dan dia. Aku hanya ingin kau tak mengganggu dia lagi dengan selalu meminta uang padanya."
"Wajar sesama saudara meminta bantuan. Aku sedang hidup susah sekarang. Lihat kehidupan dia, rumah bagus itu apa kau yang berikan? Kau merenovasi total rumah kami? Aku ucapkan terimakasih atas bantuanmu!" senyum menjijikkan terlihat jelas di bibir pria itu dengan sangat lebar.
"Merampok. Itu tepatnya!" Gio dengan nada suara dinginnya yang khas. Untuk pria kurang ajar seperti itu tak perlu memakai kelembutan atau tata krama bukan?
"Hei... janga sebut aku merapok, aku hanya meminta sedikit bantuan dari adikku! Apa salahnya kalau dia bantu kakaknya yang tersayang ini?"
"Kakak yang bagaimana? Yang sudah meninggalkan ibu dan adiknya di tengah jeratan hutang yang meggunung? Yang meninggalkan mereka dengan banyak luka dan kesengsaraan? Kakak yang begitu kau bilang tersayang? Laknat!"
Mata pria itu membulat sempurna disebut laknat oleh pria berbaju rapi di depannya. ak suka dengan ucapan pria yang jelas jauh lebih muda daripada dirinya.
"Jangan kurang ajar kau bicara! Jaga mulutmu! Siapa yang kau bilang laknat, hah!" berteriak sambil bangkit dan menunjuk dengan lantang ke arah Gio. Heru yang melihat tingkah pria itu sedikit menggila melangkah maju. Baru dua langkah, kakinya terhenti saat Gio mengangkat satu tangannya ke atas.
Pria ini rupanya orang yang berpengaruh. hingga dengan satu gerakan tangannya membuat pria di belakangnya kembali mundur.
Nafas pria itu kembang kempis tak terima dengan sebutan laknat yang di tujukan padanya. Dia menatap apa yang Gio pakai, jas yang licin, sepatu mengkilap, jam tangan yang sepertinya mewah, dan juga memiliki bodyguard tentu pria ini bukan orang sembarangan. Apakah dia seorang pengusaha? Dia tersenyum menyeringai. Bisa Heru lihat jika pria ini memiliki niat tak baik kepada bosnya.
"Dasar kau...!" tak melajutkan kata-katanya, pria ini bisa dijadikan ladang emas untuk membuat hidupnya kembali seperti dulu. Oh tidak, bahkan bisa lebih sepertinya.
"Kalau saja kau tidak suka dengan adikku aku akan memukulmu hingga mati, karena tidak sopan denganku!"
Heru memutar bola mata malas mendengar ucapan bernada ancaman pria itu. Rupanya pria itu tahu juga akan sopan santun. Tpi siapa yang akan duluan mati? Bahkan jika Gio mengizinkan, Heru ingin sekali menarik pistol kecilnya dan menembak kaki pria itu hingga dia mengaduh memohon ampun, Dan lalu merobek mulut pria itu dengan belati yang ada di saku celananya supaya dia tak berani lagi berkata kasar atau mengejek Gio.
Ah, satu orang lagi yang bisa diajak gila, mereka kumpulan psikopat. Tentunya mama Anye dan juga ibunya tak tahu kalau Heru ikut serta dalam pebantaian Noah dan juga anak buahnya beberapa bulan yang lalu. Ini karena kedua bos gilanya. Hanya mama Anye satu-satuya anggota keluarga Aditama yang normal di keluarga itu. Yang lain, abnormal, psikopat, orang gila yang bersikap normal di hadapan semua orang.
"Lalu kenapa tidak kau lakukan saja?"
"Hei aku bukan orang yang tidak tahu berterima kasih pada orang yang sudah memberiku makanan enak. Dan kau juga suka dengan adikku, kan? Aku restui kalian."
Heru benar-benar sangat muak dengan orang ini. Dia tahu pasti apa arti dari ucapan yang pria ini katakan barusan. Ada udang di balik batu, dan dia ingin mencincang udang itu sekarang!
"Aku akan bantu kau supaya bisa dekat dengan adikku, tapi dia bukan gadis yang gampang jatuh cinta dengan seorang pria. Meski aku sudah lama tak bersama dengan mereka tapi aku tahu bagaimana dia. Dia tak gampang move on dari pria yang dia sukai dulu! Kau tahu, aku sering lihat dia menangis karena cintanya tak kesampaian. Begitu besar rasa cinta dia pada pria itu sampai dia tak penah lagi berpacaran dengan pria lain. Dan kalau kau bisa mendapatkan adikku kau pria yang beruntung!" tentunya dia bicara dengan sedikit dusta. Karena pada kenyataannya dia tak pernah ada untuk Tiara saat gadis itu butuh kasih sayangnya.
Gio menatap tak suka pada pria itu saat menyebut Tiara tak bisa move on dari masa lalu. Tak tahu kah dia kalau mereka sudah jadian beberapa hari yang lalu? Dan bukan Gio tak tahu jika pria itu berbohong, dia sangat tahu dengan jelas kalau sedari SMA Tiara dan ibunya sudah hidup berdua. Pria itu... Ah lupa, terlalu panjang dengan menyebut 'pria ini' atau 'pria itu'. Namanya adalah Ridwan.
"Aku akan membantumu mendapatkan adikku. Kalau dia tak suka, aku akan memaksanya supaya dia suka dengan mu!" Ridwan kembali duduk dengan sikap tenang seolah dia sudah melupakan kemarahannya tadi. Menyilangkan kakinya juga dengan kedua tangannya di depan dada. Akan sangat untung baginya jika dia punya adik ipar semacam ini, tambang emas!
"Caranya?" Gio mencoba bertanya, ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran pria picik ini.
"Ya semoga saja dia mau dengan mu, dan kalau dia tak bisa suka denganmu aku akan membawakan dia padamu. Dia mau atau tidak!" tersenyum dengan penuh maksud. Ridwan mengusap rambutnya ke belakang dengan penuh rasa angkuh. Dia yakin pria berjas mahal ini akan suka jika dia membawa Tiara padanya.
"Tidak perlu. Aku tidak suka dengan cara licik seperti itu. Aku lebih suka lakukan dengan caraku sendiri." Ridwan mengernyitkan dahinya hingga berkerut.
"Lalu apa tujuanmu mengundangku kesini?" Ridwan berkata dengan nada dingin, jika Gio memanggilnya kesini tidak untuk meminta bantuannya, lantas dia memanggilnya kemari untuk apa?
"Aku hanya ingin kau jauhi Tiara dan jangan meminta uang padanya lagi. Hidup adikmu sudah sangat menderita semenjak dulu. Tidak kah kau kasihan dengan dia dan juga ibu?"
Ridwan tertawa terkekeh. "Bahkan kau sudah memangil ibuku dengan sebutan Ibu."
"Ibu mana yang kau sebut? Anak yang sudah pergi meninggalkan orang tua tunggal dan adiknya dengan hutang yang menumpuk hingga mencekik leher. Membuat ibu menderita dalam keputusasaan. Dan sekarang, jangan jadikan dosamu berlipat ganda dengan membawakan adikmu padaku dengan cara yang kotor!" ucap Gio lalu dia menurunkan satu kakinya yang lain ke lantai. Gio menopang kedua tangannya pada pegangan tangan kursi dan beranjak bangun dari sana. Mengambil sesuatu yang ada di dalam saku jasnya dan melemparkannya ke hadapan Ridwan.
"Isi berapapun yang kau mau, dan jangan ganggu Tiara lagi!" Tanpa menunggu ucapan, sanggahan, atau apapun yang keluar dari mulut Ridwan, Gio segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Ridwan yang terpaku dengan keberadaan cek kosong di hadapannya. Pikirannya sibuk dengan nominal berapa yang akan dia tuliskan disana.