DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 176



Kami menambah waktu liburan beberapa hari lagi disini. Sedangkan yang lain sudah kembali ke ibu kota saat pagi setelah makan malam bersama waktu itu.


...★★★...


Jangan ganggu Anye yang sedang bahagia disana. Kita ulik cerita hidup seseorang.


Mau tahu cerita Samuel?!


...★★★...


Pov Samuel.


Keterlaluan! Seharusnya aku tidak membantu mereka untuk merayakan acara itu! Mereka memutuskan untuk menambah beberapa hari liburan mereka di Bali lalu mereka akan pergi ke tempat lain untuk berlibur dengan keluarga kecil mereka.


Enak sekali pria itu, dia berlibur dan aku harus terjebak dengan setumpuk pekerjaan yang dia limpahkan padaku!


Sialan!! Kalau saja ayah tidak memintaku untuk membantu dia, aku tidak akan mau!


Tok. Tok.


Ana masuk ke dalam ruangan.


"Pak, meeting dengan pak Andre nanti malam di kafe XY. Beliau bilang ada seseorang yang ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita!" ucapnya. Aku menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi dengan kasar. Meskipun aku sudah terbiasa dengan berbagai meeting dan berbagai proyek, tapi moodku sedang tidak baik sekarang!


"Jam berapa?" tanyaku.


"Jam delapan, pak!" jawabnya. Aku menghembuskan nafas kesal. Moodku benar-benar tidak baik karena ulah wanita ular itu!


"Apa mau di tunda saja?" tanya Ana lagi. Bagus! Anye punya karyawan yang sensitif seperti Ana, sepertinya dia tahu kalau aku sedang enggan. Pengertian! Good!


"Tidak usah. Bilang saja aku akan datang, dan tolong urus berkas-berkas meeting untuk jam empat sore nanti!"


"Apa perlu saya temani malam nanti? Atau bapak mau sama pak Chandra?" tanyanya sekali lagi.


"Aku sendiri saja. Kalian sudah punya keluarga, tidak ada kewajiban bekerja setelah usai jam kerja!" ucapku.


"Mau saya buatkan kopi?" Dia bertanya lagi.


"Terserah kau saja!" ucapku. Ana pamit. Aku kembali pada setumpuk pekerjaanku.


Setelah yang di bicarakan Anye waktu itu aku jadi berfikir untuk mencari pasangan. Melihat keadaan dia yang bahagia dengan suaminya, aku jadi iri juga. Di temani oleh orang yang kita cintai, lalu punya anak-anak yang lucu dan tampan. Ahh... tapi sayangnya wanita yang aku cintai... dia berkhianat.


Sekilas tentang aku! Aku pernah menikah! Dengan seorang gadis keturunan Swiss yang aku temui di Paris beberapa tahun yang lalu. Rosseline namanya. Dia tidak seksi, tapi cantik, matanya hijau terang, dan menurutku dia menarik dengan segala kesederhanaan yang dia punya. Dia lemah lembut, pintar, dan penyayang.


Tepatnya saat aku menemani Anye yang tengah ingin menikmati suasana sore di sungai Seine. Anye merasakan kontraksi palsu di perutnya, dan kebetulan dia yang ada di dekat kami dan membantuku menenangkan... aku! Ya aku panik waktu itu, lebih panik daripada dia yang tengah mengandung. Untungnya dia bukan orang yang panikan seperti aku, dan dia membantuku hingga Anye merasa kembali rileks.


Kami semakin mengenal satu sama lain setelah itu, hingga pada suatu saat, aku melamarnya secara langsung. Ya... melamarnya untuk menikah! Aku sangat jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada kesederhaannya. Jatuh cinta pada kasih sayangnya.


Awalnya dia menolak. Dia bilang, dia bukan orang yang sehat sepertiku. Dia juga menolak untuk memberitahuku soal penyakitnya. Lalu dia tiba-tiba menghilang. Tahu bagaimana keadaanku saat itu? Aku kacau! Persis seperti anak ayam yang kehilangan induknya!


Hampir tiga bulan aku mencari dia, sampai akhirnya aku tahu kalau dia sedang di rawat di salah satu rumah sakit yang ada di Swiss. Aku menyusulnya kesana. Dan kalian tahu apa yang aku lihat? Dia sedang menangis kesakitan seraya memegangi kepalanya.


Hatiku sakit melihatnya, sampai aku meminta pada Tuhan untuk memindahkan rasa sakitnya padaku! Tumor otak yang sudah terlanjur parah dan tidak bisa di sembuhkan, menggerogoti kepalanya.


Dia menangis saat aku datang ke hadapannya, aku di usir oleh keluarganya atas permintaan dia. Dia tidak mau bertemu denganku. Bukan karena dia jahat, tapi karena aku tahu dia tidak ingin aku terlalu berharap pada kesembuhan penyakitnya.


Hari ke empat, aku masih bertahan di depan pintunya. Bagaimana dengan keadaanku? Aku terlihat seperti orang gila yang tiga hari tidak mandi. Karena itulah kenyataannya! Aku selalu menunggu kalau-kalau dia keluar dari dalam sana dan aku bisa menemuinya!


Aku ingat apa yang dia katakan.


'Bahagialah dengan yang lain! Carilah gadis yang periang supaya kamu bisa terus tertawa!' begitu katanya.


'Mungkin aku memang bukan jodoh kamu di kehidupan ini, tapi kamu lah jodoh ku di dalam kehidupanku!' aku menangis. Aku ingat terakhir kalinya aku menangis saat aku terbangun dan mendapati ayah Surya duduk di sebelah tempat tidurku. Itu sudah sangat-saaangat lama!


Aku meminta keluarganya mencari pendeta. Tidak peduli bagaimana keadaan Rosseline, aku tetap mencintai dia dan aku ingin menikahinya! Ingin membahagiakan dia di akhir masa hidupnya!


Upacara kami lakukan dengan sederhana di bangsal rumah sakit. Tidak ada perayaan istimewa, hanya bertukar cincin yang memang sengaja sudah aku siapkan jauh hari sebelum dia menghilang. Kami mengucapkan janji suci. Terdengar indah meski dia mengucapkannya dengan diiringi isak tangis, pun dengan anggota keluarga yang lain. Mereka menangis melihat keadaan ini.


Hanya satu minggu!


Hanya satu minggu aku menjadi suaminya, dan aku harus rela melepaskan kepergian Rosseline ke alam kehidupan lain. Kehidupan tanpa adanya rasa sakit. Tapi itu lebih baik jika di bandingkan dengan melihat penderitaan dia sehari-hari. Dia tidak akan pernah merasakan sakit lagi bukan? Dia sudah terbebas!


Selamat jalan Rosseline, istriku. Wanita pertama yang berhasil menyita perhatianku. Wanita pertama yang berhasil mendapatkan cintaku. Dan wanita pertama yang berhasil mematahkan hatiku!


Walaupun itu hanya pernikahan secara lisan, bukankah aku sudah mengucapkan janji suci dengan dia?! Aku duda sekarang!


Setelah sekian lamanya, aku bertemu lagi dengan seorang wanita, penampilannya memang jauh berbeda dengan Rosseline. Dari segi pakaian dia lebih terbuka. Dia memang cantik. Tapi tetap saja aku lebih tertarik dengan Rosseline.


Kami memang baru beberapa bulan terakhir bertemu, sampai aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Dia cantik, seksi, baik, sangat perhatian. Mungkin yang aku suka dari dia karena perhatiannya hampir sama seperti Rosseline. Perlahan hatiku tertata kembali, hingga terasa ada suatubrasa nyaman saat bersamanya. Tapi sayangnya, dia mendekati aku hanya untuk memanfaatkan keadaanku. Aku tahu setelah seorang bawahanku menyelidiki dia!


Harusnya aku selidiki dia sedari awal. Tapi hatiku ternyata sudah buta! Karena kebaikannya, karena perhatiannya, aku jadi luput dengan semua itu! Dan dengan bodohnya, aku memberikan apapun yang dia minta. Dasar matre! Oh, tidak! Bukan hanya dia, tapi aku juga yang bodoh!


Aku menyedihkan!


Tok. Tok.


Suara pintu kembali terdengar. Lagi. Ana datang membawakan secangkir kopi untukku.


"Kalau bapak tidak enak badan, saya bisa undurkan waktu besok siang!" ucapnya.


"Tidak usah! Lebih baik selesaikan jika masih bisa!" ucapku lalu menggerakkan tanganku menyuruhnya untuk pergi.


Kafe XY, sebuah kafe kecil, tapi keadaan disini lumayan ramai, mungkin karena ini adalah akhir pekan. Banyak anak muda yang datang kemari, beberapa dari mereka berpasangan, ada juga yang bergerombol, dua atau tiga orang datang sendirian dengan laptop di depannya.


"Tolong ruangan pak Andre!" ucapku pada resepsionis yang merangkap kasir.


"Baik Pak, sebentar!" ucapnya lalu memanggil salah satu temannya yang lain. Aku memainkan hpku, berbalas pesan dengan Daniel yang baru saja mengirimiku foto liburan mereka di kapal pesiar.


"Mari silahkan, pak!" Aku mengangkat kepalaku, merasa tidak asing dengan suara ini. Nanda. Dengan seragam putih, di depan tubuhnya terpasang celemek bertuliskan nama kafe ini.


"Loh, kak Sam?!" serunya seraya menunjuk ke arahku.


"Kamu kerja disini?" Dia mengangguk.


"Iya, cari tambahan!" ucapnya dengan tersenyum.


"Padahal kantor sedang kekurangan staff admin, kenapa kamu tidak mencoba ke kantor saja?" tanyaku.


"Aku cuma cari tambahan saja disini. Ayo aku antar ke ruangan pak Andre!" ucapnya lalu membawaku ke arah tangga menuju ke lantai atas.


Anye bilang Nanda sudah bekerja pada sebuah perusahaan ternama, tapi kenapa dia masih bekerja di kafe? Mencari tambahan? Seperti apakah kehidupannya sampai dia harus mencari penghasilan tambahan, padahal gaji dari sana sudah lumayan?!


Ku perhatikan punggung Nanda yang tegap, rambutnya bergerak ke kanan dan ke kiri seiring dengan langkah kakinya. Lehernya terlihat jenjang menggoda. Postur tubuhnya terlihat sangat indah terlihat dari tempatku. Apalagi kakinya yang terbalut rok span setinggi lutut. Betisnya kecil, tapi terlihat seksi menurutku. Terlihat sempurna!


"Ini ruangannya! Silahkan masuk!" membuyarkan lamunanku. Dia membukakan pintu dan terlihatlah di depan sana dua orang pria dan duanirang wanita yang kemudian berdiri saat melihatku.


"Saya akan siapkan pesanannya!" ucapnya lalu pamit pada kami.


Pak Andre mendekat ke arahku dan menjabat tanganku, begitu juga yang lain dan juga dua wanita seksi di sampingnya. Dia menyalamiku lalu ku lihat satu matanya berkedip nakal ke arahku.


"Silahkan, pak Sam!" tunjuknya sopan ke kursi sofa, memintaku untuk duduk. Aku duduk di seberang pak Andre, dan wanita itu beralih duduk di sampingku. Mendekat hingga dada besarnya yang hampir tumpah menyentuh lenganku.


"Bisa kau menjauh?" titahku. Wanita itu mengerucutkan bibirnya, lalu beringsut beberapa senti dariku.


"Perkenalkan ini adalah Pak Satya dari perusahan W. Beliau ingin mengajukan kerjasama pada perusahaan R.A corp cabang 1, tapi sayang sekali beliau tidak bisa bertemu langsung dengan presidennya sekarang, jadi dengan perantara saya, saya meminta anda untuk bertemu!"


"Aku atau dia sama saja! Aku juga punya kekuasaan untuk menerima atau menolak kerjasama!" ucapku.


"Ah... hahaa... Syukurlah kalau begitu!" bernafas lega, lalu dia menyerahkan berkas itu padaku.


"Kami adalah perusahaan kontraktor yang ingin bekerja sama dengan perusahaan R.A. Sebelumnya saya sudah mengenal pak Devan, tapi waktu itu perusahaan kami masih belum sekuat sekarang. Dan kami memutuskan ingin ikut bergabung dengan perusahaan R.A. Mungkin jika anda berkenan untuk mengizinkan kami?" ucap Pak Satya. Dia pria berusia awal lima puluhan. Masih terlihat bugar dari pria seusianya.


Aku membuka dan membaca profilnya dengan seksama, mencoba untuk fokus, tapi wanita yang duduk di sampingku itu kembali mendekat ke arahku dan dengan sengaja menyimpan satu tangannya di bahuku lalu menariknya ke bawah menuju dadaku. Apa pria ini menggunakan wanita untuk menggodaku?!


Tok. Tok.


Pintu terbuka, Nanda bersama seorang wanita lain, kembali datang dengan makanan yang sudah di pesan sebelumnya. Wanita itu tak tahu malu. Bahkan ada orang lain pun dia malah sengaja lebih intim, menggelayut manja padaku.


Ku lihat Nanda melirik dengan ujung matanya, lalu kembali fokus menata makanan dan minuman di atas meja. Oh... dia pastilah mengira aku orang yang gampangan!


"Silahkan dinikmati!" ucapnya lalu pamit dan keluar dari ruangan ini.


"Silahkan pak Sam! Silahkan dinikmati hidangannya!" ucap Pak Andre.


"Oh, ya. Ini adalah contoh dari proyek dengan perusahaan SW." Pak Satya membuka berkas lain lalu menunjukannya padaku.


Aku pernah mendengar perusahaan itu. Menurutku lumayan juga!


"Silahkan Tuan!" wanita itu mengambilkan gelas untukku. "Ayo di minum dulu! Anda pasti haus!" menyodorkan minuman itu ke depan bibirku, memaksa ku untuk menenggaknya. Ku rebut gelas itu dari tangannya dan menenggaknya dengan sekali tegukan. Rasanya agak pahit!


"Jadi bagaimana pak Sam? Apa bapak tertarik dengan kerjasama yang kami ajukan?" tanyanya.


Wanita itu kembali mendekat, malah dia mencoba untuk memasukan tangannya ke dalam kemejaku.


"Singkirkan tanganmu!" ucapku sambil berdiri. Merasa tidak nyaman dengan semua perlakuan ini!


"Pak Andre! Sepertinya kerjasama ini tidak akan berhasil sama sekali kalau anda melakukan trik kotor semacam ini!" ucapku tegas. Kedua orang itu menatapku.


Mereka ikut berdiri.


"Oh, maafkan saya pak! Bukan maksud saya melakukan trik kotor pada anda! Saya hanya ingin membuat anda rileks. Anda mungkin lelah dengan pekerjaan kantor yang menumpuk." Pak Satya berujar. Banyak alasan!


"Jangan kira dengan membawa pel*cur kemari bisa membuat saya ingin melakukan transaksi dengan anda! Perusahaan kami tidak akan pernah menerima kerjasama dengan cara seperti ini!" Aku melempar berkas itu ke atas meja dengan kasar.


"Maafkan kami pak. Saya kira anda juga suka dengan hal yang seperti ini! Maafkan kami yang sudah lancang membawa wanita ini kemari! Kalian pergilah!" usirnya pada kedua wanita itu. Mereka berdua pergi dari ruangan ini dengan takut-takut.


Tidak bisakah mereka memakai cara bersih untuk melakukan kerja sama dengan yang lain?


"Bagaimana kalau kita lanjutkan urusan kita?" mohonnya.


Aku sudah tidak mood sama sekali membahas kerjasama ini dengan mereka!


"Maaf, Pak Satya. Perusahaan kami tidak bisa menerima permintaan anda!" tanpa menunggu lagi aku pergi dari sana.


Kepalaku rasanya pusing, mataku juga berkurang-kunang. Mungkin akibat seharian ini belum ada yang aku makan. Ini gara-gara wanita ular itu! Semenjak aku putus dengan dia rasanya aku tidak ingin apapun. Hanya bekerja, dan bekerja supaya aku bisa melupakan dia! Melupakan perhatiannya! Melupakan suara manjanya!


Brukk...!! Beberapa pengunjung tak sengaja aku tabrak. Mereka mencaciku, mengatakan kalau aku mabuk. Hei... Bahkan aku tidak minum alkohol sama sekali, tapi tubuhku lemas, terasa panas.


Melihat keadaan sekeliling, terlihat indah, apalagi wanita yang memakai kain kurang bahan. Mereka seperti sedang melambaikan tangannya padaku! Rasanya aku ingin sekali menarik mereka dan menggaulinya!


Ah... fikiranku! Ada apa dengan fikiranku?!