DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 45



Belaian lembut merasa di pipiku, aku membuka mata. Devan tersenyum. Dia tidur miring menghadap ke arahku. Tangannya tidak henti membelai lembut pipiku.


"Bangun, hon. Sudah siang!"


"Jam berapa?" tanyaku sambil mengerjapkan mata. Di luar sudah terlihat terang, malah terasa panas sinarnya menerpa di tanganku.


"Jam sembilan."


"Hahh?!!" Aku terkejut, refleks langsung bangun. "Kenapa baru membangunkan aku. Aku terlambat!" seruku hendak turun dari atas kasur, tapi Devan menarik tanganku hingga aku jatuh di atas tubuhnya.


"Dev, lepas. Aku sudah terlambat!" Devan hanya tersenyum.


"Mau kemana?"


"Sekolah!" masih berontak minta di lepaskan.


"Sekolah di hari minggu?"


Minggu? Aku lupa!


Devan terkekeh melihat wajah bodohku.


Cup.


"Kiss morning!"


Ku tahan wajah Devan yang hendak menciumku lagi. "Aku bau belum mandi, belum gosok gigi!"


Devan tertawa kecil. "Tapi bagiku kamu wangi." menciumi rambut ku yang kusut. Dasar aneh!


Sebuah dorongan dari perut ku rasakan. Lagi aku harus merasakan morning sick pagi ini. Aku menutupi mulutku, takut jika menyembur di atas kasur.


"Awas, Dev!" Devan melepaskan, seketika itu aku langsung berlari ke kamar mandi, diikuti Devan di belakang. Dengan sabar Devan menguruti pundakku.


"Awas sana. Keluar. aku mau mandi." usirku setelah selesai dengan kesakitanku.


Dengan segera Devan mengisi bathub dengan air hangat, dengan aromatherapy dan bubble bath. Wangi.


"Cepat mandi. Terus sarapan. Sebentar lagi mama datang."


"Mama datang? Mau apa?"


"Mau ajak kamu belanja. Aku juga hari ini ada kerjaan."


"Dev, tidak bisakah kita di rumah. Ini kan hari libur. Aku mau kita berduaan saja di rumah."


Cup.


"Aku juga ingin. Tapi kerjaan ini penting, karena klien ku akan pulang ke negaranya nanti sore. Aku gak mau kehilangan kesempatan kerjasama dengan perusahaannya. Cuma sebentar kok, nanti jam dua aku juga sudah pulang."


"Lama. Ikut kamu saja ya." merajuk, berharap di ijinkan.


"Kalau aku bisa saja. Tapi aku takut kamu akan bosan. Jadi, ikut mama saja oke. Bersenang-senang. Belanja lah yang banyak!"


Aku menunduk. Devan menjepit daguku membuat aku mendongak.


"Cepat mandi. Kita sarapan sama-sama, aku sudah lapar!" ucapnya lagi membantu membuka kancing piyama ku. Tangannya bergetar saat tubuh atasku terlihat, pastilah jelas karena aku tidak pernah tidur dengan memakai b*a, pandangan matanya tidak beralih dari sana.


Apa Devan ingin?


"Kamu mau?" sengaja aku menggodanya, menyimpan kedua tanganku di pundaknya. Mendekatkan diri dan hampir tak berjarak.


Wajah Devan merah, dia seperti menahan nafasnya sendiri, tak bergerak. Aku tersenyum nakal. Bisakah dia menahan hasratnya? Miliknya sudah mengeras terasa di perutku.


Devan mendekatkan wajahnya yang penuh dengan gairah. Aku menutup mata.


Pletak!!!


"Aww." keningku sakit, aku membuka mata dan mengelus keningku yang perih.


"Sakit!"


"Sudah mulai nakal ya!" ucap Devan dengan senyuman. Siap menyentilku sekali lagi.


"Memangnya kenapa? Nakal dengan calon suami sendiri gak pa-pa dong!"


"Cepat selesaikan mandinya. Aku dengar ada bel tadi, mungkin mama sudah sampai." aku merengut kesal.


"Jangan marah. Tiga hari lagi, aku siap pasrah. Apapun gaya yang kamu mau, akan aku turuti."


Blushh. Aku malu. Lagi-lagi setan menguasai fikiranku. Aku tidak bisa berfikir jernih! Fikiranku sudah terkontaminasi hal kotor!


Devan tertawa dan mengacak rambutku, lalu keluar dari kamar mandi.


Aku tersenyum sendiri antara malu dan juga kagum pada sosok Devan. Tidak menyangka kalau dia bisa bersikap dewasa. Menyentuhku jika sudah sah menjadi miliknya, padahal kalau Devan inginkan aku sekarang-sekarang juga aku tidak akan menolak. Aku miliknya semenjak aku keluar dari rumah papa.


Ish apa yang aku fikirkan? Aku sudah gila! Pergilah dari fikiranku wahai syaithon!