DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 159



Gio mengendarai mobilnya ke suatu tempat. Tak lupa sebelumnya dia mampir ke restoran untuk membeli makanan untuk dia makan. Tak lapar tapi perutnya memang harus diisi jika tak ingin sakit lambungnya kumat.


Sambil menatap ke sebuah rumah yang ada di seberang jalan, Gio menikmati makanannya sambil berharap jika dia keluar dari dalam rumah itu. Tapi siapa yang akan keluar dari rumah di jam sepuluh malam?


Mungkin jika dia melihat senyum wanita itu moodnya akan kembali membaik, seelah pelecehan seksual yang dia terima tadi. Siapakah dia? Tentu saja kekasihnya. Siapa lagi?


Gio rasanya sudah gila. Baru beberapa jam yang lalu dia bertemu dengan Tiara tapi dia sudah merasa kangen sekarang. Jika mungkin dia pria yang kurang ajar, tak akan dia bawa Tiara pulang. Dia jadikan saja gadis itu sebagai bantal guling penghangat ranjangnya. Atau jika dia mau, sekarang dia bisa saja menyelinap masuk ke dalam sana dan tidur di samping gadis itu, memeluknya hingga pagi.


"Hais... Aku harus segera melamar dia!" Gumam Gio lalu memasukkan satu suapan besar ke dalam mulutnya.


...***...


Tiara terbangung di jam sebelas malam. Dia membuka matanya dan mengerjapkan matanya dengan bingung. Menguceknya dengan perlahan. Mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan.


"Ternyata ini kamarku!" gumam Tiara, suasana rumah baru ini memang belum membuatnya terbiasa. Apalagi kamarnya di buat dengan begitu indahnya, dengan kaca lebar hingga saat pagi hari saat Tiara membuka mata maka akan nampak pemandangan taman kecil yang ada di luar sana. Indah dan menyegarkan matanya. Kamar mandi juga di buat di dalam kamarnya, tak perlu lagi dia ke arah dapur untuk manddi dan sebagainya.


Lahan di samping rumah yang dulunya untuk menjemur pakaian kini beralih fungsi menjadi kamar mandi dan taman kecil sebagian. Meski tak terlalu besar, tapi cukup lah untuk Tiara bisa memanjakan diri berendam di bathtub atau sekedar mandi dengan shower.


Tiara bangkit dari atas kasur, dia membuka dressnya dan menyimpannya di atas kasur, meningalkan dua dalaman yang menutupi inti tubuhnya. Berjalan ke arah kamar mandi. Mencuci mukanya yang terlihat sedikit bengkak di bawah matanya. Semoga saja besok saat dia pergi ke kantor wajahnya sudah kembali normal.


Dia ingat dengan apa yang dikatakan Gio tadi saat mereka masih ada di pantai.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Tiara mencuci mukanya sekali lagi, lalu mengeringkannya degan handuk yang tersampir pada tempatnya di dekat sana. Dia lalu berjalan ke luar dari dalam kamar mandi.


Merasa lapar, Tiara mencari makanan ke dapur minimalisnya. Semua kini tampak rapi dan juga baru. Selain rumah, Gio juga membelikan alat masak baru yang lengkap, yang layak untuk di pandang di dapur baru ini. Entah berapa banyak yang dia habiskan untuk pembangunan serta semua barang yang baru ini, alat dapur, kompor, lemari, sofa, meja tv, dan tvnya juga sekalian, memasang saluran tv berbayar supaya lebih banyak menangkap sinyal yang lain, membuat ibu bisa bernostalgia menonton telenovela yang kini kembali tayang ulang.


Tujuh tahun potong gaji, ya... entahlah, sepadan atau tidak. tapi Sudahlah. Dia hanya bisa memberikan ini pada ibu, mau bagaimana lagi?


Tiara membuka lemari makanan, hanya ada sayur sisa ibu berjualan. Tiara tak terlalu suka sayur itu, sayur pare dengan udang kecil, pahit! Tiara mengambil mie instan saja. Malam-malam begini lebih enak memakan mie kuah panas, di tambah cabai rawit, dan juga saos. Hem... nikmat!


Sejenak Tiara melupakan kesulitannya, Ya lupakan saja dahulu. Biar besok dia selesaikan urusan dengan Lea dan juga Kenzo.


...*...


Gio menunggu dengan bosan di dalam mobilnya. Makanannya sudah lama ia habiskan. Dia tetap menatap rumah itu sambil bersandar di kursi pengemudi. Masih berharap jika gadis itu keluar barang sejenak.


"Apa aku telfon dia saja?" bergumam sambil melihat hpnya.


"Ah tidak. Mungkin dia sedang tidur, jangan ganggu. Jangan ganggu!" Gio menyimpan hpnya ke dalam saku bajunya. Dia merasa gila sekarang dengan apa yang dia lakukan. Dia menunggu seorang gadis keluar dari rumahnya di tengah malam? Gila!