
Ibu melirik ke arah pintu kamar Tiara yang masih tertutup. Ini sudah jam sembilan pagi dan kedua anak menantunya itu belum juga keluar dari kamar. Penasaran sebenarnya, apa mereka sudah melakukan ritual malam pertamanya, dan mengulangnya lagi pagi ini?
Akh.. Sudahlah! Mengingat akan hal itu ibu merasa gerah sendiri. Hidup lama tanpa suami membuat ibu terkadang merasa sepi. Sudah tua bukan berarti tidak memikirkan dan tidak menginginkan sentuhan. Apalagi jika mengingatkan hal manis yang pernah dilewati dulu bersama dengan sang suami. Itu normal. Hanya saja malu lah, sudah tua. Dan lagi wanita lebih bisa menahan gejolak pada diri dengan baik, bukan? Jika tidak bisa, tentu wanita gatel namanya.
Ibu pergi saja ke pasar. Membiarkan anak-anaknya bersenang-senang dengan cara mereka sendiri. Sengaja akan berlama-lama di pasar untuk memberikan waktu dan tempat untuk pengantin baru, siapa tahu mau berteriak tapi tidak jadi karena malu ada ibu. Ibu mengetik pesan saja jika ibu akan pergi ke pasar dan pulang siang nanti. Mampir dulu ke tempat yang lain.
Tiara terbangun dari tidurnya. Dia Merasa aneh dengan dirinya, rasa perih di bagian bawah. Dan hawa panas menyentuh kulitnya.
Tiara menoleh ke arah belakang. Tampak Gio tengah tertidur dengan pulas sambil memeluk dirinya. Ingat dengan apa yang tadi mereka lakukan, satu persatu adegan panas terlintas kembali di dalam ingatan, bagaimana Gio memperlakukan dirinya dengan pag***n kasar, lalu berubah lenbut, lalu...
Ah...
Tiara malu sekali. Adegan panas itu membuat dirinya merasa malu seketika. Apa lagi saat tadi ingat jika dirinya mengeluarkan suara laknat khas orang bercinta meski sempat juga menangis saat milik Gio berhasil merobek dan membuka jalan di antara hutan rimba miliknya. Tapi beberapa saat kemudian, Tiara terhanyut dengan irama permainan yang Gio ciptakan.
Perlahan tangan Tiara menyingkirkan tangan Gio dari atas perutnya. Tiara akan mandi terlebih dahulu. Bagaimana jika Gio bangun dan lalu meminta jatah lagi? Seperti dalam novel-novel yang tidak cukup hanya sekali? Tidak! Ini masih sakit!
"Mau kemana?" suara berat Gio terdengar di telinga. Malah semakin erat melingkarkan tagannya di perut Tiara. Mendekatkan dirinya pada leher Tiara dan sengaja memainkan bibir disana.
"Aku mau mandi." Tiara malu, tentu saja. Dia menjauh sedikit dari Gio. Tapi Gio malah menarik tubuh polos Tiara semakin dekat dengan dirinya hingga tercipta panas saat kulit mereka bergesekan.
"Kenapa harus mandi. Percuma!"
Deg.. Deg...
Tiara merengut sebal. Nyatanya saat Gio menggoda dan Tiara mengatakan pada Gio bahwa miliknya masih sakit. Gio tidak jadi menggempurnya. Kecewa. Dia pikir akan ada pencetakan anak kedua dan ketiga. Tapi Gio malah melepaskan Dn menggendongnya ke kamar mandi.
"G, benar kau tidak mau lagi?" tanya Tiara memastikan. Tubuhnya sudah rileks dengan berendam air hangat yang tadi Gio siapkan.
Gio tengah mandi di dalam bilik kaca, masih mendengar apa yang dikatakan Tiara. Sedikit melongokkan kepalanya yang penuh dengan busa sabun.
"Memangnya kau mau lagi? Sudah tidak sakit?" tanya Gio seketika membuat wajah Tiara memerah.
"Aku... Aku cuma tidak mau nanti mandi lagi." ucap Tiara dengan dusta, nyatanya sakit tapi enak kok! Dan lagi sedari dulu juga setiap kali berciuman dengan Gio pikirannya selalu menjadi mesum.
.
.
.
.
Nah nah loh! sakit tapi enak? 😊🤔