DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Part 14



Aku kembali ke kamarku. Rasanya sesak sekali.


Sudah cukup!


Tidak ada lagi Devan!


Tidak ada Devan!


Aku berlari dan membantingkan diriku di atas kasur membenamkan kepalaku di bantal dan berteriak kesal.


Puas berteriak aku membuka gaunku. Membersihkan diri di kamar mandi. Ah biar saja meski mereka bilang pamali mandi di malam hari, aku hanya ingin merasakan segar. Siapa tahu aku bisa membuang fikiran tentang Devan, biar saja dia mengalir bersama air yang terbuang ke pembuangan!


Setelah mandi aku mencoba tidur dengan handuk masih melilit di kepalaku.


Pagi hari aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Benar! Semalam aku tidur dengan handuk melilit kepala.


Setelah mandi dan memakai seragam aku turun ke bawah. Mencari kotak obat di dapur.


"Anye!" aku menoleh ke arah belakang.


"Ngapain pagi-pagi udah kesini?" tanyaku jutek. Kenapa tadi aku tidak melihat dia?


"Jemput kalian!" Devan dengan santai minum.


"Aku gak ikut. Ada yang jemput nanti!"


"Siapa? Pacar kamu?"


"Anye punya pacar?" Kak Mel tiba-tiba datang.


"Sepertinya begitu!" jawab Devan.


"Kamu kenapa Nye?!" tanya Kak Mel saat aku membuka bungkusan obat.


"Sakit kepala kak!" jawabku lalu siap memasukan obat ke dalam mulut, tapi tertahan karena Devan memegang pergelangan tanganku.


"Makan dulu, Anye! Jangan sembarangan kamu makan obat sebelum sarapan!" suara Devan tegas, wajahnya khawatir.


"Iya, Nye. Devan benar! Makan dulu!"


"Iya!" ucapku lalu mengibaskan tangan Devan agar terlepas dari tanganku.


Aku berjalan ke arah meja makan, dan mengambil roti isi. Memakannya sambil berjalan keluar.


"Anye! Kalau makan duduk!" teriak kak Mel.


"Aku langsung berangkat, kak! Tolong bilangin mama sama papa ya!" dan terdengar omelan kak Mel di belakang.


Aku berjalan cepat, sampai di gerbang sambil mengunyah roti isi di tanganku.


"Anye!" teriak Devan. Dia setengah berlari ke arahku. "Ini, botol minum kamu ketinggalan!" ucapnya sambil menyerahkan botol biru padaku.


"Makasih!" ucapku jutek sambil menerima botol itu.


"Kamu cantik hari ini!"


"Perasaan B aja!"


"Enggak. Kalau kamu jutek gitu kamu tambah cantik. Aku suka!" ucapnya lalu mengelus pipiku pelan.


"Udah sana masuk. Nanti kak Mel cari!" Aku pergi meninggalkan Devan. Pipiku terasa panas. Perasaanku senang dan sakit yang bersamaan.


Angkutan umum lewat beberapa tapi selalu penuh, akhirnya aku menuju halte dan menunggu bis saja. Halte lumayan agak jauh, berjalan lima menit saja untuk sampai kesana.


Mobil hitam berhenti.


"Macet katanya." dustaku.


"Ayo masuk!" ajak kak Mel. Aku masih berdiri di atas trotoar.


"Ayo Anyelir! Kamu bisa terlambat!"


"Bener Nye! Berangkat sama kakak aja!"


Aku terpaksa masuk ke dalam mobil Devan. Benar. Kalau aku naik kendaraan umum pasti akan terlambat!


Ku lihat sudut bibir Devan terangkat sedikit, saat aku masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan aku hanya diam.


Sampai di sekolah aku turun dan mendapati Edgar yang baru saja mengantar Sofia.


"Makasih kak Mel. Kak Devan. Anye masuk dulu!" ucapku sambil membuka pintu mobil.


"Iya, hati-hati!" kak Mel melambaikan tangannya. Sedangkan Devan sedang mengecek hpnya.


Aku berlari menghampiri Edgar. Dia tersenyum ceria saat melihatku.


"Tumben Ed, rapi bener!"


"Iya lah harus rapi. Biar bang Ed banyak yang naksir. Emangnya kamu, bang Ed udah ganteng gak pernah lirik?!" Sindir Edgar.


"Ih ogah! Bukan tipe Anye!" ucapku sembari mencebik.


"Huhh, kalian ini kalau ketemu gak pernah akur!" ucap Sofia.


"Bang kita masuk dulu ya!" ucapku sambil menggandeng tangan Sofia.


"Eh bentar Nye!"


"Apa?"


"Ada yang belum..." Edgar mengacak rambutku.


"IHH, Bang Ed!!!!" aku berseru beberapa orang melirik ke arah kami." Dasar nyebelin!!" ucapku sambil merapikan kembali rambutku. Sofia tergelak melihat kelakuan kami.


"Kebiasaan!" ucap Sofia.


Kami berjalan ke arah gerbang sekolah. Ku lihat mobil Devan belum beranjak pergi.


"Eh itu kakak kamu kan?" tanya Sofia.


"Iya."


"Beruntung ya, punya pacar yang ganteng banget!"


"Eh inget tuh si Ariel mau di kemanain?!"


"Gak kemana-mana, aku kan cuma bilang dia ganteng aja!"


"Anye!! Kakak berangkat ya!" seru Kak Mel sambil melambaikan tangan. Aku dan Sofia juga menggerakkan tangan kami di udara. Devan tersenyum sambil memakai kaca mata hitam miliknya. Lalu mobil itu bergerak.


"Aaahhh, lihat itu Nye. Ganteng!!!" ucap Sofia kagum, kedua tangannya mengepal di depan dada.


"Gue bilangin Ariel loh. Naksir gebetan orang!"


"Ish dasar jomblo mah gitu. Sirikan kalau temennya lagi seneng!"


"Gue gak sirik, cuma elo lebay aja!" tukasku lalu meninggalkan Sofia.


"Nye tungguin dong!" teriak Sofia di belakang.