DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 167



Aku sangat bahagia sekali, Daniel sudah mau pergi ke sekolah. Keadaan Axel juga tidak ada masalah. Kami mencari dokter terbaik dari rumah sakit terbaik di kota ini untuk mengurus Axel. Dokter bilang kesehatan jantung Axel saat ini baik-baik saja, tapi memang mungkin masih ada beberapa rangkaian operasi lanjutan ke depannya, cepat atau lambatnya waktu operasi kami hanya bisa memantau keadaan Axel.


Devan juga sudah aktif kembali di perusahaan. Beberapa proyek dia tangani dengan baik bersama Samuel. Meski mereka sering bertengkar, tapi mereka cukup kompak juga dengan masalah pekerjaan. Aku sudah tidak merasa khawatir dengan mereka!


***


Hari-hari yang kami jalani disini sangat menyenangkan. Daniel menjadi anak yang periang, Axel juga sehat, dan Devan... dia semakin mesum!


Kami sedang berjalan-jalan di taman. Hidup kami sekarang sangat simpel. Kami hanya menjadi keluarga biasa.


Devan Januar Aditama.


Anyelir Dewi Maharani Aditama.


Daniel Aditama.


Dan tak lupa si kecil Axel Aditama.


Ya, kami hanya keluarga Aditama sekarang!


Meski berat melepaskan nama Rudolf dari hidup kami, tapi aku kira demi kebaikan bersama, kami harus melakukannya!


"Daniel jangan berlari! Kasihan Axel!" Aku memperingatkan Daniel. Axel terlihat agak kepayahan mengejar kakaknya. Semenjak dia bisa berlari, anak itu terus saja tidak mau diam, sedangkan aku... jujur aku khawatir dengan keadaan dia!


Daniel datang dan menggendong Axel. Dia sudah pintar mengasuh adiknya. Daniel membawa Axel ke tengah lapangan, mereka berlari-lari kecil mengejar gelembung sabun yang Devan ayunkan di udara. Aku duduk di atas rumput memperhatikan mereka berlarian kesana kemari.


"Anye!" seruan seseorang membuat aku menoleh ke samping. Aku berdiri saat melihat kak Mel berjalan sedikit cepat ke arahku dengan perut buncitnya. Di belakangnya terlihat Alex yang berjalan dengan penuh rasa khawatir takut jika sang istri yang tengah berbadan dua tersandung atau terjatuh! Aku kira begitu!


"Yang! Pelan-pelan jalannya!" seru Alex, dia setengah berlari dan kini berada di samping kak Mel. Menahan tangan Kak Mel erat.


"Apa sih, yang? Jangan ikutin aku terus deh!" kak Mel menepis tangan Alex dengan kasar, dia terlihat kesal.


"Hati-hati dong, yang! Kamu itu lagi hamil. Harus inget!" ucap Alex.


"Tentu aku inget lah! Masa aku lupa lagi bawa beban berat di depan sini!" ucap kak Mel cuek seraya menunjuk perutnya.


"Kamu itu jangan jalan cepet-cepet dong. Nanti kalau anak ini lahir disini gimana?" mereka sudah sampai di depanku, tapi masih saja berdebat.


"Ya elah, yang. Baru tujuh bulan juga! Lagian kata dokter kandungan aku dan baby juga sehat wal-afiat. Jangan lebay deh!"


Hehhh... kakakku. Kenapa dia berubah seperti ini? Apa hormon kehamilan membuat dia jadi ketus seperti itu? Ckckck...


"Anye apa kabar?" Kek Mel kembali padaku, dia menarikku, memelukku dan mencium pipi kiri dan kanan.


"Aku baik, kak!" ucapku.


"Kebetulan sekali kita ketemu disini!" ucapnya lagi.


"Iya, kak. Aku juga gak nyangka. Kakak lagi apa?" tanyaku.


"Kami lagi jalan-jalan santai aja!" Alex yang menjawab dan lalu mendapat pelototan dari sang istri.


"Apa?" tanya Alex bingung.


"Yang di tanya kan aku, yang!" jawab kak Mel, protes. Alex hanya tersenyum meringis.


"Yang, mendingan kita duduk. Kamu capek kan dari tadi jalan terus!" Alex mengusulkan.


"Ih, yang. Apa sih, ganggu deh. Udah sana, tuh sama Devan. Bantuin dia jagain anak-anak. Kamu belajar sana biar nanti bisa ngurus anak kamu!" tunjuk kak Mel ke arah Devan yang menoleh karena suara berisik kak Mel. Devan melambaikan tangannya dari sana. Kak Mel membalas lambaian tangan Devan. Terlihat Alex merengut tidak suka. Apa dia cemburu?


"Kak jangan kasar gitu dong. Kasihan Alex!" ucapku iba menatap Alex yang berubah raut mukanya.


"Biarin aja!" ucap Kak Mel.


"Kak Alex, apa kabar?" aku mengulurkan tanganku dan segera di sambut olehnya.


"Aku baik..."


"Udah jangan lama-lama salamannya!" Kak Mel melepas tautan tangan kami. Hehhh kakakku ini, ada apa dengan dia?!


"Yu Nye, kita ngobrol. Ayang, kamu sana sama Devan jangan ganggu kami!" Kak Mel mengajakku duduk di bangku tak jauh dari sana. Alex melongo mengiringi kepergian kami berdua.


"Kak, jangan kasar-kasar deh sama suami! Kasihan Alex!" ucapku lagi, tak tega melihat wajah Alex yang terlihat memelas.


"Ah, biarin aja! Kakak sebel lihat dia!" Kak Mel mengibaskan rambutnya yang panjang. Setelah dia melepaskan Devan, kak Mel mulai memanjangkan lagi rambutnya.


"Sebel kenapa?"


"Gak tahu, semenjak hamil kakak gak mau lihat dia, bawaannya jijik gitu lihatnya. Tapi juga suka kangen sama dia!" kak Mel mengusap perut besarnya.


"Lucu!" aku berujar sambil tertawa kecil. Sumpah, bagaimana bisa ya ada hal yang seperti ini. Ya, itulah salah satu yang di rasakan ibu hamil! Benar-benar amazing!


"Tapi kakak jadi galau!" kak Mel berucap dengan nada sedih. "Kakak pengen peluk dia, tapi kakak juga sebel lihatnya, yang ada pengennya pukul pipinya terus. Kakak harus gimana?" kak Mel merengek. Aih... Aih... Kak Mel kenapa jadi seperti anak kecil?


"Ya... gimana ya?" jujur aku bingung, menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali! Aku tidak punya pengalaman seperti itu di dua masa kehamilanku!


"Anye! Kakak harus gimana?" tanya kak Mel menggoyangkan bahuku, nadanya terdengar manja. Lucu!


"Ya... Anye juga gak tahu kak. Anye gak pernah ngerasain kayak gitu!" ucapku jujur.


"Gimana ini... Kakak pengen peluk Alex!" lagi-lagi merengek bak anak kecil inginkan mainan.


"Ya gak masalah sih, selama dia bisa tahan di pukul pipinya sama kakak!" aku menutupi mulutku, menahan tawa.


"Iiihhh, dia memang tahan kakak pukul. Tapi kasihan kan. Tapi kakak pengen peluk, tapi juga pengen pukul!" merengek lagi.


Ya ampun. Kak Mel saja yang bercerita merasa galau, apalagi aku?!


Aaahhh... lebih baik berikan saja aku pekerjaan kantor yang sulit, daripada harus menjawab pertanyaan ibu hamil yang dia sendiri tidak tahu jawabannya!


"Ya sudah kalau begitu pakaikan saja dia topeng! Coba kakak pasang topeng Nicholas Saputra, siapa tahu kakak gak pengen tampar dia!" ucapku asal bicara, menyebutkan nama aktor kesukaannya, meski rasanya terdengar aneh, tapi kalau di coba siapa tahu bisa kan?


Kak Mel terdiam. "Benar juga! Bisa jadi!" dia berdiri dengan cepat sampai kepalaku ikut mendongak karena refleks mengikuti gerakannya. Kak Mel berjalan dengan cepat ke arah Alex yang sedang mengajak Axel bermain, dia menarik tangan Alex dan kembali berjalan ke arahku dengan cepat. Ucapan Alex yang meminta Kak Mel untuk berjalan pelan dan berhati-hati tidak di hiraukan sama sekali!


"Ya sudah Anye. Kakak pulang duluan ya! Trimakasih atas sarannya!" ucap kak Mel lalu kembali menarik tangan Alex.


"Saran apa?" tanya Alex di sela-sela langkah kakinya dia menatapku meminta jawaban, raut mukanya terlihat aneh seperti takut akan sesuatu.


"Aaahh, udah deh yang. Jangan banyak tanya. Pokoknya kita harus pulang sekarang!" ucap kak Mel garang.


Ya ampun... Kakakku!


Mana kak Mel yang kalem dan dewasa?


Kak Mel dan Alex berjalan semakin menjauh sampai aku lihat mereka berdua masuk ke dalam mobil mereka.


"Melati cerita apa?" tanya Devan yang sudah berdiri tepat di sampingku.


"Urusan ibu hamil. Jangan kepo!" ucapku sambil mencubit hidungnya.


"Aku kan cuma ingin tahu. Siapa tahu saja bisa bantuin Alex!"


"Alex cerita apa?" tanyaku.


"Urusan suami yang istrinya sedang hamil! Jangan kepo!" dia ganti mencubit hidungku. Uggghhh, dasar! Dia membalikan kata-kataku! Sebal!!!


Devan tertawa lalu meninggalkan aku menuju ke tempat dimana Daniel dan Axel berada. Aku juga ikut berjalan di belakang Devan dan ikut bergabung dengan mereka. Rasanya menyenangkan sekali!


Dan aku juga turut senang dengan keadaan kak Mel yang tengah mengandung. Dan juga turut simpati pada Alex yang harus berjuang menjadi suami siaga. Siaga dengan sikap kak Mel terutama. Hihi 🤭🤭🤭