
Tiara memutar tubuhnya. Dia tatap wajah Gio yang kini masih memejamkan matanya. Wajah yang selama ini kaku tanpa senyum itu kini terlihat sedikit senyuman disana, terulas dengan indahnya di sudut bibir hingga Tiara tak ingin melepaskan pandangannya dari wajah kekasihnya kini.
Kekasih...
Aaahhhh...
Tiara menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara teriakan bahagia yang bisa membuat kekasihnya ini terbangun.
Tiara masih tak menyangka jika pria yang kini tertidur di sampingnya adalah kekasihnya. Dia menahan perasaan yang membuncah di dalam dirinya. Dadanya seakan hampir meledak meski dia sudah menahannya dengan menggunakan tangan.
Deg. Deg. Deg.
Perasaan yang selama ini dia rasakan di dalam hatinya ternyata adalah cinta? Cinta pada bosnya sendiri? Bos yang beku, datar, menyebalkan, dan juga suka seenaknya sendiri? Oh... Apakah ini mirip seperti kisah-kisah di novel-novel itu?
Asistenku Kekasihku.
Sekretaris Idaman.
My Lovely Secretary.
My Honey Bunny Secretary.
Skandal Cinta CEO dan Sekretaris, meski Gio hanya wakil CEO disini.
Tiara merasa geli dengan judul-judul yang tersirat di dalam otak cantiknya. Dia tak pandai memikirkan judul dan akan menamakan apa kisah cintanya ini.
"Kenapa tertawa sendiri?" suara Gio mengagetkan Tiara dari segala pemikirannya. Gio sudah meTiarambuka matana ternyata, muka bantal masih tercetak di wajah itu, tak menghilangkan garis ketampanan seorang Gio Arian Aditama.
Tiara menjauhkan wajahnya dari Gio dan mengubah arah tidurnya hingga kini mereka saling berhadapan. Gio tersenyum menatap Tiara yang salah tingkah. Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Tiara hingga tubuh itu menempel padanya. Tiara menggerakkan kepalanya, bersandar dengan nyaman di atas lengan Gio yang kini menjadi bantal.
"Tidak ada." Dia tersenyum, hidung mereka saling menempel. Gio menggerakkan kepalanya hingga ujung kedua hidung mereka saling menggesek.
"Tidak ada tapi tertawa sendiri?"
"Aku cuma bingung, apa judul yang akan melengkapi kisah kita selama ini?" Tiara berkata dengan jujur. Gio tertawa terkekeh.
"Tanyakan saja pada author, dia yang punya kuasa dengan hubungan kita. Dan semoga saja dia tak membuat skandal dalam hubungan ini."
"Kalau seumpama suatu saat nanti kita ada masalah, apa kau akan bertahan denganku, Pak?" Tiara menatap tajam Gio. Dia ingin tahu dengan kesungguhan pria ini.
"Aku akan melakukan protes pada si pembuat cerita ini dan jangan harap kalau dia akan tidur dengan tenang!" jawab Gio dengan kesal seraya mendelik ke arah author 😒😒.
(Udah bang Gio, gak usah di gituin raut mukanya. Syerem tahu!)
Tiara tertawa.
"Aku janji. Apapun masalah yang akan di buat author untuk kita, seberat apapun itu, dan sekejam apapun dia,-karena author mah emang demen bikin tokoh ceritanya menderita, seperti kisah Mama Anye dan Papa Devan, dan jga kisah di cerita sebelah-. Aku akan tetap bertahan dengan kamu. Dan aku akan tetap kembali padamu apapun yang terjadi."
"Janji?" Tiara menyodorkan jari kelingkingnya. Gio menatap jari lentik itu dan menyambutnya dengan ciuman disana.
"Tak perlu melakukan hal kekanakan seperti itu. Aku janji dalam hati ini, aku akan selalu ada bersama kamu." Gio mengambil tangan Tiara dan menempelkannya di dadanya.
Hati Tiara menghangat seketika mendengar Gio mengatakan janji itu dengan sangat manisnya. Dia merasa menjadi wanita yang beruntung saat ini.
"Kita menikah? Di bawah resepsi masih berlangsung, bukan? Kita bisa memesan satu lagi kursi pelaminan untuk kita berdua. bersanding dengan Axel dan juga Renata." Mulut Tiara menganga lebar. Lalu sedetik kemudian dia berdecak dengan kesal.
"Tidak bisakah kau romantis sedikit, Pak? kau melamarku di atas tempat tidur? Ckckck... pria macam apa kau ini?" Tunjuk Tiara di depan hidung Gio. Biasanya pria itu akan marah dengan perlakuan Tiara yang seperti ini tapi kali ini dia hanya tertawa. dan kembali mengecup ujung telunjuk Tiara dengan lembut.
Gio tertawa melihat raut wajah kekasihnya ini. Merengut dengan lucu hingga bibirnya maju satu senti.
"Kau tidak mau menikah dengan ku?" taya Gio dia membuat merengut bibirnya.
Tiara menggeleng.
"Kenapa tidak?!" Gio mengubah raut wajahnya menjadi serius. Tiara tertawa kecil, dia harus bagaimana? haruskah dia memukul pria ini dengan hak sepatunya yang lancip supaya otaknya berfungsi?
"Pertama..." Tiara menghitung dengan menggunakan jarinya. "... kau melamarku di atas tempat tidur. Itu tidak romantis sama sekali!" berkata dengan penekanan di kalimatnya.
"Kedua, kau harus meminta izin dari ibuku."
"Ketiga, buatlah acara melamar ini dengan lebih romantis. Aku punya cita-cita jika ada seseorang yang melamarku, maka akan ku jadikan hari itu sebagai salah satu hari yang tak akan pernah aku lupakan sampai akhir hayatku, supaya aku bisa menceritakan pada anak cucuku bagaimana pria yang mencintaiku melamarku dengan membawa seluruh cinta dan kesungguhannya."
Cup. Tiara terdiam saat dia hendak mengangkat jarinya yang keempat. lagi-lagi di tak menyangka dengan sikap manis yang pria ini tunjukkan padanya.
"Kau sudah memikirkan hal yang sejauh itu?" Gio bertanya, wanita memang aneh. Tidak bisakah mereka hanya memikirkan masa sekarang saja dulu? Nikmati saja hidupmu yang sekarang! Ingin Gio mengatakan hal itu. Tapi tentu saja dia hanya bisa mengatakannya di dalam hati.
"Iya lah. Aku bahkan sudah berpikir akan punya anak berapa. Hihi." Tiara tertawa sambil menutupi mulutnya. Dia merasa malu sendiri dengan segala pemikiran yang ada. Tapi serius, saat Gio tadi menyatakan perasaannya Tiara jadi berpikir untuk menambah dua anak lagi dari yang dulu sempat ia pikirkan.
"Berapa?" Gio mendekatkan keningnya pada kening Tiara, mereka saling menatap ke kedalaman mata masing-masing.
Tiara meggeleng malu. Masa iya dia akan mengatakan kalau kelak anaknya nanti empat. Hehe...
"Gak mau bilang?" Tiara menggeleng lagi.
Gio merasa kesal dengan bungkamnya Tiara, dia menggerakan tangannya menggelitik Tiara di pinggang. "Ayo katakan, berapa anak yang kau mau dariku hah?" Gio berata dengan tawa di bibirnya.
"Siapa... Siapa yang mau punya anak denganmu?" Susah payah Tiara berkata di antara tawa akibat geli yang pria itu perbuat.
"Kau tidak mau punya anak denganku?" Gio masih menggelitik Tiara di pinggang dan juga di ketiak. Pria itu kini bangkit dan menunduk membuat posisinya ada di atas tubuh Tiara, tak ingin berhenti hingga gadis itu membuat diriya puas dengan jawabannya.
"Aduh hentikan. Ini geli! Akh..."
Gio tak peduli, bukannya menjawab gadis ini malah memintanya berhenti. Jangan harap!
"Hei pikirkan cara untuk melamarku terlebih dahulu, baru kita pikirkan untuk menikah dan membuat anak!" seru Tiara dia sudah tak tahan hingga air matanya merembes ke sudut mata.
Gio terenyum puas menadapatkan jawaban itu dari mulut kekasihnya. benar, dia sudah mendapatkan Tiara sebagai kekasihnya dan dia harus memikirkan cara untuk menjadi sah dan lalu... kemudian... Gio terdiam. tak lagi menggelitik pinggang Tiara lagi ,membuat Tiara heran menatap kediaman kekasihnya.
Gio duduk di kaki Tiara, Tiara menggerakkan tangannya untuk duduk. Dia menatap Gio yang wajahnya berubah merah. Apa yang sedang di pikirkan pria ini?
Tiara menggerakkan tangannya dan menyentuh rahang tegas pria itu dengan telapak tangannya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Tiara.
"Aku ... Tidak ada!" jawab Gio dengan wajah malu. Masa iya dia mau jawab tentang pemikirannya dengan proses pembuatan anak! Apa yang akan Tiara pikirkan jika pria itu mengatakannya. Dia pasti akan mengatakan kalau dirinya cabul atau mesum! Dan lebih parah mungkin akan tercetak cap lima jari di pipinya. Bisa jadi!
Akh... sial! memikirkan hal itu sesuatu di dalam dirinya menggeliat. Tak tahan dengan keadaan mereka saat ini.
Gio mengambil lengan baju Tiara yang sedikit melorot karena ulahnya dan membenarkannya, tak lupa ia juga menyingkirkan anakan rambut yang berantakan menutupi mata cantik itu, rambut yang tadi di gulung ke atas kini sudah tergerai tak beraturan. Tapi hal itu membuat Tiara semakin terlihat cantik, menawan, meski sebenarnya gadis itu memang sehari-haripun seperti itu keadaannya. Akh apa karena mereka sudah resmi berpacaran sekarang? Jadi apa yang dia lihat dari Tiara terlihat semakin indah. Jauh berkali-kali lipat indahnya. bagaimana kalau nanti mereka menikah?
"Kau mau mandi atau tidak?" tanya Gio. Dia menyingkir dari kaki Tiara. Gio tak ingin sesuatu yang terpikirkan dalam otaknya mrnjadi real dan membuat Tiara membencinya. Lebih baik dia menyingkir!
"Tidak, aku akan cuci muka saja dan merapikan rambut dan juga make up ku." Tiara mengulurkan tangannya pada Gio. Gio meraih tangan itu dan menarik Tiara untuk bangkit berdiri. Tiara berjalan ke arah kamar mandi diiringi tatapan penuh cinta dari Gio.
Gio memegang dadanya yang berdebar. Tak menyangka jika gadis ini ternyata bisa membuat hatinya tak karuan seperti ini, rasa suka, rasa sayang, rasa takut, rasa benci. Semua menjadi satu. Nano-nano rasanya!
Akh... harusnya kisah ini dibuat terpisah hanya untuk diriku sendiri.