DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 106



Aku kembali ke negaraku untuk mengecek semua pekerjaanku. Sebenarnya tidak ada yang serius juga. Aku hanya ingin sedikit liburan dan hiburan yang menarik. Aku sedikit bosan di negara menara Eiffel itu.


"Laporannya, presdir!" seorang pria berusia empat puluhan menyerahkan beberapa berkas padaku. Berkas kerja sama yang di jalin dengan perusahaan lain, salah satunya Aditama dan GN corp. milik papa Yudhistira.


Dia menunduk dengan hormat dari tempatnya berdiri, sedangkan aku duduk manis di tempat yang ia duduki selama ini.


"Dan ini adalah laporan tiga tahun terakhir yang anda minta, kerja sama antara perusahaan ini dengan Aditama dan Perusahaan GN. Lengkap!" dia menyerahkan berkas lain padaku. Aku membuka berkas itu. Sebenarnya tidak perlu lagi karena aku tahu semua pergerakan perusahaan Aditama dan perusahaan papa.


"Ubah ruangan ini. Aku akan sedikit lama tinggal disini." Aku membuka berkas itu satu persatu.


"Tapi presdir. Ruangan untuk anda sudah di siapkan di lantai atas." Aku menutup berkas di tanganku, menatapnya dengan tatapan tajam. Dia terkejut dan semakin menunduk. Keningnya berkeringat padahal ruangan ini sejuk karena AC.


"Tukar ruangan saja. Aku tidak suka ruangan yang sangat luas. Apa anda keberatan, Pak wakil?" tanyaku santai, tapi sepertinya dia terlihat gugup.


"Tidak presdir, tapi apakah pantas?" dia tidak berani menatapku.


"Jangan banyak membantah. Lakukan saja!" Aku berdiri dan membawa berkas itu di tanganku, mendekat ke arahnya. Peluh semakin banyak terlihat di keningnya. Rasanya aku ingin tertawa. Apa aku terlihat menakutkan?


"Santai saja Pak Wakil, kenapa harus takut seperti itu?" aku berdiri dengan menyandarkan diriku di meja.


"Besok aku ingin ruangan ini sudah di ubah. Ganti semua yang ada di ruangan ini dengan yang baru, termasuk lukisan itu. Lukisan itu membuat kepalaku pusing!" tunjukku dengan menggunakan berkas pada lukisan abstrak di dinding sana.


"Baik presdir."


"Ah, ya. Dan kursi itu. Singkirkan, aku mau semua yang baru dan nyaman. Buat ruangan ini agar tidak membosankan!" ucapku sambil berlalu. Dia hanya mengangguk patuh. "Ah dan satu lagi pak Wakil." aku berhenti melangkah, meliriknya sekilas.


"Ya, presdir?"


"Jangan panggil aku presdir! Itu terlalu kaku." kemudian aku kembali melangkah lagi.


Ya ampun rasanya sangat lucu. Orang itu bertahun-tahun membantu mengurus perusahaan ini dan di hormati oleh para bawahannya, tapi nyatanya hari ini aku membuat dia ciut seperti itu. Aku jahat! Haha. Nyatanya uang yang berkuasa di dunia ini, itu tidak bohong!


Tapi kenapa dia harus terlihat seperti ketakutan sih? Padahal di banding dirinya aku hanya anak ingusan bau kencur!


Aku terus berjalan keluar dari area kantor. Sedari tadi banyak yang menatapku bingung dan penuh tanda tanya. Mungkin karena di belakang juga berjalan dua bodyguard yang menjagaku. Sam keterlaluan! Karena adanya mereka aku tidak bisa leluasa pergi ke tempat yang aku inginkan!


"Kita mau kemana nona?" tanya Bodyguard yang merangkap sebagai sopirku. Entah siapa nama mereka tapi Sam dan ayah punya beberapa anak buah disini. Dan kedua orang ini yang akan menjagaku selama aku berada disini.


"Hotel!" aku memakai kacamata lebarku, saking lebarnya hingga wajahku hampir tenggelam oleh kacamata itu. Aku lebih baik pakai, untuk berjaga-jaga jika ada yang mengenaliku.


"Baik nona."


Mobil berjalan membelah jalanan ibukota yang padat. Langit terlihat menghitam di atas sana.


Sampai di hotel, aku menaiki lift untuk sampai di lantai teratas. President suite yang akan menjadi tempat tinggalku untuk beberapa waktu ke depan. Aku tidak khawatir dengan biayanya selama menginap disini. Karena semua untukku gratis! Ini adalah hotel milikku.


Aku membelinya waktu pertama kalinya aku kembali. Sebenarnya, sekalian untuk tempat tinggal jika aku berkunjung dan selain itu juga aku mendapat untung bukan? Hehe aku sudah mulai pintar berbisnis sekarang! Ya meskipun aku hanya bermain di balik layar, tapi pundi-pundi rupiahku semakin hari semakin bertambah.


Ku letakkan berkas yang ku bawa di atas nakas. Aku merebahkan diriku di atas kasur queen size milikku. Nyaman.


Hampir saja aku tertidur saat suara hp terdengar jelas.


"Hemm? Apa?" jawabku malas.


"Bagaimana? Apa kamu sudah memberikan mereka kejutan?" suara Sam bertanya di seberang sana.


"Belum. Kenapa?" tanyaku garang.


"Gak usah nge-gas jawabnya, nanya doang!"


Rasanya aku ingin membanting hpku, tapi sayang kan? Memang aku bisa gampang membeli hp seperti aku membeli gorengan, tapi bukan sifatku juga untuk membanting apapun saat marah.


"Sam tadi aku baru saja mau tidur! Kamu mengganggu!" ujarku kesal.


"Ckckck dasar kenapa balik kesana jadi pemalas begitu?" tanya Sam. Kenapa dia menyebalkan?


"Hei dengar tuan, aku kesini pakai pesawat domestik. Dan aku baru saja sampai empat jam yang lalu, langsung ke perusahaan untuk mengecek. Dan baru saja aku pulang dari sana. Aku capek!"


Sam terdengar tertawa di seberang sana. "Capek? Disini saja kamu gila kerja!"


Aku mendecih sebal. "Iya terserah kau lah. Hehehe, mumpung disini jadi aku mau sedikit bersantai. Untuk urusan disana aku serahkan padamu dulu ya! Aku akan kasih tau kalau waktunya tiba. Pangeran Sam harap bersiap saja!" tanpa mendengar lagi jawabannya aku mematikan panggilan telfonnya dan menonaktifkan hpku. Aku ingin tidur sebentar. Eh, aku lupa! Aku tak menanyakan kabar putraku! Nanti saja lah. Aku benar-benar mengantuk!


Melepas sepatu dan blazer milikku, aku kembali berbaring di atas kasur menatap berkas yang ada di atas nakas.


Sudah lama Dev, papa! Tolong maafkan aku yang sudah meninggalkan kalian terlalu lama.


Tubuhku lelah, aku harus tidur untuk menyambut hari esok. Ah tidak bukan besok. Bahkan nanti malam pun aku harus pergi menemui seseorang. Aku tidak sabar!


Aku tersenyum sendiri. Membayangkan akan bertemu dengan seseorang nanti malam.


*


*


*