
"Ah...sebaiknya aku kembali ke bawah!" ucap Renata canggung dia menunduk malu.
"Kalau begitu aku akan antar!" tawarku. Dia mengangguk.
Kami keluar dari ruangan. Aku menutup pintu. Sekilas aku melihat Gio yang berada di ambang pintu kamarnya, mengintip kami dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia menggerakkan dua jarinya di depan matanya lalu mengarahkannya pada kami, seperti dia berkata -aku akan mengawasi kalian berdua!-
Aku melengos, membawa Renata menuruni tangga sedangkan Gio tetap mengawasi kami dengan mata bak elangnya. Aku kembali melirik Gio dan menjulurkan lidah padanya. Dia mendengus kesal. Haha... pastinya dia iri karena aku menggandeng seseorang sekarang!
Biarkan saja. Kalau dia iri kan, siapa tahu dia akan cepat move on dan cari gadis lain yang lebih baik daripada wanita siluman itu!
"Trimakasih ya, Xel. kamu sudah lindungi aku tadi." ucap Renata.
"Iya, sama-sama. Sekarang kamu tidur. Ini sudah hampir tengah malam." Dia mengangguk.
Hahh... Rasanya aku tidak ingin meninggalkan dia walaupun kami masih dalam satu rumah sekarang.
Melihat keenggananku, dia tersenyum dan mengibaskan tangannya.
"Ya sudah. Sana! Kamu juga harus istirahat. Pasti badan kamu sakit semua kan?" tanyanya.
Aku tertawa lirih. Iya, memang benar. Tapi untuk Renata apa sih yang tidak.
"Hahh... Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan kamu."
"Xel! Kalau Pak Gio melihat kita..."
"Gio. Panggil saja dia Gio!" cecarku.
"Iya, Gio. Kalau dia melihat kita dalam satu kamar nanti apa yang akan dia fikirkan?!"
"Ya sudah, aku akan pergi ke kamarku!" ucapku pasrah. Renata tersenyum, dia mengelus pipiku. Telapak tangannya terasa hangat.
"Se-Selamat malam!" ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Tidak rela sebenarnya meninggalkan Renata, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga butuh istirahat.
Axel pov end.
...***...
Renata terdiam di kamarnya, dia menatap langit-langit kamar yang megah. Lampu hias besar menggantung disana. Tak terfikirkan olehnya siapa diri Axel yang sebenarnya. Kecewa memang, merasa dibohongi, tapi dia juga merasa tak pantas jika membenci Axel hanya karena Axel berasal dari dunia yang berbeda. Nyatanya alasan Axel berbohong adalah untuk bisa mendekati dia. Bukan seperti pria lain yang mengaku kaya untuk mendapatkan perhatiannya. Axel malah sebaliknya! Dia berharap, Axel tidak akan sama seperti masa lalunya.
Renata berusaha memejamkan matanya. Tapi bayangan Axel selalu saja menari-nari di pelupuk matanya. Rasanya percuma memejamkan mata karena bayangan itu bahkan tidak mau beranjak dari hadapannya.
Renata mengingat panggilan yang Axel ucapkan tadi saat mereka menaiki bianglala. Ren-Ren.
Tiba-tiba saja matanya terasa panas. Dia teringat pada kakaknya yang kini masih menghilang entah dimana rimbanya. Hanya sang kakak-lah yang memanggil dia dengan sebutan itu!
Renata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir di sela-sela jari-jarinya. Dia menangis tersedu. Teringat dengan sang kakak yang entah bagaimana nasibnya. Apakah masih ada atau...
'Tidak! Kakak, aku yakin. Kakak masih hidup. Pasti. Dan suatu saat kau akan menjemput aku disini!' isak Renata di antara tangisnya.
Teringat saat kecil dimana dia dan sang kakak bermain bersama. Tertawa bersama. Bahkan tidur bersama. Sosok superhero dalam dunia nyata bagi Renata saat usianya delapan tahun. Bahkan dengan konyolnya, dia mengatakan kalau saat besar nanti dia ingin menjadi pengantin dengan kakaknya.
Renata mengusap air mata di pipinya. Sudah belasan tahun dia tidak bertemu sang kakak. Hanya doa yang bisa ia panjatkan kepada Tuhan agar selalu menjaga kakaknya dimanapun dia berada.
"Kak Tommy... hiks....!" isaknya. Betapa rapuhnya hatinya jika mengingat senyum kakaknya yang selalu menenangkan hati. Yang bisa membuat gadis kecil menghentikan tangisnya, yang bisa membuat gadis kecil tertawa dalam sedihnya.
"Kakaaakk!! Hiks..." Renata terus memanggil nama kakaknya dalam isak tangisnya, tapi yang di panggil tidak pernah muncul. Hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan.