DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 209



"Maaf, Pak Gio. Kau adalah mimpi terindah yang pernah hadir dalam tidurku!"


Sakit! Hati Gio sakit mendengar ini. Tiara benar-benar hanya menganggapnya mimpi? Harus bagaimana dia? Apa harus memarahinya seperti biasa? Ah, tidak! Gio datang kesini karena sangat merindukan Tiara, bukan untuk memarahinya!


"Kau yakin hanya menganggapku seperti itu?" tanya Gio menatap Tiara yang masih saja menunduk. "Jawab!" Gio meminta jawaban dari Tiara.


Tiara memejamkan matanya. Gio sudah jelas mendengar bahwa dia hanya mimpi indahnya saja, apa itu kurang jelas?


Tiara mengangkat kepalanya menatap Gio dengan tatapan yang menusuk. "Aku sudah katakan padamu, Pak. Kau hanya.... humpttt...." Mata Tiara membelalak. Ucapan Tiara terpotong saat Gio menarik dirinya dan mengunci pergerakan bibir Tiara dengan bibir Gio. Satu tangan Gio menarik dagu Tiara ke bawah, memaksa gadis itu untuk membuka mulutnya.


Lidah Gio segera merangsek masuk ke dalam sana, mengabsen satu persatu yang ada di dalam mulut Tiara. Tiara mencoba berontak, tapi Gio menarik tengkuk Tiara memperdalam ciumannya semakin dalam.


Satu bulir air mata Tiara keluar dari mata cantiknya disusul beberapa yang lain. Hati Tiara tak tahan. Dia sangat mendambakan dan merindukan pria ini. Tiara terisak, kedua tangannya melingkar di tubuh Gio. Tiara membalas apa yang dilakukan Gio padanya, membalas dan memberikan akses untuk Gio semakin memperdalam ciuman mereka. Saling mel*mat, saling bertukar saliva. Saling mengeluarkan perasaan masing-masing.


Gio menarik dirinya. Dia melihat wajah Tiara yang basah oleh air mata. Gio mengusap air mata Tiara dengan kedua ibu jarinya. Didekatkannya bibir Gio untuk mengecup kening Tiara dengan sayang. Tiara hanya tertunduk saat Gio mengecup kenignya dengan lembut.


"Aku tahu kau juga rindu aku, jangan kau anggap aku ini hanya mimpimu, Tiara. Karena aku juga tidak pernah menganggap kamu hanya bagian dari mimpi. Aku akan perjuangkan cinta kita. Aku janji, aku akan mendpatkan restu dari mama untuk kita!" ucap Gio meyakinkan Tiara. Gio menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Tiara. Mengangkat wajah itu hingga mereka saling berpandangan.


Mata dan hidung Gio merah, ada bekas air mata di pipinya membuat Tiara yakin jika pria ini tidak main-main. Kedua kalinya Tiara melihat Gio serapuh ini. Tiara mengusap pipi Gio.


"Kau yakin bisa mendapat restu dari Nyonya Anyelir?" tanya Tiara lirih. "Aku tidak mau denganmu jika tidak mendapatkan restunya." Gio tersenyum mendengar ucapan Tiara. Gio mengangguk dengan cepat.


"Kau mau menunggu beberapa saat lagi? Aku akan berusaha mendapatkan restu dari mama." Gio menatap Tiara dengan tatapan penuh harap. Tiara terdiam. Lalu dengan senyuman dia mengangguk dengan cepat.


"Aku akan menunggu. Kau harus berusaha keras untuk mendapatkan restu dari Nyonya Anyelir untuk bisa menerimaku!" Gio tersenyum senang, mengambil kedua tangan Tiara dan dan menciumi punggung tangan Tiara bergantian.


"Pasti. Aku akan berusaha untuk itu. Untuk kita agar bisa bersama," ucap Gio dengan senang.


Gio kembali menarik Tiara ke dalam pelukannya, menciumi kepala Tiara dengan lembut dan penuh kerinduan. "Aku senang. Aku senang kali ini, Ra." lirih Gio kembali mengusap air mata di pipi. Masa bodoh jika Tiara menganggapnya lelaki cengeng. Gio hanya sedang bahagia sekarang!


Tiara balas memeluk Gio. Rasa bahagia memenuhi hatinya kini. Tiara tersenyum senang, melesakkan kepalanya di dada Gio, mendengar dentuman cepat di dada pria itu.


"Apa sekarang kita balikkan?" tanya Gio. Tiara mengangguk di dalam pelukannya. Sekali lagi Gio mendaratkan kecupannya di rambut Tiara yang masih setengah basah.


Tiara tidak menyangka Gio tidak pergi dari kamarnya, dan membuat hubungan mereka jadi kembali seperti dulu. Kalau saja Gio tadi pergi...


Eh tunggu!


Tiara menarik dirinya, melepaskan diri dari pelukan pria itu. Menatap Gio dengan tajam, membuat Gio balas menatap Tiara dengan heran.


"Kau dari tadi tidak keluar dari kamar ini?" tanya Tiara.


Gio menggelengkan kepalanya. Tiara menjauh, mundur satu langkah seraya menyilangkan kedua tangan di depan tubuh.


"Jadi.... Jadi kau tadi lihat aku sedang memakai baju?" tanya Tiara mulai berang. Dimana tadi pria ini hingga Tiara tidak melihat Gio di dalam kamar?


Gio memalingkan wajahnya ke samping. Menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali, wajahnya perlahan berubah memerah.


Tiara mengigit bibirnya dengan kesal. Antara malu dan juga marah.


Oh sial! Harusnya aku tidak bilang ada tanda lahir disana! Gio.


Tiara kesal bukan main. Melihat tanda lahir di pinggang berarti....


"Aku langsung menutup mata. Sumpah!" ucap Gio dengan cepat saat melihat Tiara semakin ekspresi marah di wajah, tidak lupa dengan dua jari yang teracung ke atas membentuk huruf V.


"Kau melihat tanda lahirku di pinggang berati kau... Akh..." Tiara menutupi wajahya dengan telapak tangan. Malu pasti. Jika Gio melihat tanda lahir di pinggang itu kan berdekatan dengan bagian belakangnya.


"Kenapa kau nakal sekali, G?" tanya Tiara malu.


"Aku tidak sengaja. Maaf, lagian kau juga kenapa tidak memakai baju di kamar mandi?" tanya Gio yang tak mau disalahkan.


"Ini kamarku!" Tiara menarik tangannya, menatap kesal pada Gio. "Aku mana tahu kalau kau masih ada disni! Dasar kau lancang. Pria genit!" ucap Tiara berseru memukuli dada Gio, tapi langsung terdiam saat Gio menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Tiara.


"Sssttt... Jangan berisik, nanti ibu dengar!" peringat Gio Tiara hanya menganggukan kepalanya dengan pelan.


"Ya, sudah. Sekarang kau pergilah. Kita kan sudah kembali bersama. Kau pulang saja. Tidak baik malam-malam ada di kamar seorang gadis," ucap Tiara. Wajah Gio berubah masam, rasanya dia tidak ingin pergi dari sini. Gio msih betah dan ingin berlama-lama bersama Tiara.


"Apa aku tidak boleh bermalam disini?" tanya Gio dengan wajah memelas.


"Tidak!"


"Aku mohon. Malam ini saja. Aku ingin tidur memelukmu. Hanya tidur seperti dulu. Ya. Please!" Gio merengek, bertingkah seperti anak kecil.


"Tidak!" jawab Tiara sekali lagi dengan kesal.


"Sayang... Ayolah aku masih kangen denganmu!" merengek lagi membuat Tiara kesal.


"Sayang..."


"Gio Arian Aditama!!" Tiara memanggil nama lengkap Gio dengan mengeratkan rahangnya, membuat Gio kini terdiam mencebikkan bibirnya. Gio tertunduk lesu.


"Aku kan cuma kangen kamu!" ucap Gio dengan nada manja. Lirih terdengar seperti anak kecil yang punya salah.


Tiara terenyuh juga mendengar Gio mengatakan rindu padanya. Tiara mengulurkan tangannya, mengambil pipi Gio menarik kepalanya hingga mendekat.


Cup...


Mata Gio membelalak, tidak percaya jika Tiara baru saja menciumnya.


"Sekarang pulanglah, Sayang. Lain kali bukankah kita bisa bertemu dan bersama lagi?" Gio tersenyum dengan ucapan Tiara. Matanya berbinar, degan senyum yang kini terbit di bibirnya.


"Oke aku akan pulang. Tapi besok pulang bekerja aku akan jemput ya!" pinta Gio. Tiara mengangguk lalu sekali lagi mendekatkan dirinya. Merasakkan kehangatan dan kelembutan bibir Gio yang memabukkan.


Udah atuh ih... Jangan nyosor wae. Jangan bikin yang jomblo jadi ngenes.