DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 130



"Memang kalian tidak tahu aku siapa. Kalian di bayar berapa..."


"Berapapun bukan urusan kamu!" bentaknya. "Yang penting kami dapat uang yang banyak dari dia malam ini. Kami hanya perlu menjaga kamu supaya tidak kabur." ucapnya. Mereka berdua tertawa.


"Aku akan bayar sepuluh kali lipat dari yang kalian dapatkan dari dia untuk menculikku! Dan kalau kalian mau berkhianat dari dia, aku pastikan kalian tidak akan masuk penjara. Aku akan bilang kalau aku sedang jalan-jalan dengan kalian. Bagaimana?" tawarku. Mereka berhenti tertawa, saling menatap satu sama lain, lalu mereka menatapku dengan kepala yang di miringkan. Senyum tersungging di sudut bibir keduanya, senyum mengejek yang menyebalkan. Sepertinya mereka tidak percaya.


"Baiklah, kalau kalian tidak percaya tidak apa-apa. Tapi aku yakin kalian rugi besar dengan penghasilan yang kalian dapat sekarang dengan menculikku, belum lagi kalau orangku sudah datang, kalian bisa di pastikan akan masuk penjara dengan waktu yang lama. Berapa sih yang kalian dapat dengan resiko besar seperti ini? Kalian tidak tahu aku siapa dan kalian berani menculikku? Haha... sangat lucu." Tidak ada respon dari mereka berdua. Sialan!


"Sudahlah. Aku sudah tidak perduli siapa bos kalian. Tapi aku bisa pastikan kalau kalian salah orang. Oh, bukan salah orang. Hanya saja mungkin kalian salah pasang harga untuk menculik orang yang sangat penting seperti aku!" Dahi mereka mengernyit, saling menatap satu sama lain. Apa mereka mulai percaya? Sepertinya aku harus meneruskannya.


"Kalian tidak tahu siapa aku?" Mereka terdiam. Tidak ada kata-kata keluar dari mulut mereka.


"Memang bos kalian tidak bilang siapa yang kalian culik ini?" Masih diam. "Serius kalian tidak tahu aku siapa? Aku ini seorang pengusaha terkenal, aku bisa bayar kalian lebih besar dari yang dia berikan. Coba kalian buka saja internet dan cari namaku disana, Laura Cantika Rudolf. Kalian akan tahu." Saling menatap lagi.


"Ayo cepat! Keluarkan hp kalian dan cari saja profil tentangku disana!" titahku gemas. Rasanya ingin sekali aku melemparkan sesuatu pada mereka, sayangnya tangan dan kakiku terikat kuat.


Si kurus berbisik pada temannya. "Aku akan ambil hp di luar. Jaga dia!" si kekar mengangguk. Si kurus keluar dari ruangan. Si kekar menarik kursinya dan duduk lima langkah di depanku. Dia duduk dengan kedua tangan yang bertumpu di atas sandaran kursi yang ia duduki terbalik.


"Hei om! Soal dua orang yang ada bersamaku di mobil, bagaimana keadaan mereka?" tanyaku. Jujur aku penasaran, semoga saja mereka masih selamat meski rasanya aku pun sangsi.


"Jangan khawatir, setidaknya mereka tidak akan merasa kesakitan karena luka tembakan."


Hahhh... Dari jawabannya sepertinya mereka sudah tiada.


"Kenapa? Merindukan sentuhan? Aku saja, bagaimana?" Cih dasar, lelaki cabul!


"Hei, jangan kurang ajar! Om, sepertinya aku tahu siapa yang menyuruhmu! Seorang wanita tua kan?" dia terdiam. "Kenapa tidak dia saja yang kau ajak kencan. Tahu tidak, kalau dia baru saja bercerai dari suaminya yang pastinya dia juga kurang belaian." tuturku. Rasanya aku durhaka juga ya berkata seperti itu tentang orang tua. Hihi...


"Dia wanita tua! Lebih enakan daun muda." tuturnya.


"Bahkan kalau kalian mau yang perawan juga bisa. Asal tidak di kira pedofil saja. Hehe. Bagaimana? Setuju dengan negosiasiku?" Dengan semangat empat lima aku membujuknya lagi.


Pintu terbuka. Si kurus dan beberapa orang lainnya masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat ke arahku lalu menatap ke arah hp yang di pegang si kurus, menunjuk-nunjuk. Sepertinya sedang membandingakan. Apakah mereka percaya?!


"Benar ini dia."


"Bisa lebih untung kalau kita sama dia."


Suara-suara itu mulai terdengar saling berbisik. Aku tersenyum tipis. Kalau mereka ada di pihakku, aku bisa bebas dan juga bisa mendapatkan satu lagi bukti kejahatan Mama Mauren.


"Bagaimana? Sudah ketemu? Keputusan ada di tangan kalian." ucapku.


"Berapa yang di tawarkan?" si kurus bertanya.


"Aku kan sudah bilang, sepuluh kali lipat dari yang dia berikan. Dan juga jaminan kalau aku gak akan perkarakan penculikan diriku ini ke polisi." jawabku tenang.


"Huhh untuk ukuran CEO, jumlah sepuluh kali lipat itu masih sedikit kan! Kami mau seratus kali lipat!" Ya ampun, si kurus rakus banget ya!!!


"Hei, jangan tamak jadi orang. Orang tamak cepet matinya!" ucapku. Si kurus meradang emosi, maju dua langkah hendak meraihku.


"Apa kamu bilang?" Marah. Dua orang lain di belakangnya menahan tangan dan perutnya.


"Hei tenang, jangan apa-apakan dia."


Aku tertawa, sepertinya memang aku akan menang kali ini.


"Sepuluh juga sudah sepadan, di tambah aku tidak akan melaporkan kalian ke polisi tentang penculikan ini. Deal atau tidak? Fikirkan!" ucapku tenang. Jantungku tidak lagi berdebaran karena takut. Jika negosiasi tidak berhasil setidaknya aku sudah tahu siapa dalang di balik ini dan juga aku bisa membuat mereka lengah. Aku yakin cepat atau lambat bala bantuan akan datang.


"Bagaimana? Deal tidak? Kalau sudah deal lepaskan ikatan ini, tangan dan kakiku sakit!" seruku. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Lalu beberapa orang mengangguk.


"Kalau kami tidak setuju?" tanya pria yang berdiri di belakang.


"Ya terserah. Selain dengan kalian tidak mendapat uang, tunggu saja seseorang datang dan menjebloskan kalian ke penjara." ucapku. Mereka berpandangan lagi satu sama lain.


"Lima puluh kali lipat!" si kurus lagi-lagi menawar. Oh Ayolah, lima puluh kali lipat? Meskipun tidak akan membuat aku bangkrut, tapi aku juga tidak akan memberikan mereka uang sebanyak itu. Bayaran yang terlalu mahal dengan menculik aku dan membunuh dua orangku. Jangan harap!


"Hei, aku ini pebisnis. Aku tahu bagaimana cara berbisnis dengan orang lain. Kalian jelas sedang menculikku dan ingin merampok aku sekarang?! Aku sudah tawarkan uang yang banyak sepuluh kali lipat dan kalian bebas dari kasus penculikan apa itu tidak cukup? Kalian serakah sekali!" ucapku menyindir, menatap mereka dengan pandangan jijik. Benar-benar serakah!


"Baiklah, dua puluh atau tidak!" apa itu keputusan terakhir? Dasar serakah!