
Acara bulan madu mereka selesai, hanya empat hari saja Gio dan Tiara disana. Pekerjaan yang menumpuk tidak bisa membuat Gio mengambil liburanya dengan tenang. Beberapa pekerjaan dari kantor harus segera dia selesaikan dengan cepat. Apalagi ada laporan jika kerjasamanya dengan pihak perkapalan terbesar di negeri ini diterima dan mereka ingin segera bertemu dengan Gio.
"Maaf ya, Ra. Kita tidak bisa lama disini." sesal Gio sambil membantu Tiara memasukkan baju mereka ke dalam koper.
Tiara tersenyum ke arah Gio yang kini wajahnya suram karena merasa bersalah pada Tiara.
"Tidak masalah, G. Lagipula ini 'kan masalah pekerjaan. Aku bisa apa? Pekerjaan kamu lebih penting." Tiara mencoba untuk mengerti.
Gio menahan tangan Tiara hingga wanita itu menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada Gio. "Kau lebh penting dari segalanya, Ra. Aku bisa batalkan pertemuan ini kalau kau mau," ucap Gio.
"Jangan! Mama Anyelir sudah mempercayakan perusahaan itu padamu , jangan kau kecewakan beliau hanya karena aku." Tiara tersenyum. lelakinya ini begitu sayang sekali padanya.
"Tapi bulan madu kita jadi berakhir lebih cepat. Kita kan berencana satu minggu disini." Gio merengut tidak suka. Mengingat setelah dirinya kembali ke rumah dan pada sore harinya dia harus kambali ke Kalimantan untuk urusan pekerjaan.
"Tidak apa-apa. Kita kan bisa melakukannya lagi kalau kau pulang dari urusanmu." Tiara tersenyum agar Gio tidak terlalu merasa tak enak hati padanya.
"Tapi tetap saja aku masih ingin berdua sama kamu." Gio meraih pinggang Tiara dan melabuhkan dagunya di pundak Tiara.
"Jangan manja. Aku bisa kok ikut denganmu kesana tiga hari sebelum massa cuti ku habis." Tiara mengusulkan. Gio menghela nafasnya dengan kesal, hanya tiga hari dan itupun dia akan sangat sibuk dengan pekerjaannya. Pasti tidak akan puas.
"Aku gak mau cuma tiga hari, aku mau selamanya kau ikut denganku. Bagaimana kalau kau tidak usah bekerja, kau dan ibu akan aku bawa ke Kalimantan," ucap Gio.
Tiara mengangkat kedua bahunya. "Aku pasti akan merasa bosan jika tidak bekerja, dan aku tidak yakin jika ibu akan mau ikut dengan kita. Apa ibu mau meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama dengan ayah?" Tiara seakan bertanya dengan dirinya sendiri.
"Rasanya aku tidak bisa meninggalkan ibu sendian, G. Ibu sudah tua, kasihan kalau aku tinggalkan dia." Gio dan Tiara terdiam berdua, merasa dilema dengan nasib mereka. LDR tidak akan mudah untuk keduanya, apalagi mereka masih pengantin baru. Jika pun sanggup raga jauh, tapi jiwa mereka akan tersiksa seperti dulu.
"Aku gak tahu G. Jika aku ikut denganmu mungkin aku akan jadi anak durhaka, tapi jika aku tetap tinggal dengan ibu, aku juga bukan istri yang berbakti pada suami." Tiara berkata dengan lirih.
Gio menghela nafasnya, memang ini sulit, tapi mungkin dirinya harus mengalah. Bagi Tiara ibu adalah orang yang terpenting dalam hidupnya. Sedangkan dirinya hanya orang yang bertemu disaat mereka sudah dewasa. Gio tidak mungkin mengklaim Tiara adalah haknya sepenuhnya. Tiara masiih milik ibunya.
"Aku tidak apa-apa. Aku akan beruaha untuk mengunjungimu sesering yang aku bisa." Gio mengusap lembut lengan istrinya. Tiara memeuk Gio dengan erat.
"Aku sangat berterima kasih padamu, G. Kau memang suami yang pengertian." ucap Tiara.
Gio dan Tiara baru saja keluar dari dalam lift. Heru di belakang mereka, membawakan satu koper milik Tiara dan juga Gio, sedangkkan dirinya hanya membawa tas kecil yang disinmpan di bagian atas koper yang dia seret.
"Om, Tante! " Suara seorang anak kecil terdengar dan lalu berlari ke arah mereka yang kini diam di tempatnya.
Gio kecil terengah dengan nafasnya yang pendek, berhenti tepat di depan keduanya.
"Om dan Tante mau kemana?" tanya anak tu setelah berhasil mengatur nafasnya "Apa kalian mau pulamg?" tanyanya lagi.
"Iya, Gio. Kami akan pulang. Om ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Tiara yang menjawab, sedangkan Gio terpaku pada sosok wanita cantik yang kini mendekat ke arah mereka.
"Kenapa pulang secepat ini? Tante kan janji dengan ku akan mengizinkan aku bermain dengan Om Gio." Anak itu bersungut dengan kesal.
Tiara merasa bersalah dengan ucapannya waktu itu.
Gio kecil menundukan kepalanya dengan sedih. Keinginannya untuk bermain dengan pria dewasa itu belum terlaksana karena mereka tidak pernah bertemu lagi setelah pertemuan mereka di pantai sore itu.
"Gio, jangan seperti itu," tegur Naura pada putranya. "Tidak baik kau menagih janji. Om ini pasti sedang sibuk dan tidak bisa menemani mu bermain. Mama janji akan membawamu bermain ke tempat bagus nanti siang, ya." Naura mengelus kepala Gio kecil. Anak itu masih saja memberengut.
Gio merasa kasihan melihat anak itu yang sedang bersedih. Dia merendahkan dirinya untuk menyetarakan tingginya dengan anak berusia lima tahun itu.
"Nak. Maafkan aku yang tidak bida bermain denganmu, ya. Aku harus segera pergi karena ada urusan. Kau baik-baiklah denga ibumu. Jadi lah anak yang penurut, ya." Gio berkata menasehati anak itu yang kini menganggukkan kepalanya.
"Apa kita bisa bertemu lagi, Om?" tanya Gio kecil.
"Menurutmu? Apa kita bisa bertemu lagi?" Gio tidak mau memberikan janji pada anak itu. Sebuah janji seperti hutang baginya. Berat, apalagi anak ini adalah anak mantan kekasihnya.
"Kita pasti akan bertemu lagi, kan?" tanya Gio kecil.
"Bisa jadi. Aku tidak mau menjanjikan hal itu, karena aku tidak tahu kita kan bertemu lagi atau tidak di kemudian hari."
"Gio kau jangan bicara seperti itu, kau bisa mebuatnya bersedih." Tiara berkata untuk memberi peringatan pada suaminya. Gio kecil semakin menundukkan kepalanya menatap ujung sepatunya yang lancip.
"Tidak apa-apa, Tante. Memang kita tidak boleh banyak berharap dengan orang lain." Gio kecil berkata dengan lirih. Namun, bisa terdengar oleh semua yang ada disana.
Dari nada dan cara bicaranya yang seperti itu, Gio sepertinya sudah banyak mengalami hal yang tidak menyenangkan di usianya yang sekecil ini, dan pernyataan itu pastilah dia dengar bukan hanya sekali atau dua kali, dan pastinya juga bukan ia dengar dari orang lain.
Heru menatap Naura yang kini masih mengelus kepala puranya, sedetik kemudian Naura juga menoleh ke arah Heru hingga pandangan mata mereka beradu.
Heru berjalan mendekat ke arah Gio dan Tiara. "Saya akan menunggu Anda berdua di mobil," ucap pria itu lalu melangkahkan kakinya pergi menjauh.
Naura menatap kepergian Heru yang tidak menoleh lagi kepadanya. Bahkan sekedar kata perpisahan atau senyum pun tidak dia dapatkan dari pria itu.
Gio bangkit, dia mengelus pipi chubby anak itu.
"Maafkan atas ketidak sopanan anak saya." Naura menganggukkan kepalanya sedikit.
Gio terdiam melihat perlakuan mantannya ini yang kaku. Ada rasa sesak di dadanya yang tidak bisa ia artikan selama ini. Marah kah? Kecewa? Atau apa?
Tiara yang melihat Gio hanya terdiam mengambil tangan anak itu. "Gio ikut Tante, yuk. Sebagai permintaan maaf Tante. Tante akan belikan kamu eskrim yang besar. Mau tidak?" tanya Tiara membujuk anak itu. Gio yang semula hanya menunduk kini mengangkat kepalanya dan menatap Tiara dengan wajah yang berbinar senang.
"Mau." pekiknya dengan riang.
Gio menatap istrinya tidak percaya. Rasanya pasti akan aneh jika dia ditinggal berdua dengan wanita ini.
Tiara tersenyum ke arah Gio dan menganggukkan kepalanya. Gio menghela nafas kasar. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan istrinya ini. Apa maksudnya?
"Aku akan membawa Gio ke restoran sebentar." pamit Tiara lalu menarik pelan tangan Gio kecil untuk mengikutya.