DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 175



Gio bangkit dari lantai yang dingin. Dia sudah menenangkan dirinya sendiri. Tak ada lagi air mata sialan yang sedari tadi baru bisa ia kendalikan. Ini hal terberat dalam dirinya. Keluarga, atau cintanya!


Segera Gio melangkahkan kakinya ke arah luar, dia akan menemui Tiara di kantornya. Meminta maaf atas segala perlakuan mama yang kasar.


Membuka pintu ruangannya. Gio tak menemukan Tiara disana, bahkan tas nya juga sudah tak ada. Pandangannya tertuju padameja kerjanya, sebuah kertas terlipat rapi di atas meja kerja milik Gio.


Gio mendekat dan membaca kertas itu. Itu adalah surat pengunduran diri milik Tiara. Meremas surat itu di tangannya hingga kusut, Gio tak terima. Gadis itu meninggalkannya begitu saja. Padahal ini masih bisa di bicarakan, mungkin mama juga akan mengerti kalau mereka bicara lagi malam nanti.


Gio segera berlari ke arah lift, dia menekan tombol menuju lantai basemen.


Gio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak lupa dia juga terus memperhatikan titik merah dimana lokasi Tiara berada saat ini. Semenjak Tiara pergi ke pantai hari itu Gio diam-diam memasang alat pelacak di hp Tiara. Bukan apa-apa, ah... bilang saja kalau dia itu posesif atau apalah, dia hanya tak ingin terjadi sesuatu pada Tiara. Hanya itu!


Urusan Tiara dengan Alea dan juga Kenzo sudah selesai, harusnya mereka berdua bisa hidup dengan senang dan bahagia kan sekarang? Tapi kenapa mama dan papa tega melakukan itu padanya?


Gio terdiam menatap banyak batu nisan di depannya, tak jauh dari tempatnya berdiri terlihat serang gadis yang sedang duduk bersimpuh di sebuah pusara yang sudah berlumut. Dia memeluk pusara itu seraya menangis dengan tersedu. Suara tangisannya terdengar menyayat hati. Sakit...


Hati Gio sakit mendengar Tiara menangis seperti itu.


Perlahan Gio melangkah mendekati Tiara. Tepat berhenti di belakang punggung gadis itu.


"Maaf!" suara bariton Gio terdengar di dekat telinga Tiara. Tiara menghentikan tangisnya dan mengusap pipinya dengan menggunakan punggung tangan. Dia tak ingin menatap Gio dan memperihatkan wajah sedih pada kekasihnya. Ah... tidak sebentar lagi dia akan menjadi mantan kekasih sepertinya. Mengingat Nyonya Anyelir akan mengirim Gio ke tempat yang jauh.


"Ra. Maaf, Mama menyuruhku untuk memilih." Semakin sedih rasa hati Tiara mendengar kalimat yang baru saja Gio katakan.


"Dan jawabanmu?" Tiara masih menghindar sekuat tenaga berusaha tak menoleh ke arah Gio.


"Aku tak tahu. Kalian sangat berharga buatku. Aku sangat sayang dengan keluargaku, tapi aku juga sangat sayang padamu." Gio duduk di lantai beralaskan tanah, tak peduli dengan kotor. Dia menyandarkan kepalanya di lengan Tiara. Seakan meminta perlindungan dan juga kenyamanan dari gadis itu. Semoga saja mendapat jawaban yang membuat dia tak ada dalam dilema seperti ini.


"Apa yang harus aku lakukan, Ra?" Tiara terisak, dia memalingkan wajahnya ke arah samping, menggusapnya dengan tangan yang lain. Gio menatap pusara ayah Tiara. Dia tahu pasti jika Tiara tak ingin dilihat saat dia rapuh seperti ini. Meski ingin memeluknya tapi Gio menahan diri.


"Keluargamu lebih berharga. Mereka yang sudah bertahun-tahun mengurus dan memberi kasih sayang mereka padamu. Jika tak ada mereka, kau tak mungkin hidup seperti ini. Pilih mereka saja yang sudah jelas memberi kasih sayang padamu selama ini!" tutur Tiara. Tiara juga sama mendudukkan dirinya di lantai tanah. Kini Gio mengalihkan kepalanya di pundak Tiara.


"Kenapa kau tak mengatakan untuk memilihmu?" tanya Gio. Masih menatap pusara di depannya.


"Aku ini siapa? Aku hanya orang asing yang baru kau kenal beberapa bulan yang lalu." ucap Tiara pasrah. Dia sadar dengan dirinya, tak ada apa-apa di banding dengan keluarga Aditma yang sudah membesarkan Gio dengan kasih sayang.


"Tapi aku cinta dengan mu,. Aku sayang kamu, Ra. Apa hatimu tak sakit mengatakan hal barusan? Dan lalu ... apa hatimu tak akan luka jika aku memilih mereka?" Gio bertanya.


"Akan ada banyak hati yang terluka jika kau memilihku, Gio. Mama, papa, Pak Axel, dan juga kakak pertama. Sedangkan aku... hanya ada aku dan ibu, setidaknya hanya ada dua hati yang sakit setelah kua pergi, bukan?"


Haruskah Gio kagum, atau sedih dengan luasnya hati gadis ini? Dia benar-benar merasa sayang meninggalkan Tiara.


Tiara bangkit berdiri, membuat Gio menarik tegak kepalanya.


Gio menatap kepergian Tiara. Punggung itu tak tegak lagi seperti biasa saat Tiara masuk ke dalam kantor. Tak terlihat lagi wajah berseri yang dia lihat saat pagi hari gadis itu membuka pintu ruangan.


Gio segera bangkit dan mengejar Tiara. Menahan tangan gadis itu saat dia sudah dekat dengannya.


"Tiara tunggu! Kita harus bicara!" Gio kini berjalan di depan Tiara dan menarik tangan gadis itu yang kini terpaksa mengikutinya. Entah kenapa Tiara hanya diam saat Gio menariknya seperti itu, padahal tadi dia berharap tak akan terlalu sakit jika meninggalkan Gio tanpa pamit. Tapi setelah ini bukankah perpisahan mereka akan sangat menyakitkan karena adanya kata selamat tinggal? Entah dari dirinya atau dari mulut Gio.


Takdir memang kejam untuk dirinya. Di tinggal sang ayah, di abaikan kakaknya, dan juga sekrang dia akan di tinggalkan lagi oleh orang yang sangat di cintainya.


Tiara mengusap sudut matanya yang tak berhenti mengeluarkan air mata.


...***...


Gio membawa Tiara ke apartemennya. Ada banyak hal yang ingin dia sampaikan pada gadis itu. Banyak sekali! Selama dalam perjalanan mereka hanya diam tak berbicara satu patah katapun. Sibuk dengan hati mereka masing-masing dan menatanya serta menguatkannya sedemikian rupa agar tak pecah dan berantakan saat keduanya nanti bicara.


Gio menatap Tiara yang kini duduk di depannya. Gio berlutut di hadapan Tiara, membuat hati Tiara sakit luar biasa. Apakah ini kata maaf sekaligus perpisahan dari Gio untuknya?


"Aku sangat sayang dengan mu Tiara. Tak pernah terpikirkan olehku untuk menyakiti kamu. Meski iya bukan kau yang pertama di dalam hati ini, tapi aku selalu berharap kau yang terakhir disini."


Gio menempelkan telapak tangan Tiara ke dadanya. Dia merasa sakit luar biasa. Ini hal yang terberat yang pernah ia temui di dua puluh lima tahun hidupnya. Dia tak pernah menangis saat dirinya di tinggalkan. Tapi kali ini dia menangis saat dirinya akan meninggalkan!


Dia tahu jelas bagaimana rasanya. Sakit dan juga merana. Tak tega jika Tiara akan merasakan hal itu setelah kepergiannya.


"Aku akan memohon pada mama supaya kau tak di pecat." ucap Gio pada Tiara, ia menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Tiara. Tiara menggelengkan kepalanya dengan pelan. memegang tangan besar Gio yang tak akan pernah bisa ia raih lagi esok hari.


"Apa artinya jika kau tak ada disana?"


"Kalau begitu izinkan aku untuk terus sama kamu!" Mohon Gio. Dia menggenggam tangan Tiara dengan kedua telapak tangannya. Sekali lagi Tiara menggelengkan kepala.


"Dan kau akan jadi anak durhaka?" Tiara mencoba tersenyum, dia memukul kening Gio dengan tangan yang lain.


Gio melabuhkan kepalanya di pangkuan Tiara, dia biarkan cairan hangat yang keluar dari matanya. Berharap jika akan habis dan selanjutnya tak akan lagi ada air mata atau kesedihan di dalam dirinya, meskipun rasanya tak akan mungkin! Tiara adalah segalanya untuknya!


Tiara bergantian mengusap air mata dan juga kepala Gio. Sangat berat untuknya berpisah dengan pria ini, tapi mau bagaimana lagi jika memang Nyonya Anye sudah berkata. Jangan sampai Gio menjadi anak durhaka karena dirinya!


Gio mengangkat kepalanya, dia menatap Tiara yang kini sama menatapnya juga.


"Bisa aku meminta sesuatu padamu? Aku ingin tidur denganmu!" ucap Gio, Tiara terdiam. Haruskah dia memberikannya? Gio dan dirinya tidur bersama, lalu nanti... apakah dia akan... kalau nanti itu terjadi, bagaimana dengan kehidupannya dan anaknya?


"Jangan berpikiran yang kotor, Dasar Sekretaris Mesum!" Gio menjepit hidung Tiara cukup keras.


"Aku hanya akan tidur siang dengan memelukmu, bukan melakukan yang tidak-tidak terhadapmu."