DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 34



Sudah tiga hari ini aku tidak ke sekolah. Semua permasalahan ini membuatku pusing dan down. Harusnya kemarin aku terima saja tawaran Edgar untuk menikah dengannya. Benar. Harus nya aku terima, mungkin sampai saat ini aku tidak akan tahu kalau aku hanyalah anak angkat mama dan papa. Kak Mel juga tidak akan membenciku. Dan...


Mama... Apakah mama masih menangis? Maaf mama aku bukan anak yang berbakti. Meskipun aku bukan anak mama, tapi aku sayang mama.


Apa yang aku lakukan?!


Aku sudah membuat semua orang patah hati. Mama, papa, Kak Mel, Edgar, dan secara tidak langsung mama dan papa Devan.


Dasar aku egois! Dengan siapapun aku, pastinya ada yang hatinya terluka.


Jika aku menerima tawaran Edgar, tentu aku akan merasa berdosa karena membohongi keluarga mereka.


"Tidak apa-apa. Aku akan bilang kalau kita melakukannya atas dasar cinta. Mama dan papa tidak akan marah. Kalaupun kita di usir, aku masih punya usaha lain untuk bisa menghidupi keluarga kecil kita. Aku sangat cinta sama kamu dan aku terima kamu dengan anakmu." itu yang Edgar katakan saat pagi itu di balkon. So sweet kan dia? Tapi jujur aku masih bingung. Ini tidak adil bagi Edgar dan Sofia. Dan juga keluarganya. Maka dari itu aku menolak Edgar. Keluarga mereka sudah terlalu baik padaku. Bahkan kasih sayang yang orangtuanya berikan padaku sama besarnya pada anak-anaknya.


Hari semakin sore, awan sudah mulai berganti warna dengan lembayung yang masih terlihat tipis. Suara kendaraan di luar sana terdengar riuh. Pastilah ramai karena ini waktunya orang-orang pulang dari aktifitas bekerjanya.


Ini yang selalu aku lakukan selama tiga hari ini. Hanya duduk diam di atas meja, menatap ke arah luar, mengamati aktifitas manusia yang terlihat kecil di bawah sama. Seperti semut yang berkoloni.


Tiap lima belas menit pengawal yang berjaga di depan pintu masuk ke dalam dan memastikan keamananku. Takut jika aku akan melakukan hal yang tidak di inginkan seperti dua hari lalu. Saat aku sedang berada di puncak fustasi tanpa sadar aku sudah menggenggam pisau dapur dan mengarahkannya ke urat nadi tanganku. Aku sudah gila!!


Kalau saja Devan waktu itu tidak segera datang bisa di pastikan aku sudah berada di alam lain. Tapi mungkin itu lebih baik bukan?


Aku benar-benar gila!!


Sejak saat itu benda-benda tajam dan yang memungkinkan membuat aku terluka di singkirkan.


Pintu terbuka. Tanpa menoleh pun aku tahu itu pengawal Devan, lalu puntu tertutup kembali. Sayup-sayup aku dengar dia berbicara dengan seseorang.


"Nona masih ada di tempatnya. Tidak berubah sedari tadi pagi." lirih, ku dengar dia melaporkan kegiatanku yang monoton. Selain pulang pergi ke kamar mandi karena harus muntah.


Apa dia tidak bosan mengecek keadaanku dan melaporkan hal yang sama berulang kali?


Aku kembali mengamati semua pergerakan di luar sana. Jendela terkunci dari luar. Tepatnya Devan membuat jendela ini tidak bisa di buka. Sial!!


Kalian berfikir aku akan lompat? Benar! Memang itu yang aku fikirkan! Tapi Devan ternyata sudah memikirkannya sebelum aku punya ide gila itu belakangan ini.


Pintu kembali terbuka. Kali ini Devan. Aku tahu dari aroma parfumnya.


"Sore honey!" Devan mengecup keningku.


"Lihat apa yang aku bawa." ucapnya sambil membuka bungkusan dan memindahkan pada mangkok yang sudah ia bawa dari dapur. Aku tidak penasaran, bahkan aku tidak mengalihkan pandanganku dari jalanan di depan sana, hanya terlihat apa yang dia lakukan dari sudut mataku.


"Ah atau kamu mau ayam bakar. Ya kan? Aku juga bawa ini, ini yang sering kita beli dulu. Walaupun sekarang penjualnya bukan pak Mud lagi, tapi sudah beralih pada anaknya." Sesuatu yang khas tercium saat Devan mengeluarkannya dari plastik hitam. Wangi khas pembakaran menyeruak berusaha menggoda ku. Tapi aku juga tidak berselera dengan apa yang di bawa Devan.


Devan membuka nya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di depanku. Dia mencuilnya sedikit dan mengambil nasi dengan tangannya. Menyodorkannya di depan mulutku lengkap dengan sambal. Aku masih tetap diam. Devan menghela nafas berat. Pasti dia pusing dengan tingkah lakuku selama tiga hari ini.


Diusapnya perutku yang masih rata. Nyaman!


"Sayang. Honey. Kamu harus makan, ada anak kita yang harus dijaga dengan baik. Dia juga pasti lapar. Tadi siang kamu cuma makan dua suap, kan? Kasihan anak kita dia juga butuh asupan." Ya, selama tiga hari ini Devan lah yang menyuapiku, saat sarapan, saat makan siang dia juga selalu menyempatkan untuk pulang demi membujuk aku makan. Devan mendekatkan dirinya menurunkan kedua kakiku hingga berada di kedua sisi tubuhnya yang duduk di kursi. Dan mendekatkan kepalanya ke perutku. Menciuminya beberapa kali.


"Hai my boy. Bilang sama mom mu kalau daddy disini sangat cemas. Suruh dia makan. Dan suruh dia berikan senyuman pada dad mu ini. Bilang sama mom, kalau dad kangen dengan ocehan dan omelannya. Dia seperti patung sekarang, dad rindu dengan pukulan mautnya."


Dasar Devan gila! Apa dia sudah ketularan gilanya sama sepertiku? Dan belum tentu juga anakku boy!


"Please dad mohon bicaralah sama mom, supaya dia mau makan. Dad sangat rindu dengan mom mu! Rasanya dad memilih mati saja daripada melihat mom mu yang mendiamkan dad. Apa gunanya dad hidup jika membuat mom mu menderita. Semua karena salah dad. Kalau saja malam itu dad bisa menahan diri, pastilah ini tidak akan terjadi."


"Bukan dad tidak bahagia dengan kehadiran mu, tapi dad hanya tidak mau melihat mom sedih. Dad benar-benar tidak kuat. Dad hanya ingin membuat kalian bahagia. Hanya itu!" matanya berkaca-kaca, bahkan air mata itu siap tumpah.


Aku beranjak turun ke pangkuannya. Memeluknya dengan erat. Devan balas memelukku dengan isakan pelan. Kenapa ayah dari anakku ini cengeng sekali?!


Semua bukan salah Devan, tapi bajingan itu! Kalau saja dia tidak mencampur minumanku dengan obat pasti semua masih baik-baik saja!


Benar! Aku harus menjelaskan semua ini pada kak Mel. Awal dari bagaimana aku bisa menghabiskan malam dengan Devan! Kenapa aku bodoh tidak memikirkan hal ini? Mungkin saja kak Mel bisa menerima penjelasanku, dan dia tidak akan marah lagi, setidaknya dia akan mendengarkan dan tidak menganggapku sebagai wanita penggoda.


"Aku mau makan."


Devan merenggangkan pelukannya. Menatapku tidak percaya. Matanya berbinar dengan senyum mengembang. Lama dia menatapku.


"Aku mau makan, Dev!" ucapku lagi membangunkan dia dari rasa terkejutnya. Ini kali pertama aku mengajaknya berbicara setelah tiga hari ini hanya menangis dan menangis.


Devan merengkuh kedua pipiku lalu menghujaniku dengan ciumannya.


"AKU MAU MAKAN, DEVAN!!!!" teriakku akhirnya, kesal! Bukannya marah dia semakin banyak mencium seluruh wajahku.


"Tidak jadi makan!" sungutku akan bangkit tapi di tahan oleh kedua tangannya di pinggangku.


"Oke, makan. Aku akan suapi!" ucapnya dengan penuh sukacita, lalu mengambil ayam goreng dan mulai menyuapiku.


"Tidak mau ini. Aku mau rujak!"


"Tiga suap, baru boleh makan rujak!"