DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 178



Aku terbangun saat mendengar suara isak tangis seseorang. Suara tangis yang terdengar menyayat, tersedu. Ku lirik wanita yang ada di sebelahku.


Wanita?


Aku terkejut sendiri, hampir melompat dari tidurku.


Rambutnya panjang terurai. Punggungnya terlihat mulus, pinggangnya ramping. Dia tidur meringkuk membelakangiku.


Siapa?


Aku bangun dan mencoba mengingat. Satu persatu bayangan-bayangan nyata terlintas di otakku. Menarik. Mengikat. Memp... Astaga! Nanda!


Aku melompat mendekat ke arahnya, melupakan rasa kantuk dan pusing yang masih menderaku. Dan melupakan selimut yang tak lagi membungkus tubuhku. Dia menangis terisak, hampir tanpa suara.


"Nanda. Aku mohon maafkan aku!" ku lepas ikatan dasiku di tangannya yang kini membiru. Apa yang aku lakukan? Banyak tanda merah di sekujur tubuhnya, dan... bercak darah di atas seprai? Apa yang telah aku lakukan?! Oh ya Lord!!


"PERGI!!" teriaknya seraya mendorongku hingga terjengkang di atas kasur. Dadaku memang sakit karenanya, tapi hatiku terasa jauh lebih sakit melihat dia yang kacau karena ulahku.


"Pergi!" lirihnya serak, dia menarik selimut dan menyelimuti tubuh polosnya. Kali ini menangis dengan hebat. Menangis meraung-raung. Matanya bengkak, merah, pastilah karena semalaman dia menangis. Bibirnya juga bengkak, ada bekas luka disana. Apa itu juga ulahku?


"Maafkan aku, Nan! Maafkan aku." Aku mendekat ke arahnya. "Aku gak sengaja, sumpah! Aku akan tanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku...."


Plaakkkk!!!!


Satu tamparan keras mendarat di pipiku, sakit! Tapi aku tahu tamparan ini bukan apa-apa dengan yang sudah aku lakukan padanya semalam! Pastilah dia merasa jauh lebih sakit daripada pipiku ini.


"Aku mita maaf, Nan. Aku terpengaruh obat semalam, ada yang kasih aku...."


"Pergi.... huhuuuu.... hiks...pergi!" ucapnya tanpa suara di akhir kalimat. Dia menunjuk ke arah luar. Tangisannya membuat aku merasa aku adalah manusia paling terkutuk di dunia ini.


"Nan. Aku mohon!"


"PERGI SAMUEL! AKU BENCI KAMU! SAMPAI KAPANPUN AKU GAK AKAN MAAFKAN KAMU!!" dia histeris, berteriak seraya menatapku tajam dengan mata merahnya. Baru kali ini aku mendengar dia menyebutkan namaku secara langsung, apalagi dengan nada murka seperti itu. Kalau sudah begini, membujuknya pun aku yakin malah semakin membuat moodnya lebih buruk.


"Maaf!" lirihku lalu bangkit, mengambil celanaku, memakainya, dan pergi meninggalkan dia.


Duduk di sofa tak jauh dari kamarku. Ya, itu kamarku! Anye dan Devan menyediakan satu ruangan khusus kalau-kalau aku ingin menginap disini.


Terdengar suara tangis menyayat hati dari dalam sana. Berteriak lalu menangis lagi.


"Apa yang aku lakukan?!" aku menunduk, mengacak rambutku dengan rasa frustasi.


Ingat jika aku tidak pernah melihat gadis itu menangis sama sekali, tapi kali ini aku membuatnya murka dan menangis hebat. Dia pasti akan benci aku! Dan Anye pasti akan memotong milikku, dan menggantungnya dengan tali untuk jadi makanan piranha.


Dia wanita yang kejam! Dulu dia pernah bicara seperti itu kalau aku mempermainkan hati perempuan. Apalagi ini, sahabat yang di sayanginya. Apa yang akan dia lakukan padaku?!


Entah berapa lama aku menunggu dia disini, dia tidak membuka pintunya sama sekali. Apakah dia baik-baik saja?


Jam sudah menunjukan pukul sembilan, aku yakin Nanda tidak akan merasa lapar dengan kejadian yang sudah terjadi seperti ini, tapi dia juga manusia yang butuh asupan bukan?


Aku bergegas pergi ke arah dapur, melihat isi stok makanan di dalam kulkas. Masih banyak. Segera aku memasak makanan yang aku bisa. Secepat yang aku bisa.


Dapur berantakan. Aku tidak peduli! Yang aku pedulikan sekarang adalah Nanda!


Menunggu hampir setengah jam, Nanda tidak keluar dari sana. Sudah lebih dari satu jam dia di dalam kamar mandi. Aku khawatir!


Kali ini ku beranikan diri mengetuk pintunya perlahan, tak ada jawaban. Lalu ku ketuk lagi agak keras seraya memanggil namanya. Masih tak ada jawaban!


Apa yang sedang dia lakukan?


Khawatir. Ku dobrak saja pintu itu. Nanda terkulai di lantai kamar mandi. Matanya tertutup. Tubuhnya basah, air dari kran masih menyala mengguyur tubuh polosnya. Bibirnya membiru, jari-jari tangannya menciut.


"Nanda!" ku matikan kran air dan mendekat ke arahnya, menggoyang bahu polosnya sedikit keras. Dia tidak bereaksi, tapi masih bernafas. Dia pingsan!


Ku gendong dia, dan membaringkannya ke atas ranjang. Rambut panjangnya membasahi kasur dan juga bajuku.


"Nanda, bisa dengar aku?" aku menepuk pipinya pelan.


"Nanda kumohon, bangun!" Rasa takut kini menyelimuti diriku. Dia seperti ini karena aku! Kulitnya terasa dingin. Pastilah karena dia terlalu lama mengguyur dirinya di dalam sana.


Ku selimuti dirinya dan ku telfon seorang dokter untuk datang ke rumah. Aku payah karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyadarkannya.


Tak lama dokter datang dan memeriksa Nanda. Membuka kelopak mata Nanda yang masih tertutup. Lalu membuka dua kancing kemeja yang tadi aku pakaikan padanya.


Dokter terdiam menatap banyaknya tanda di dada dan leher. Dia beralih menatapku, hanya diam, tapi aku sepertinya tahu apa yang sedang di fikirkan dokter itu.


Dia mengambil stetoskop dari dalam tasnya, dan mulai memeriksa keadaan Nanda. Menempelkan diaphragm di dadanya. Setelah selesai kembali mengancingkan kemeja itu.


"Dia tidak apa-apa, hanya shock! Setelah dia bangun segera berikan obat ini untuknya." ucap dokter itu setelah memeriksa keadaan Nanda, dia kemudian menyerahkan beberapa obat padaku.


"Maaf jika saya lancang, pak! Tapi setelah semua yang anda perbuat, saya harap anda tidak meninggalkan dia. Kami para wanita memang kadang terlihat kuat, tapi di dalam sini kami sangat rapuh. Apalagi dengan apa yang sudah terjadi padanya!" dia menyentuh dadanya sendiri.


"Meskipun dia akan terlihat tegar dan kuat nantinya, tapi di dalam hatinya ada luka terbuka menganga lebar yang sulit untuk di tutup kembali!"


Aku termenung mendengar ucapannya. "Ya, tentu dokter! Aku mengerti. Ini semua salahku!" sesalku. Ku tatap Nanda dengan wajah pucatnya tengah tertidur.


Dokter itu pamit setelah melaksanakan tugasnya. Aku memang tidak bercerita padanya, tapi dokter itu ternyata mengetahui apa yang terjadi. Mungkin dia mengira-ngira setelah melihat tanda-tanda yang ada di tubuh Nanda. Dan mungkin juga karena mereka sesama wanita, bisa merasakan penderitaan sesamanya.


Semua salahku! Ku tatap lagi wajah pucat itu. Tidak cantik, tapi entah kenapa aku tidak ingin memalingkan pandanganku darinya.


Maafkan aku, Nan. Maaf.


Aku janji akan bertanggung jawab atas kesalahanku!