
Hup...
Sepasang tangan besar menahan laju Cantik yang hampir saja terjatuh ke aspal hitam jalanan. Untung saja masih sempat, kalau tidak pastilah wajah yang cantik ini akan lecet dan lebam.
"Hei... Apa yang kau lakukan?" Romi menunjuk lantang pada Maria yang kini membulatkan matanya. Terkejut dan tak menyangka jika pria ini ada di dekat sini dan membantu Cantik. Dia salah tingkah, antara malu dan juga takut, mungkin setelah ini dia akan di benci.
"Maria!!" teriak Romi saat yang ditanya tak menjawab.
"A...aku tidak melakukan apa-apa. Kami hanya sedang berbincang dan tanganku licin!" kilah Maria. Febi yang di lirik Maria segera melepaskan kuncian tangannya pada tangan Tiara.
"Bohong, Pak. Mereka menyerang kami! Ada banyak saksi yang melihat Maria menyerang Cantik!" Tiara berseru sambil menghambur ke arah Cantik yang kini berdiri di samping Romi. Memeluknya dengan erat.
Romi menatap Maria dengan tajam. Dia tahu persis Maria menyukainya, tapi bukan cara seperti ini yang harus dilakukan untuk meluapkan kekesalannya.
"Kalian masuk ke dalam mobil!" titah Romi pada Tiara dan juga Cantik. Kali ini tidak ada bantahan atau sok jual mahal seperti sebelumnya. Tiara segera membawa Cantik ke dalam mobil milik Romi.
"Kau tidak apa-apa, Cantik?" tanya Tiara khawatir. Cantik hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tiara mengambil tisu yang ada di dalam tasnya dan menempelkannya di kening Cantik yang luka. Sedikit berdarah karena tadi pastilah Maria mendorongnya dengan keras.
"Kenapa Maria menyerangmu dan menuduhmu menyerangnya semalam? Apa itu benar berita yang aku dengar kalau dia di serang di toilet? Kau kan juga dari toilet?' tanya Tiara menatap Cantik dengan tajam. Ingat dengan Cantik yang semalam cukup lama di toilet.
Cantik menatap ke arah lain.
"Cantik!" panggil Tiara, dia ingin jawaban. Dan sepertinya sikap Cantik ini adalah jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Aku hanya membela diri. Dia sendiri yang datang padaku dan ingin menganiayaku, menuduhku merebut Romi darinya. Aku tentu tidak terima! Jika dia tidak berbuat kasar tentu aku juga tidak akan kasar padanya!" jawab Cantik masih dengan menatap ke arah lain.
"Haa...haa.... Kau ini lucu sekali!" Cantik menoleh heran pada Tiara. Temannya ini tertawa? Apa yang dia tertawakan? Apa yang dia sebut lucu?
"Kau tertawa kenapa?" tanya Cantik.
"Aku dengar semalam kau bisa mengalahkan keduanya dan menguncinya di toilet, lalu kenapa barusan kau kalah?" tanya Tiara masih dengan terkekeh. Cantik tak menyangka jika Tiara akan mengatakan hal itu. Dia kira Tiara akan memarahinya.
"Barusan aku terkejut. Dan aku tidak sempat mengeluarkan jurus harimau ku!" seloroh Cantik membuat tawa Tiara semakin keras.
"Haahhh...!" Cantik menutup mulutnya dengan kedua tangan menatap pemandangan di luar.
"Ada apa?" tanya Tiara bingung.
"Pak Romi barusan di tampar oleh nenek lampir!" ucap Cantik. Tiara langsung menoleh ke arah luar, tapi dia melihat kejadian setelah itu. Maria dengan marah dan juga langkahnya yang kasar berjalan meninggalkan Romi yang kini masih terdiam di tempatnya. Maria dan Febi menjauh.
Cantik dan Tiara mengiringi Romi yang kini berjalan memutari mobil dengan tatapan mereka.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Romi setelah masuk ke dalam mobil.
"Kami baik saja, Pak. Tidak apa-apa." jawab Tiara.
"Pak Romi, apa kita bisa mampir ke apotek dulu? Cantik terluka keningnya!" pinta Tiara.
"Oke!" jawab Romi.
Romi kembali fokus pada jalanan, tak lama dia menghentikan kendaraanya di depan sebuah apotek kecil.
"Aku akan cari obat. Kalian tunggu sebentar!" ucap Tiara. Cantik mengangguk. Tiara segera turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam apotek untuk mencari obat.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar semalam kau yang menyerang mereka?" tanya Romi tanpa mengalihkan pandangan dari depan.
"Kalau Bapak ingin tahu, jawabannya adalah iya. Memang aku yang menyerang dan mengunci meteka di dalam bilik toilet. Terserah bapak mau marah padaku atau Bapak mau membenciku. Dia darang dan menyalahkanku karena dekat dengan Bapak. Ya, mungkin karena semalam dia melihat kita bergandengan tangan. Salahkan saja aku karena telah memancing kemarahannya hingga membuat dia menyerangku duluan. Tapi maaf, Pak. Aku bukan tipe wanita yang hanya akan diam saja saat ditindas!" ucap Cantik panjang kali lebar. Dia tahu pasti Romi menyalahkannya karena hal ini.
"Kenapa kau tidak menghindari mereka?" kali ini Romi sedikit meolehkan kepalanya.
"Bagaimana aku akan menghindar kalau mereka menghalangi jalanku?"
"Tapi setidaknya kau bisa teriak meminta tolong bukannya sok jadi wonder woman menghadapi dua orang sekaligus! Kau bisa terluka Cantik!"
"Buktinya tidak! Aku bisa mengalahkan mereka! Dan berhenti memarahiku seakan kau peduli padaku, Pak!" teriak Cantik kesal.
"Aku... Hanya..." Romi tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Bingung apa yang sudah terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa marah dengan hal yang seperti ini?
Pintu mibil terbuka dari luar, Tiara masuk dengan membawa kantong kresek putih berisi obat dan juga salep. Merasakan hawa di dalam mobil yang terasa aneh, tapi entah apa.
"Sini aku obati." Tiara menarik tangan Cantik untuk mendekat. Cantik hanya menurut. Romi menyalakan lampu di dalam mobilnya agar keadaan menjadi terang. Romi menatap dari kaca spion di depannya, bagaimana Tiara mengobati Cantik dengan perlahan. Tapi bukan hanya melihat Tiara seorang, dia lebih memperhatikan ke arah dimana Tiara membubuhkan obat di kening Cantik yang terluka.
Aku gila! batin Romi.
Romi menunggu Tiara selesai mengobati Cantik barulah dia melajukan kembali mobilnya ke jalanan.
"Lain kali kau jangan menghadapi mereka berdua. Kau bisa babak belur lebih dari ini!"
"Lalu apa aku harus mengajakmu? Jadi aku tidak sendiri, hehe..." Tiara menepuk dahi Cantik hingga gadis itu memekik kesakitan.
"Aww ini sakit!" Cantik menjauhkan dirinya dan mengelus keningnya yang tadi di olesi obat.
"Rasakan! Aku bilang jangan menghafapi mereka berdua, bukan berarti kau harus mengajakku? Kau mau aku juga babak belur? Aku tidak mau!" Tiara kesal. Cantik hanya tertawa terkekeh, semua itu tak luput dari penglihatan Romi dari spion di depannya.
"Trimakasih atas tumpangannya, Pak!" ucap Tiara lalu menutup pintu mobil. Tiara menunggu hingga mobil Romi menghilang dari pandangannya barulah dia masuk ke dalam rumah.
Dari seberang jalan, seorang pria menatap lamat ke arah sosok Tiara yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Dia rindu sekali dengan sosok itu, tersenyum bahagia. Besok, dia akan datang dan menemuinya. Memberikan kejutan pada Tiara.