
"Setelah ini, apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Tiara.
Gio menatap mejanya. Dia kemudian pergi kesana dan mengambil beberapa lembar kertas. Kembali lagi ke meja Tiara dan menyimpan berkas itu di hadapannya.
"Ketik ulang ini di komputer, dan berikan padaku via email, satu jam kemudian!" ucap Gio lalu pergi ke kursinya tanpa mendengar jawaban Tiara.
Tiara menatap tugas pertamanya. Di bukanya lembar demi lembar dan membacanya sekilas.
'Banyak sekali! Masa sih ini tidak ada copy-an file nya?' menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pak!" panggil Tiara pada Gio.
"Hem?!" hanya itu jawaban Gio.
"Berkas sepenting ini pasti ada di komputer bapak." ucap Tiara. Gio mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya pada Tiara.
"File nya hilang. Kenapa? Tidak mau mengetik?" Gio dengn nada dinginnya. Tiara yang di tanya seperti itu terkesiap.
Kan cuma nanya! Masa sih file sepenting ini gak ada salinannya? cibirnya dalam hati.
Dia merutuki kebodohannya karena terbuai oleh senyuman Gio tadi, tapi sekarang pria itu menyebalkan!
Bisa tidak kalau bicara itu dengan nada halus? Tiara itu wanita! Meskipun dia agak bar-bar, tapi kan hatinya tetap wanita!
Meskipun dengan bibir yang mengerucut, Tiara melakukan tugasnya juga. Dia segera mengetik dan menyalin berkas dari kertas itu.
Suara tangan yang beradu dengan keyboard terdengar jelas di telinga Gio.
Gio melirik Tiara. Gadis itu fokus dengan pekerjaannya. Matanya fokus menatap layar, lalu beralih pada kertas, dan beralih lagi pada layar.
'Haaahhh aku udah lama gak main laptop, jadi kaku deh nih tangan!' Semenjak lulus kuliah, Tiara hanya sesekali membuka laptopnya, itupun untuk bermain facebook, atau mencari lowongan pekerjaan. Kebanyakan ia lakukan dari hpnya.
Gio tersenyum tipis melihat Tiara yang kini hanya diam. Ah, sepi juga!
"Tiara," panggil Gio.
Saking fokusnya Tiara tidak mendengar panggilan bosnya.
"Tiara!" panggil sekali lagi.
"Iya, Pak?" kali ini menoleh dan menghentikan laju tangannya.
"Saya belum minum kopi pagi ini. Bisa tolong buatkan?" pinta Gio.
"Baik, Pak!" tidak bisa protes. Dia hanyalah asisten!
Tiara bangkit dan berdiri. Terdiam sebentar.
"Pantry-nya dimana, Pak?" tanya Tiara.
"Tidak usah ke pantry. Itu ada dispenser." tunjuk Gio.
tiara segera mendekat ke arah dispenser, sudah ada beberapa cangkir disana dan juga tisu, beberapa kopi instan, dan juga kopi bubuk dan gula.
"Bapak suka kopi apa?" tanya Tiara.
"Buatkan saya kopi hitam. Saya tidak suka kopi instan"
"Baik!"
Tak lama secangkir kopi sudah jadi, Tiara membawanya ke hadapan Gio.
"Silahkan, Pak!" Tiara menyimpan kopi yang masih mengepulkan asap tipis.
"Trimakasih." hanya itu yang Gio ucapkan. Tiara menyimpan nampan kembali ke tempatnya dan dia juga kembali duduk. Meneruskan pekerjaannya.
Tidak sampai lima menit.
"Tiara. Kopinya terlalu manis!" panggil Gio.
Tiara bangkit dan mendekat ke meja Gio.
"Maaf, saya lupa bilang kalau saya tidak terlalu suka manis." ucap Gio.
"Baik, Pak. Akan saya ganti." Tiara mengambil cangkir kopi milik Gio. Kembali lagi ke arah dispenser. Dia mengulang membuat kopi untuk kedua kalinya.
"Ini, Pak!" Tiara kembali lagi ke tempatnya setelah menyerah kan kopinya.
Selang tak lama kemudian.
"Tiara. Kopinya terlalu pahit!" panggil Gio lagi.
Tanpa curiga gadis itu kembali berdiri. Dan mengganti kopi untuk ketiga kalinya.
"Tiara, kenapa kopinya tidak panas?"
Bagaimana aku bisa menyelesaikan ini dalam satu jam kalau dia panggil terus!
Tiara mulai kesal. Dia mengeratkan jari-jari tangannya di sebelah keyboard-nya. Lalu menarik nafas dan menghembuskannya. Dadanya panas, bergejolak ingin marah, tapi ia tahan.
"Baik, Pak!" lagi-lagi dia harus bertemu dengan dispenser. Kali ini dia menunggu hingga lampu dispenser itu berganti warna.
Klek!!
Dia mengingat kopi yang dia buat tadi. Takaran gula dan kopinya harus pas!
"Pak yang tadi rasa kopinya sudah pas belum?" tanya Tiara, dia tidak mau kalau lagi-lagi Gio memanggilnya hanya karena urusan kopi.
"Sudah!" Terdengar jawaban Gio dari tempatnya.
Tiara kembali memasukkan gula dan kopi ke dalam cangkir, di lanjut dengan menambahkan air panas.
"Sudah ya, Pak. Kalau bapak panggil saya terus, saya gak yakin bisa selesai dalam satu jam!" tutur Tiara kesal. Gio mengalihkan pandangannya.
Gadis ini .... Sebelumnya tak ada yang berani bicara seperti itu padanya!
"Hemm!" jawaban singkat. Sebelum dia membuka mulutnya lagi Tiara sudah menghilang dari hadapannya.
Apa dia punya jurus menghilang? Tidak lihat dia jalan kembali ke kursinya! batin Gio.
"Tiara?" panggil Gio lagi.
Tiara sudah mulai kesal di ubun-ubun.
"Apa lagi, Pak?!" kesalnya. Rasanya lehernya kaku untuk sekedar menoleh, seperti Zombie!
"Cangkir yang tadi, apa sudah kamu buang isinya dan cuci?" tanya Gio. "Saya tidak mau gara-gara bekas kopi jadi banyak semut di kantor saya!"
Haissshhh!!! Tiara ingin sekali menepuk jidatnya sendiri.
"Harus kamu yang cuci ya, saya tidak suka kalau barang saya di sentuh sama sembarangan orang!" tutur Gio.
Apa lagi ini?
"Oke! Dimana pantry-nya?" Pasrah. Tiara kembali berdiri.
"Di ujung lorong belok ke kanan." ucap Gio.
Tiara mengambil beberapa cangkir yang tadi dan membawanya di atas nampan. Dengan langkah kasar ia pergi ke luar, sedikit kesulitan saat membuka pintu, ia membungkuk, menggunakan sikutnya untuk membuka handle pintu, lalu dengan bantuan kaki ia membuka pintu itu lebar-lebar.
Gio tertawa terpingkal di dalam sana setelah kepergian Tiara. Tak tahan rasanya, sedari tadi ingin tertawa.
Axel merasa heran melihat seorang gadis batu saja keluar dari ruangan Gio. Dia berjalan ke arahnya. Tak ada senyum di bibirnya, di tangannya membawa nampan dengan beberapa cangkir kopi yang terlihat masih penuh. Langkahnya kasar dan juga lebar. Bibirnya terus bergerak, samar dia terdengar seperti merutuki seseorang.
Tidak seperti karyawan lainnya yang selalu saja tersenyum ramah padanya meski dari kejauhan. Gadis itu hanya asyik menggerakkan bibir mungilnya. Manyun beberapa senti. Sinar matanya terlihat marah. Wajahnya merah seperti sedang kesal.
"Apa lihat-lihat!" Gadis itu membentak dan memelototi Axel yang menatapnya terus seraya tersenyum seperti pria genit ingin kenalan. Axel tersenyum meringis seraya menggelengkan kepalanya.
Niat ingin ramah malah kena bentak!
Gadis itu berjalan semakin cepat menjauh dari Axel. Axel mencoba tak peduli, dia kemudian masuk ke dalam ruangan Gio.
Terlihat pria kaku itu sedang tertawa terpingkal. Ahhh... pastilah gadis tadi sudah dijahili oleh saudaranya ini.
Gio terdiam dari tawanya. Belum puas sebenarnya melihat wajah kesal Tiara. Dia berdiri untuk menyambut atasannya.
"Sekretaris?" tanya Axel.
Gio hanya mengangguk. Axel juga sama mengangguk nya. Dan hanya mereka berdua yang faham dengan gerakan kepala itu.
"Ya sudah. Aku kesini cuma mau tanyakan itu saja. Kalau sudah dapat, ya syukur lah!" ucap Axel.
"Gio, jangan terlalu keras dengan anak baru. Jangan keterlaluan!" tunjuk Axel ke arah wajah Gio. Dia ingat dengan beberapa cangkir kopi di atas nampan yang di bawa gadis tadi.
Gio tidak suka kopi. Lalu kenapa ada kopi di mejanya sekarang?
Dan lagi tak jauh dari dispenser kenapa banyak sekali kopi instan dan juga kopi bubuk di samping bungkusan teh mahalnya? Dan meja kerja itu?
Gio si pria kaku tak suka perempuan sekarang bekerja satu ruangan dengan makhluk yang namanya wanita? Amazing. Entah dia sudah tertabrak kereta atau tertabrak bus patas hingga isi kepalanya bergeser sedikit!
Pastilah gadis ini bukan gadis biasa, kalau tidak kenapa ia harus repot menyediakan kopi dan juga meja kerja untuk gadis itu?
"Aku tidak keterlaluan! Hanya sedikit mencari hiburan!" Gio terkekeh pelan.