DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 55



Di luar matahari mulai merangkak naik, tapi Devan masih enggan membuka mata. Semalam dia baru saja tidur hampir jam satu malam. Pekerjaannya yang menumpuk terpaksa ia bawa ke rumah. Sedikit rengekan dariku karena sudah tiga malam ini Devan pulang hampir jam sepuluh dari kantor.


Berkas-berkas bahkan masih berserakan di atas nakas, beberapa tercecer di lantai.


Aku bergegas bangun untuk mandi, sebelumnya mengambil kertas yang entah apa di lantai dan menumpuknya menjadi satu dengan yang lainnya di atas nakas. Ujian sudah selesai dua hari yang lalu, dan aku enggan pergi ke sekolah hari ini. Malas. Karena di sekolah juga mau apa kan? Aku ingin tidur seharian ini!


Devan tidur dengan dengkuran halus yang kini sudah biasa aku dengar. Wajahnya semakin tampan kalau dia sedang seperti itu. Menggemaskan!


Meninggalkan Devan dengan mimpi-mimpinya, aku bergegas ke dapur. Ini pertama kalinya aku memegang pisau untuk memasak. Ya, setelah selama ini Devan yang selalu membuatkan makanan untukku, maka hari ini aku akan memasak untuknya.


Membuka kulkas, melihat isi di dalamnya. Ada fillet dada ayam, sayap, ceker, daging sapi, telur, udang, ikan, sayur bayam, sop, dan entah sayur apa yang lain. Aku tidak mau masak yang sulit dan memakan waktu lama. Berjongkok lama di depan kulkas yang dingin itu, masih bingung memilih.


"Nasi goreng saja!" cetusku. Lalu menyalakan hpku, mencari resep nasi goreng.


"Ternyata gak susah. Cuma gini aja bumbunya? Kalau saja mama biarkan aku masuk dapur, tentu aku sudah bisa masak sekarang!" bergumam sambil menghela nafas. Mama memang sedikit memanjakan ku, tidak boleh masuk dapur. Dan aku juga tidak pernah penasaran ingin memasak.


Berkutat dengan kegiatanku, sesekali mengintip ke layar hpku dan melakukan apa yang di instruksikan disana. Rasanya mata ini perih saat memotong bawang, sesekali menyusut ujung mataku yang berair. Tapi aku sering lihat Devan baik-baik saja kalau sedang mengiris benda keunguan ini.


"Kamu sedang apa?" Suara Devan menghentikan kegiatanku. Sekali lagi aku menyusut ujung mataku dan melihat Devan sedang bersandar di tembok dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya masih terlihat bekas sisa tidur nyenyaknya.


"Aku mau buatkan sarapan untuk kamu." Devan kini mendekat dan memelukku dari belakang.


"Buat apa? Kamu lapar? Biar aku buatkan. Tunggu sebentar, aku mandi dulu." mencium belakang leherku. Geli.


"Biar aku yang buat sarapan hari ini. Sebagai istri aku juga ingin belajar siapkan kebutuhan kamu. Boleh kan?" Devan tersenyum, lalu mengusap perutku.


"Tidak mual sama bau bawang?"


"Tidak. Jadi, jangan ganggu aku. Sana mandi." mengusir Devan karena ingin fokus. Adanya Devan di dapur malah membuat ku tidak fokus karena bibirnya yang terus menggelitik leherku.


"Dev, sana!" menghalau dengan sikutku. Devan terkekeh akhirnya melepaskanku.


"Kalau cape jangan di lanjutkan, nanti biar aku yang teruskan."


"Cuma buat nasi goreng saja aku gak akan capek! Sana. Jangan ganggu!!" seru ku. Devan mengalah dan kembali ke kamar untuk mandi.


Aku memasak dengan cepat, kalau Devan selesai mandi dan aku belum selesai memasak pastilah Devan akan mengambil alih pekerjaan ku ini.


Nasi goreng udang dengan telur mata sapi, sayang nya sedikit gosong pinggirannya karena tadi aku tinggal untuk membuat susu, lupa tidak mengecilkan api sebelum itu.


Devan baru saja keluar dari kamar. Dia sudah memakai pakaian kerjanya lengkap, dasi merah, sepatu hitam mengkilap, dan rambut di sisir rapi ke belakang. Dia tersenyum saat melihat ku menata makanan di meja pantry.


"Mau sarapan? Mau aku bikinkan kopi atau teh?" tanyaku.


"Teh saja." Devan terlihat bahagia duduk di kursi menungguku membuatkan teh hangat. Ini hal yang baru pertama kalinya aku perbuat untuk suamiku.


Senyumnya mengembang sangat lebar, tak hentinya menatapku dari kursinya. Satu tangannya menopang dagunya.


"Ini, silahkan suamiku!" ucapku sambil menyimpan teh hangat di depannya. Devan masih bergeming di tempatnya.


"Ayo cepat makan, nanti kalau gak di makan kamu bisa telat." Aku duduk di depan Devan sambil meniup susu yang masih terasa panas. Menyesal karena aku membuatnya dengan air mendidih tadi.


"Oke. Kita coba masakan istriku! Muah." Devan mencomot daguku, sambil memonyongkan bibirnya, melakukan cium jarak jauh.


"Kamu mau banyak atau sedikit?" tanyaku sambil menyendokkan nasi ke atas piring kosong.


"Cukup." ucapnya saat satu sendok centong nasi kini berpindah ke piringnya. "Trimakasih, Honey. Kamu gak makan?" tanya Devan.


"Nanti, aku mau habiskan susu saja dulu."


"Tapi nanti janji makan, oke?!" hanya mengangguk sebagai jawaban smbil meniup susu dan menyesapnya perlahan.


Devan mulai mengambil makanan dan menyuapkannya ke dalam mulut, lalu terdiam memiringkan kepalanya ke kanan, bola matanya bergulir ke sisi lain, seperti sedang...


"Bagaimana rasanya?" tanyaku penuh harap, mencondongkan tubuhku ke depan. Ya, aku harap rasanya tidak buruk. Dadaku berdebar menunggu jawaban.


"Enak!" senyum merekah di bibirnya membuat aku merasa senang. Devan makan dengan lahap, bahkan tidak mengunyah dengan semestinya. Aku lihat baru saja satu suapan masuk ke dalam mulut, beberapa detik kemudian dia memasukannya lagi dan lagi. Seenak itukah? Hampir menghabiskan satu piring nasi goreng yang aku buat, membuat aku juga merasa lapar.


Aku mengambil piring kosong yang ada di depanku. "Anye, honey. Bolehkah aku makan semuanya? Aku masih lapar!" Devan menyodorkan piringnya yang sudah kosong.


"Tumben kamu makan banyak Dev?" aku mengernyit heran dengan Devan, biasanya dia makan dengan porsi sedikit, malah porsi makan ku lebih banyak daripada dia!


"Hehe. Aku lapar! Boleh kan?"


"Tentu!" Sisa nasi goreng yang sekitar satu centong lebih aku pindahkan lagi ke piringnya. Senang rasanya Devan makan sebanyak ini. Apa mulai besok aku harus masak agar Devan makan banyak seperti ini? Iya, aku harus rajin masak mulai sekarang!


"Apa kamu lapar, honey?" tanya Devan sebelum ia memulai makannya. Iya aku lapar, tapi aku lebih senang kamu habiskan makanan itu!


"Tidak usah. Lagian aku juga masih minum susu. Nanti aku bisa masak lagi, atau buat sandwich, aku juga belum terlalu lapar." aku menolak. Ini sudah hampir jam delapan, dan Devan bisa telat ke kantor. Meskipun perusahaan miliknya tapi bos juga tidak bisa seenaknya kan masuk kantor.


"Ya sudah!" lalu Devan mulai menyendok makanannya kembali menikmati sarapan yang aku buat.


"Hari ini kamu ke sekolah?"


"Enggak. Aku mau tiduran saja. Malas keluar." ucapku.


"Baiklah, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa telfon aku atau telfon Sam."


"Iya." makanan hampir habis menyisakan dua sendok lagi, tapi suara telfon menghentikan Devan.


"Aku harus berangkat sekarang." ucapnya setelah mematikan telfon. Lalu berdiri, aku juga mengikutinya berdiri.


"Sudah tidak perlu di antar. Duduk saja, habiskan susunya. Jangan lupa makan!" Sekilas mencium bibirku dan mengusap perutku.


"Anak daddy, jangan nakal oke! Jadilah anak yang baik!" Devan mencium perutku.


"Aku berangkat."


"Hati-hati." peringatku.


"Iya."


Lalu Devan mengambil tas kerjanya dan pergi keluar. Samuel terlihat stand by di depan pintu membungkuk pada Devan saat dia lewat.


"Sam!!" panggilku.


Tak lama Samuel masuk dan berdiri di depan pintu.


"Iya nona?"


"Hari ini kamu istirahat saja. Aku juga malas kemana-mana. Tidak perlu nunggu di depan pintu." ucapku sambil menggeserkan piring bekas makan Devan, masih ada dua sendok nasi goreng tersisa lalu menyendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut.


Huweekkkk.


Refleks aku memuntahkan makanan itu ke telapak tanganku. Asin!!!


"Nona tidak apa-apa?" Samuel datang dan sigap memberikan air putih dalam gelas.


"Asin!" tunjukku.


"Pasti masakan nona!"


"Tahu saja!" Samuel terkekeh. Baru kali ini aku melihat bibirnya merekah. Dia tampan!


"Kamu tersenyum Sam?" seketika senyuman itu sirna. Kenapa aku bertanya seperti itu!


Aku membuang nasi yang tadi ku makan ke dalam tempat sampai. Samuel memindahkan piring kotor ke dalam wastafel dan mencucinya.


"Biar aku saja Sam."


"Tidak usah. Nona istirahat saja. Hanya cuci piring itu hal mudah."


"Ya sudah!" aku membawa gelas susuku dan beralih ke depan tv. Menonton film kartun si kembar botak.


"Nona benar tidak akan kemana-mana hari ini?"


"Ya, aku akan duduk manis dan diam di rumah. Kamu pergi saja. Sana cari wanita buat kencan biar tidak menjomblo."


"Pagi begini mau cari dimana?"


"Terserah." ucapku.


"Benar tidak ingin pergi?" tanyanya sekali lagi sebelum keluar.


"Sam jangan mulai bikin aku kesal deh!" geramku.


"Oke, kalau ada apa-apa hubungi saja saya. Awas, jangan pernah berani kabur lagi nona!" memperingatkan dengan jari telunjuknya yang mengacung ke arahku.


"Iya." ucapku kesal. Pintu tertutup. Samuel pergi. Entah dia masih di depan pintu atau ke unitnya di lantai bawah. Devan sengaja menempatkan Samuel di apartemen ini agar memudahkan aku jika mendadak ingin pergi atau untuk selalu berjaga-jaga takut aku ada apa-apa. Termasuk saat aku sedang mengidam ingin sesuatu.


Menyebalkan! Aku tidak bisa kabur! Gerak gerikku bahkan di pantau disini. CCTV dimana-mana, bahkan di kamar!


Seperti saat sebelum kami menikah. Aku ingin pergi bersama dengan teman-temanku. Seharian ke mall pasti sangat menyenangkan bukan? Sudah bersiap dengan baju dan sepatu, dan saat membuka pintu unit, Sam sudah ada di depan pintu. Alhasil aku hanya pergi dua jam, itu pun termasuk di perjalanan. Dan pengawalan bertambah dua orang lagi! Devan keterlaluan!