DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 214



Gio segera melajukan mobilnya ke arah rumah Tiara. Sesekali pandangan mereka saling bertemu membuat keduanya salah tingkah.


"G, bagaimana ceritanya Mama bisa memberikan restu untuk kita? Bukankah terakhir kali mama menolak hubungan kita sampai kau dikirim ke Kalimantan?" tanya Tiara yang penasaran. Gio hanya tersenyum melirik Tiara sedikit lalu kembali pada kegiatannya mengemudi.


"Itu sebenarnya.... Rahasia!" ucap Gio. Tiara kesal, dirinya sudah mendengarkan baik-baik dan ternyata pria ini hanya mengganggunya saja.


Gio tertawa melihat raut wajah Tiara yang cemberut.


"Sebenarnya Mama memang merestui kita sedari dulu. Hanya saja Mama ingin aku lebih mandiri!" ucap Gio. Tiara menatap Gio dengan sungguh-sungguh.


Flashback...


Gio mengikuti mama dan papa Devan ke dalam ruangan kerja. Gio sangat cemas dengan apa yang akan dikatakan mama tentang dirinya dan pasti juga membawa Tiara di dalamnya.


Anye menyuruh Gio untuk duduk di sofa. Gio sangat cemas dengan apa yang akan dikatakan mama terhadapnya. Apa mama akan menolak hubungannya lagi dengan Tiara?


Anye melangkah ke arah meja kerja suaminya sedangkan Devan duduk di seberang Gio dengan satu kaki ia tumpu di atas kaki yang lain.


Anye kembali ke tempat dimana Gio dan suaminya duduk. Gio tertegun saat Anye melemparkan sebuah map di atas meja.


"Buka!" titah Anye pada Gio. Gio hanya terdiam tak lantas melakukan apa yang dikatakan sang mama.


"Tidak mau?" tanya Anye seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa disamping suaminya. Dengan perlahan Gio mengambil map itu dari atas meja dan membukanya, membaca apa yang ada di dalam sana.


Gio tertegun membaca tulisan yang ada di dalam sana. Menatap mama dan papa bergantian. Matanya tiba-tiba terasa panas. Satu elehan air mata mengalir dari sudut mata.


"Maafkan Mama. Mama lakukan itu untuk kebaikan mu juga!" Anye berkata tanpa menatap Gio. Dia tidak kuat menatap Gio yang kini tengah menyusut air matanya.


"Tujuan Mama mengirimmu kesana adalah untuk hal itu, G. Mama tak rela jika kau membawa Tiara hidup bersama sedangkan kau sendiri masih di bawah telunjuk Mama. Itu milikmu sekarang!" mama masih memalingkan wajahnya. Devan tersenyum melihat istrinya yang seperti menahan tangis. Anye memang wanita kuat dan juga gede gengsi. Mana mau dia terlihat lemah dihadapan anak-anaknya.


Gio mendekat ke arah Anye, bersimpuh di kaki sang mama. menempelkan kenignya di lutut Mama. Memeluk kaki mama dengan erat.


"Aku tahu Mama lakukan ini untuk kebaikanku. Meski aku juga tidak menyangka dan tidak tahu jika ini tujuan Mama megirimku kesana. Trimakasih Ma. Aku sangat mengucapkan terimakasih untuk yang mama lakukan selama ini." ucap Gio. Lagi-lagi air matanya mengalir dengan perlahan ke bawah hingga membasahi kaki Anyelir.


Anye mengalihkan pandangannya ke arah Gio. Diusapnya pria yang sudah lebih dari lima belas tahun hidup dengannya. Meski Gio hanya anak angkat, tapi Gio menjadi anak kesayangan yang bisa diandalkan melebihi putra bungsunya. Ya, Anye tahu sesuatu entah orang lain memperhatkan atau tidak. Dia sangat tahu dengan jelas jika Gio selalu mengalah pada Axel termasuk dengan prestasi yang bisa diraihnya. Gio bisa melebihi Axel, tapi pria itu selalu saja membuat dirinya satu tingkat di bawah Axel. Entah mungkin pria ini sadar diri untuk tidak melampaui putra bungsunya. Maka dari itu Anye memilih untuk mengirim Gio ke Kalimantan.


"Maafkan Mama, G. Mungkin Mama egois, tapi Mama ingin yang terbaik untuk kalian." Anye mengusap kepala Gio dengan sayang. Satu tangan yang lain mengusap pipinya yang sudah basah.


Devan tersenyum senang melihat adegan mengharukan di depannya. Ingin menyusut sudut matanya yang basah, tapi malu lah!


"Sudah sana. Temui Tiara, nanti dia bisa bingung kalau kau ada disini terlalu lama." ucap Mama mengusir Gio.


Gio mengangkat kepalanya, menatap Mama. "Mama restui hubungan kami?" Tanya Gio.


Gio tersenyum senang. Gio lantas mengambil kedua tangan Mama dan mengecup punggung tangan itu berkali-kali.


Tubuh Gio tertarik ke belakang, merasakan tercekik di lehernya, hampir saja terjengkang ke lantai.


"Jauhkan tanganmu dari istriku! Aku saja yang suaminya belum mencium istriku, masa kau sudah curi start duluan!" ucap Devan dengan kesal. Gio tersenyum malu. Saking senangnya dia sampai lupa kalau ada pria tua pencemburu ini di dekatnya. Jangankan pada Gio, bahkan pada Daniel dan juga Axel pun pria tua ini seringkali cemburu.


"Sudah sana pergi, kasihan Tiara sudah menunggu di luar!" Devan menggerakan tangannya, tanda mengusir pemuda itu. Tak sampai menunggu hingga pria itu pergi Devan menarik kepala Anyelir dan memagut bibirnya dengan tak tahu malunya.


Akkh... dasar pria tua!


Ingin Gio mengumpat, tapi tidak jadi ah.... Bagaimana kalau dia mengumpat dan papa marah lalu memohon pada istrinya untuk mencabut kembali restu yang baru saja ia kantongi? Bisa gawat!


Gio melangkah menjuju ke arah pintu, amplop yang tadi diberikan mama ia tingggalkann saja di atas meja.


"Devan kau keterlaluan. Masih ada anak kita disini kau main serobot saja!" Ingin Gio melirik ke belakang, tapi tidak ah...takut dibilang kepo. lebih baik jangan mengganggu pasangan yang sudah jauh dari kata baru itu.


"Biarkkan saja Memangnya enapa?" Kalau dia mau dia bisa melakukannya dengan calonnya!"


"Kau ini awas ah!" terdengar Anye mengusir pria nya.


"Gio!" Anye berteriak sebelum Gio membuka pintu ruangan itu. Gio mendekat dan melihat Anye yang kini sedah mendekat ke arahnya, sedangkan Devan terlihat kesal di belakang sana. Menyusut sudut bibirnya sambil menatap Gio dengan kesal.


Ya amppunnn... harus segara pergi! batin Gio.


Anye mendekat ke arah Gio dan memberikan satu cincin yang sudah dia persiapkan untuk Gio di dalam sebuah kotak kecil.


"Berikan ini pada Tiara."


Mata Gio berkaca-kaca. Sungguh mama membuatnya tak bisa mengatakan apapun. Dia sangat bahagia sekali hari ini.


Refleks Gio melingkarkan tangannya ada tubuh Mama. Gio kembali terisak pelan. "Trimakasih Ma. Trimakasih!" ucap Gio lagi, mengusap wajahnya di belakang tubuh Mama. Anye mengusap punggung Gio dengan lembut. Devan berdecak kesal di belakang sana.


"Ekhem!!" berdehem untuk mengakhiri suasana haru diantara mereka. Gio tersadar lalu melepaskan diri dan Tersenyum malu pada papa.


"Sekarang kau pergilah, berikan waktu dan kesempatan untuk kami yang sudah tua ini. Cepat menikah dan pergi dari rumah ini agar kami bisa menikmati waktu berdua disini!" ucap Devan membuat Anye kesal. Anye melirik suaminya.


"Devan Januar Aditama. Bisa tutup mulutmu?!" seru Anye. Devan hanya menyengir ria dari tempat duduknya.


"Trimakasih Ma. Aku akan berikan ini pada Tiara. Dan terimakasih juga untuk Papa. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Silahkan jika kalian ingin kembali memulai!" Gio tersenyum dengan wajah merahnya, malu dengan pikirannya yang sudah traveling kemana-mana dengan kedua orangtua di depannya ini.


Fllashback off.