
Renata bangun pagi-pagi sekali. Dia harus mandi dan mulai bersiap untuk bekerja. Sudah hampir lima hari dirinya tidak bekerja. Entah apakah manajer masih akan menerimanya atau malah mengeluarkannya dari sana. Renata pasrah, yang penting dia akan berusaha, dan akan meminta maaf terlebih dahulu pada Darius. Menjelaskan kenapa sampai dia tidak bisa datang untuk bekerja.
Renata baru saja keluar dari gang, dia duduk di halte menunggu angkutan umum atau bis yang akan membawanya ke kafe.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Beberapa orang yang melihat hanya menatap dengan pandangan kagum pada seorang pemuda yang baru saja keluar dari dalam sana. Termasuk Renata. Dia terkesiap saat Axel mendekat ke arahnya.
"Hai!" sapa Axel.
"Hai!" jawab Renata.
"Mau berangkat kerja?" Renata hanya mengangguk.
"Aku antar!" tawar Axel.
"Tidak usah, aku akan menunggu bis saja."
"Ayolah Re, aku antar ya."
"Tidak usah. Kamu berangkat aja ke kantor. Nanti kesiangan."
Axel menghela nafasnya lalu ikut duduk di samping Renata.
"Ya sudah, kalau kamu gak mau aku antar. Aku juga akan tinggal disini." Renata menoleh pada Axel. Pemuda itu ternyata cukup keras kepala juga.
"Kamu gak perlu keras kepala seperti itu, Xel. Aku mau berangkat sendiri. Jangan ganggu aku. Aku juga gak mau kamu ajak pulang ke rumah lagi." ucap Renata.
"Siapa yang mau ngajak kamu pulang? Aku datang kesini khusus untuk antar kamu kerja, kok!" ucap Axel santai. Renata menghela nafasnya.
Bis datang dan berhenti tepat di belakang mobil yang Axel parkir tepat di depan halte. Sopir menekan klakson meminta si empunya mobil memindahkan mobilnya.
Beberapa orang mulai berbicara meminta Axel memarkirkan mobilnya di tempat lain. Tapi Axel tak peduli. Axel hanya diam di tempat, tak ingin beranjak jika Renata tidak ikut dengannya.
"Xel, mobil kamu menghalangi jalan!" ucap Renata.
"Biarkan saja. Kalau kamu tidak mau aku antar, aku juga gak mau naik mobil!"
"Xel. Jangan sepeti itu! Kamu mengganggu orang lain!" peringat Renata. Axel hanya mengangkat kedua bahunya. Lagi-lagi tak peduli.
Renata menghela nafasnya kesal. Tak habis fikir dengan pria ini. Sangat-sangat keras kepala.
"Ya sudah. Ayo!" Renata berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah mobil Axel. Axel tersenyum senang, dia segera berjalan mendahului Renata dan membukakan pintunya.
"Xel. Lain kali jangan seperti ini. Aku gak mau!" ucap Renata saat mobil telah meluncur di jalanan.
"Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Axel.
"Aku gak menghindari kamu. Aku cuma ingin ketenangan. Bisa gak kasih aku untuk itu?" tanya Renata. Jika dia bilang menghindari Axel dia pasti akan marah dan sedih. Yapi mungkin jika dia meminta waktu untuk sendiri pemuda itu akan mengerti. Perlahan Renata akan pergi dari kehidupan Axel.
Axel mengangguk pelan. Meski di dalam hatinya ia tak mau sama sekali Renata menghilang dari pandangannya.
"Re, sebaiknya kamu gak usah bekerja. Tangan kamu belum sembuh." pinta Axel.
"Kalau soal uang, aku bisa tanggung hidup kamu, kamu jangan khawatir."
"Aku gak meragukan hal itu Xel, tapi hanya diam di rumah membuat aku kepikiran tentang kejadian itu. Mungkin kalau aku bekerja aku bisa melupakan semua." ucap Renata.
Axel hanya terdiam. Bagaimana pun juga dia tidak bisa memaksa Renata. Tak ingin gadis itu semakin terpuruk karna kejadian yang menimpanya. Apalagi dokter juga mengatakan kalau Renata butuh dukungan.
Setelah beberapa lama perjalanan mereka sampai di kafe. Renata melepaskan seatbelt-nya.
"Xel, tolong berikan aku waktu untuk sendiri, ya. Dan tolong sampaikan maaf dan terimakasih ku sama mama. Maaf karena aku pergi dari kalian dengan cara seperti semalam."
Axel mengangguk.
"Kamu hati-hati, ya. Jangan sampai kelelahan." Renata hanya mengangguki ucapan Axel lalu keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam kafe.
...***...
Renata kembali pada pekerjaannya di kafe. Axel menepati janjinya untuk tidak mengusiknya. Bahkan pemuda itu tidak terlihat selama beberapa hari ini. Sepi sebenarnya, terasa hampa juga. Biasanya setiap hari mereka bekerja bersama-sama. Dan pulang juga bersama. Tapi sekarang bukankah seharusnya Renata membiasakan dirinya seperti dulu? Sendirian!
Renata merasakan sakit di tangan kirinya, tapi dia tidak boleh berhenti bekerja. Bagaimana dia bisa menghidupi dirinya sendiri kalau dia tidak bekerja?
Manajer dan teman-temannya banyak membantunya. Bahkan rasanya mereka terlalu banyak membantu hingga tidak membiarkan dia banyak bekerja. Renata hanya mengelap meja dan juga menerima pesanan, selain itu mereka tidak membiarkannya mengambil pekerjaan lain.
Semua itu tentu saja sudah Axel rencanakan, dia menelfon Darius untuk tidak membiarkan Renata banyak bekerja.
Beberapa karyawan menatap tak suka pada Renata. Pasalnya kini manajer mereka bahkan sangat perhatian pada Renata. Entah apa yang gadis itu lakukan sampai-sampai Darius tidak membiarkan dia bekerja seperti yang lainnya.
Desas desus mulai terdengar di telinga Renata. Bahkan beberapa orang mulai mencurigainya kalau dia ada main dengan manajer. Semua itu membuat Renata di rundung kesedihan.
Tok. Tok. Tok.
Suara pintu terdengar dari luar, Darius yang sedang mengecek pembukuan mengangkat kepalanya.
"Masuk!"
Tak lama pintu terbuka dan ia melihat Renata disana.
"Ada apa, Re?" tanya Darius menutup bukunya.
Darius memerintahkan Renata untuk duduk.
"Maaf, pak. Saya tahu pasti Axel yang menyuruh bapak untuk tidak buat saya bekerja kan?" Darius hanya terdiam. Memang benar apa yang gadis ini katakan. Seratus persen benar.
"Saya bisa apa, Re. Dia bosnya dan saya hanya menjalankan perintah." ucap Darius pasrah. Renata mendengus kesal. Sudah ia duga!
Renata berdiri, dia berkata dengan nada dingin pada Darius.
"Bilang sama pak Axel. Saya mau bekerja seperti biasanya. Kalau dia melarang juga, saya akan keluar dari sini, dan mencari pekerjaan lain!" ancam Renata. Darius hanya mengangguk sebagai jawaban. Renata kemudian pergi dari ruangan itu membuat Darius bingung dan pusing serta takut akan omelan sang bos.
"Tidak bos. Tidak calonnya. Sama-sama suka ngancam!" dengus Darius kesal.